EMPEROR OF THE EARTH

EMPEROR OF THE EARTH
Chapter 83


__ADS_3

Selamat membaca


๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


.........................................


Benar saja setelah setidaknya satu jam Jian An menunggu sambil menyerap jiwa nya ia bisa merasakan hawa kehadiran Kakek Chen yang seperti nya hendak ke kamar nya dengan segera Jian An menghentikan Kultivasi dan menyimpan kembali batu tempat bersemayam pecahan jiwa nya tersebut.


Ceklek..!


"Bocah nakal, kemana saja kamu, menyusahkan saja Kangin kali jangan sembarangan menghilang!"kesal Kakek Chen lantaran sudah susah di cari ternyata orang yang di cari nya kini sedang duduk di atas kasur nya sendiri dengan nyaman dan tenang tanpa memikirkan apa-apa.


"Siapa juga yang menyuruhmu mencari ku, kakek tua"ucap Jian An dengan malas di kasur nya.


"Huh!, Seharusnya aku tadi tak mengkhawatirkan mu, sial4n"kesal Kakek Chen dan segera pergi dari sana dengan kesal, tapi apa perduli seorang Jian An.


Sepergi nya Kakek Chen Jian An kini kembali menyerap jiwa nya kembali, kali ini dia tak akan ceroboh lagi memasang Manyar di kamar nya agar orang lain tak tau jika dia menghilang secara tiba-tiba, Jian An langsung saja menghilang lagi dari sana.


......................................


Tak pernah di sangka ternyata hari sudah pagi, dan Jian An sendiri juga sudah menyelesaikan penyerapan jiwa nya, kini di tangannya nya terdapat sebuah buku yang berisi cara untuk meningkatkan tenaga dalam dengan cepat, Jian an sudah mempelajari tenaga dalam tadi malam di bantu oleh Chu dan Chan yang ternyata sangat tau tentang hal itu dan ia sudah memiliki sekitar 10 lingkaran tenaga dalam.


Hingga akhirnya akhirnya ia merasakan bahwa kapal yang di naiki nya tersebut sudah berlabuh, dengan cepat Jian An keluar dan segera berlari menuju luar kapal.


Di jalan ia bersimpangan dengan Kakek Chan yang seperti nya hendak ke kamar nya namun Jian An hanya mengabaikan Kakek Chan dan segera berlari ke luar kapal.


"Bocah nakal!, Jangan berlari!, Dasar nakal!"teriak Kakek Chan.


Jian an sendiri kini sudah berada di luar dan sedang memandang ke arah di mana desa Luรณlรจ xiลซjiร  berada.


Desa ini berbeda dengan desa yang kemarin di datangi oleh Jian an, di mana di sana sama seperti kota, di sini jauh lebih sederhana dari pada dengan yang kemarin.


Namun Desa ini sekarang tak ada bedanya dengan desa kemarin yang ramai akan pendekar pedang, melihat banyak pendekar pedang Jian An jadi teringat dengan nya sendiri yang baru memiliki 10 lingkaran tenaga dalam, ia termasuk tingkat apa ya.


"Chan, Chu menurutku aku tingkat apa ya"ucap Jian An.


"Akhirnya Tuan bertanya tentang di level mana sekarang ini"jawab Chu Kun.


"Tuan sekarang ada di rahan, Pendekar awan level 1"jawab Chan kun.


"He!, Apa-apa itu kenapa aku sangat lemah sekali"kesal Jian An.


"Tak apa tuan itu juga sudah bagus kok dengan memiliki 10 lingkaran tenaga dalam, hanya dengan waktu satu malam"ucap Chu Kun.


"Benar An'er tak perlu sedih kau hanya perlu berlatih lebih keras saja hingga bisa sampai di rahan Pendekar suci"hibur Jun Kun.


"Ah~, ini sungguh tak adil, kenapa aku begitu lemah sedangkan di sini aku hanya boleh memakai tenaga dalam, bagaimana nanti aku akan membunuh pemilik batu safir itu"ucap Jian An dengan lesu, hingga sebuah tepukan di bahu nya membuat Jian An menoleh.


.dan ternyata Kakek Chen lah yang ada di belakang nya.

__ADS_1


"Hey, bocah tak seperti biasanya kau begitu lesu, apa ada masalah?"tanya Kakek Chen.


"Tak ada"ucap Jian An masih dengan lesu, mendapat jawaban dari Jian An Kakek Chen mengangkat satu alisnya, dan menghembuskan nafas nya dengan kasar.


"Aisss.., ckckckck, kau ini seperti murid ku dulu saja yang selalu ingin menyimpan semuanya sendiri, padahal ia masih memiliki guru yang pasti akan mendengar apa saja keluhannya"ucap Kakek Chen sambil menerawang jauh ke atas langit.


"Maksudmu murid-murid mu yang tak berguna itu yang meninggalkan guru nya sendiri saat dalam kesulitan"ucap Jian An sambil mendengus.


"Tentu saja bukan, bod0h, mereka bukan lagi murid ku, yang ku maksud itu murid pertama ku kau tau tapi sayang sekali ia sudah mati"ucap Kakek Chen dengan wajah yang kelihatan sedih, Jian An pun melihat hal tersebut dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Maaf, karena sudah membuat ku sedih"ucap Jian An, Kakek Chan yang mendengar itu pun langsung menoleh ke arah Jian An.


"Eh, Kenapa kau minta maaf?"tanya Kakek Chen.


"Tentu saja aku minta maaf tua Bangka!, karena Sudah membuat mu mengingat murid yang sudah mati itu!, Menyebalkan sekali"kesal Jian An.


Kakek Chen yang melihat Jian An kesal hanya bisa tertawa.


"Hahahaha, sudah ku duga kau mirip dengan murid ku itu, sama-sama menyebalkan, hahahaha"ucap Kakek Chen.


Jian ana yang mendengar itu makin kesal dengan apa yang di katakan oleh Kakek Chen.


"Terserah kau saja aku tak akan ikut campur, dan jangan bawa-bawa nama ku lagi, si4lan!"teriak Jian An kesla Dan pergi meninggalkan Kakek Chen sendirian.


Seperginya Jian An, Kakek Chen memandang jauh ke atas langit, jelas sekali bahwa di mata nya tersimpan kerinduan serta kesedihan yang amat dalam.


"Murid ku, seandainya hari itu aku bisa melindungi mu mungkin sekarang kau masih ada di sini, dan bertemu dengan Jian An anak yang sama-sama menyebalkan seperti mu"ucap Kakek Chen.


......................................


Sementara itu di sebuah jurang yang suram berjarak ratusan kilo meter dari tempat Jian An, dan Kakek Chen berada.


Seorang pemuda sekitar berumur 21 tahun kini sedang berbaring di sana dengan penuh luka.


"Ugh, dimana aku?"tanya pemuda tersebut entah ke lada siapa.


Pemuda tersebut pun memilih berjalan mengikuti alur dari jurang tersebut.


"Ah, apa guru baik-baik saja sekarang, apa dia selamat, setelah di kejar begitu banyak Pendekar"ucap snag pemuda.


"Apa para adik seperguruan ku bisa melindungi guru"ucap sang pemuda tanpa mengetahui bahwa semua adik seperguruan nya pergi meninggalkan sang guru sendirian dalam Medan peperangan.


Pemuda itu terus berjalan hingga akhirnya ia menemukan sebuah sungai, membasuh luka di sekujur tubuhnya, pemuda tersebut langsung saja mulai bermeditasi di atas batu yang terletak di tengah-tengah sungai.


Ia harus segara sembuh dari luka ini, dan mencari di mana keberadaan guru nya berada, semoga saja ia bisa bertemu dengan guru nya lagi.


........................................


Beberapa hari yang lalu, setelah percakapan dari Mei Ling dan Bo Doh di dengar oleh Qian He, Yu Mei, Dan Ming Meng, dan mereka bertiga menyampaikan apa yang mereka lihat ke pada Delvin Dkk.

__ADS_1


Kini Delvin, Alex, Bagas, Qian He, Ming Meng, Dan Yu Mei makin waspada ke pada Mei Ling, pasalnya mereka tak mau lengah dengan sang ular itu.


"Vin sampai kapan kita akan sabar menghadapi kampret itu dengan diam seperti ini"ucap Bagas dengan frustasi.


"Iya benar aku sungguh ingin membunuhnya sekarang juga"ucap Alex.


"Kalian kira hanya kalian berdua saja yang sudah muak, dengan nya aku juga rasanya aku ingin segera membunuh nya dan mencabik-cabik tubuhnya kemudian aku makan, tidak-tidak aku tak akan pernah mau makan dagingnya, sangat haram untuk di makan, bahkan untuk bersentuhan dengan ujung rambut nya saja di haramkan"ucap Delvin yang kini bahkan sudah mulai ngawur.


Sedangkan Tiga teman Jian An kini sedang santai-santai saja.


"Bersabarlah kalian ber 3, Delvin lanjutkan lagi apa yang ku suruh"ucap Qian He dan meminum teh nya kembali.


"Maksudmu berpura-pura jatuh cinta kepada nya itu, aku sudah tak mau lebih baik aku mati saja kau tau tidak"ucap Delvin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Delvin sekarang bahkan sudah seperti orang depresi.


Menarik nafas dan mengeluarkan dengan lemah, Yu Mei, akhirnya angkat bicara.


"Lakukan saja Delvin, kita harus membuatnya melayang jauh di atas awan dulu, lalu nanti biarkan Jian An yang akan bermain dengan nya jika ia kembali nanti"ucap nya.


"Kapan dia akan kembali ini sudah hampir 1 tahun kau tau"ucap Delvin.


"Hampir 1 tahun apa maksud mu, Jian An baru pergi selama 6 bulan kok belum terlalu lama"ucap Ming Meng polos yang malah membuat Delvin makin frustasi.


"Akh!!, Kenapa dia lama sekali, menyebalkan!"teriak Delvin dengan kesal campur Frustasi.


.......................................


Sudah sekitar 1 bulan Jian An berada di desa Luรณlรจ xiลซjiร .


Kini Jian An sudah mulai merasa bosan juga di desa tersebut, tak seperti awal-awalnya di mana ia masih bisa tersenyum, dan bahagia.


"Huh!, Bosan nya sudah 1 bulan kita di sini tapi belum ada tanda-tanda bahwa Monster daun kemangi itu akan keluar dan mengamuk"ucap Jian An dengan bosan.


"Sabar lah, lagi pula jika kita bisa membunuh banyak sekali monster daun kemangi itu, kita bisa mengambil permata siluman pada nya dan bisa kita jual atau untuk meningkatkan tenaga dalam mu, kau juga baru saja sampai di rahan Pendekar kelas menengah level 1"ucap Kakek Chen.


"Sungguh aku awalnya tak percaya bahwa kau baru saja ada di rahan itu ku kira kau setidaknya berada di rahan Pendekar pedang tahap langit level 3, sungguh sebuah ke ajaibban kau bisa membantai begitu banyak orang"ucap Kakek Chen.


"Cih kau kira menjadi pendekar pedang itu mudah apa"ucap Jian An dengan kesal.


"Ya, ya, ya, aku tau itu semua, tenang saja tak lama lagi kau pasti bisa sampai di rahan Pendekar pedang kelas atas level 1, mungkin "ucap Kakek Chen.


"Bukan hanya rahan itu saja yang akan ku capai setelah ini, tapi akan ku pastikan bahwa aku akan membuat kejutan yang luar biasa untuk mu guru baru ku"ucap Jian An, ya memang Jian An telah menerima Kakek Chen sebagai guru nya sendiri.


Hal tersebut pun karena nasihat dari Chu, dan Chan Kun yang berkata bahwa mereka belum terlalu memahami tentang pendekar pedang, dan menyuruhnya menerima tawaran Kakek Chen yang waktu itu menawarinya untuk menjadi muridnya.


Mau tak mau dia menyetujui nya lagi pula ada rugi bagi nya sendiri.


........................................


Selamat menunggu Chapter berikut nya kawan semua๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜….

__ADS_1


IG : sukma_761100


__ADS_2