
Jian An dan Delvin mulai pergi dari penginapan saat matahari sudah menjelang siang, mereka berjalan kaki karena ingin sekali melihat-lihat sekitar.
Pada saat itu mereka melewati banyak desa namun mereka sama sekali tidak berhenti berjalan dan terus saja berjalan dengan tenang ke arah yang di tuju.
"Hey apa kau lapar?"tanya Delvin.
"Belum terlalu, jika kau lapar kenapa kau tidak memakan bekal saja"ucap Jian An.
"Hmm..., Baiklah kalau begitu bisakah kita berhenti di pondok kecil itu dahulu"ucap Delvin sambil menunjuk sebuah pondok kayu yang berdiri di pinggir hutan.
Kini mereka sudah memasuki kawasan hutan dan tinggal perjalanan satu hari penuh lagi untuk sampai ke Perguruan Bukit Tinggi.
"Baik"ucap Jian An.
Akhirnya mereka berdua duduk di sana melepas lelah, sambil menunggu Delvin selesai makan entah kepada Jian An juga lapar sehingga dia bergabung dengan Delvin.
Namun karena dia malas mengotori tangan nya, lebih tepatnya dia malas menggerakkan tangan, Jian An hanya membuka mulutnya sambil menarik baju Delvin.
"Beri aku juga"ucap Jian An dengan tatapan kucing.
Awalnya Delvin hanya menatap Jian An namun dengan ikhlas dia menyuapi Jian An makanan dari tangan nya langsung karena menurut Delvin makan yang paling enak adalah dengan tangan.
Makan untuk dirinya sendiri sambil sesekali menyuapi Jian An ternyata bukan hal sulit.
"Makanlah dengan perlahan, aku tak akan merebut nya"ucap Delvin sambil menyuapi Jian An.
"Baiklah"ucap Jian An dengan mulut yang masih menguyah makanan.
"Jangan berbicara saat kau makan"ucap Delvin.
Mendengar itu Jian An hanya mengangguk kepalanya sebagai jawaban.
Setelah selesai makan Delvin pergi dari sana untuk mencari air, mencuci tangan nya sendiri, meninggal Jian An yang kini sedang mengelus perutnya dengan senyum puas.
"Ayo kita jalan lagi"ucap Delvin sambil hendak pergi dari sana namun Jian An masih saja dengan tenang duduk di atas pondok kayu tersebut tanpa ada niat untuk pergi sedikitpun.
"Kenapa?"tanya Delvin sambil menatap Jian An.
"Kaki ku sakit"ucap Jian An.
Berjongkok di depan Jian An, Delvin mengecek kondisi kakinya, dan ternyata kakinya sangat banyak memiliki luka mungkin karena perjalanan yang panjang dan mereka yak istirahat sampai sore hari ini.
"Baiklah naik*ucap Delvin sambil berputar dan menyerahkan punggung nya.
Tanpa sungkan Jian An melompat ke punggung lebar Delvin dengan senyum cerah.
Berjalan sambil menggendong Jian An ternyata seperti menggendong kapas sama sekali tidak terasa, bahkan Delvin kini ragu bahwa dia sedang menggendong manusia.
Jian An sendiri kini merasa tinggi mungkin karena tinggi Delvin mencapai 189 cm, sedang dirinya baru 169 cm, sehingga saat mereka berjalan berdua dia lebih seperti adiknya.
Namun jujur saja saat dia melihat kebawa mata nya sedikit bergetar, ada sedikit rasa takut di sana namun segera hilang saat dia memikirkan bahwa dia pernah berada di tempat yang lebih tinggi.
__ADS_1
Mengeratkan pelukannya pada leher Delvin, Jian An mengubur kepalanya di belakang lehernya, nafas lembut yang harum dan hangat itu menyentuh kulit leher Delvin, dan itu cukup membuat Delvin merinding sebentar.
"Ini sudah malam jadi lebih baik kita bermalam di sini saja"ucap Delvin.
"......"tak ada jawaban dari Jian An.
"Hey, Jian An, apa kau mendengar ku?"tanya Delvin.
"......"namun lagi-lagi yang di panggil tak menjawab nya sama sekali.
"Dia tertidur?, Kepala cepat sekali?"ucap Delvin menghela nafas.
Menurunkan Jian An di bawah pohon Delvin kemudian mengibas tangan nya, peralatan kemah pun tersedia di sana dengan sekejap mata.
"Cincin Ruang ini cukup berguna"ucap Delvin sambil melihat cincin yang ada di jari manisnya.
Mendirikan nya sendiri tak lama hal-hal tersebut telah selesai, mengendong Jian An masuk ke dalam tenda Delvin meninggalkan nya sebentar untuk mencari kayu bakar.
Kini kayu bakar sudah terkumpul Delvin segera menyalakan api, tapi karena di sini dia tak membawa apa dia kemudian mengeluarkan api dari tangan nya.
Selain itu dia juga melempar kan batu energi kedalam kobaran api tersebut tujuanannya agar api tersebut tak padam hingga pagi.
Malam semakin larut dan sudah beberapa kali Delvin terus menguap.
Mengambil sebuah tiker Delvin menggelar nya di bawah pohon dekat api, dan segera tidur di sama dengan tenang.
Karena tidur Delvin tak menyadari bahwa Jian An kini terbangun dan mencari nya.
"Aku lapar"ucap Jian An dan segera keluar mengeluarkan alat masak Jian An mulai memasak mie instan yang memang tersedia di dalam Ruang Dimensi nya.
Menunggu masakannya matang Jian An bermain dengan api unggun di depannya.
Makanan telah siap, memakannya dengan lahap, Jian An sama sekali tidak bisa tidur sehingga dirinya memilih berjalan-jalan di sekitar.
Angin dan hawa dingin menembus tubuhnya yang kecil dan lembut, hal itu membuat Jian An memeluk dirinya sendiri.
Berjalan menelusuri hutan Jian An akhirnya sampai di sebuah tebing, menatap kearah langit di sana, Jian An bisa melihat langit malam tanpa bintang.
"Sepertinya malam ini akan turun hujan"ucap Jian An.
Karena hal itu Jian An mencari banyak kayu, serta bambu, dan membawanya ke arah di mana kemah di dirikan oleh Delvin.
Bekerja membuat pondok di atas pohon tak lama pondok tersebut telah selesai di buat.
Mengeluarkan kasur, beserta dengan beberapa cemilan ringan tak lupa Jian An juga mengeluarkan selimut tebal yang hangat, dia juga membereskan tenda yang di dirikan oleh Delvin, dan dengan Qi nya dia memasukkan benda-benda tersebut ke dalam cincin Ruang milik Delvin.
Berjongkok di samping Delvin, Jian An menggoyang tubuhnya agar segera bangun dari tidurnya.
Dengan malas Delvin membuka matanya.
"Apa?"suara serak terdengar dari Delvin sambil menatap Jian An dengan sayu.
__ADS_1
"Ayo pindah, ku rasa sebentar lagi akan turun hujan"ucap Jian An.
"Hmmm...., Baiklah"ucap Delvin sambil bangun dari tidur nya dan segera mengikuti Jian An yang berjalan ke arah sebuah pondok kayu, atau bisa di sebut rumah pohon.
Masuk ke dalam Delvin segera membaringkan tubuhnya dan tidur kembali dengan lelap, Jian An sendiri kini membuka jendela dan menatap ke luar.
Benar saja sesudah Delvin berada di dalam hujan turun dengan derasnya, menatap hujan yang turun Jian An diam-diam mengulurkan tangannya untuk menyentuh air hujan yang turun dari langit.
Tetes demi tetes mengenai tangan nya membuat Jian An sedikit melamun.
Hingga sebuah pelukan dari belakang membuat nya tersentak.
"Hey, kau tak tidur bocah!"ucap Delvin.
"Siapa yang bocah!"ucap Jian An kesal.
"Kau, umurmu kan baru 15 tahun"ucap Delvin.
"Aku 16 ok, aku sudah dewasa"ucap Jian An tak terima pasalnya kini sudah satu tahun lebih Jian An berkelana, namun si orang di belakang nya ini bahkan tak tau berapa umur nya.
"Ah ya aku lupa umurku sekarang bahkan sudah 19 tahun kan?"tanya Delvin sambil mengubur kepalanya di leher Jian An.
"Ya dan kau sangat tua"ucap Jian An dengan smirk nya.
"Aku belum tua ok"ucap Delvin.
Jian An hanya tersenyum dan melanjutkan menatap ke luar rumah Pohon dia tahu bahwa Delvin saat ini sudah kembali tidur.
Ya walaupun posisinya sangat aneh saat tidur.
"Bangun, aku ingin tidur"ucap Jian An.
"Baiklah"ucap Delvin namun tetap saja dia bahkan tak melepaskan pelukannya.
"Bagaimana aku bisa tidur jika kau terus memeluk ku dan tak membiarkan ku tidur?!"ucap Jian An kesal.
"Oh, aku lupa"ucap Delvin dan melepaskan pelukannya, kini Delvin kembali berbaring di kasur dengan tenang.
Jian An sendiri kini tidur di sebelah Delvin, saat hendak memejamkan matanya dia merasakan bahwa selimut di tarik dan seseorang menggunakan selimut yang sama dengan dirinya.
Tak lama dia merasakan pelukan hangat seseorang, dia tau siapa itu, sehingga dengan tenang dia tetap menutup matanya, dan membalas pelukan hangat tersebut.
Namun di tengah malam Jian An kembali terbangun akan suara serigala yang sepertinya sangat dekat dengan rumah pohonnya.
Membuka mata, Jian An melihat ke arah Delvin yang masih tidur dengan nyenyak sambil memeluk nya.
Dengan hati-hati Jian An mendekat ke arah jendela dan membukanya benar saja di depan rumah Pohon dia bisa melihat kawanan serigala yang menunjukkan taringnya ke arah Jian An.
Dengan hati-hati pula Jian An menarik Pedang nya dari Ruang Dimensi.
Mengintai sebentar Jian An sama sekali tak memiliki niat untuk membangun Delvin yang kini tidur dengan nyenyak.
__ADS_1