
Selamat membaca
🤗🤗🥳🤗🤗🥳🤗🤗🥳
..............................
Akhirnya Jian An pun keluar dari mobilnya, jujur saja saat Jian An keluar dari mobil itu Anggi sempat terkejut, bahkan saat Jian An bilang mobil ia sudah terkejut, apa lagi jika teryata mobil yang mewah itu yang dia maksud.
Namun tak mau berlama-lama akan keterkejutan nya Anggi akhirnya menemui Jian An yang saat ini sudah berdiri di depan gerbang rumah nya.
Membukakan gerbang untukntyk Jian An.
"Jian An masuk dulu"ucap Anggi mempersilakan Jian An masuk.
"Gak usah gak apa-apa kok, ayo langsung aja"tolak Jian An, dan langsung mengajak Anggi pergi ke pasar malam.
"Emm..., Ok deh bentar ya aku ambil tas dulu"jawab Anggo setelah berfikir sesaat.
"Ya"jawab Jian An, dan Anggi pun langsung masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil tas milik nya.
Tak lama beberapa saat kemudian Anggi keluar dengan tas putih kecil yang di gendongan, ya itu tas gendong kecil.
"Yaudah yok"ucap Anggi, yang langsung saja jalan
"Kita jalan apa naik mobil?"tanya Jian An ketika melihat Anggi yang langsung berjalan mendahului diri nya dan mobil nya dengan senyum ceria.
"Kita jalan kaki aja, lagian dekat kok, kalau pakai mobil, sama montor nanti malah kena macet"ucap Anggi.
"Baiklah"ucap Jian An dan segera menyusul Anggi yang ada di depan nya, akhirnya mereka pun berjalan bersama.
Dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam kantong baju nya, Jian An melihat-lihat sekitar.
Saat melewati jalan yang ada Gang nya Jian An tanpa sengaja melihat sekitar dua orang yang sepertinya dia kenal tengah di bertarung, lebih tepatnya seperti di hajar habis-habisan oleh enam orang lain nya.
Ternyata yang melihat itu bukan hanya Jian An saja tapi Anggi pun sama.
Menarik tangan Jian An agar segera pergi.
"Ayo cepat lebih baik tak ikut campur urusan mereka, di sini sepi jika ada apa-apa tak ada yang menolong kita jadi kita pergi saja"ucap Anggi sambil menarik tangan Jian An pergi, dam pura-pura tak melihat kejadian di dalam Gang gelap tersebut.
"Tunggu"ucap Jian An, menghentikan Anggi menarik tangannya dan malah menatap Gang gelap tersebut dengan tajam.
"Apa maksud mu, kita harus pergi sebelum mereka tau kita di sini"ucap Anggi.
"Aku seperti kenal dengan mereka"ucap Jian An.
__ADS_1
"Siapa yang kau kenal?"tanya Anggi.
"Mereka yang sedang di pukul habis-habisan"ucap Jian An sambil menunjuk dua orang yang sedang di pukul tersebut.
"Kau yakin, kalau begitu kita harus cepat mencari bantuan"ucap Anggi dan kembali menarik Jian An pergi, namun Jian An malah tidak bergerak sama sekali.
"Kau pergi saja dulu, dan tunggu aki di depan sana, lima menit saja ok"ucap Jian An melepas pegangan tangan Anggi dan berjalan ke arah Gang gelap tersebut.
"Jian An, kamu mau ke mana"ucap Anggi, awalnya dia kesal dengan sikap Jian An, namun saat dia baru berjalan tiga langkah dia merasa bimbang.
Dan akhirnya ia memilih untuk bersama Jian An apa pun yang akan terjadi, lagi pula walaupun begini ia seorang pesilat, walaupun ia baru belajar beberapa tahun ini sih.
Berdiri di depan Gang Jian An kini bisa melihat dengan jelas siapa yang tengah di pukul itu dan ternyata itu merupakan teman dari Daniel, dan Yohan yang waktu itu dia lihat.
Namun karena Jian An berdiri di depan gang tersebut juga membuat aksi yang terjadi di dalam gang tersebut berhenti lantaran kedatangan Jian An menutupi cahaya yang masuk ke Gang tersebut.
Ke enam orang yang sedang menghajar dua orang lain nya tiba-tiba berhenti dan melihat ke arah jalur Gang di mana cahaya masuk ke dalan Gang tersebut.
"Hai~"sapa Jian An sambil melambaikan tangan ke pada mereka semua, dan tak lupa senyum manis yang ada di bibir nya.
"Kayak nya seru ya, kenapa gak kada ngajak aku?"ucap Jian An masih dengan senyum manis nya.
"Siapa lo"ucap salah satu antara mereka berenam.
"Kalian gak perlu tau siapa saya, saya takut nya kalian gak akan sanggup menerima kenyataan"ucap Jian An dengan sombong, sambil mengeluarkan permen karet dari saku nya dan mengunyah.
"Siapa yang bilang saya ikut campur urusan kalian, saya hanya ikut campur urusan mereka berdua saja kok"ucap Jian An sambil menunjuk ke pada dua orang yang kini sedang duduk di tanah sambil meringis kesakitan.
Melihat ke mana arah yang di tunjuk Jian An.
"Oh, jadi lo salah satu anggota mereka ya?, Gak di sangka ternyata di anggota mereka ada cewek nya mana masih kecil lagi"ucap salah satu dari mereka dengan nada remeh.
"Aku anggap itu adalah pujian, nah jadi om, om semua nya ada urusan apa kalian dengan mereka berdua"ucap Jian An dengan nada yang menyeramkan di akhir, serta suasana yang bisa di bilang mulai mencekam.
"Mau jadi pahlawan rupa nua nih cewek, semua nua hajar jangan kasih ampun, di kita gak ada perbedaan antara cewek sama cowok jadi jangan harap kami kasih kau keringanan"ucap salah satu dari mereka.
Satu persatu dari mereka mulai melaju ke arah Jian An, Jian An hanya melihat itu dengan wajah datar nya, seakan mengatakan bahwa dia tak tertarik untuk bertarung dengan lawan di depan nya ini.
Namun saat kurang dari beberapa cm lagi akan mengenai wajah Jian An sebuah tendangan berasal dari belakang Jian An menendang orang tersebut hingga mundur.
"Jian An kamu gak apa-apa kan?"tanya orang tersebut yang ternyata adalah Anggi.
"Santai aja, aku baik-baik saja kok"jawab Jian An, sambil melihat Anggi dan kembali melihat ke arah mereka berenam.
"Si4lan, berani nya semua nya serang mereka ramai-ramai"ucap salah satu dari mereka dan mulai menerjang ke arah Jian An dan Anggi bersama-sama.
__ADS_1
Anggi yang melihat itu sudah siap pasang kuda-kuda, dan siap kapan saja untuk menghajar mereka semua, berbeda dengan Jian An yang malah kini membuang permen karet dari mulut nya dan mengganti nya dengan permen lollipop.
"Star game baby"ucap Jian An dan mulai menghajar mereka semua, dan di susul oleh Anggi.
Menahan orang paling dekat dengan nya Jian An menendang tulang kering orang tersebut dan memukul perut orang tersebut hingga terpental menabrak tembok di belang nya, yabg teryata Gang tersebut adalah jalan buntu.
Menendang kepala orang selanjutnya hingga menabrak dinding di samping nya dan langsung pingsan di tempat, tak sampai di situ Jian An bahkan juga menarik rambut kawan nya fan membentur-benturkan kepala orang tersebut ke tembok beberapa kali hingga pingsan.
Kini 3 orang sudah tumbang di tangan Jian An, sedangkan di sisi Anggi dia nampak kewalahan menghadapi 3 orang sekaligus, bagaimana pun juga selama ini ia hanya berlatih, dengan satu orang sebagai lawan nya dan karena hal itu juga dia jadi tak bisa fokus dalam menghadapi lawan yang lebih dari satu.
Buk!
"Ouch"Anggi kini mendapat tendangan di perut nya yang membuat nya mudur ke belakang, sambil memegang-i perut nya yang sakit.
Namun dia tau dia tak bisa tak fokus dengan lawan yang ada di depan nya hingga seorang lawan melancarkan sebuah tentangan ke arah kepala nya dari samping.
Dia berfikir bahwa dia akan tamat lantaran Anggi tak bisa bergerak lagi karena perut nya yang masih sakit.
Namun saat mata nya terpejam beberapa detik sudah lewat namun tak ada apa pun yang mengenai nya kecuali sembusan angin yang dia rasakan waktu memejamkan mata nya di awal.
Membuka mata nya perlahan dia bisa melihat Jian An kini dengan menahan tendangan tersebut menggunakan tangan nya
"Tolongin mereka berdua aja mereka biar jadi urusan saya"ucap Jian An ke pada Anggi.
"Baik"jawab Anggi dan mulai mundur ke belakang untuk membatu dua orang yang tadi di pukul untuk berdiri dan pergi dari Gang tersebut.
Awalnya Anggi merasa enggan namun saat dia melihat ke adaan lawan Jian An, dia lebih memilih untuk segera pergi dari sana dan menjaga Gang tersebut agar tak ada saksi yang melihat tertarunga brutal yang di lakukan Jian An.
Bagaimana tidak lawan nya kini tak bisa di kenali lantaran darah sudah menutupi wajah mereka.
Memapah ke dua orang tersebut untuk keluar dari Gang tersebut dengan sedikit ke-kusahan.
Sedangkan Jian An yang tadi nya fokus ke arah di mana Anggi pergi, namun saat bayangan Anggi tak terlihat dia mulai melihat kembali lawan nya dengan posisi uang masih sama, yaitu dengan Jian An yang masih menahan tendangan dari salah satu dari mereka.
"Dia sangat pengertian ya"ucao Jian Am dan mulai memegang kaki dari orang tersebut dan mematahkan nya dengan mudah.
Krakk...!
"Arg..."teriak orang tersebut, namun sebelum teriakan itu berlanjut Jian An sudah menutup mulut orang tersebut dengan tanganya dan menaruh jari telunjuknya di bibir nya sendiri seakan berkata 'diamlah'.
"Sttt, diam kawan arau akan ada orang yang tau apa uang tejadi di Gang ini"ucap Jian An dengan senyum Iblis nya, yang membuat mereka bertiga merinding sendiri apa lagi saat mereka melihat keadaan dari ketiga teman mereka yang lain nya.
........................................
Selamat menunggu Chapter berikut nya kawan semua😋😊🥰
__ADS_1
IG : sukma_761100