
Mata tajam itu kini melirik sekitar dengan cermat mata nya jelas memancarkan perasaan was-was.
Dari arah belakang Delvin bisa merasakan gerakan cepat yang bisa langsung memberi tau Delvin bahwa itu adalah Spirit Beast harimau dengan tubuh yang tinggi nya lima meter di tambah ukuran tubuh nya yang besar itu.
Berbalik dengan cepat dan segara menghindar dengan mata melotot Delvin langsung berseru.
"Gila ini hewan apa Monster!"ucap Delvin sambil bergidik ngeri menatap harimau dengan tinggi lebih dari lima meter itu.
"Dunia ini gak normal!, Kalau kayak gini cara nya lebih baik aku di Bumi saja!"ucap Delvin sambil menghindari serangan yang di arah kan ke pada nya.
Mengeluarkan pedang berwarna perak dengan hiasan permata dari cincin ruang, dengan memanfaatkan ketajaman,, kecepatan, dan ke tangkasan, serta ilmu peringan tubuh atau bisa di sebut Qing Qong, Delvin segera terbang ke atas berusaha membelah Spirit Beast di depan nya dengan sekali serang, namun nyata nya tubuh Spirit Beast di depan nya sangat keras hingga membuat pedang perak yang dia beli di pasar dengan harga murah itu patah menjadi dua.
"Apa-apaan ini!, Pedang ini tak berguna sekali?"ucap Delvin dengan kesal sambil membanting pedang tersebut dengan kasar ke tanah, awalnya dia melihat pedang yang indah tersebut yang sedang di jual di pasar karena cantik Delvin langsung membeli nya tanpa melihat bahwa kualitas pedang tersebut sangat rendah.
Mendengus dengan sebal bibir nya berkerut bisa di katakan saat ini Delvin sedang ngambek dengan sebuah pedang dia merasa kecewa karena pedang yang indah tersebut bahkan tak bisa di gunakan sama sekali.
"Huh!, Sia-sia ada Pedang"ucap Delvin sambil membuat pendang dari Qi nya.
Menyerang ke rah Spirit Beast tersebut Delvin meloncat tinggi dan sekali ayun kepala Spirit Beast tersebut terpisah dari tubuh nya dengan potongan yang rapih.
Bahkan darah pun taka da yabg keluar lantaran darah binatang Spirit Beast sudah membeku.
"Begitu lelah"ucap Delvin sambil terduduk di tanah, padahal jelas sekali dia sama sekali tak kehilangan energi namun Delvin hanya bertingkah berlebihan saja.
Melihat sekitar suasana di sekitar sana sangat sejuk dan sunyi, Delvin baru menyadari hal tersebut.
"Heh!, Tak di sangka disini sangat sejuk"ucap Delvin sambil menghirup banyak udara, sambil memejamkan mata nya.
Merasakan udara yang dingin dan segar Delvin jadi ingat sebuah kenangan dulu, kalau di ingat-ingat seperti nya sudah lama Delvin tak memperhatikan keadaan sekitar setelah Jian An pergi.
Ngomong-ngomong soal Jian An dia sangat kangen dan ingin pergi menyusulnya, hanya saja dia bahkan tak tau di mana dia sekarang berada yang dia tau hanya bahwa dia pergi berkeliling Dimensi tapi dia tak tau di mana.
"Menyebalkan!"decak Delvin dengan kesal, bangun dari duduk nya dan segar pergi dari sana dengan santai.
__ADS_1
Sedangkan Jian An yang melihat itu dari bola sihir, merasa lega karena akhirnya dia bisa melihat Delvin walaupun itu dari kejauhan.
"Sudah lah aku tidur saja masih ada waktu untuk itu"ucap Jian An sambil berbaring di kasur nya bola Sihir pun segera sirna dari tangan nya.
Tak tau berapa lama Jian An tertidur yang dia tau hanyalah bahwa tidurnya yang kali ini adalah tidur paling enak yang dia rasakan untuk 2 tahun belakangan ini, sangat lega rasa nya seakan beban berat menghilang sekejap mata.
"Eh, apa sudah sampai?"tanya Jian An pasal nya dia tak lagi merasakan ada nya pergerakan pada prahu yang di tumpangi nya, tunggu jangan bilang bahwa dia sudah tertidur selama 24 jam?.
Memikirkan hal tersebut Jian An tentu saja tak bisa tenang, bangun dari kasur nya dengan segar Jian An langsung keluar dari kamar nya sepi, adalah hal yabg pertama di rasakan nya.
Apa dia di tinggal?, Tapi sepertinya tak mungkin bukan?.
Lalu apa yang terjadi?, Kenapa sunyi sekali?
Merasa ada yang tak beres dengan kapal tersebut dengan perlahan Jian An berjalan keluar menyelusuri lorong-lorong kapal.
Semakin mendekat Jian An mulai merasa tak beres pasalnya suara pedang yang saling beradu terdengar, suara teriak menggema, dan bau amis, anyir darah tercium dari udara, apa ini yang di namakan Perampok?!.
Jian An yang sadar akan hal itu segera saja berlari dengan cepat agar segara sampai di ujung lorong.
Tersenyum miris sambil melihat pemandangan di depan nya, dari mata nya jelas terpencar sorot mata yang seperti mengasihi diri sendiri.
"Si4l, kenapa hal ini selalu terjadi ke pada ku?"tanya Jian An yang entah ke pada siapa.
Slapp....
Sebuah pedang terbang ke arah Jian An, dan dengan reflek yang tajam tanpa sadar Jian An menghindar sehingga pedang tersebut menancap pada dinding kapal.
Jian An yang melihat itu sangat syok, pasalnya tadi dia sedang tak fokus dan langsung di kejutkan oleh pedang yabg terbang ke arah nya tanpa di sadari oleh nya, namun sepertinya tubuh nya masih sadar sehingga menghindar tepat waktu, seandainya tubuh nya tak sadar bukan kah diri nya saat ini sudah berlari-lari di Surga iya kalau masuk nya surga lah kalau Neraka gawat sekali teman!
Memikirkan hal itu entah kenapa Jian An secara reflek bergidik ngeri.
Menatap ke depan dengan tajam, mengibaskan tangannya sebuah kipas tangan muncul dan melayang di depan nya.
__ADS_1
Kipas itu berwarna emas dengan hiasan gambar Bunga Iris, Higanbana, serta bunga Mawar merah yang di gambar dengan warna emas di sana, kipas itu nampak elegan, dan cantik, sebuah kipas yang cocok di pakai oleh bangsawan.
Kipas itu dia dapat kan saat ada di Dunia Pendekar waktu dia melakukan sebuah perampok kan.
Mengambil kipas tersebut dengan santai dengan anggun Jian An mengipasi diri nya sendiri, tatapan jya kini lembut sambil menikmati angin yang tercipta oleh kipas nya, hingga tatapan lembut itu langsung di gantikan dengan tatapan tajam, berbahaya serta haus akan darah.
Terbang ke arah orang terdekat, dengan Qing Qong, Jian An langsung memutus leher orang tersebut dengan kipas, anehnya kipas itu seakan lebih tajam dari pada pedang, bahkan potongan yang di hasilkan sangat mulus, dan kipas yang di gunakan untuk memutus leher itu tak ternoda darah sedikit pun.
"Huh!, Rasakan itu!"ucap Jian An sambil mendengus sebal.
Menatap sekitar lagi melempar kipas nya ke udara, kipas itu nampak mengapung di atas sebelum meluncur dengan cepat ke arah para Perampok, dan mengiris leher mereka satu persatu hingga mati, gerakan kipas tersebut jelas sekali mengikuti arahan darii tangan Jian An yang mengontrol nya.
Semua Pendekar yang melihat para Perampok mati dengan sebuah kipas memotong leher mereka segera mengalihkan pandangan ke pemilik kipas tersebut.
Dengan tenangnya Jian An menangkap kipas yang terbang ke arah nya dan mengipasi diri nya sendiri dengan anggun dan tanpa memperdulikan pandangan para Pendekar serta semua orang yang ada Jian An masuk ke dalam dengan tenang.
"Ah, apa aku baru saja melihat Dewi Kematian?"tanya seseorang tanpa sadar.
Namun dari sekian banyak nya orang tak ada yang menjawab pertanyaan dari orang tersebut semua nya masih membisu dalam keheningan pasalnya hal yang baru saja terjadi di depan mereka adalah hal langka!, Yang mungkin tak bisa mereka lihat lagi, maklum di Dunia ini semua orang hanya memakai Pedang sebagai senjata sedang untuk seruling, atau pun yang lain nya sangat jarang atau bisa di bilang tidak ada!.
Sedangkan Jian An yang sudah masuk merasa Bad Mood dia kesal saat ini, menghilang kipas dari tangan nya, entah kenapa Jian An sudah tak mau lagi memakai kapal, ia ingin berlari saja di atas air!.
"Menyebalkan!"umpat Jian An kesal, semakin di pikir entah kenapa Jian An semakin kesal dan ingin menghancurkan satu Dunia!.
Melompat dari jendela kapal dengan mudah nya Jian An berdiri di atas air.
Hap...
Memandang daratan di sana bisa di pastikan bahwa itu sudah tak jauh lagi.
"Selamat tinggal"ucap Jian An basa-basi tak jelas.
Jian An segera berlari menuju tempat yang di tuju nya tanpa melihat kebelakang lagi di mana di kapal tersebut semua orang sedang mencari nya untuk berterima kasih.
__ADS_1
Namun setalah mencari lebih dari satu jam mereka tak bisa menemukan Jian An, dan akhirnya mereka sadar bahwa mungkin Pendekar hebat itu sudah pergi karena tak mau di ketahui identitas nya.