
Dengan cepat Jian An segera saja keluar dari rumah pohon tersebut, benar saja sekali dirinya keluar kini dirinya sudah di kepung oleh kawanan serigala yang menggeram kearahnya menunjukan taring tajam mereka semua.
Para serigala kini segera saja menerkam kearah Jian An secara bersamaan namun dengan mudahnya Jian An menghempaskan mereka semua dengan ledakan mana yang ada di dalan tubuhnya.
Duarrr!!
Auuu!!!
Raungan kesakitan kini terdengar dari para serigala yang ada.
Baru saja mereka akan bangun dan menyerang Jian An lagi kini sulur-sulur tananaman merambat bergerak dengan cepat kearah mereka dan mengikat mereka semua dengan erat.
Tentu saja pelakunya adalah Jian An yang kini mengendalikan tananaman dengan tangannya.
Cahaya hijau kini memancar dari diri dan saat Jian An mempraktikkan tangannya seperti meremas, sulur-sulur itu segera mengeratkan diri mereka memeluk para serigala.
"Auuuuu!!!~~"
"Aauuuuuuu~~"
Suara raungan kesakitan kini terdengar memekikan telinga.
Tubuh para serigala tersebut kini sedikit demi sedikit terluka dan mengeluarkan darah dari tubuh mereka hal tersebut tentu saja membuat raungan mereka semakin keras, jelas, dan tajam di saat bersamaan.
"Hump!"
Menambah kekuatannya jelas sekali bahwa kini berencana mengakhiri semua nyawa serigala tersebut.
Bummm!!!!
Benar saja tak lama tubuh dari para serigala tersebut hancur berkeping-keping dengan darah serta organ dalam mereka yang berceceran kemana-mana akibat ledakan yang terjadi.
Menatap kawanan serigala datar rasanya Jian An belum puas beraninya para serigala berbulu domba itu mengganggu tidur manjanya.
Mendengus sebal Jian An berniat pergi kembali ke rumah pohonnya sebelum sebuah panah kini melesat dan membidik kearahnya.
Syuutttt~
Untungnya telinga Jian An yang peka membuatnya selamat dengan cara menghindar anak panah tersebut dengan terbang dengan ilmu peringan tubuhnya.
Tak!
Anak panah tersebut langsung saja menancap pada dahan pohon.
__ADS_1
Jian An kini menjadi waspada dia tau bahwa musuhnya kali ini adalah manusia, orang bod0h juga akan tau, memangnya ada hewan yang bisa memanah?, tidak kan?!.
Tak lama sebuah banyangan kini bergerak cepat kearah Jian An, Jian An yang melihat itu membelakkan matanya.
Tang!
Dua pedang kini saling beradu, untungnya tadi Jian An sempat memblokir serangan yang meluncur kearahnya.
Di sana Jian An dapat melihat seseorang dengan pakaian serba hitam sekaligus dengan maskernya.
Mengeritkan keningnya Jian An bingung akan apa yang terjadi, kenapa sosok ini menyerangnya dia yakin bahwa dia tak pernah membuat musuh di sini jadi siapa dia, apa ini yang di sebut perampok?, tapi dimana kawan-kawan nya yang lain kenapa tak ada sama sekali dia hanya sendirian!, lalu ini perampokan dengan nama apa??!
"Tunggu sebentar kenapa kamu menyerangku?"tanya Jian An bingung.
Namun sosok tersebut tak menjawab dan hanya segara melancarkan serangan kearah Jian An berusaha menembus pertahan jian An di bagiana perutnya, namun tetap saja Jian An ternyata sangat baik dalam menangkis setiap serangan yang datang.
Tang!
Tang!
Tang!
Tung!
Ting!
Tidak itu bahkan lebih buruk!, jadi intinya setidaknya jawab lah dengan kalimat selain itu dan jangan diam lah karena diam membuat Jian An geram.
Karena geram Jian An yang tadinya hanya bertahan kini mulai menyerang balik.
Berhindar kesamping membuat serangan orang tersebut meleset dan hampir saja menabrak pohon, namun tentu saja Jian An langsung menendang perut orang tersebut dengan keras sehingga dirinya terpental 15 meter dari tempatnya.
Buaghh!!!
"Ugh!"
Mulut orang tersebut kini mengeluarkan darah dari mulutnya dia kini langsung memegangi perutnya yang sakit dari suaranya Jian An tau bahwa dia seorang wanita.
"Kamu wanita?, ku kira pria"ucap Jian An
"Kamu sangat lemah bahkan hanya dengan satu pukulan kamu sudah tak berdaya namun kamu beraninya melawan ku yang jelas-jelas sekali levelnya di atas mu, betapa bod0hnya!"cemoh Jian An kearah orang tersebut yang kini masih saja memutahkan darah dari mulutnya.
Rupanya tendangan dari Jian An sangat luar biasa pasalnya luka yang di terima orang tersebut sangat dalam.
__ADS_1
"Katakan siapa yang menyuruhmu"ujar Jian An mendekat dan mencengkram dagu orang tersebut kencang.
"Ugh!, buat apa kamu tau!"ujar orang tersebut yang membuat Jian An makin marah.
"Apa-apaan_!, jawaban mu itu, setauku aku baru tiba di sini dan bahkan belum berusuran dengan siapa pun apa lagi membuat masalah rasanya mustahil, jadi kenapa kamu menyerangku?"tanya Jian An lagi.
"Cuih!, kamu sama sekali tak ingat kah, 1 tahun yang lalu kamu telah membantai semua orang di desaku!, apa kamu tak ingat!"teriak orang tersenut jelas sekali bahwa orang tersebut sangat marah dan merasa dendam yang amat besar.
Namun Jian An yang merasa tak bersalah tentu saja tak mungkin mengaku kan?.
"Aku membantai sebuah desa?, kapan?, maaf sekali tapi aku sudah lama pergi untuk kebenua lain dan baru kemarin aku tiba di sini"jawab Jian An bingung rasanya akan sia-sia jika dia menanggapi orang di depannya.
"Kamu!, kamu benar-benar membunuh orang di desa ku!, hiks!"ujar orang tersebut dengan air mata yang mulai turun.
Jian an yang melihat tersbeut tentu saja gelagapan.
"Hey berhenti menangis!, bukti apa yang kamu punya sehingga kamu dengan sembarangan menuduhku?!"ujar Jian An yang mulai kehabisan kesabaran.
"Bukti!, kamu perlu bukti, bukan kah hal yang ada di sini sudah menjadi bukti?"ucap orang tersebut
Jian An yang mendengar itu menjadi lebih bingung lagi, maksudnya hutan ini adalah buktinya tapi tak ada yang istimewah dengan hutan ini loh bro~!.
"Selain itu ini juga bukti"ucap orang tersebut sambil memperlijatkan sebuah benda yang membuat Jian An membelakan matanya tak percaya.
"Pedang ini kamu gunakan untuk membunuh semua warga desa jawab kamu yang melakukan nya kan?!"terika orang tersebut
Mendengar hal itu Jian An sama sekali tak tau harus berkata apa pasalnya hal yang di perlihatkan oleh orang di depan nya ini hanya sebatang kayu biasa dan dia bisa memastikan bahwa itu bukan hak yang istiwewah.
Entah lah tapi firasatnya kini sama sekali tak enak.
"Menuduhku hanya dengan kayu itu apa menurutmu aku bod0h!"tefiak Jian An kesal.
Akhirnya pedang Jian An kini bersinar terang rasanya dia amat muak dengan orang di depan nya lebih baik jika dia membunuhnya saja sekarang juga.
Namun saat pedang itu hendak menebas kepala orang tersebut yang kini mengigil ketakutan sebuah lemparan batu membuat pedang Jian An melesat.
Tak!
"Eh_?, siapa?"tanya Jian An
Dari belakang orang tersebut muncul seorang kakek tua yang nampak sangat bijaksana.
"Maaf nona, mohon maafkan cucu saya dia memang mengalami gangguan jiwa, karena suatu insiden makanya sikapnya jadi begini"ucap orang tua tersebut.
__ADS_1
Jian An yang mendengar penyataan tersebut memasang wajah emoji batu.
"Pantas dari tadi aku seperri berbicara dengan orang gila"gumam Jian An lirih entah lah dia merasa hari ini dia sama sekali tak beruntung.