
~Selamat Membaca~
๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ
..........................................
Dan pada saat itu Jian An dengan malas mengiyakan apa yang di katakan oleh Chu dan Chan Kun walaupun dalam hati ia malas sekali untuk menjadikan Kakek Chen Guru nya.
Sudah lah apa daya dia yang bahkan baru memiliki 10 lingkaran tenaga dalam saat itu.
๐๐๐๐๐
Rahan Pendekar pedang.
Rahan Pendekar pedang awan level - 1, 2, 3
Rahan Pendekar pedang kelas bawah level - 1, 2, 3
Rahan Pendekar pedang kelas menengah level - 1, 2, 3
Rahan Pendekar pedang kelas atas level-1, 2, 3
Rahan Pendekar pedang tahap bumi level-1, 2, 3
Rahan Pendekar pedang tahap langit level-1, 2, 3
Pendekar pedang terhebat level-1,2,3
Pendekar Pedang Suci level-1,2,3, dst
Catatan : setiap mau naik Rahan membutuhkan dua kali lipat dari tenaga dalam yang sebelumnya.
๐๐๐๐๐
.....................................
Sementara itu sosok pemuda yang kini sedang bermeditasi perlahan membuka mata nya.
Baju putih nya yang polos sekarang sudah menjadi coklat, karena belum ia cuci, tubuhnya yang semula nya penuh luka kini sudah sembuh seperti baru.
"Aku harus cepat mencari Guru, aku yakin sekarang Guru pasti sudah kembali ke Perguruan"ucap Pemuda tersebut yang bernama Yang Shui.
Dengan cepat pemuda tersebut terbang menggunakan tenaga dalam nya hingga tak lama ia segera mendarat di Perguruan nya, namun yang ia temukan bukan kah Perguruan nya yang makmur itu namun puing-puing bangunan kah yang ia temukan.
"Apa Guru dan yang lain nya tak bisa selamat"ucap Yang Shui dengan panik dan cemas, dengan cepat Yang Shui mengobrak-abrik puing-puing tersebut berharap menemukan petunjuk bahwa Guru masih hidup.
Hingga akhirnya ia menemukan sebuah token milik Tetua Besar Perguruan yang tak lain adalah milik Guru nya, memang tak ada yang tau bahwa sebenarnya token tersebut bukan hanya sebuah kartu identitas namun juga merupakan bahan langka yang bisa menunjukkan bahwa orang yang memiliki nya masih hidup atau tidak, dan hal tersebut hanya di ketahui oleh Guru nya, dan diri nya sendiri.
"Guru masih hidup"senyum Yang Shui.
"Aku harus segera mencari Guru, dan semua adik seperguruan ku"ucap Yang Shui dan mulai terbang lagi untuk mencari di mana Gue, dan adik seperguruan nya berada.
......................................
Jian An dari tadi tak henti-hentinya melirik ke arah Kakek Chen yang kini sedang menikmati teh panas nya.
Kakek Chen yang merasa di awasi pun menoleh ke dah Jian An.
"Ada apa?, Apa ada yang ingin kau tanyakan?"tanya Kakek Chan.
__ADS_1
"Tak apa, hanya saja apa kau tak merasa lidah ku terbakar saat meminum teh panas itu"ucap Jian An dengan dagu yang seakan-akan menunjuk ke arah cangkir teh yang kini berada di genggaman Kakek Chen.
"Ehem..., Ehem..., Kau tau bukan bahwa kita memiliki kepercayaan Yin, Yang?"tanya Kakek Chen.
"Ya lumayan"jawab Jian An.
"Itulah jawaban nya"ucap Kakek Chen dan kembali meminum teh nya, sedangkan Jian An kini sedang melongo seperti orang bod0h memikirkan apa yang di katakan oleh Kakek Chen atau Guru nya itu.
'Apa maksudnya?' pikiran Jian An kini penuh akan tanda tanya (?).
Sedangkan Kakek Chen yang melihat itu menggeleng-gelengkan kepala, sambil tersenyum tipis.
"Rupanya dia memang masih remaja, kalau begini kan dia masih terlihat manusiawi, setidaknya ada yang tak dia ketahui"gumam Kakek Chen.
"Akh...!, Aku tak tau apa yang kau bicarakan Kakek Chen"ucap Jian An dengan sedikit frustasi.
"Oh, kalau begitu anggap saja itu sebagai tugas mu, yang pertama"ucap Kakek Chen.
"Baiklah, akan ku cari hingga dapat"ucap Jian An dengan sedikit lesu.
Tiba-tiba sebuah pusaran awan hitam bercampur dengan angin yang bertiup kuat terbentuk di atas desa Luรณlรจ xiลซjiร .
Hal tersebut sontak saja membuat Jian An, Kakek Chen, dan para Pendekar yang semula nya ada di sana langsung menjadi waspada dan siap untuk menarik pedang milik masing-masing.
Jian An kini juga sudah menangani baju berwarna putih bersih yang menandakan bahwa dia berasal dari aliran putih, dengan sebuah pedang di pinggangnya yang di beri oleh Kakek Chen.
Kakek Chen berkata bahwa ia harus memakai itu semua sebagai tanda bahwa Jian An kini adalah murid nya, dan nama perguruan baru milik Kakek Chen adalah Perguruan Shui, seperti nama Murid pertama nya dulu. Jian An pun tak komen dan hanya mematuhi apa yang di katakan oleh Kakek Chen.
"Ini apa kah akan segera di mulai"ucap salah seorang Pendekar di kedai yang sama dengan Jian An berada.
"Kakek Chen, apa ini sudah mau mulai, aku takut bahwa aku tak bisa membunuh satu dari mereka"ucap Jian An.
"Mereka mungkin akan keluar lewat sana"ucap seorang Pendekar.
"Ya, lebih baik kita segera merapat ke sana"ucap Pendekar lain nya.
Semua Pendekar yang mendengar itu pun mulai ke luar dari kedai makan tersebut dan segera berlari ke arah pusaran awan hitam terjadi.
Jian An sendiri, dan Kakek Chen masih berada di kedai makan tersebut.
"Hey, nak apa kau punya jurus pedang?"tanya Kakek Chen.
"Tidak, aku belum mempelajari nya"ucap Jian An dengan polosnya.
"Hah!!"teriak Kakek Chen dengan kaget.
"Lalu bagaimana kau waktu itu membunuh banyak sekali Pendekar yang mengejar ku?"tanya Kakek Chen menggebu-gebu.
"Aku hanya punya formasi kau tau"jawab Jian An.
"Formasi?, tidak itu terlalu memakan banyak tenaga dalam, seperti nya lebih baik kita berburu lain kali saja"ucap Kakek Chen.
Jian An yang mendengar itu sontak saja menoleh ke arah Kakek Chen dengan tatapan protesnya.
"Kenapa, aku bahkan bisa mengeluarkan banyak formasi besar dengan tenaga dalam ku yang sekarang ini"ucap Jian An dengan sedikit membanggakan diri sendiri.
"Oh, benar kah, kalau begitu kita coba apa kau bisa mengalahkan mereka semua"ucap Kakek Chen yang tiba-tiba terbang menggunakan tenaga dalam nya, meninggalkan Jian An.
"Kakek tua, si4lan!, Kenapa kau meninggalkan ku!"teriak Jian An kesal.
__ADS_1
"An'er kau bisa mengejar nya dengan mudah bukan kenapa sekarang kau tak terbang menggunakan Ging Gong(ilmu peringan tubuh) saja"ucap Shen Kun.
"Eh kau benar seperti nya aku sudah terlalu menerapkan prinsip dunia ini di mana yang bisa terbang seperti itu hanya lah Pendekar rahan langit ke atas saja"ucap Jian An dan mulai terbang dengan Ging Gong nya menyusul Kakek Chen.
.......................................
Kakek Chen sendiri yang kini sedang terbang akhirnya menyadari kejanggalan yang terjadi.
"Eh, kenapa aku terbang, Jian kan belum bisa terbang, apa aku harus kembali saja ya"ucap Kakek Chen di saat ia akan berbalik tiba-tiba sebuah teriakan mengagetkan nya.
"Kakek Tua si4lan, berani nya kau meninggalkan ku sendirian di sana"ucap Jian An.
Kakek Chen yang mendengar suara familiar tersebut pun menolehkan kepalanya dan bisa di lihat bahwa Jian An kini sudah terbang di sebelah nya.
"Eh, bagaimana bisa kau terbang?"kaget Kakek Chen.
"Ck, ini lah akibatnya bila sudah sampai rahan Pendekar suci, ia bahkan lupa jurus dasar Ging Gong"ucap Jian An dan mempercepat laju Ging Gong nya.
"Aku tau jurus itu, tapi Ging Gong mu itu kenapa bisa lebih cepat dan bisa lebih bisa terbang tinggi dari pada Ging Gong yang biasanya!!"teriak Kakek Chen.
"Itu karena Ging Gong ini spesial kau tau"ucap Jian An sambil tertawa pelan.
"Spesial dari segi mana nya?"tanya Kakek Chen.
"Tentu saja spesial karena aku yang memakainya"ucap Jian An.
"Huh!, Silakan kau anak nakal!"teriak marah Kakek Chen.
"Hahahaha, jangan harap bahwa kau akan tau rahasia ku Kakek tua, hahaha"tawa Jian An kini menggema bagaikan kicauan burung di pagi hari yang membuat hati siapa saja yang mendengar nya sangat tenang.
Kakek Chen yang bahkan sudah berumur pun baru pertama kali nya ia mendengar tawa se-merdu ini.
"Hey, nak mungkin lain kali aku harus mencari cadar untuk mu"ucap Kakek Chen yang kemudian teringat kejadian-kejadian yang terjadi pada masa ada Jian An.
Di mulai dari para gadis yang melempar tatapan cemburu, dan iri ke pada Jian An, hingga banyak para pemuda yang pingsan di buatnya.
"Ya terserah kau saja lagi pula wajah ini bisa membuat kita kesusahan dalam petualangan kita ini"ucap Jian An.
"Tapi kita cari nanti saja sekarang lebih baik kita bereskan dulu masalah di depan"ucap Kakek Chen sambil melihat ke bawah di mana di sana sudah terjadi pertempuran, antara para Pendekar dan monster daun kemangi.
Bisa di lihat dari atas bahwa perang itu sangat kacau banyak Pendekar yang mati dari pada monster daun kemangi.
"Ah~, hari-hari ku seperti nya akan menjadi sulit untuk ke depan nya"ucap Jian An Dan mulai mendarat di tanah, bersama Kakek Chen.
Baru saja mendarat Jian An Dan Kakek Chen sudah mendapat serangan dari Monster daun kemangi, tersebut.
BuMmm....!
PAaKKk....!
BuMmm....!
Dengan gesit Jian An segera menghindari serangan dari sulur-sulur daun kemangi yang di arahkan ke pada nya, begitu juga hal nya dengan Kakek Chen.
.......................................
Jangan pernah bosan dalam membaca novel ini kawan.
IG : sukma_761100.
__ADS_1