EMPEROR OF THE EARTH

EMPEROR OF THE EARTH
Chapter 74


__ADS_3

~Selamat membaca~.


😁😁😁😁😁😁.


................


Sedang fokus nya Delvin mengayunkan pedangnya ia di kejutkan dengan sebuah pelukan dari belakang yang membuatnya tak nyaman sehingga membuat nya langsung melepaskan nya dengan keras dan memandang sang pelaku dengan tatapan dingin.


Sedangkan gadis yang kini terjatuh di tanah hanya bisa gemetar, lantaran mendapat tatapan dingin nan tajam dari Delvin.


"Apa yang anda lakukan?"tanya Delvin dengan dingin


Kalau boleh jujur Delvin waktu itu lebih memilih tak menolong gadis yang kini ada di tanah tersebut, kalau ia tau bahwa gadis itu tak tau malu sama sekali.


"Kenapa?, Kenapa aku tak boleh memeluk mu?"tanya gadis itu dengan PD nya.


"Ih, najis balado di peluk Lo, lebih baik gw di peluk monyet dari pada Lo anjingggg*"ucap Delvin dengan jijik, yang tentu saja gadis yang ada di tanah tak tau apa yang di katakan oleh Delvin dan hanya memandang Delvin dengan tatapan berkaca-kaca serta penuh harapan.


"Mendingan anda pergi saja dari sini sebelum saya kehilangan kesabaran dan mutilasi tubuh anda dan saya kasih ke binatang yang ada di hutan darah ini"usir Delvin ke pada gadis itu.


"Jangan Vin!, Mei Ling tak bisa jauh dari Delvin"ucap gadis tersebut yang ternyata bernama Mei Ling, Delvin yang mendengar itu rasanya ingin muntah sekarang juga dan dia hanya bisa berdoa agar si Jian cepat pulang dan mengusir anak yang ada di depan nya ini, pasalnya sudah berkali-kali Delvin mengusirnya tapi entah kenapa ia bisa balik lagi ke hutan darah walau pun cara nya dengan nekat, dan berakhir di tolong oleh bawahan Delvin.


"Jangan panggil saya Vin, atau Delvin!, Hanya teman saya dan orang terdekat saya saja yang oleh memanggil nama saya dengan sebutan Delvin atau Vin!, Panggil saya king!, Seperti para bawahan saya!"ucap Delvin tak suka bila ada orang 'asing' yang memanggil nya begitu dekat padahal di anggap ada aja gak pernah tuh.


Mei Ling yang mendengar itu tak bisa menahan tangisannya.


"Delvin kamu sangat jahat, hiks, hiks, hiks".


"Saya menyukai anda saat pertama kali bertemu kenapa?, Kenapa anda tak pernah menganggap saya ada!"ucap Mei Ling sambil mengeluarkan air mata, yang bahkan tak bisa membuat Delvin kasian ke pada nya.


"Karena ada hati yang harus saya jaga, dan saya tak pernah menyukai anda sama sekali paham!"ucap Delvin sambil menatap Mei Ling tajam.


"Kau boleh tinggal di sini sampai kami menemukan keluarga mu, tapi kau harus menjaga jarang dengan saya sepanjang 1 km"ucap Delvin ke pada Mei Ling dan pergi meninggalkan Mei Ling yang menangis sendirian.


Sedangkan semua bawahan Delvin, dan para teman nya melihat itu semua tapi mereka malah menatap Mei Ling dengan tatapan permusuhan yang amat kelihatan.


'dasar jala*g, Delvin udah ada yang punya'


'gak tau diri'


'bikin malu umat aja'


'pingin ku potong deh tubuh nya'


'ingin ku penggal kepala nya'


'pingin ku kasih makan ke titan'


Dan masih banyak lagi dari para tetangga yang berbisik-bisik, dan tak jarang juga yang mengumpat dengan keras yang membuat Mei Ling malu.


Mengepalkan ke dua tangannya, dan menundukkan kepalanya lantaran malu Mei Ling bergumam pada diri nya sendiri.


"Lihat saja Vin!, Saya akan membuat anda tergila-gila kepada saya"gumam nya sendiri yang hanya bisa di dengar nya.


...............


Kembali ke Jian An yang sekarang ini sudah selesai berbelanja dan sedang menuju ke rumah Jason.

__ADS_1


Di dalam kereta ia hanya duduk sambil memompa kepalanya dengan tangannya dan memandang ke luar jendela dengan tatapan bosan dan malas nya.


Rasanya ia ingin segera mengakhiri perjalanan dimensi nya ini yang amat membosankan dan segera bertemu dengan teman-teman nya, ia kangen sama mereka tapi apa daya perjalanan nya masih lah sangat panjang.


Kereta terus berjalan dengan kecepatan rata-rata hingga akhirnya laju kereta tersebut sudah melambat lantaran ke kereta tersebut akan memasuki sebuah kediaman yang amat mewah di depannya walaupun masih kalah dari istana kekaisaran.


Tak lama kereta berhenti, dengan biasa aja tanpa ada nya etika atau yang lain nya Jian An turun dari kereta tersebut tanpa bantuan siapa pun.


Dan lagi-lagi Jason hanya bisa bersabar.


'apa kah memang semua penyihir itu seperti itu?'tanya nya dalam hati.


Menghampiri Jian An Jason kemudian membungkuk.


"Jian, mari ikuti saya"ucap Jason yang hanya di angguk i oleh Jian an.


Mengikuti Jason masuk ke dalam kediaman itu Jian An sempat melihat sekeliling, kediaman itu cukup bagus dengan banyak nya tanaman yang tubuh subur di sana, dan juga banyak bunga yang bermekaran walaupun ada salju juga.


"Pelayan!"panggil Jason dengan sedikit berteriak.


"Ya Tuan"tak lama datanglah seorang pelayan sambil menunduk hormat.


"Tolong antar nona ini ke kamar tamu"perintah Jason.


"Baik Tuan, nona mari ikut saya"ucap pelayan tersebut yang langsung di ikuti oleh Jian an.


Melewati lorong yang terkadang berisi para pelayan yang berlaku lalang, akhirnya Jian An telah sampai di kamar nya.


"Bisa tolong bantu aku menyiapkan air untuk mandi, kalau sudah kau langsung keluar saja aku akan mandi sendiri"perintah Jian An.


"Baik, nona"ucap pelayan tersebut.


............


Sesudah mandi dan berpakaian Jian An membunyikan lonceng di kamar nya untuk memanggil pelayan.


Teng teng


Tak lama pelayan yang sama seperti tadi datang ke kamar nya.


"Apa ada yang perlu saya bantu nona?"tanya pelayang tersebut dengan sopan.


"Antar aku ke Tuan Jason"ucap Jian An.


"Kalau begitu mari nona ikut saya"ucap pelayan tersebut.


................


Setelah berjalan dengan lumayan lama, akhirnya Jian An kini berdiri di depan ruang kerja Jason, membuka nya, dan tanpa sopan dan santun ia langsung menerobos masuk.


Sedangkan Jason yang kini sedang berkutat dengan kertas yang menumpuk mengalihkan pandangan nya ke arah pintu yang kini telah berdiri Jian An dengan gaya nya tentu nya.


Melihat itu, Jason langsung berdiri, dan menyambut Jian An dengan hormat.


"Nona, apa ada yang bisa saya bantu?"tanya Jason.


"Cukup jangan tanyakan hal itu lagi aku sudah cukup bosan mendengar kata'nona, apa ada yang bisa saya bantu' "ucap Jian An sambil menirukan gaya bicara Jason dan para pelayan.

__ADS_1


"Maaf nona jika kata-kata saya membuat anda tak nyaman"ucap Jason meminta maaf.


"Hmm!, Jadi?"tanya Jian An yang membuat bingung Jason.


"Maksudnya nona?"tanya Jason balik.


"3 Minggu yang lalu"ucap Jian An.


Berfikir sejenak sebelum sebuah lampu menyala di sebelahnya.


"Ah, masalah itu apa tak terlalu cepat?, Apa nona tak ingin istirahat dulu saja"tawar Jason.


"Lebih cepat, lebih baik"ucap Jian An.


"Baik lah nona, jadi begini sebenar nya saya ingin meminta nona untuk menyembuhkan ayah saya yang sudah koma selama 2 tahun"ucap Jason.


"2 tahun?, aku yakin dia bukan koma tapi mati"ucap Jian An tanpa di saring.


"No-nona"ucap Jason berbata lantaran kaget dengan apa yang di katakan oleh Jian an.


"Hah~, di mana dia sekarang?"tanya Jian An tanpa menunggu reaksi selanjutnya dari Jason.


"Mari ikut saya nona"ucap Jason yang langsung mendekat ke sebuah patung singa yang terpajang di pojok ruangan, dan menekan hidungnya yang ternyata adalah sebuah tombol.


Tak lama lukisan yang berada tepat di belakang meja kerja nya terbelah menjadi dua dan memperlihatkan lorong-lorong yang gelap.


Langkah pertama dua lilin di ke dua sisi langsung menyala dan juga seterusnya setiap satu langkah maka lilin kanan dan kiri nya akan menyala hingga sampailah mereka di sebuah Rungan serba putih lantaran terbuat dari es, namun aneh nya di sana Jian An tak menemukan sebuah lilin hanya salju, dan bongkahan es yang bisa menyela!.


Di tengah ruangan terdapat ranjang es yang di atasnya terbaring seorang pria tua sekitaran berumur 50 tahun.


Melihat itu bisa Jian An tebak bahwa pria tua itu adalah ayah dari Jason.


"Dia ayah mu?"tanya Jian An untuk memastikan apa benar, padahal di sana sudah jelas hanya da satu orang yang kini berbaring dengan wajah pucat tanpa warna di atas ranjang es tersebut, tapi kenapa di tanya lagi?, Biasalah basa-basi aja gitu, heheheπŸ˜….


"Iya nona"ucap Jason.


Berjalan ke arah ayah Jason Jian An, memandang sejenak ke arah ayah Jason dan menjulurkan tangannya, tak lama sebuah Cahya berwarna emas, dan perak keluar dari telapak tangannya, begitu pun tubuh ayah Jason yang tiba-tiba mengeluarkan Cahya emas dan perak.


Tak lama Jian An menarik kembali tangannya, dan berbalik ke arah Jason.


"Ayah mu terkena Matra terkutuk bukan?"tanya Jian An.


"Ba-bagaimana anda tau nona?"tanya Jason dengan terkejut.


"Tentu saja!, Jika aku tak tau maka tak akan ada gunanya kau membawa ku kemari"ucap Jian An.


"Lalu apa yang harus saya lakukan nona agar ayah saya terbebas dari Matra itu?"tanya Jason.


"Akan saya bantu tapi ingat satu halβ€”"ucap Jian An menggantung.


"Apa itu nona?"tanya Jason.


"Panggil aku Jian, seperti yang sudah aku katakan, kenapa kau memanggil ku nona lagi"sambung Jian An, yang membuat Jason seketika sadar bahwa ia telah melupakan suatu hal.


"Maaf, Jian aku lupa dengan apa yang aku katakan, mohon di maklumi, mungkin ini efek dari pekerjaan ku yang menumpuk terlalu banyak di Rungan kerja"ucap Jason dengan cengiran khas nya.


"Hmm...!"hanya deheman yang keluar dari mulut Jian An.

__ADS_1


...................


__ADS_2