
Dong Gan yang secara alami tak tau makna nya hanya tau makna pertama, di mana dia di sindir karena sembarangan mengatakan orang asing sebagai pendiri ketiga perguruan nya, langsung merasa asam di hati nya, namun di luar ekspresi nya masih mempertahankan sikap sopan hanya saja senyum yang ada di wajah nya lumayan kaku.
Jian An tentu saja menyadari perubahan senyum itu tapi seakan buta Jian An tak mempermasalahkan nya lagi pula di sini dia lah penipu nya!
"Kalau begitu maaf sekali lagi senior junior ini yang salah, saya pamit dulu"ucap Dong Gan membungkuk hormat dan segera kembali ke teman-teman nya.
"Tuan kau kejam"ucap Chu Kun.
"Oh ya, sepertinya biasa saja tuh"ucap Jian An, dan segera bangkit dari duduk nya rencananya hari ini Jian An akan berkeliling desa untuk melihat-lihat.
Berkeliling desa Jian An bisa melihat rombongan Dong Gan dan yang lain nya pergi.
Berkeliling desa Jian An melihat-lihat pasar siapa tau ada barang atau makanan yang dia mau kan?, Sayangnya nya setelah sepanjang hari berjalan-jalan di sana Jian An sama sekali tak menemukan hal yang membuatnya tertarik.
Hingga saat kabut mulai muncul di luar sudah sepi hanya ada beberapa orang saja salah satu nya adalah Jian An, karena sudah bosan dan cuaca tidak mendukung akhirnya Jian An memilih kembali ke penginapan.
...............
Skip.
Hari kini sudah pagi kabut pun sudah hilang Jian An sedang meminum teh sambil melihat dari jendela dari sana ia bisa melihat hijaunya hutan dan gunung yang indah.
"Shen Quan!, Apa kau memiliki lukisan untuk di jual lagi hari ini?"tanya pemilik Penginapan.
"Hehehe, tidak paman aku hanya mengantar pesanan"ucap Shen Quan.
"Oh, kukira kau ada lukisan lagi, siapa yang memesan?, Apa paman bisa membantu?"ucap pemilik Penginapan lumayan sedih tapi dia tak lupa untuk membatu Shen Quan.
"Itu paman seorang nona muda dengan wajah yang sangat cantik, dan tak lupa aura yang begitu mengagumkan, dia sangat anggun paman, kalau tak salah nama nya Jian An!"ucap Shen Quan memberi ciri-ciri Jian An, serta nama nya
"Nona yang anggun ya, hah!, Mungkin nona itu yang kau sebut dengan nama Jian An itu"ucap pemilik Penginapan sambil menuju ke arah Jian An yang sedang minum teh jelas sekali bahwa dia tak terganggu dengan apa yang terjadi.
"Benar paman itu orang nya, terima kasih paman sudah membantu"ucap Shen Quan tulus.
"Hais, seperti dengan siapa saja kau ini, sudah cepat ke sana antarkan pesanan nya"ucap pemilik penginapan.
Shen Quan hanya mengangguk dan segera berjalan ke arah Jian An kurang dari 3 meter Jian An memutar tubuhnya ke arah nya.
"Sudah jadi?"tanya Jian An to the point.
Dengan senyum cerah Shen Quan mendekati Jian An.
__ADS_1
"Sudah nona silakan di periksa, apa ini sesuai keinginan nona?"ucap Shen Quan menyerahkan lukisan yang di buat nya.
Menerima nya Jian An melihat dengan seksama lukisan di tangan nya, melihat gambar Perguruan nya sendiri, Jian An tersenyum hangat.
"Bagus!, Aku suka"ucap Jian An sambil menyerahkan kantor uang di dalam nya adalah kekurangan dari kemarin, Jian An juga menambahkan beberapa koin lagi karena dia merasa puas.
"Ini sisa yang kemarin"lanjut Jian An.
Shen Quan menerima uang tersebut dengan senang hati.
"Terimakasih nona kalau begitu saya pulang dulu"ucap Shen Quan dan segar pergi dari sana.
"Ya, sampai jumpa"ucap Jian An, karena sudah memiliki apa yang di inginkan Jian An berencana akan segera pulang saja, dan karena masih ada waktu sekitar empat hari sebelum satu Minggu maka Jian An berencana untuk melewati jalur darat saja siapa tau dia dapat pengalaman baru, ya kan?.
Berjalan keluar setelah meninggal satu koin emas di atas meja, melihat satu koin emas di atas meja Pemilik Penginapan segera mencari Jian An untuk memberikan kembali namun seseorang yang baru saja keluar dari pintu sudah menghilang entah kemana.
"Hais!, Sungguh Pendekar yang sangat hebat"ucap Pemilik Penginapan sambil menggeleng-gelengkan kepala nya, jujur saja jauh di hati nya yang paling dalam Pemilik Penginapan mengagumi Jian An apa lagi di usia yang sangat muda seperti nya.
"Masa depan yang cerah!, Sangat cerah!"ucap nya lagi sambil masuk kembali ke dalam Penginapan.
Jian An sendiri kini berlari dengan kecepatan yang bisa di bilang seperti angin.
Berhenti saat sudah sampai di sebuah kota yang lumayan ramai, kota tersebut bernama kota pelabuhan, seperti nama nya kota ini adalah kota jalur perairan dengan prahu, dan kenapa Jian An kesini karena dia butuh untuk menyebrang.
Memasuki kota tersebut langsung saja Jian An mencari Prahu yang akan berlayar hari ini.
Setelah berkeliling cukup lama akhirnya Jian An menemukan satu Prahu yang masih memiliki tempat.
Membayar sebanyak empat koin perak Jian An akhirnya naik ke atas Prahu melihat Prahu yang lumayan besar, kuat dan gagah Jian An merasa puas.
"Paman"panggil Jian An, seorang paman yang di duga sebagai pemimpin kapal berjalan ke arah Jian An.
"Ya nona ada yang bisa saya bantu?"tanya nya sopan.
"Paman bisa kah saya memesan kamar, saya sangat lelah hari ini"ucap Jian An.
"Tentu saja, tapi jika ingin menyewa kamar maka akan ada biaya tambahan, sebanyak lima koin perak"jawab paman tersebut.
"Ya baiklah"ucap Jian An sambil menyerahkan lima koin perak ke tangan paman tersebut.
Menerima nya dengan senang hati wajah paman tersebut jelas jauh lebih cerah dari sebelumnya.
__ADS_1
"Baiklah nona kalau begitu mari ikut saya" ucap paman tersebut sambil mempersilahkan Jian An agar mengikuti nya pergi ke kamar yang di pesan.
Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah kamar 209.
"Nona ini kamar milik anda, maaf kalau kamar nya kurang besar dan mewah"ucap paman tersebut.
"Tak apa paman"ucap Jian An.
"Baiklah nona selamat istirahat"ucap paman tersebut dan segera pergi dari sana masih banyak urusan yang harus dia lakukan sekarang ini.
Masuk ke kamar Jian An langsung membaringkan tubuhnya yang lelah, mengangkat tangan sebuah bola sihir muncul di tangan nya, mengalirkan sedikit mana ke dalam bola tersebut sebuah cahaya berwarna biru terpancar.
Awalnya samar-samar namun kini semakin jelas di bola sihir itu gambar Delvin yang sedang berbaring di bawah pohon apel sambil memakan jeruk terlihat dengan jelas.
Kini sudah lama Delvin tak pernah pulang ke Markas, semua urusan di sana ia serahkan ke pada Alex dan Bagas, dan pada jangka waktu itu juga Mei Ling selalu mencari bahkan bertanya ke pada semua orang di Markas namun mereka hanya mengatakan bahwa ketua sedang liburan dan mereka tak tau di mana.
Tidak mungkin bukan mereka akan memberi tau Mei Ling di mana Ketua berada, jika mereka melakukan nya maka sia-sia sudah perjuangan ketua mereka.
Dan jujur saja Delvin merasa di ikuti tapi dia tak tau oleh siapa?, Yang dia tau dia hanya di ikuti oleh banyak burung dan juga serangga kecil lain nya?, Tak mungkin kan mereka bisa membuat Delvin merasa curiga?.
Tapi karena dia tak merasakan ada nya bahaya maka biarkan saja lah.
Hari-hari nya kini hanya di isi oleh latihan, merampok dan membunuh saja tak ada yang spesial sama sekali, hidup yang berulang membuat Delvin bosan setengah mati.
"Hah~, kapan dia pulang?, Lama sekali!, Padahal aku ingin memberi tau nya bahwa aku sudah sangat kuat dengan kekuatan yang setara dengan nya, mungkin"ucap Delvin rada ragu, Delvin memang bertambah kuat dan kekuatan nya pun berkembang pesat hingga menyamai Jian An tapi itu yang dulu sekarang?, Mungkin dia sudah kalah jauh.
Nyata nya tidak dia memang setara Jian An jika di bandingkan dengan kekuatan murni, karena kekuatan Jian An yang di ambil dari pengumpulan Jiwa nya itu di hitung sebagai kekuatan tak murni, karena Jian An mendapat kan nya tidak dengan berlatih tapi dengan cara ngcheat.
"Kata Qian He, di tempat ini banyak harta tapi kenapa saat aku sudah berkeliling di hutan ini selama sepuluh hari aku sama sekali tak menemukan emas!"kesal Delvin sambil membanting buah jeruk nya ke tanah hingga penyet, kini ia merasa di tipu, dari ekspresi wajah nya jelas sekali bahwa dia marah.
"Awas saja jika aku pulang akan ku cincang tubuh nya"ucap Delvin lagi sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Bangun dari duduk santai nya Delvin segera pergi ke arah selatan di mana hanya tempat itu satu-satunya yang belum dia periksa sama sekali.
"Awas saja jika di sana jug__"belum selesai berbicara Delvin di kagetnya oleh suara semak-semak yang bergeser mungkin sekitar tiga puluh meter dari posisi nya berdiri.
Srekk.....
Srekk......
Dengan segera Delvin menjadi lebih waspada memasang kuda-kuda kini di tangan nya sudah ada pisau kecil dengan ketajaman yang tak bisa di anggap enteng.
__ADS_1
"Siapa di sana!"ucap Delvin jelas sekali bahwa suara yang keluar sangat tegas dan mengintimidasi, aura menyeramkan langsung keluar dari tubuh nya.
(GELUT NYA DI CHAPTER YANG AKAN DATANG, MAAF KALAU SEKARANG UP NYA KADANG 5, 6, 10 HARI SEKALI, SOALNYA AUTHOR SUDAH TIDAK PJJ LAGI, DAN TUGAS GAK BOLEH NUNGGAK KAYAK KEMARIN-KEMARIN)