
"Yang lain?, Maaf sepertinya aku tak bisa"ucap Delvin dengan menyebalkan sambil kembali melanjutkan makannya.
Jian An yang mendengar itu tampak kesal namun dia masih saja menahan amarah nya.
"Gak mood!"ucap Jian An dan segera pergi dari sana, entah kenapa saat ini dia sungguh malas makan karena sudah di ganggu.
Delvin yang melihat Jian An pergi menaikkan satu alisnya bingung.
"Gitu aja marah"ucap Delvin yang kemudian kembali makan dengan lahap.
Jian An sendiri kini kesal dengan Delvin sehingga dia hanya tidur di kasur penginapan nya, sambil bermain dengan Handphone nya yang dia ambil dari Ruang Dimensi.
Menonton banyak vidio serta film membuat mood Jian An kembali naik, sehingga dengan semangat Jian An melahap snack yang ada di depan nya dengan lahap.
Sesekali tawa bahagia terdengar dari bibirnya yang cantik, terkadang dia juga akan serius saat adegan action di putar di sana.
Tak lama sebuah suara pintu terbuka mengalihkan pandangan Jian An.
Melirik kearah pintu di sana Jian An bisa melihat Delvin yang berdiri di ambang pintu sambil membawa nampan berisi makanan yang masih hangat.
Memutar bola matanya malas Jian An kembali fokus ke pada layar handphone nya, tanpa memperdulikan Delvin yang kini masuk ke dalam kamarnya.
"Hmm..., Ayam ini sangat enak"ucap Delvin sambil memakan ayam nya.
"Apa aku beri dia makanan juga ya?, Seperti nya sudah lama dia tidak makan dengan benar"ucap Delvin saat sudah selesai menyantap makanan di depan hingga habis tak tersisa.
"Bos!"panggil Delvin sambil mengangkat tangan nya.
Pemilik penginapan pun segera menghampiri nya dengan buru.
"Tuan muda apa ada yang bisa saya bantu?"tanya Pemilik penginapan.
"Aku pesan makanan terbaik di tempat ini"ucap Delvin.
"Baik Tuan tunggu sebentar"ucap Pemilik penginapan dengan gembira.
Dalam waktu yang lumayan singkat pemilik penginapan bersama seorang pelayan yang membawa sebuah nampan berisikan makan serta minuman terbaik yang ada.
"Apa ada daging sapi?"tanya Delvin setelah melihat bahwa daging ayam lagi yang di bawa.
"Kami tidak menyediakan daging sapi Tuan Muda, anda tau bukan bahwa daging sapi sangat mahal, sebuah penginapan di desa kecil seperti ini sama sekali tidak mampu untuk membeli daging sapi"ucap Pemilik penginapan.
Berfikir sejenak Delvin mendapatkan ide yang lumayan bagus.
"Kalau begitu bisa kamu beli daging sapi sekarang, aku akan meminjam dapur mu, tenang saja aku akan tambah uangnya"ucap Delvin dengan senyum.
Pemilik penginapan yang mendengar itu tentu saja senang.
"Baik Tuan muda tunggu sebentar"ucap Pemilik penginapan segera pergi dari sana diikuti oleh pelayan di belakang yang masih membawa daging ayam di atas nampan.
__ADS_1
Tak lama pemilik penginapan kembali lagi.
"Tuan Muda dapur sudah siap"ucap pemilik penginapan dengan sopan tak lupa senyum profesional nya.
"Baik"ucap Delvin sambil berjalan menuju dapur diikuti oleh pemilik penginapan.
Masuk ke dapur di sana dia bisa melihat bahwa semua koki di sini sedang sibuk membuat masakan untuk tamu yang datang, kalau boleh jujur saja tempat ini cukup ramai untuk ukuran penginapan yang ada di pedesaan.
"Tuan Muda anda bisa memakai dapur sebelah sana"ucap pemilik penginapan sambil menunjuk sebuah tempat yang jelas sekali bahwa para koki tak menyentuh bagian itu.
"Terimakasih"ucap Delvin sambil menyerahkan 3 kantong koin emas, dan langsung bersiap untuk mulai memasak.
Pemilik penginapan tentu saja menerima uang tersebut dengan gembira.
Awalnya Delvin mencuci daging sapi yang ada hingga bersih, setelah itu Delvin menaburkan garam dan lada di atas daging sapi tersebut.
Sambil menunggu bumbu meresap Delvin membuat bumbu masakan yang lainnya, terutama saos tomat dengan rasa manis, asam kesukaan dari Jian An.
Saat ini Delvin sedang berusaha membuat masakan daging sapi sebisanya.
Setelah memulai proses memasak yang begitu melelahkan bahkan kini keringat membasahi wajah tampannya, masih dengan ketulusan hati Delvin menyajikan makanan tersebut di atas piring dan menghiasnya.
Sebelum di berikan untuk Jian An Delvin terlebih dahulu sudah memotong kecil-kecil daging sapi tersebut.
Satu piring daging sapi pedas, asin, dam saus tomat manis, asam, dan semangkuk nasi putih kini tersaji dengan rapi di atas nampan.
Wangi harum kini tercium, membuat banyak orang meneteskan air liur nya karena merasa tergiur.
Membuka pintu tersebut dia bisa melihat Jian An yang melirik ke arah tak tertarik dan kembali memfokuskan pandangannya ke arah handphone nya, yang bisa Delvin tebak bahwa itu dari Ruang Dimensi nya.
Mendekati kasur Jian An, Delvin berdiri di sana sambil menaruh masakan nya di atas meja.
"Hey, kau masih marah?"tanya Delvin yang sama sekali tak di perduli kan.
"Hah~"helaan nafas lelah yang panjang kini terdengar, wajah nya terlihat lesu, apa lagi rasa cepek yang menggerogoti tubuhnya setelah memasak, membuat Delvin jauh mudah untuk frustasi.
Mengacak rambutnya sendiri, kini Delvin menatap wajah Jian An, mulai dari mata, hidung dan bibir, kemudian ke arah handphone yang kini ada di tangan nya.
Berfikir sejenak, dengan insiatif Delvin merebut handphone tersebut dan mengangkat tinggi.
"Delvin!, Kembalikan!"ucap Jian An sambil berdiri dari tidurnya berusaha menggapai handphone nya yang kini di angkat tinggi oleh Delvin.
Tubuh mereka berdua kini semakin berdekatan dengan Jian An yang memasang wajah kesal, sambil berusaha menggapai handphone nya, satu tangan nya bahkan kini bertumpu pada bahu Delvin agar bisa berjinjit.
Delvin sendiri hanya berdiri dengan ekspresi datar sambil menunduk melihat wajah Jian An yang kesusahan, jujur saja dia senang.
"Kamu ingin cari ribut ya?"ucap Jian An sambil melotot ke arah Delvin.
"Tidak tuh"ucap Delvin dengan polosnya.
__ADS_1
"Lalu?"ucap Jian An lagi.
"Makan itu, nanti aku kembali handphone mu"ucap Delvin sambil menunjuk makanan yang ada di meja dengan kepalanya.
"Huh!"dengan ekspresi kesal Jian An mengambil makanan tersebut dan mulai memakan, dengan duduk di pinggir kasur.
Delvin sendiri kini berjongkok di depan Jian An sambil tersenyum lembut, mata sama sekali tak mengalihkan perhatian nya dari Jian An yang sedang makan, di matanya juga kini berbinar terang berharap pujian.
"Kau kenapa?"tanya Jian An sambil menatap Delvin.
Jujur saja sari tadi Jian An merasa tak nyaman karena Delvin menatap nya terus saat sedang makan.
Pertanyaan itu sukses membuat Delvin membatu.
'Ah benar dia kan memang selalu begini' batin Delvin sambil tersenyum.
"Tidak apa kok"ucap Delvin sambil mengelus kepalanya Jian An, mengambil rambut panjang nya Delvin mencium harum rambut nya dengan mesra.
"Aku hanya merasa bahwa kau sangat cantik"ucap Delvin sambil mengedipkan matanya genit.
Hal ini membuat Jian An memerah.
"Sejak kapan kamu belajar seperti ini?"tanya Jian An sambil menunduk malu.
"Belajar apa?, Setiap hari aku hanya fokus meningkatkan kekuatan ku kok, jadi aku tidak belajar apa-apa"ucap Delvin dengan polos sambil memiringkan kepalanya dan itu terlihat imut.
Hal itu hampir saja membuat Jian An mimisan.
"Kau tak pernah belajar apa-apa, selain meningkatkan kekuatan mu, ternyata kau cukup rajin ya"ucap Jian An.
"Tentu saja, jika ingin menyusul mu yabg sudah jauh kita harus fokus pada satu hal saja"ucap Delvin.
"Baiklah"ucap Jian An melanjutkan makannya.
Delvin menatap sebentar, sebelum berdiri dari jongkoknya, mendekat kan wajahnya Delvin melahap sisa makanan yang ada di bibir Jian An, hal tersebut membuat Jian An membeku.
"Enak~"ucap Delvin sambil tersenyum.
"Baiklah selamat makam"ucap Delvin sambil berjalan pergi dari sana tak lupa dia mengelus kepala Jian An terlebih dahulu sebelum pergi dan menutup pintu.
Di sisi Jian An kini dia masih saja membeku, sebuah cairan merah kental alias darah kini sudah mengalir di hidungnya.
"Apaan barusan???"tanya Jian An dengan bingung yang masih saja belum paham situasi.
Kini Delvin dan Jian An sudah siap untuk memulai kembali perjalanan untuk menuju perguruan Bukit Tinggi.
"Berapa jauh lagi?"tanya Delvin.
"Kita akan sampai beberapa hari, tepat dengan waktu yang aku janjikan ke Guru"ucap Jian An tanpa menatap Delvin jujur saja saat melihat Delvin dia akan terbayang lagi adegan di dalam kamarnya saat dia makan.
__ADS_1
"Hmmm....., Baik, ayo kita pergi sekarang"ucap Jian An.