EMPEROR OF THE EARTH

EMPEROR OF THE EARTH
Chapter 92


__ADS_3

~Selamat Membaca~


🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰


..........................................


"Kau akan pergi bukan?, Bagaimana kalau sebelum kau pergi kita berduel dulu"ucap Kakek Chen ke pada Jian An.


"Maksudnya, Kakek Guru Chen ingin bertarung denganku?, apa kau serius itu bukannya kurang adil ya?, kau kan sudah tua, kalau begini cara nya sudah di pastikan kalau aku kalah karena aku lebih muda"alibi Jian An untuk menghindari pertarungan sekarang ini lantaran ia ingin cepat-cepat pergi dan kembali ke Dunia Cultivator secepatnya.


"Apa kau tak kasihan ke pada Guru mu yang sudah tua ini"ucap Kakek Chen sambil pura-pura menangis, dan sedih akan jawaban yang di berikan oleh muridnya tersebut.


Jian An yang melihat itu seketika ingin sekali muntah, namun setelah di pikir lagi seperti nya ia bisa lah menemani Kakek Chen berduel dulu, lumayan biar nambahin aksi di novel ini.


"Baik, tapi Kakek Guru Chen kita harus mencari tempat yang sepi dari semua orang"tawar Jian An.


"Baiklah, kalau begitu kita pergi ke Padang pasir"ucap Kakek Chen dengan semangat dan segera terbang menggunakan tenaga dalam nya, menuju ke arah di mana gurun berada.


Melihat bahwa Kakek Chen sudah terbang Jian An langsung saja membuka Dimensi Ruang untuk pergi ke sana dengan cepat.


Baru melangkah Jian An kini sudah berdiri di tengah-tengah Padang pasir sambil menghela nafas berat.


"Kenapa tadi Kakek Guru Chen, pergi dulu, padahal kan aku bisa membawanya agar cepat sampai di sini"ucap Jian An sambil memandang sekitar di mana ia belum bisa melihat Kakek Chen sama sekali.


"Kakek Guru Chen sangat lama"ucap Jian An sambil mengeluarkan berbagai perlengkapan untuk kemping di Padang pasir.


Mendirikan tenda yang bisa di bilang lumayan besar Jian An kini sedang duduk di depan tenda nya, dengan berteduh di bawah payung besar yang di bawah nya di beri bangku, dan meja, di atas meja kini sudah tersaji kue coklat, dan es krim.


Memakan kue coklat, dan es krim dengan santai, kaca mata hitam kini sudah berada di pangkal hidung nya.


"Hah~, hidup yang begitu santai tanpa ada gangguan sama sekali"ucap Jian An.


Menyetel lagu dengan handphone nya, Jian An menjadi semakin rileks.


Semakin lama semakin enak saja di rasa hingga tanpa sadar Jian An kini sudah tertidur lelap, tanpa mengetahui bahwa dari jauh nampak bayang sosok berjubah putih mendekat yang tak lain dan tak bukan adalah Kakek Chen.


"Hey!, Nak kenapa kau malah bersantai di sini!!"terikat Kakek Chen tepat di depan telinga Jian An hingga membuat Jian An terjungkal, terjatuh, dan tak berdaya di buat nya.


"Aduh!!, Kakek Guru Chen, bisa kah kau bersabar hingga aku bangun dari tidur ku, kau tau bahwa di sini sangat panas"ucap Jian An sambil mengusap-usap ****4* nya yang sakit.


"Bukan kah kau ingin cepat pergi dari sini, kalau begitu cepatlah kita bertarung dan selesai kan semuanya"ucap Kakek Chen sambil memandang Jian An tanpa bekas kasihan di mata nya, dan hanya ada pandangan datar yang di tunjukan oleh Kakek Chen.


"Baik"ucap Jian An, yang secara mendadak menendang kaki Kakek Chen dengan keras, untung saja dengan cepat Kakek Chen segera meloncat tinggi ke belakang menghindari serangan dari Jian An yang di tujukan ke pada nya.


"Hohoho...., Tak ku sangka ternyata kau ternyata sudah tak sabar ya, kalau begitu terima ini"ucap Kakek Chen sambil terbang ke arah Jian An, dengan tangan terkepal hendak memukul wajah Jian An.

__ADS_1


Dengan cepat Jian An membuat bertahan di depan wajahnya untuk menghindari pukulan Kakek Chen, rupa nya pukulan Kakek Chen bukan bukukan biasa namun pukulan yang mengandung tenaga dalam, sehingga menyebabkan angin bertiup kencang menggulung kasih yang berada di sekitar mereka berdua.


Memberi tenaga dalam ke tangannya yang menahan pukulan Kakek Chen, Jian An secara sepontan mementalkan Kakek Chen hingga beliau terpental beberapa meter dari tempat nya terbang.


Mendarat dengan mulus di atas pasir Kakek Chen segera berlari ke arah Jian An sambil membawa pedang yang baru saja ia keluar kan dari cincin Ruang nya.


Tak mau kalah Jian An juga mengeluarkan pedang nya, dan mulia berlari ke arah Kakek Chen.


Kedua nya secara bersamaan mengalirkan tenaga dalam ke pedang masing-masing, hingga pedang mereka berdua temu.


Tang...!!


Angin berhembus menyebabkan pasir berterbangan, nyala-an api dan petir terlihat jelas di pedang mereka berdua.


Kakek Chen api, dan Jian An petir.


"Lumayan kuat juga kau Jian An"ucap Kakek Chen dengan senyum.


"Kau juga tak kalah kuat Kakek Chen"ucap Jian An.


Memental kan Jian An ke belakang dengan menambahkan tenaga dalam nya ia alirkan ke pedang nya, Jian An Yang terpental akhirnya menghentikan laju jatuhnya dengan cara terbang di udara.


"Heh!"melihat Kakek Chen dengan smirk nya Jian An dengan cepat melaju ke arah Kakek Chen dengan pedang yang di aliri oleh dua elemen yaitu elemen petir dan air.


Menyerang Kakek Chen dengan gerakan cepat, begitu pun Kakek Chen yang menangkis setiap serangan dari Jian An dengan cepat.


Pertarungan yang menegangkan pun terjadi dengan Kakek Chen yang berdiri di pasir, yang selalu mundur, dan Jian An yang terbang selaku maju memojokkan Kakek Chen.


Merasa bahwa serangan seperti ini tak akan ada habis nya Jian An berputar di udara melancarkan tendangan ke arah Kakek Chen, yang di tahan oleh Kakek Chen nya dengan pedang yang di silangkan.


Menghilangkan dari hadapan Kakek Chen Jian An kini, tiba-tiba sudah di atas kepala Kakek Chen sambil melancarkan pukulan ke atas kepala Kakek Chen, Kakek Chen yang tau akan hal itu langsung saja menghindar ke arah samping, sehingga pukulan Jian An memukul Padang pasir yang menyebabkan retakan yang semakin lama jika di teruskan bisa saja menghancurkan setengah dari Padang pasir tersebut.


BAAAMMMM!!!!!


KRRAAAKKKK!!!!!


Pukulan tersebut ternyata bukan hanya berdampak ke pada Padang pasir yang ada di bawah nya, namun pukulan tersebut ternyata mengandung elemen angin yang menyebabkan badai pasir terjadi di setengah Padang pasir tersebut.


Kakek Chen yang tau bahwa badai akan tercipta segera membuat pelindung dengan tenaga dalam nya.


"Tak ku sangka ternyata kekuatan bocah ini sungguh melebihi dugaan"ucap Kakek Chen di sela-sela diri berjuang untuk mempertahankan pelindung yang di buat nya.


Beberapa jam kemudian badai pasir tersebut berhenti, baru saja hilang pasir yang bertebaran, Kakek Chen langsung di sambut sebuah pukulan yang menuju kearah nya.


Bug!

__ADS_1


Bug!


Pak!


Pak!


Puack!


Puack!


Menangkis setiap pukulan dan tendangan yang di arahkan ke pada nua oleh Jian An, Kakek Chen memutar otak nya untuk mengalahkan Jian An dengan satu gerakan.


'Aku harus mengalah anak ini hanya dengan satu gerakan, karena aku yakin di pertarungan kali ini memiliki satu kesempatan saja untuk mengalahkan nya' batin Kakek Chen yang kini mulai mengeluarkan semua kekuatan yang ia punya.


'Oh, Kakek tua ini ternyata mulai serius ya, baiklah kalau itu yang kau mau Kakek tua' batin Jian An dengan senyum smirk nya yang bisa di lihat dengan jelas oleh Kakek Chen.


Sangkin semangat nya Kakek Chen karena akhirnya mendapatkan lawan yang sama-sama kuat atau bisa di katakan imbang, Kakek Chen melompat tinggi di udara dan berputar, sambil mengarahkan tendangan ke arah leher Jian An, namun sebelum tendangan itu mendarat...


Kraaakkk...!


"Aduh!"teriak Kakek Chen pinggang nya tiba-tiba encok, dan bisa di lihat bahwa posisi tubuhnya di udara kini membentuk huruf 'C'.


Melihat Kakek Chen yang encok Jian An segara berlari mengejar Kakek Chen hendak menangkap nya, namun Karena perbedaan tubuh yang jelas bukan nya menolong, Jian An malah tertimpa badan Kakek Chen yang super berat.


"Argh!, Kakek Chen seperti nya kau kebanyakan dosa!"ucap Jian An yang punggung nya tertimpa badan Kakek Chen dan kini tak bisa bergerak sama sekali.


"Anak durhaka, orang tua kesusahan malah di ejek"ucap Kakek Chen sambil terus memegangi pinggang nya dan secara perlahan bangun.


Begitu pun dengan Jian An, Yang kini bernafas lega.


"Makanya kalau sudah tua itu jangan terlaku bersemangat"ledek Jian An.


"Biarpun usia sudah tua tapi semangat ku masih anak bayi kau tau!"ucap Kakek Chen dengan bangganya.


"Prfff..., Wahahahahahaha!!!!"tawa Jian An yang sudah tak bisa di bendung lagi sambil memegang perut nya, saat mendengar apa yang di katakan oleh Kakek Chen.


"Semangat anak bayi?, pantas Kakek Chen seperti baru belajar berjalan, hahahaha!!"ledek Jian An ke pada Kakek Chen yang kini muka nya sudah merah lantaran kesal dengan ejekan yang di lontarkan oleh Jian An ke pada nya.


"Ah~, perutku sangat sakit"ucap Jian An sambil mengatur nafas nya agar tak tertawa kembali, dan tangan yang memegang perut nya yang sakit, lantaran tertawa sangat kencang.


..............................


Jangan pernah bosan dalam membaca novel ini kawan.


IG : sukma_761100.

__ADS_1


__ADS_2