EMPEROR OF THE EARTH

EMPEROR OF THE EARTH
Chapter 102


__ADS_3

Sudah sekitar 30 menit Jian An bermain ia bosan juga.


Akhirnya Jian An bangun dari duduk nya dan dengan wajah datar nya ia pergi tanpa mengambil semua uang yang di dapat.


"Nona!, Uang nya!"teriak sang bandar, walaupun dia kesal dan marah ke pada Jian An karena selalu menang tapi dia adalah orang orang jujur ok.


Berbalik dan memandang sang bandar dengan polos Jian An menjawab.


"Saya ke sini cuma mau main bukan cari uang"ucap Jian An dan segera pergi, ya kali dia mau di sana lama-lama, lebih baik Jian An segera cari air mata putri duyung tuh terus cari batu lain nya di tempat lain.


Sedang kan tanpa di sadari oleh Jian An yang kini berjalan kian menjauh, semua orang yang mendengar nya cengo termasuk juga sang bandar.


Dasar aneh!?


Mungkin dua kata itu lah yang bersarang dengan indah di kepala mereka semua.


Sedangkan si bandar be like : lah jadi dari tadi saya kesel sama marah gak guna dong?🙂


Berjalan santai tanpa di sadari oleh siapa pun yang ada, Jian An membuka sebuah pintu yang memang sudah di incarnya dengan hati-hati.


Setelah berhasil masuk Jian An segera saja berjalan dengan buru-buru menuju ruangan dari pemilik gedung.


Saat di persimpangan Jian An yang tadi nya hendak berbelok kanan, kini malah berputar ke belakang dan bersembunyi di atap-atap, posisinya sekarang seperti cicak.


Dan benar saja beberapa saat kemudian satu orang penjaga dengan pistol berjalan melewati nya.


Saat penjaga tersebut tepat di bawah nya dengan cepat Jian An membuatnya pingsan.


Tak ingin membuat penjaga yang lain curiga Jian An segera memasukkan penjaga tersebut ke dalam Ruang Dimensi, masa bod0h!, Jika penjaga tersebut terbangun di sana nanti dia bisa minta tolong Chu Kun, Han Kun atau siapa lah untuk memukul kepala nya lagi agar dia pingsan!.


"Mungkin akan lebih cepat Jika Aku langsung menghilang saja?"ucap Jian An yang dengan bod0h nya baru menyadari nya.


"Sepertinya aku mulai bod0h karena terlalu lama di sini"ucap Jian An sambil menertawakan diri nya sendiri.


Dengan sekejap mata Jian An kini sudah ada di dalam ruangan dari pemilik gedung, namun saat Jian An sampai di sana ia tak melihat sang pemilik, tapi saat Jian An mendengar suara air dari kamar mandi, bisa langsung di simpulkan bahwa pemilik gedung masih di dalam sana.


Mengelilingi ruangan tersebut, Jian An seperti sedang tour, mengusap kursi yang merupakan tempat duduk untuk pemilik gedung Jian An tersenyum sinis.


Duduk di sana seperti diri nya adalah pemilik sesungguhnya Jian An bahkan kini membuka-buka berkas yang ada di sana dengan santai.

__ADS_1


"Sudah selesai?"tanya Jian An tenang sambil memutar kursi nya hingga menghadap sang Pemilik gedung yang baru keluar dari kamar mandi menggunakan jubah mandi.


Tersenyum bagai psikopat, kedatangan Jian An membuat Pemilik gedung kaget.


"Si siapa k ka kamu"ucap pemilik gedung berbata.


"Penjaga!, Penjaga!" Teriak pemilik gedung.


Jian An yang melihat itu sungguh muak di buat nya.


'Bod0h!' batin Jian An berkata


"Percuma kamu teriak paman, mereka tak akan mendengar kan mu, lagi pula ruangan ini kendap suara, jadi sekuat apa pun paman berteriak tak mungkin ada yang mendengar"ucap Jian An sambil menyeringai ke arah pemilik gedung.


Mendengar itu pemilik gedung baru sadar bahwa ruangan nya itu kendap suara dan biasa jika dia ingin memanggil pelayan atau penjaga maka dia akan menekan tombol merah yang ada di meja nya, namun saat ini di meja nya orang asing sedang duduk dengan santai.


"Apa yang kamu inginkan"ucap pemilik gedung dengan berani walaupun dalam hati ia takut setengah mati.


"Tak banyak, aku hanya ingin air mata putri duyung"ucap Jian An tenang yang di akhiri dengan smirk khas nya.


Mendengar apa yang di katakan Jian An pemilik gedung kaget hingga bola mata nya melotot dengan sempurna.


"Benar kah kalau begitu kau mati saja"ucap Jian An dengan ringan, dan dalam sekejap mata Jian An sudah berada di belakang pemilik gedung sambil menodongkan pisau nya di leher sang pemilik gedung.


"Padahal aku ingin meminta baik-baik loh, tapi anda malah memilih jalan yang sulit, sungguh tak bisa di percaya"ucap Jian An.


"Kamu!, Ka kau tak akan membunuh ku, jika kamu membunuh ku maka kau selama nya tak akan pernah tau di mana air mata putri duyung itu berada"ucap pemilik gedung dengan percaya diri, namun terlihat dengan jelas bahwa di pelipis nya kini kering sebesar biji jagung menetes dengan deras.


"Hmm, benar kah?, Sayangnya aku sebenarnya sudah tau di mana kau menyimpan air mata putri duyung itu, tapi karena aku masih cukup tau tata karma jadi aku meminta ke pada pemilik nya, namun sayang pemilik nya sungguh bod0h"ucap Jian An.


Mendengar apa yang di katakan oleh Jian An pemilik gedung ketar-ketir di buat nya antara harus menyelamatkan nyawa atau harta?.


"Baik, baik, baiklah aku akan menyerahkan batu air mata putri duyung ke pada mu asal kamu membiarkan aku hidup"ucap pemilik gedung yang lebih memilih menyelamatkan nyawa ke timbang harta benda nya.


"Baik aku akan membiarkan mu hidup lebih lama, kalau begitu cepat buka ruangan itu"ucap Jian An sambil menggiring pemilik gedung ke arah sebuah ruangan berkode, dengan posisi yang sama Jian An yang masih menempel kan pisau di leher pemilik gedung.


Pemilik gedung pun membuka pintu tersebut, setelah kode di masuk kan dengan benar pintu ruangan tersebut langsung terbuka, Jian An langsung masuk ke dalam bersama dengan pemilik gedung yang masih di sandra nya.


Mata nya tiba-tiba berbinar saat melihat apa yang dia cari, dengan cepat Jian An mengambil batu tersebut ukuran nya memang tak terlalu besar hanya sebesar kuku ibu jari tangan saja namun entah kenapa itu menjadi mahal, mungkin karena terbuat dari bahan yang langka dan bentuk serta keindahan nya yang tidak biasa.

__ADS_1


"Terimakasih paman akan batu nya"ucap Jian An sambil masih melihat batu tersebut dengan jeli.


"Baik, aku sudah memberi mu batu itu sekarang bisa kau lepaskan aku?"tanya pemilik gedung.


"Kau benar, aku harus melepaskan mu tapi aku hanya bilang bahwa aku akan membiarkan mu hidup lebih lama bukan membuat mu hidup dengan tenang, jadi paman, nikmati tidurmu~"ucap Jian An dengan senyum psikopat nya.


"Ka ka kamu, dasar bajing4n!, Kau sudah berjanji untuk melepaskan ku saat aku sudah memberi kan air mata putri duyung ke pada mu!"teriak pemilik gedung dengan marah.


"Ck!, Dasar berisik!"teriak Jian An balik sambil mengorek kupingnya yang gatal, setelah mengucapkan itu dengan cepat Jian An menusukkan pisau nya ke leher pemilik gedung, tepat di nadi leher nya bahkan Jian An juga memutar-mutarkan pisau tersebut.


Darah mengalir dengan begitu indah dari leher pemilik gedung, bahkan kini darah tersebut berceceran di lantai seperti bunga mawar yang bermekaran, dan jujur saja Jian An suka akan hal itu apa lagi saat melihat pemilik gedung merasa kesakitan dan mati secara perlahan karena kehabisan darah ia sangat suka momen ini.


Pemilik gedung bahkan tak sempat berteriak, karena mulutnya yang sudah di bekap oleh Jian An agar tak bersuara, Jian An suka melihat orang kesakitan tanpa bisa berteriak, rasa sangat suka melihat mereka yang ingin melepas beban namun tak bisa, ya begitu lah rasa nya.


Dia Jian An bukan psikopat yang suka saat korban berteriak kesakitan, tapi Jian An suka dengan korban yang kesakitan namun tak bisa berteriak, dan hanya menunjukkan wajah menyedihkan mereka.


Karena dia yakin bahwa rasa sakit nya akan lebih terasa saat sang korban tak bisa berteriak.


Saat pemilik gedung sudah tewas baru lah Jian An melepas kan tangan nya dari jazad tersebut, yang membuat jazad tersebut jatuh ke tanah.


"Wow✨!, Luar biasa~"ucap Jian An dengan kagum, bahkan kini mata nya berbinar kesenangan.


Memandang jazad tersebut seperti sebuah karya seni, Jian An tiba-tiba cemberut.


"Aih~, sayang sekali, karya seni ini kurang bagus, hanya karya di leher bukan kah kurang?"ucap Jian An yang kini tersenyum bagai psikopat.


Masih dengan setia dengan senyum nya Jian An menarik kaki dari pemilik ke luar dari ruangan tersebut, dan mendudukkan nya di kuris yang sempat di duduki oleh Jian An.


Mengikat tubuh tersebut menggunakan kain gorden yang di robek oleh Jian An, dan di satukan hingga panjang.


"Kasian~, jiwa nya sudah pergi tapi tubuh nya masih menjadi mainan"ucap Jun Kun yang sedikit merasa kasian ke pada pemilik gedung.


"Hmm"ucap Jian Kun sambil mengangguk-angguk kepala nya setuju.


"Biarkan saja yang penting Tuan senang"ucap Shen Kun menimpali, dengan wajah datar nya tanpa ada rasa iba di mata nya, ia bahkan kini mengipasi wajah nya yang panas dengan kipas di tangan nya, seakan tak perduli dengan apa yang terjadi.


"Kalau kau iba kenapa tak henti kan Tuan dan gantikan orang itu menerima hukuman"saran Feng Kun sambil membaca buku dengan menggunakan kaca mata.


"Tidak aku mana berani, lebih baik Tuan menghukum jazad itu saja sampai puas"ucap Jun Kun

__ADS_1


__ADS_2