
Sementara itu ke adaan istana sedang kacau balau, akibat menghilangnnya sanga Putri Jian An
Para parajurit, serat jendral, semuanya di kerahkan hanya untuk mencari ke mana perginya Jian An.
"Apa, ada kabar di mana ke beradaan Putri"ucap jendral Jianheng.
"Belum, jendral, kami sudah mencari kemana pun namun bukan hanya tak ketemu, bahwkan jejak nya saja tak ada"lapor seorang prajurit yang saat ini sedang melapor.
"Hahh.."helaan napas lelah dari jendral Jianheng.
"Cari lagi hingga ketemu"perintah jendral Jianheng.
"Baik jendral"ucap prajurit tersebut dan segera undur diri.
............
Cahaya matahari kini telah bersinar dengan terang menembus ke cela - cela pohon menyinari tempat di mana Jian An tertidur.
"Hoam..., Um lelah sekali, tidur di sini tak menyenangkan, bagaimana bocah tengik ini bisa tidur dengan nyeyak sekali"ucap Jian An.
Dengan mata yang sayup, Jian An duduk di samping Delvin yang belum membuka matanya.
"Ini anak mati, apa hidup, tidurnya nyeyak banget dah"ucap Jian An sambil memandangi Delvin.
"Tapi kalau di lihat - lihat, Delvin lumayan tampan, imut, dan manis juga ya"ucap Jian An sambil memandangi wajah Delvin mulai dari mata, hidung, pipi, dan yang terakhir bibir.
"Ukh, ya, ampun bibir ini sangat menggoda, iman ku goyah"ucap Jian An Sambil menggigit bibirnya, tangannya juga ia letakan dibibir Delvin sambil mengelusnya lembut.
"Ciu*, sedikit kagak apa lah"ucap Jian An.
Dengan cepat Jian An langsung menyambar bibir merah Delvin, awalnya ia hanya mau mengec*p nya saja namun entah setan dari mana ia malah ******* bibir itu dari lembut sampai ke ganas.
Bahkan saat ini, Jian An sudah berada di atas tubuh Delvin.
Sekitar satu menitan Jian An baru melepaskan tautan tersebut.
Dengan masih di atas tubuh Delvin Jian An membisikan beberapa kata.
"Hehe, kau milikku Delvin mulai sekarang"ucap nya mutlak, dan langsung pergi menghilang seperti Jian An memang tak pernah berada di sana, tak lupa juga membawa semua barang yang ia ke luarkan.
Tak lama setelah Jian An pergi Delvin terbangun dari tidurnya sambil memegang bibirnya.
"Aneh, kenapa aku merasa ada seseorang yang menciu* ku ya?"ucap Delvin dengan heran.
"Tapi, kalau di pikir - pikir, kenapa aku merinding sekali"ucap nya lagi sambil memegang tengkuknya yang terasa dingin.
"Sudahlah, cepat selesaikan tugas dari anak iblis itu, setalah itu pulang"ucap Delvin sambil berlari ke tengah hutan dan melanjutkan pekerjaannya lagi yaitu berburu, Spirit Beast.
........
Tak terasa sudah tiga bulan Delvin di dalam hutan darah, saat ini Delvin sudah berada di gerbang lapisan terakhir hutan darah, dengan senang Delvin bersorak gembira.
"YEAH, AKHIRNYA SAMPAI JU.."namun sebelum ia menyelesaikan kata - katanya Delvin sudah terlebih dahulu lemas dan hampir tumbang ke tanah, jika saja tak ada seorang pun yang langsung memeluknya dari depan.
"Baru segini, kau sudah tumbang Delvin, sungguh payah sekali"ucap Jian An.
__ADS_1
Delvin tak menjawab apa - apa karena kesadarannya perlahan menghilang.
Perlahan Delvin membuka matanya, hal pertama yang di lihatnya adalah Jian An yang kini sedang berdiri di tengah danau pelangi di atas sebuah bunga lotus emas, dengan keadaan di mana Jian An berubah menjadi penguasa dunia.
Dengan rambut keperakan dan sedikit helai rambut berwarna emas di pinggir kirinya, dengan memakai mahkota berwarna emas serta pakaian warna emas seperti pengantin.
Yang kini menghadap ke arah matahari tenggelam, sosok itu begitu cantik, nan anggun, perlahan namun pasti Jian An, berbalik menghadap Delvin dengan senyum lembut nan indah yang mampu meluluhkan seluruh dunia, Jian An menghampiri Delvin dengan langkah pasti.
Delvin yang melihat itu tak tau harus bereaksi seperti apa, takjub?, tentu iya, terpesona?, tentu, jatuh cinta?, Mungkin!.
"Sudah sadar, bodo*"ucap Jian An sambil menyentil dahi Delvin.
"Akh, kau sangat kasar sebagai seorang perempuan Jian"ucap Delvin sambil mengusap dahinya yang sakit.
Jian An hanya menanggapinya dengan senyum tipis, yah, benar jika Jian An berubah maka ia akan lebih tegas, serta beraura kepemimpinan.
"Apa yang terjadi dengan mu kenapa kau memakai pakaian seperti itu"ucap Delvin sambil menunjuk baju yang di kenakan oleh Jian An.
"Memangnya kenapa?, Kau ingin juga"ucap Jian An sambil masih tersenyum lembut.
Delvin yang melihat senyum lembut Jian An malah merasa merinding, karena Jian An sungguh selama ini tak pernah tersenyum lembut ke padanya.
"Kau tak sakit kan"ucap Delvin sambil mengecek suhu tubuh Jian An menggunakan tangannya.
Jian An yang melihat itu langsung menahan tangan Delvin yang kini berada di dahinya.
"Apa yang kau lakukan, lepaskan tangan ku"ucap Delvin.
"Kalau tak mau bagaimana?"ucap Jian An main - main.
"Menurutmu"ucap Jian An sambil terus melangkah maju, yang mengakibatkan Delvin melangkah mundur.
Hingga akhirnya sudah tak ada ruang lagi untuk Delvin, karena ia sudah menabrak pohon besar di belakanganya, sementara Jian An masih terus mendekat.
Dengan mengunci pergerakan Delvin di pohon, Jian An mendekatkan bibirnya ke arah telinga Delvin.
Delvin bahkan bisa merasakan hembusan nafas Jian An di telinganya, yang mengakibatkan telinganya memerah.
"Kau, bodo* sekali Delvin, harusnya kau menghawatirkan diri mu sendiri saat ini, karena kau bahkan sangat lemah, bahkan untuk keluar dari kuncian ku pun kau tak sanggup"ucap Jian An dengan berbisik.
"Ap-apa maksud mu, Jian"ucap Delvin dengan gagap.
"Menurutmu"ucap Jian An
"Bisakah kau berbicara dengan benar seperti biasanya Jian, tak perlu bersikap seperti ini"ucap Delvin dengan kesal pasal nya Jian An dari tadi hanya berkata.
'menurutmu'
Dan itu adalah kata yang di benci oleh Delvin, karena kata itu sungguh membingung.
Bukannya menjawab Jian An malas mengangkat wajah Delvin hingga sejajar dengan nya.
Kini mereka berdua saling bertatapan, kerena itu Delvin malas salah tingkah, bahkan sekarang wajahnya sangat merah hingga ke telinga, Jian An yang melihatnya hanya tersenyum kecil.
"Hem.., sebaiknya kau hawatirkan diri mu sendiri saja wajahmu kini memerah Semerah cabai"ucap Jian An menggoda Delvin.
__ADS_1
Delvin yang di goda makin memerah.
"Ap-apa-apa yang kau lakukan"ucap Delvin sambil mendorong Jian An, namun dengan liciknya Jian An malah menarik Delvin hingga kini, Delvin berada di atas Jian An.
Mata Delvin langsung terbelak, Jian An langsung menarik tengkuk nya, hingga mereka ber ciu*an, hingga akhirnya Jian An melepaskannya, Delvin pun langsung bangun.
"Apa, yang kau lakukan"ucap Delvin.
"Memangnya kenapa?"ucap Jian An.
"Sudahlah sekarang lebih baik kau ber kultivasi di sini, dan ingat setelah kau ber kultivasi, kau harus menyerap semua inti Beast yang kau kumpulkan sebelumnya"ucap Jian An.
Delvin pun tak menjawab malahan ia langsung ber kultivasi agar bisa cepat sampai pada tahap selanjutnya.
Tak terasa malam sudah tiba, Jian An kini sudah berubah lagi, ia sudah seperti Jian An yang biasanya.
"Ah, ternyata di hutan darah da sekitar seribu pecahan jiwaku, sehinggga tadi aku berubah, mengambil pecahan jiwa itu tak perlu buang - buang tenaga karena jika aku bisa mengenali bahwa itu adalah jiwa ku maka secara otomatis pecahan jiwa itu akan masuk ke dalam tubuh ku"ucap Jian An.
Jian An, membuat api unggun serta membakar sekitar empat ikan yang telah di beri bumbu.
"Sebentar lagi, nih anak bangun"ucap Jian An sambil menengok ke arah Delvin duduk.
Dan benar saja tak lama setelah itu Delvin membuka matanya, dengan senyum merekah di bibirnya.
"Udah?"tanya Jian An.
"Ya, ternyata hal seperti ini sangat ekfektif sekali"ucap Delvin.
"Tentu saja, kau sekarang sudah tahap Dewa"ucap Jian An.
"Eh, bagaimana kau tau aku baru saja tahap Dewa"ucap Delvin.
"Tentu, karena kultivasi mu dan aku, lebih tinggi diriku"ucap Jian An sombong.
"Ck, sombong sekali anda"ucap Delvin kesal.
"Sudahlah, ayo makan ikannya, ini sudah matang"ucap Jian An sambil memberikan Delvin dua ekor ikan, Jian An sendiri memakan ikannya dengan lahap, begitu pun Delvin.
..........
Matahari sekarang sudah muncul, burung berterbangan sambil ber nyayi, mengeluarkan suara merdu.
Jian An dan Delvin saat ini sedang berjalan menuruni hutan darah, tak seperti saat pertama Delvin sendirian, saat ini satu hewan pun tak berani menampakkan dirinya.
"Eh, hari ini, apa semua Spirit Beast sedang berpesta di satu tempat, atau mereka masih pada ngebo"ucap Delvin ngawur.
"Sembarangan, mereka itu tak berani mendekat kerena ada gue, tau gak Lo"ucap Jian An.
"Enggak"ucap Delvin dengan polosnya.
Jian An sendiri hanya memasang wajah datar saat mendengar jawaban dari Delvin.
.....
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMEN YA SEMUANYA 💋💋💋
__ADS_1