EMPEROR OF THE EARTH

EMPEROR OF THE EARTH
Chapter 86


__ADS_3

~Selamat Membaca~


🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰


..........................................


"Malam ini lebih baik jika kita menginap di penginapan terdekat saja, sambil kau menyerap semua kristal itu"ucap Kakek Chen.


"Baik"ucap Jian An dengan patuh.


Kakek Chen pun berjalan mendahului Jian An yang kini sedang mengekor di belakang Kakek Chen.


"Kakek Guru Chen, kita akan menginap di mana?"tanya Jian An, pasalnya dari tadi mereka terus melewati penginapan namun Kakek Chen tak berhenti.


Jangan kan berhenti meliriknya sekilas pun ia tak melakukan nya.


"Ia kita akan menginap tapi bukan kah lebih baik jika kau selesai keinginan mu itu"ucap Kakek Chen yang membuat Jian An bingung.


Hingga...


"Aku tau, kalau begitu Kakek Guru Chen aku pergi dulu"ucap Jian An berlari melewati Kakek Chen, dan menghilang di tengah-tengah kerumunan orang-orang yang ada.


.....................................


Kini Jian An sudah berada di atas sebuah kedai makanan, ia sedang mengintai sebuah rumah, yang di katakan oleh penduduk Desa adalah rumah dari Kepala Desa ( Lurah, kalau di Indonesia ).


"Apa benar bahwa Batu Safir itu di simpan oleh Kepala Desa?"tanya Jian An pada diri nya sendiri.


"An'er, jika kamu ingin mengambil nya bukankah akan lebih baik jika kamu segera pergi ke sana"ucap Long Kun yang dari tadi sudah gemas dengan Jian An.


Bagaimana tidak pasalnya Jian An sudah mengintai di atap kedai tersebut lebih dari 1 jam, dan itu sudah cukup membuat Long Kun geram sendiri.


Ingin sekali Long Kun sekarang keluar dan mengganti kan Tuan nya mengambil Batu Safir itu, namun dia tidak berani, jika dia sampai melakukan itu maka dia sudah tak mau mati dengan wajar lagi.


"Ck, aku tau masalah nya jika tak ada di sana bagaimana rasanya aku pergi dengan harapan, pulang dengan penyesalan kau tau"ucap Jian An dengan kesal.


"Kata-kata apa itu, kenapa kau lebih mirip dengan seseorang yang sedang menjalin hubungan sepasang kekasih"ucap Feng Kun.


"Bukan lebih tepatnya dia menemui seseorang berharap cinta nya di terima ternyata di tolak dengan sadis bukan kah itu lebih baik"ucap Hong Kun.


"Itu.., sama saja dasar bod0h"ucap Jin Kun sambil menjitak kepala Hong Kun.


"Au..., Si4lan ini sakit bod0h"ucap Hong Kun.


"Sudah lah kalian berdua jangan bertengkar lebih baik kita bantu Tuan kita untuk mengkonfirmasi bahwa Batu Safir itu benar-benar ada di sana"ucap Jun Kun dengan tiba-tiba.


"Kau benar, kali begitu apa kita semua punya ide?"tanya Jin Kun.


"Tidak!!"ucap semuanya dengan bersamaan.


"Oh, ok"ucap Jin Kun.


"An'er, seperti nya tak ada pilihan lain selain kau harus ke sana sendiri"ucap Han Kun.


"Ya"ucap Jian An, sambil turun dari atas atap tersebut.


Berjalan dengan cara sembunyi-sembunyi Jian An akhirnya sampai juga di dekat rumah Kepala Desa tersebut.


Menyebarkan Qi nya tuk mencari tau di mana letak Batu Safir itu, akhirnya ia sudah yakin bahwa batu safir itu memang ada di sini tepatnya di ruangan nomer dua di depan nya.


"Tuan kenapa anda tak melakukan dari tadi saja"ucap Chan Kun dengan ekspresi datar nya.

__ADS_1


"Bagaimana ya jika aku melakukannya dari jarak jauh itu bukan kah akan banyak Pendekar yang bisa merasakan energi asing menyebar di sekitar mereka"ucap Jian An.


"Walaupun aku sudah beberapa kali menggunakan kekuatan ku yang dari Dunia lain tapi kali ini berbeda, karena kali ini aku menyebarkan nya kau tau Chan Kun"jelas Jian An dengan panjang lebar.


"Ya, saya paham Tuan, dan maaf barusan saya lupa pelajaran umum itu"ucap Chan Kun.


"Iya, tak apa lagi pula aku memaklumi nya, karena kau sudah tua"ucap Jian An tanpa mengetahui perubahan ekspresi Chan Kun yang kini berubah menjadi datar.


"Terima kasih Tuan, karena akhirnya anda menyadari bahwa saya sudah tua dan bukan seorang bocah lagi"ucap Chan Kun.


Masuk ke dalam rumah Kepala Desa dengan hati-hati, akhirnya Jian An berhasil memasuki rumah tersebut tanpa di ketahui oleh orang lain.


"Dimana dia menyembunyikan Batu Safir itu"ucap Jian An sambil mencari Batu Safir tersebut di dalam ruangan tersebut.


Hingga....


"Tuan aku merasakan bahwa ada pecahan dari jiwa Tuan di sini"ucap Chu Kun dengan semangat.


"Eh, di mana itu?"tanya Jian An.


"Pecahan jiwa Tuan entah kenapa seperti nya ada di tempat Tuan berdiri sekarang ini"ucap Chu Kun.


"Benar, lemari nomer 2 dari arah kanan, nomer 3 dari bawah"sambung Chan Kun.


Jian An pun mengikuti apa yang di katakan Oleh Chan Kun hingga akhirnya ia bisa menemukan sebuah Batu Safir?.


Tunggu Batu Safir!?


Jangan-jangan pecahan jiwa nya adalah Batu Safir yang di incar nya.


"Seperti yang Tuan pikirkan"ucap Chu Kun.


"Jadi pemilik yang di sebutkan dalam cerita Kakek Chen adalah aku begitu?"tanya Jian An dengan tak percaya.


"Ha, ha, ha, ha, tak ku sangka barang yang ingin aku miliki ternyata milik ku sendiri, si4lan!, Aku sama sekali tak untung"kesal Jian An dengan tawa datar nya itu.


"Percuma dari tadi aku bersembunyi, kalau begini"ucap Jian An dan segera berteleportasi ke tempat di mana Kakek Chen berada.


Kini jian ak sudah tiba di sebuah kamar penginapan di mana di sana di bisa melihat bahwa Kakek Chen kini sedang bermeditasi di atas tempat tidurnya.


Mengetahui kedatangan Jian An Kakek Chen langsung membuka mata nya.


"Oh, kau sudah datang nak?"tanya Kakek Chen.


"Ya, tapi Kakek Guru Chen bagaimana kau bisa tau bahwa aku sangat menginginkan Batu Safir itu?"tanya Jian An dengan penasaran, sambil memandang Kakek Chen dengan serius.


"Dari cara bicaramu waktu itu di atas kapal aku tau bahwa kau pasti akan melakukan ini, apa lagi dengan kekuatan mu yang bahkan bisa di bilang melewati rahan mu itu aku yakin kau akan nekat melakukan nya"ucap Kakek Chen.


"Hehehe, akhirnya aku memiliki Guru yang tau apa yang aku inginkan"ucap Jian An sambil tertawa memperlihatkan gigi putih dan tapi nya.


"Kau tak pergi ke kamar mu dan beristirahat?"tanya Kakek Chen.


"Memangnya Kakek Chen sudah memesankan aku tempat untuk tidur?"tanya Jian An dengan ekspresi bingung di wajahnya.


"Tentu kamar mu ada di sebelah kamarku yang sebelah kiri"ucap Kakek Chen dan kembali bermeditasi.


Jian An yang mendengar itu langsung keluar dari kamar Kakek Chen dan segera menuju kamarnya, sampai di sana Jian An langsung saja membaringkan tubuhnya di kasur dan tidur dengan lelap tanpa beban.


.....................................


Sementara itu di atas langit Desa yang kini sedang ditempati oleh Jian An, Yang Shui akhirnya tiba di sana.

__ADS_1


"Menurut Token ini Guru sepertinya ada di Desa ini"ucap Yang Shui.


Ya, benar Yang Shui selama ini selalu mencari keberadaan Guru nya memalui arah yang di tunjukan oleh Token yang saat ini di pegang nya.


Turun ke Desa Yang Shui bisa melihat bahwa suasana di desa ini sudah sangat malam dan sepi.


Jubah putihnya berminat di tengah malam, di Sunari oleh sinar bulan membuatnya bersinar.


Melihat Token yang di pegangnya, ia mengikuti ke mana arah yang di tuju oleh Token tersebut hingga akhirnya ia sampai juga di sebuah Penginapan.


Masuk kedalam ia langsung di sambut oleh pemilik Penginapan.


"Tuan ada yang bisa saya bantu?"tanya pemilik Penginapan tersebut sambil tersenyum.


"Ya, aku pesan satu kamar untuk makan ini saja"ucap Yang Shui dengan ramah.


"Baik lah Tuan, satu kamar dua koin tembaga"ucap pemilih Penginapan.


Tak butuh lama Yang Shui langsung memberikan dua koin tembaga tersebut ke kada pemilik Penginapan tersebut, sang pemilik Penginapan yang menerima nya pun langsung menyimpan nya ke dalam jubahnya.


"Kalau begitu Tuan mari saya antar ke kamar Tuan"ucap pemilih Penginapan tersebut dengan sobat sambil menunjuk arah di mana kamar untuk yang Shui akan bermalam, malam ini.


Yang Shui pun berjalan mendahului nya, dan di susul oleh pemilik Penginapan tersebut.


Masuk ke kamar nya Yang Shui langsung saja tidur di kasur nya.


"Besok saja aku temui Guru"ucap nya dan segera menuju alam mimpi, seperti nya dia sangat kelelahan sebab sudah beberapa hari ini dia terus saja terbang untuk mencari di mana Guru nya, dan setidaknya usahanya tersebut membuahkan hasil yang cukup bagus.


..................................


Dunia Cultivator.


Kini Delvin sedang berada di ruang baca nya sambil melihat, laporan-laporan yang dia terima dari anak buah nya yang menjalankan misi.


Hingga....


Tok...


Tok...


Tok...


"Delvin apa kau di sana"ucap seseorang dari balik pintu, sejujurnya kalau bisa Delvin akan menendang pintu tersebut agar orang yang ada di balik pintu itu segera mati, tapi dia langsung ingat jika pintu itu terbuat dari batu Giok yang sangat mahal.


'Tahan Delvin pintu itu sangat mahal' batin Delvin sambil mengelus-elus dada nya berusaha untuk tetap sabar.


"Ya"jawab Delvin dengan datar.


"Apa aku boleh masuk ke dalam?"tanya orang tersebut.


"Terserah"ucap Delvin.


Mendengar apa yang di katakan Delvin, orang tersebut pun membuka pintu secara perlahan, dan tampak lah sosoknya yang tak lain dan tak bukan adalah Mei Ling yang tersenyum cerah dengan sebuah nampan yang berisi teh serta cemilan ringan di sana.


"Delvin aku membawa kan mu teh serta cemilan"ucap Mei Ling sambil meletakkan teh, dan cemilan tersebut di meja Delvin.


"Ya, makasih"ucap Delvin, walaupun Delvin sangat dingin namun sepertinya itu tak membuat Mei Ling sedih sama sekali, namun ia sangat bahagia lantaran akhirnya Delvin mau membuka hati nya untuk nya walaupun hanya sedikit.


'Nih orang ngapain sih ke sini ganggu orang aja deh, kesel gue pingin gue bunuh tapi biar nanti Jian An aja yang menyiksa nya, hahahaha' batin Delvin yang kini tertawa menyeramkan, namun ekspresi wajahnya tetap saja datar, dan dingin walaupun jika di perhatikan dengan baik di mata nya tersimpan niat membunuh yang amat kuat dengan gadis yang ada di sebelah nya ini.


....................................

__ADS_1


Jangan pernah bosan dalam membaca novel ini kawan.


IG : sukma_761100.


__ADS_2