
"kulit ini sangat mulus padahal dia adalah laki-laki dan lebih parahnya lagi dia sudah tua jadi bagaimana kalau aku mengukir nya dengan garis lurus, lagi pula aku akan membuat cerita ini seperti cerita pembunuhan seorang psikopat"ucap Jian An dan segera menyayat kulit pemilik gedung tersebut hingga mengeluarkan darah bahkan kini jazad terserah sudah tak berbentuk lantaran banyak nya sayatan yang tercipta, apa lagi di tambah dengan darah yang keluar membahasi seluruh tubuhnya.
Slap!
Sebuah kepala entah dari kapan kini sudah menggelinding di lantai dan terpisah dari badan nya.
Kini darah benar-benar sudah mengenai meja serta berkas yang ada di atas meja tersebut.
"Ck bosan juga kalau bermain dengan mayat, lebih baik aku pergi ke China saja ke perusahaan Wei Grup mengambil batu meteor"ucap Jian An dan menghilang dari sana namun sebelum Jian An menghilang sebuah kelereng terjatuh ke lantai.
Kini Jian An sudah ada di luar gedung dan bahkan dia sudah ada di mobil saat ini.
Menjalankan mobilnya menjauh dari sana, kurang dari 50 meter sebuah ledakan besar terjadi dari belakang, tepat di mana gedung itu berada.
"Sampah tetap sampah, korban? Aku bahkan tak perduli"ucap Jian An sambil tersenyum tipis.
Kini Jian An sudah ada di kos-kosan nya ia langsung saja masuk dan mengemasi barang-barang memasukkan semua ke dalam Ruang Dimensi ia kemudian keluar sambil membawa saru tas yang tak terlalu besar, bahkan kini Jian An mengangkat nya dengan satu tangan di punggung nya.
"Jian An kamu mau ke mana?"tanya Yohan yang kebetulan sedang di luar.
"Mau pulang kak"jawab Jian An sambil memasukkan tas tersebut ke dalam kursi belakang.
"Pulang?, Ke mana?"tanya Yohan.
"Pulang ke China, di sana aku masih punya keluarga, sekalian mau sekolah di sana aja, nanti jangan lupa kak titip salam perpisahan buat yang lain nya, dah~"ucap Jian An masuk ke dalam mobilnya yang tentu saja bohong ya kali ada keluarga.
Soal pindah sekolah Jian An tak perlu khawatir dia sudah menyewa orang untuk membantu kepindahan, dan rumah serta semua fasilitas di China nanti dia sudah punya jadi tenang saja.
Namun sebelum pergi Jian An terlebih dahulu mampir ke sebuah rumah di Jakarta, yang tak lain dan tak bukan adalah rumah dari orang tua Jian An dan Bagas.
Walaupun dia hanya bisa melihat dari kejauhan saja sih.
Bisa di lihat dari kejauhan bahwa keluarga nya di sini sudah bahagia ayah dan ibu nya sudah punya anak lagi.
"Yen~, seandainya Bagas dan Safa masih di sini pasti mereka senang kan?"tanya ayah Safa yang bernama Jaya
"Iya mas sayang mereka menghilang sudah hampir satu tahun lebih dan sudah di nyatakan tewas"ucap ibu Safa ya itu Yeni.
"Iya, tapi entah kenapa mas masih merasa bahwa mereka masih hidup dengan sehat, dan bahagian di sana"ucap Jaya sambil menerawang jauh ke atas langit.
__ADS_1
"Ya aku juga merasa kayak gitu mas, sudah kita ikhlas saja mereka mungkin ini sudah takdir Tuhan untuk keluar kita"ucap Yeni sambil menggendong anak nya yang masih bayi.
.
Ya sebenarnya saat Bagas menyusul Jian An ibu mereka hamil sekitaran dua bulan, saat hendak memberi tau keluarga ternyata Bagas udah pergi jadi yang seperti ini, sempat juga sedih tapi dia sadar bahwa jika dia terus sedih akan tak baik bagi bayi yang dia kandung saat itu, dan akhirnya mereka berdua sedikit demi sedikit bangkit dari keterpurukan dan mencoba mengikhlaskan mereka berdua saat polisi mengkonfirmasi bahwa kedua nya kemungkinan sudah mati.
"Ya lupakan saja aku dan kak Bagas, lagi pula dia seperti tak ada beban di sana, aku juga sudah tak bisa kembali lagi Dunia ku sudah berbeda begitu pun dengan tubuh"ucap Jian An dari kejauhan yang ternyata bisa mendengar pembicaraan mereka.
Setelah puas melihat keluarga nya Jian An pun memutar balik kan mobil nya untuk pergi ke bandara.
Keluar dari sana Jian An langsung menuju pesawat tanpa menghawatirkan mobilnya lagi pula dia sudah menyuruh Shen Kun untuk membawa mobilnya ke China nanti malam saat sudah sepi secara hati-hati agar tak ketahuan oleh orang lain, ya walaupun itu tak mungkin.
Masuk ke pesawat tak lama pesawat pun terbang, sambil menunggu pesawat itu mendarat waktu Jian An hanya di habiskan untuk tidur sepanjang waktu.
Setelah melewati jalan udara kini sudah sampai lah Jian An di China.
Keluar dari bandara Jian An langsung saja menuju apartemen nya.
Sekitar 20 menit akhirnya Jian An sampai di apartemen nya dan masuk ke dalam, hal pertama yang di tuju nya adalah ruangan keramat yaitu kamar.
"Hari ini lebih baik aku istirahat saja dulu"ucap Jian An, dan segera berbaring di kasur nya.
Membuka mata nya Jian An langsung saja bangun dan menyambar handuk, dan segera mandi, setelah kandi Jian An sarapan dengan makanan seadanya di dapur.
"Ok, saat nya mulai"ucap Jian An yang sudah selesai makan dan langsung pergi keluar untuk mencari di mana perusahaan Wei Grup ada.
Berjalan di ibu kota dengan santai Jian An akhirnya menemukan sebuah gedung pencakar langit yang mewah dan bisa di katakan bahwa itu lah Wei Grup lantaran dengan besar di saja tertulis kata Wet Grup.
Memejamkan mata nya Jian An melepaskan Qi nya untuk menelusuri gedung tersebut, mencari keberadaan Batu Meteor.
"Ck, ternyata bukan di sini, apa kaluarga Wei menaruhnya di rumah leluhur?, Atau di rumah pribadi mereka yang sekarang?"ucap Jian An.
"Apa aku pergi sekarang saja ya?"tanya Jian An yang entah ke pada siapa.
"Baik sudah di putuskan aku akan pergi ke rumah pribadi mereka dulu, baru nanti ke rumah leluhur"ucap Jian An, dan segera berbalik pergi dari sana.
Berjalan ke arah Gang sempit, baru saja masuk asap putih menyelimuti tubuh Jian An dan segera menghilang di ikuti oleh Jian An juga.
Tak lama Jian An akhirnya telah sampai di sebuah rumah besar.
__ADS_1
Memandang rumah besar nan mewah tersebut dengan mata yang menyipitkan.
"Oh, Keluarga Wei ternyata tau bagaimana cara bersenang-senang"ucap Jian An saat melihat betapa mewah dan besar nya rumah di depan nya itu
Memejamkan mata nya lagi Jian An bisa merasakan setiap penjaga di dalam sana bukan hanya itu bahkan jika Jian An mau mungkin dia akan sangat mudah untuk menghitung semua makhluk hidup di sana termasuk sebuah bakteri!.
Menelusuri setiap sudut rumah dengan Qi nya, Jian An sama sekali tak menemukan apa-apa hingga saat ia akan menyerah Jian An menemukan sebuah ruangan di sebuah sudut rumah yang bisa di katakan lumayan rahasia.
"Hm, ayo kita coba masuk"ucap Jian An yang masih memejamkan mata nya.
Namun saat Qi Jian An hendak masuk Qi Jian An seperti tertolak oleh sebuah energi di sana, sebenarnya bisa dengan mudah Jian An untuk masuk hanya saja itu terlihat seperti gegabah bukan.
"Jimat?, Tak ku sangka di jaman sekarang Keluarga Wei masih percaya Jimat, dan si4lnya jimat itu memang berfungsi"ucap Jian An yang rada kesal juga..
"Lalu tuan apa anda ingin menerobos?"tanya Feng Kun.
"Mau bagaimana lagi tentu saja tapi setelah aku pergi ke rumah leluhur keluarga Wei, dan memastikan bahwa di sana tak ada hal yang ku cari"ucap Jian An dam segera menghilang dari sana seperti cahaya yang melesat karena Jian An terbang ya.
Tak lama Jian An akhirnya sampai di sebuah rumah yang tradisional yang besar dan segara saja Jian An menyebar kan Qi nya dan ya secara lancar Qi Jian An menelusuri rumah tersebut tanpa hambatan dan Jian An tak menemukan batu meteor berada.
"Ya!, Sudah di putuskan batu Meteor ada di kediaman pribadi Keluarga Wei"ucap Jian An dan langsung berbalik pergi.
"Apa lebih baik aku pergi jalan-jalan dulu ya"ucap Jian An, dan segera memesan taksi untuk bisa pulang ke apartemen.
Sampai di apartemen Jian An langsung masuk, dan duduk di sofa.
"Long Kun, apa kau bisa membantu ku"ucap Jian An ke pada Long Kun.
"Tentu saja"jawab Long Kun.
"Bagus kalau begitu pergi ke rumah Wei dan gambar setiap sudut rumah Wei dengan teliti, dan jangan lupa untuk menandai setiap CCTV yang ada"ucap Jian An.
"Baiklah"ucap Long Kun yang segera pergi dari sana menjadi sebuah asap hitam, seperti sesat emang harus hitam biar rada keren.
"Mungkin dia akan selesai saat sore lebih baik aku tidur atau makan saja ya"ucap Jian An yang kini bingung akan hal yang akan dia lakukan.
"Makan saja ah"ucap Jian An segera ke dapur dan si4l nya di dapur bahkan tak ada bumbu masak kan.
Keluar dari apartemen nya Jian An segar menuju super market untuk membeli bahan-bahan makanan.
__ADS_1
Sekitar 2 jam-an akhirnya Jian An pulang dari acara belanja nya dan segara memasak makanan kesukaan nya di sana tanpa di bantu oleh siapa pun.