
Maaf nih ya, Author baru selesai ulangan dan gak tau aja gitu ulangan nya sampai dua Minggu.
💚💚💚
Kini bel pulang sudah berbunyi.
Merapihkan semua alat sekolah nya Jian An melangkah keluar kelas sebelum sebuah suara menghentikan nya.
"Jian An apa kau yakin tak punya waktu?"tanya Anggi sekali lagi.
"Ya, maaf kan aku tapi aku harus segera pergi"ucap Jian An dan segera pergi dari sana dengan perasaan yang berat.
"Chan Kun apa kau yakin bahwa batu air mata putri duyung ada di sana?"tanya Jian An ke pada Chan Kun, sambil berjalan di lorong sekolahnya.
"Ya aku dan Chu Kun sangat yakin akan hal itu"jawab Chu Kun.
Akhirnya Jian An sampai mobilnya mengendarai nya ke sebuah tempat dengan zona hitam di kota tersebut.
Kenapa zona hitam, ya itu karena daerah itu rawan akan kejahatan seperti pembunuhan, pemerkos4an, peredaran narkoba, dan masih banyak lagi.
Pergi ke tempat ini membuat Jian An bisa mengingat sebuah misi yang di jalani nya dulu saat menjadi seorang Agent.
Di mana waktu itu dia harus menangkap seorang mafia buronan internasional yang melarikan diri ke Indonesia, dan bersembunyi di zona hitam.
Membayangkan nya saja sudah membuat Jian Am senyum-senyum sendiri membayangkan aksi bahu tembak dulu yang menegangkan.
"Hmm..., Masa lalu yang indah"ucap Jian An.
Sepanjang jalan Jian An bisa melihat banyak sekali kejahatan yang di lakukan secara terang-terangan padahal sekarang masih sore dan sore ini pun sore yang cerah.
"Ckckckck, terlalu sampah"ucap Jian An, tentu saja Jian An hanya mengumpat di dalam mobilnya tanpa anda niat untuk menolong sama sekali, buat apa?, Toh itu urusan mereka dan bukan urusan nya.
Lagi pula dia tak mau sok jadi pahlawan kesiangan seperti yang ada di film-film, lagi pula film pahlawan kesiangan cuma film anak-anak yang terlalu naif.
Saat mobilnya berjalan bisa juga Jian An lihat banyak yang memiliki niat jahat ke pada nya, tapi selagi mereka tak menggangu nya dia tak akan mempermasalahkan itu namun jika ada yang mengganggu maka siapa mati saja.
Melajukan terus mobilnya hingga menuju sebuah gedung tua dengan banyak penjaga, Jian An dengan hati-hati keluar dari mobilnya.
Siapa sangka bahwa kedatangan nya menjadi pusat perhatian, lantaran siswa/i di kawasan ini sangat langka.
Sebenarnya banyak yang ingin berbuat jahat tapi melihat lagi mobil yang di gunakan bisa di lihat bahwa Jian An bukan orang biasa apa lagi Jian An berhenti di depan gedung tua itu, mereka yakin bahwa Jian An bukan orang yang mudah.
"Hah~, masih sama hanya saja penjaga yang berbeda"gumam Jian An yang masih mengingat wajah setiap penjaga waktu itu.
"Mungkin mereka sudah mati, ku rasa iya"gumam nya lagi.
__ADS_1
Berjalan ke arah pintu gudang tua Jian An langsung di hadang oleh dua penjaga di depan.
"Bisa tunjukkan kartu member?"tanya salah satu penjaga.
"Oh, ya?, Ah maaf aku lupa sudah lama aku tak ke sini"ucap Jian An canggung.
Mengeluarkan sebuah kartu hitam dengan tulisan emas, dan berhias serbuk berlian dengan logo VVIP No 1.
Ke dua penjaga tersebut langsung kaget dan segera memberi jalan untuk Jian An, sambil mereka yang menundukkan badan nya sopan.
"Maaf kan kami karena tak sopan nona, silakan masuk"ucap salah satu dari mereka.
Bisa Jian An lihat bahwa kedua nya berkeringat dingin sekarang.
"Ya tak apa, tapi lain kali jangan membungkuk paman kita ada di Indonesia"ucap Jian An melangkah masuk.
Sepergi nya Jian An kedua penjaga tersebut langsung mengelap keringat dingin di dahi nya.
"Hah~, Kenapa pemilik kartu VVIP No 1 itu bisa datang hari ini?"tanya nya pada teman sebelahnya.
"Ya mana saya tau, kok tanya saya"jawab teman sebelahnya.
Kembali ke Jian An yang kini memasuki salah satu ruangan di sana, dan siapa sangka gedung tua terbengkalai itu fi dalam nya terdapat sebuah lift menuju ruangan bawah tanah, di mana di sana ada tempat untuk berjudi, penjualan ilegal, informasi, dan masih banyak pagi bisnis haram nya.
Namun bukan itu semua yang Jian An tuju tapi dia saat ini di sini akan menjalankan misi untuk mencuri batu air mata putri duyung yang kini di miliki oleh bos dari tempat ini.
Masuk ke dalam lift, Jian An langsung memakai sebuah topeng, bukan hanya dia saja tapi semua orang yang ada di dalam memakai hal tersebut di lakukan untuk menutupi identitas setiap pengunjung.
"Mari mulai misi"ucap Jian An saat pintu lift berbuka.
Melangkah keluar dari lift tersebut hal pertama yang di lakukan Jian An adalah berkeliling berusaha semaksimal mungkin agar terlihat bahwa dia hanya seorang anak-anak yang hanya mau main-main.
Padahal sejak tadi Jian An sudah melepaskan lalat nya di mana lalat nya tersebut adalah sebuah kamera pengintai, yang terhubung dengan topeng nya.
Di penglihatan Jian An kini di depan nya banyak sekali layar hologram yang memperlihatkan semua suasana ruang bawah tanah tersebut sesuai dengan apa yang di rekam.
Bukan hanya itu dia bahkan bisa melihat status semua orang di sana.
Di mulai dari seorang pria yang kini sedang berjudi, yang merupakan seorang pengusaha, seorang pria yang ternyata seorang polisi, dan masih banyak lagi.
"Banyak wajah politik yang ada di sini, ingin aku membunuh mereka hanya saja tugas ku di Dunia ini sudah selesai, dan biarkan tugas itu di lakukan oleh mereka mahkluk Dunia ini"ucap Jian An.
Setelah puas melihat-lihat akhirnya Jian An tertarik dengan sebuah permainan di mana permainan tersebut cukup sederhana, pemain hanya perlu menebak di mana bola berada di antara banyak nya gelas.
"Permainan itu sangat cocok untuk ku"ucap Jian An sambil tersenyum smirk.
__ADS_1
Berjalan menuju permainan Jian An terlebih dahulu memperhatikan saru demi satu orang yang bermain saat ini, Jian An bisa melihat wajah kekecewaan mereka saat kalah dalam permainan dan kehilangan uang nya begitu pun sebaliknya, Jian An melihat mereka yang bahagia karena menang.
"Nona apa anda juga ingin bermain?"tanya sang badar.
Mendengar itu Jian An diam dan menatap mata sang bandar terlihat mata licik sang bandar yang membuat Jian An malah tersenyum.
"Baiklah aku akan ikut, permainan pertama aku pasang 1 juta"ucap Jian An, yang membuat kaget pasalnya banyak dari mereka yang bahkan hanya bertaruh 100 ribu paling banyak dan paling sedikit 20 ribu, ya itu karena lantai judi untuk semua kalangan bahkan rakyat miskin yang untuk makan susah saja masih bermain judi di sini.
Mengingat itu Jian An hanya bisa menggeleng kelapa nya sambil tersenyum miris, sungguh kasian keluarga mereka.
Sang bandar pun terkejut namun sedetik kemudian dia tersenyum.
'Mangsa bagus, tak bisa ku lewatkan' batin nya yang sudah kesenangan, namun dia kira siapa itu Jian An.
"Baiklah nona silakan duduk dulu"ucap sang bandar dengan senang hati menawari tempat duduk ke pada Jian An.
"Baiklah, terima kasih"ucap Jian An sambil tersenyum dan duduk di kursi nya dengan nyaman.
"Permainan ini cukup mudah anda hanya perlu menebak di mana koin ini ada"ucap sang bandar sambil memperlihatkan sebuah koin di tangan nya.
Dan dengan cepat sang bandar mengocok gelas-gelas yang ada di depan meja dengan cepat, Jian An sendiri kini tak menghitung sama sekali, mata nya malah melirik sekitar.
"Nah nona di mana koin itu?"tanya sang bandar yang membuat Jian An kembali melihat ke pada gelas-gelas di atas meja.
'Mata Dewa' ucap Jian An dalam hati.
Curang dikit gak apa-apa lah ya!?
"Kanan nomer dua"ucap Jian An santai.
Dengan cepat sang bandar membuka gelas tersebut dan ternyata benar di sana koin nya.
"Wah✨, nona anda sangat beruntung"ucap sang bandar sambil tersenyum ia seperti memaklumi Jian An menang, dia berfikir bahwa itu hanya kebetulan yang membawa keberuntungan.
"Terimakasih kalau begitu untuk yang ke dua aku juga ingin pasang satu juta"ucap Jian An.
Dan lagi-lagi Jian An menang begitu pun seterusnya hingga membuat sang bandar marah, tapi dia sama sekali tak boleh berbuat curang karena bagaimana pun dia harus jujur itu adalah prinsip dari sang bandar.
Jian An sendiri pun menyadarinya.
'Bandar ini sangat baik seperti nya, dan berprinsip' batin Jian An sambil memandang sang bandar yang seperti frustasi.
Sedangkan sekitar kini bersorak untuk Jian An.
💚💚
__ADS_1
Maaf bukan lupa up, cuma alur yang sudah saya buat ke hapus cuma gara-gara kesenggol Kakak saya, mana waktu itu mau up lagi, kesel tentu Iya.