
Setelah adegan gelud mereka berdua yang kekanak-kanakan kini mereka berdua sudah di pinggir pulau, mereka berdua kini hendak menyeberang air di depan mereka untuk menuju Perguruan Bukit Tinggi.
"Arah nya kemana?"tanya Delvin.
"Kesana"ucap Jian An sambil menunjuk kearah di mana di sana hanya ada air dan air saja.
"Kau pasti bercanda, tempat ini jauh dari daratan ok"ucap Delvin sambil menatap horor Jian An.
"Kenapa kau takut?, Lagi pula dengan kekuatan mu yang sekarang jika kau harus menyeberangi tempat ini ribuan kali kau masih akan tetap sehat tuh"ucap Jian An dengan nada menghina.
"Ck, baik, kita lihat siapa yang akan sampai di sana duluan"ucap Delvin dengan kesal dan langsung melesat pergi.
"Tidak ada larangan untuk telepor kan?"ucap Jian An sambil menghilang dari sana dengan senyum nakal dan jahil yang khas.
Alhasil kini Jian An sudah sampai di seberang, sambil menunggu Delvin sampai Jian An kemudian duduk di sana sambil melihat matahari yang kini sudah tenggelam, mungkin beberapa menit lagi malam akan datang.
"Jika saja tadi aku tak segera pergi keluar dari tempat itu aku yakin momen ini tak akan ku dapatkan"ucap Jian An sambil menggelengkan kepalanya, tak lupa sebatang rumput yang ada di mulutnya, jika di lihat saat ini Jian An lebih mirip seorang pengembara.
Di sisi lain Delvin yang tengah berlari di atas air dengan kecepatan tinggi berhenti di tengah jalan.
"Dimana dia?"ucap Delvin sambil melihat ke belakang di sana sama sekali tak ada tanda-tanda keberadaan Jian An, hanya ada burung-burung yang kini berterbangan di langit.
"Masa dia kalah dengan begitu saja?, Ini tak masuk akal"ucap Delvin kembali.
"Atau jangan-jangan...."mata Delvin segera terbelak begitu memikirkan sebuah kemungkinan bahwa Jian An berbuat curang.
Dengan kesal Delvin segera berlari dengan kecepatan cahaya dan dalam sekejap mata dia sudah sampai di depan Jian An yang sekarang tertidur pulas.
"Penjahat ini menipu ku"ucap Delvin dengan geram.
"Ku biarkan saja dia tidur di sini sampai pagi"ucap Delvin kembali dan pergi dari sana dengan perasan dongkol.
Sambil mengerutu Delvin mencari penginapan terdekat yang bisa dia capai, ternyata marah-marah dan kesal seharian membuat nya lelah.
"Bos kamar satu"ucap Delvin kepada Bos penginapan yang kebetulan berada di depan pintu menyambut para tamu.
"Baik Tuan Muda"ucap Bos penginapan tersebut sambil tersenyum dam segera pergi menyiapkan kamar untuk Delvin.
Sambil menunggu kamarnya Delvin duduk di sana dan memesan makanan untuk dirinya sendiri, tak lama makanannya datang dan Delvin segera menyantap nya dengan nikmat dan tenang.
Pikiran sekarang sangat tenang dia bahkan melupakan Jian An, dan hanya berfikir bagaimana dia harus menyantap makanan enak di depannya.
Perut yang kenyang membuat Delvin mengantuk, setelah membayar biaya makan dan penginapan Delvin segera menuju kamarnya.
Di depan pintu dia berhenti seperti ada yang kurang.
__ADS_1
"Seperti ada yang kurang?, Tapi apa?"ucap Delvin.
Menggeleng kepalanya acuh Delvin segera masuk kedalam kamarnya, baru saja hendak memejamkan mata, sebuah pikiran terlintas di kepalanya yang membuat nya berlari keluar penginapan.
"Aku lupa dengan anak itu"ucap Delvin berlari ke arah Jian An yang masih saja tertidur pulas.
"Dia masih saja tidur di tempat dingin ini"ucap Delvin sambil menghembuskan nafas lelahnya.
Menggendong Jian An ala pengantin Delvin segera perjalan ke arah penginapan.
Masuk kedalam Delvin segera berteriak.
"Bos satu kamar lagi"ucap Delvin
"Baik Tuan Muda"ucap pemilik penginapan yang segera pergi menyiapkan kamar untuk Jian An.
Mengikuti pemilik penginapan, Delvin menunggu sebentar di luar, dan segera masuk saat memilik penginapan keluar, sambil masuk Delvin melempar koin emas kepada pemilik penginapan.
Yang membuat pemilik penginapan tersebut senang dan segera pergi dari sana, karena masih banyak hal yang harus dia urus di bawah sana.
Membaringkan Jian An dengan pelan, Delvin kemudian segera pergi dari sana meninggalkan Jian An yang kini sudah tertidur berjalan ke kamarnya sendiri, tanpa aba-aba Delvin segera ambruk di sana dengan tubuh yang kelelahan.
Dia sungguh tidak perduli dengan romansa yang ada di pikiran Author dan para pembaca, saat ini dia lelah batin, jiwa, dan raga.
"Tuan Muda anda sudah bangun"sambut bos penginapan tersebut.
"Ya sudah, ngomong-ngomong di mana aku bisa mandi?"tanya Delvin.
"Ah, anda bisa mandi di belakang penginapan Tuan Muda, Nona yang kemarin bersama anda juga barusan sudah ke sana, untuk laki-laki ada di arah kiri, dan perempuan di arah kanan"ucap Bos penginapan tersebut.
"Oh, baik makasih"ucap Delvin sambil melempar kan kembali koin perak ke arah Bosa penginapan tersebut.
Berjalan ke arah kiri, kini Delvin sudah sampai di tempat yang di katakan oleh Bos penginapan.
Karena ini masih terlalu pagi dan juga sangat dingin tempat ini masih sepi, karena banyak dari penghuni Penginapan yang memilih akan mandi nanti saja, bahkan banyak dari mereka yang langsung pergi meninggalkan penginapan setelah membersihkan diri dengan tenaga dalamnya.
Berbeda dengan Delvin yang lebih suka jika mandi dengan air karena lebih segar apa lagi saat pagi-pagi dingin seperti ini, di jamin akan langsung beku.
Melepas pakaiannya Delvin segera memasuki sungai di depannya.
"Huh~, dingin, dingin segerrr~"ucap Delvin saat tubuhnya sudah masuk ke dalam sungai.
"Jian An kan ada di sebelah kanan berarti dia di atas dong, berarti aku mandi air bekasnya dong?"monolog Delvin yang entah kenapa malah memikirkan hal tak perlu seperti itu.
Padahal yang di maksud oleh pemilik penginapan itu kamar mandi perempuan dan laki-laki di pisah karena laki-laki mandi di sungai sedangkan perempuan mandi di dalam kamar mandi yang nyaman.
__ADS_1
Satu sisi di bagian Jian An, kini Jian An sedang mandi di dalam kamar mandi yang terbuat dari kayu, merilekskan kan tubuhnya yang kaku di dalam bak mandi bertabur bunga, saat ini Jian Am sedang berfikir, sekesal apa Delvin saat tau hal ini.
"Tempat ku lebih nyaman~"ucap Jian An sambil memejamkan matanya rileks.
Karena sudah merasa cukup berendam Jian An kemudian berdiri dan segera memakai pakaian yang baru saja dia ambil dari Ruang Dimensi.
"Aku makan dulu saja lah"ucap Jian An yang keluar dari sana berjalan ke tempat makan.
"Bos pesan makanan paling mahal dan mewah di sini"ucap Jian An sambil melempar satu kantong koin emas.
Pemilik penginapan yang menerima itu sangat senang, hari ini seperti hari bahagia untuk nya pasalnya dalam sehari dia bisa mendapatkan banyak koin emas tak seperti biasanya yang hanya akan mendapatkan 3 atau 2 koin emas saja.
"Baik Nona, silakan untuk duduk di meja VVIP"ucap sang Pemilik penginapan yang kemudian berlari ke arah dapur dengan senyum cerah di wajahnya.
Mengikuti apa yang di katakan oleh pemilik penginapan Jian An segara berjalan le tempat VVIP dengan menaiki tangga di sana.
Tempat itu memiliki sekitar 5 lantai, lantai 1 dan 2 untuk restauran, dan lantai 3, 4, dan 5 untuk penginapan.
Sebenarnya tempat ini sangat mewah namun karena tempat ini ada di desa kecil jadi biaya yang harus di keluarkan juga lebih minim, mungkin sekitar 3, atau 5 koin perak permalam?.
Tak lama makanan yang di pesan oleh Jian An datang.
"Nona silakan di nikmati"ucap pemilik penginapan ramah, sambil menyuruh 3 pelayanan yang ikut dengan nya menata makanan di atas meja makan dengan rapih.
"Terimakasih"ucap Jian An.
"Nona jika anda butuh bantuan lagi, anda bisa memanggil saya"ucap pemilik penginapan lagi masih dengan senyumnya.
"Baik paman, sekali lagi terimakasih"ucap Jian An sambil membalas senyuman dari pemilik penginapan.
"Tidak usah sungkan nona"ucap pemilik penginapan.
"Baik paman"ucap Jian An.
Setelah percakapan tersebut pemilik penginapan kembali mengerjakan tugas nya kembali, sedangkan Jian An mulai menyantap hidangan di depannya.
Hendak menyantap ayam sebuah mulut lebih dahulu melahapnya.
"Hap!, Hmm..., Ini sangat enak"ucap orang tersebut dengan senyum nakal yang menjengkelkan menurut Jian An, namun menurut orang lain itu sangat mempesona.
"Kau makan tanpa mengajakku, sangat kejam bukan?"ucap Delvin sambil duduk di depan Jian An dan menarik piring ayam di depan Jian An yang baru saja hendak di makannya.
Dan tanpa rasa bersalah sedikitpun Delvin menyantap nya dengan lahap, Jian An yang mengalami pemalakan secara terang-terangan kini merasa kesal tangan kini mengepal gemas, namun bibirnya berusaha tersenyum mengikhlaskan ayam yang di ambil oleh Delvin.
"Bisa kah kau makan yang lainnya?"ucap Jian An sambil tersenyum terpaksa ke arah Delvin.
__ADS_1