
Kini sinar matahari sudah bersinar dengan terangnya namun Jian An saat ini masih saja tertidur dengan nyenyak tanpa menghiraukan sinar matahari yang mengenai wajahnya.
Hingga sebuah pergerakan kecil namun cepat sekitar 100 mil dari tempat nya tertidur membuat nya terbangun.
"Apa itu"ucap Jian An terbangun dari tidurnya dengan cepat.
"Itu pasti hanya satu manusia saja tapi pergerakan sangat cepat dan kecil, apa-apaan itu?, Seperti aku harus mulai bertarung, 1 menit lagi akan ada pertempuran di sini"ucap Jian An sambil merapihkan pakaian serta wajahnya.
Gerakan itu kini semakin besar dan Jian An yakin bahwa hal tersebut menuju ke arah nya dengan kecepatan tinggi, kini Jian An sudah bersiap sambil memegang belati, Jian An berniat untuk menebas apa saja yang datang dari sana tidak perduli walaupun itu manusia hidup!.
Namun saat jarak kurang dari 200 meter Jian An bisa melihat sosok bayangan manusia yang dia kenal.
Semakin dekat Jian An semakin yakin akan siapa sosok tersebut hingga akhirnya Jian An menyimpan belati nya kembali
Hanya saja seperti nya ada yang salah pasalnya walaupun jaraknya tinggal 20 meter kecepatan orang tersebut tak melambat sedikitpun.
"Si4l!, Dia tak bisa rem!!!!"ucap Jian An dan segara menghindar dengan cepat.
Hingga akhirnya sosok tersebut menabrak batu hingga berkeping-keping, bahkan debu yang di hasilkan pun tak bisa di anggap remeh.
"Au..., Ku yakin itu sangat sakit"ucap Jian An sambil merasa ngilu.
Debu yang bertebaran kini secara perlahan menghilang di dan memperlihatkan sosok laki-laki muda dengan baju moderennya yang kini pingsan lantaran menabrak batu.
Mendekati sosok tersebut kini Jian An bisa dengan jelas melihat siapa orang tersebut, ya orang tersebut adalah Delvin yang entah bagaimana bisa sampai ke Dunia Pendekar.
"Delvin bagaimana dia bisa ada di sini?, Dan di mana Long Kun?, Apa dia kabur dari tugas?"ucap Jian An dengan banyak ekspresi bingung di wajah nya.
Pasalnya tak mungkin sekali kalau Long Kun menghianatinya, kini banyak dugaan yang bermunculan di kepalanya namun semuanya sama sekali tak masuk akal.
"Akan ku tanya nanti"ucap Jian An sambil menyeret Delvin.
Mengeluarkan sebuah biji dari kantong bajunya dan melemparkannya ke tanah, seketika biji tanaman tersebut tumbuh dengan cepat, menjadi pohon besar.
Menyeret Delvin ke bawah pohon itu untuk berteduh, Jian An kemudian duduk di sebelahnya dengan posisi Lotus, lebih baik dia mengumpulkan energi saja sambil menunggu Delvin sadar dari pingsannya.
Kini matahari sudah tepat di atas kepala namun belum ada tanda-tanda Delvin akan bangun dari pingsan, sementara itu Jian An kini secara perlahan membuka matanya.
Melirik ke arah Delvin dan sesekali melihat Matahari yang kini sudah di atas kepala.
"Lebih baik mungkin aku harus pergi saja, lagi pula dia akan bangun kan nanti"ucap Jian An dan segera bangun dari duduk, berlari dengan sekuat tenang untuk pergi ke gunung yang kini sudah nampak
__ADS_1
Menempuh perjalan 1 menit dengan kecepatan yang sedang menurut nya kini Jian An sudah berada di atas gunung melihat ke arah kawah dia bisa melihat bahwa di sana ada dua lava dengan energi yang saling bertentangan, satu panas dan satu dingin.
Tanpa berkata apa-apa Jian An langsung saja menenggelamkan dirinya sendiri ke dalam lava tersebut.
Sensasi dingin yang menusuk tulang hingga membuat nya menggigil, serta sensasi panas yang seakan membakar tubuhnya menjadi abu dalam sekejab bersatu menyiksa tubuhnya, seandainya saja dia bukan seorang Cultivator yang sudah melebihi batas alam fana mungkin saja kini dia sudah tak ada di Dunia ini lagi dan cerita ini akan segera berakhir dengan akhir yang mengenaskan sekali.
Tak terasa kini waktu sudah sore matahari pun sudah tenggelam di arah barat, namun Jian An sama sekali belum bisa menyelesaikan apa yang seharusnya di selesaikan, lantaran hal yang di anggap nya mudah ternyata tak semudah di banyangkan, seandainya saja dia tak memiliki 8 orang yang membantu nya mungkin saja saat ini dia sedang kesulitan atau bisa saja akan terjadi kesalahan dalam pengelolaan energi.
Sementara itu di bawah gunung Delvin menatap jauh ke arah puncak di mana kini puncak gunung tersebut bersinar dengan warna emas yang menyilaukan.
"Dia sangatlah jahat seharusnya dia menunggu dulu kan?"ucap Delvin dengan sedikit kesal, sekaligus cemberut.
Dengan kecepatan kilat kini Delvin sudah di atas gunung dari atas dia bisa melihat cahaya emas yang bersinar begitu terang di tengah-tengah kawah es dan api.
Energi yang kini sangat besar menyelimuti gunung tersebut, dan seperti sebuah magnet sebuah energi asing menarik energi di sekitar untuk berkumpul di satu sisi saja, sehingga saat ini Delvin bisa merasakan kekuatan yang hebat di sana walaupun dirinya hanya berdiri saja.
"Energi di sini sangat padat, kalau aku menyerap beberapa, tidak akan ada ruginya buat dia kan?"tanya Delvin yang entah pada siapa, tanpa menunggu lama Delvin segera mengambil posisi dan mulai menyerap energi sekitar yang sangat berlimpah.
Sementara itu di bawah sana, Jian An kini masih berjuang mengelola energi yang datang ke padanya,
Beberapa darah sempat keluar dari mulutnya namun dengan keteguhan hati dan keyakinan Jian An bisa mengatasi nya tentu saja dengan usaha yang maksimal juga.
Kini mata hari sudah menjelang sore namun tak ada tanda-tanda Jian An akan naik, Delvin sendiri kini sudah membuka matanya dan sesekali kini menatap ke arah kawah dengan tatapan khawatir yang sebenarnya tak perlu karena beberapa detik kemudian.
Delvin yang menatap kecepatan itu segera menyingkir karena bisa di bayangkan seberapa cepat nya itu, dia juga yakin bahwa itu adalah Jian An.
Dan benar saja kini Jian An mendarat di depannya.
"Kau sudah bangun?"tanya Jian An sambil melihat ke arah Delvin.
"Ya sudah, hey, kamu berani nya tak mengajakku saat pergi"ucap Delvin sambil melihat Jian An dengan mata melotot.
"Itu tak penting, sekarang beri tau aku di mana Long Kun dan juga bagaimana bisa kamu ada di sini?"tanya Jian An.
"Tak perlu khawatir Long Kun aman dia ada di Markas Black King, dan bagaimana aku bisa sampai di sini dan tau bahwa kamu ada di sini aku yakin kamu bisa menebaknya, dan Jian An kamu makin dingin"ucap Delvin sambil menatap Jian An.
"Menyebalkan, sekarang aku punya beban"ucap Jian An kesal sambil menggembung kan pipinya dengan imut, membuat Delvin yang ada di depan nya ingin menarik pipi Jian An yang entah kenapa kini semakin besar saja.
"Beban?!, Aku bukan beban ok, lagi pula kekuatan ku sudah cukup untuk melawan mu"ucap Delvin sombong.
"Benarkah, yah~, kau memang bisa melawanku tapi yang kemarin"ucap Jian An dengan senyum remeh.
__ADS_1
"Kamu!..."ucap Delvin sambil menunjuk ke wajah Jian An, wajahnya dengan jelas menahan kesal serta amarah.
"Si4lan!, Kalau tau gini lebih baik aku gak menyusul mu dan menikah saja!"ucap Delvin sambil pergi dari sana dengan amarah tak lupa juga gerutuan yang keluar dari mulutnya.
Jian An yang melihat itu diam-diam kini tertawa kecil, dia tau bahwa Delvin bercanda, namun saat menggoda nya dan membuatnya marah adalah hal yang sangat menyenangkan dan menghibur.
"Hiburan yang asik"ucap Jian An sambil menatap punggung Delvin yang makin menjauh.
Berlari kecil menyusul Delvin, kini Jian An bisa melihat Delvin yang sedang menggerutu di balik batu sambil memainkan tangannya, tak lupa juga dengan umpatan yang di lontarkan kepada Jian An.
"Dasar tengik"
"Menyebalkan"
Dan berbagai umpatan bahkan sesekali dia akan melempar batu-batu kecil di sekitarnya sebagai pelampiasan amarah.
"Umpatan yang berkelas"puji Jian An yang kini sudah berada di belakang Delvin dengan wajah menyebalkan miliknya.
Delvin yang melihat itu langsung melotot ke arah Jian An.
"Apa yang kau lakukan!, Menyebalkan!"ucap Delvin lagi.
"Aku?, Aku hanya sedang melihat orang memaki, apa aku salah?"ucap Jian An dengan nada songongnya tak lupa juga wajah polosnya yang membuat Delvin makin kesal.
"Tau ah!"ucap Delvin pada akhirnya sambil memalingkan wajahnya dari Jian An.
"Hey, hey, hey, kamu itu sebenarnya umur berapa sih?"tanya Jian An sambil duduk di samping Delvin.
"Menurut mu"ucap Delvin tanpa niat untuk menjawabnya, dia malas saat ini berinteraksi dengan Makhluk di depannya.
"Haih~, lihat pembaca seberapa imutnya bayi ini"ucap Jian An sambil menarik-narik kedua pipi Delvin dengan keras.
"Au, au, au, Jian An!!!"ucap Delvin marah.
"Apa?, Kamu marah?, kau benci?, Balas aku kalau kau bisa"ucap Jian An dengan wajah yang membuat Delvin makin geram.
"Terima ini"ucap Delvin sambil menarik pipi Jian An dengan keras.
"Aaaaa...., Ah, kamu curang"ucap Jian An yang kini menarik rambut Delvin dengan keras.
Delvin yang menerima perlakuan seperti itu tak terima dan menarik rambut Jian An juga bahkan kini hiasan yang terpasang dengan rapi dan indah di kepala Jian An terlepas.
__ADS_1
Ya kita akhirnya Chapter ini dengan adegan gelud mereka berdua.