EMPEROR OF THE EARTH

EMPEROR OF THE EARTH
Chapter 87


__ADS_3

Selamat membaca


😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁😁


.........................................


"Kalau begitu Delvin, aku akan keluar dulu"ucap Mei Ling sambil tersenyum, dan berjalan keluar dari ruangan itu.


Tanpa di sadari nya kini Delvin sedang tersenyum menyeramkan ke arah pintu di mana Mei Ling pergi, dengan wajah yang setengah tertutup akan bayangan.


Suhu, dan suasana di ruangan tersebut pun berubah menjadi lebih menyeramkan, aura membunuh pun menyebar ke segala penjuru, mungkin jika Mei Ling masih di sana ia akan di buat merinding, dan tak bisa bernafas, apa lagi di tambah bahwa penerangan di ruangan itu hanya sebuah lilin yang ada di meja Delvin.


......................................


"Berasa ngetik film horor deh, apa lagi ngetiknya tengah malem lagi, sendirian lagi, cocok nih suasanaπŸ˜–πŸ˜°" (Author sambil bergidik ngeri).


"Gak apa-apa Thor orang hantu nya saya, kan saya ganteng😎"(ucap Delvin dengan sombong nya)


"πŸ˜‘πŸ˜’"(Author tanpa bicara apa-apa).


.......................................


"Hehehe, bersenang-senang lah kau Mei Ling, dan tunggu kematian mu"ucap Delvin dengan dingin, kedua tangannya pun kini mengepal hingga membuat kuas yang ada di genggaman nya patah menjadi dua.


.......................................


Sedangkan Mei Ling yang kini tak tau bahwa bahaya sedang mengincarnya kini sedang berlari ke kamar nya dengan senyum gembira.


Membuka pintu kamar nya, dan masuk ke dalam.


"Senang nya, akhirnya Delvin mau membuka sedikit hati nya untuk ku"ucap Mei Ling sambil tersenyum, dengan tubuh yang kini bersandar ke pada pintu kamar nya.


Berjalan ke arah meja rias nya Mei Ling mulai menghapus make up yang sudah seharian ini dia pakai, sambil menyisir rambut hitam nya yang panjang, Mei Ling berkata pada diri nya sendiri.


"Bagaimana Delvin tak jatuh cinta ke pada ku, aku saja begini cantik"puji nya.


"Dan Jian An yang di katakan sebagai kekasih Delvin itu, pasti akan ku kalahkan"ucap Mei Ling dengan sorot mata penuh kebencian.


.......................................


"Dia gak tau kalau dia bahkan gak ada 1% nya dari Jian An, lagian kalau lo bisa ngalahin Jian An maaf nih ya, saya tak rela!"(ucap Author sambil merasa prihatin).


"Biarlah, biarlah dia ber-halu sesukanya"(ucap Jian An dengan dramatis tingkat tinggi).


........................................


Ini sudah satu minggu dari hari di mana Yang Shui menemukan keberadaan Guru nya, namun Yang Shui sampai sekarang sama sekali belum ingin muncul di depan Guru nya.


"Siapa anak yang ikut degan Guru itu, aku yakin bahwa dia bukan salah satu adik seperguruan dulu"ucap Yang Shui, yang kini sedang bersembunyi di balik tembok sambil mengamati Guru nya, dan Jian An yang kini sedang membeli Tanghulu.


"Kakek Guru Chen, aku ingin 10 tusuk Tanghulu"ucap Jian An dengan gembira.


Melihat itu entah kenapa Kakek Chen jadi teringat dengan cucu nya dulu yang sudah lama meninggal bersama kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Baiklah, akan Guru belikan kau banyak Tanghulu"ucap Kakek Chen sambil tersenyum.


"Tuan Tanghulu nya 10 tusuk"ucap Kakek Chen ke pada penjual Tanghulu, sambil menyerahkan 3 koin tembaga.


"Baik, tunggu sebentar"ucap Penjualan tersebut, dan tak lama ia menyerahkan 10 tusuk Tanghulu tersebut ke pada Kakek Chen.


Namun sebelum Kakek Chen menerima nya Jian An sudah terlebih dahulu mengambil Tanghulu tersebut.


"Terima kasih Paman"ucap Jian An sambil memandang Tanghulu di tangan nya dengan mata berbinar.


"Kalau begitu ayo kita melanjutkan kembali perjalanan kita yang tertunda"ucap Kakek Chen.


"Baik"ucap Jian An sambil berjalan di samping Kakek Chen.


"Kakek Guru Chen, setelah ini kita mau ke mana?"tanya Jian An pasalnya sudah sekitar 1 minggu mereka terus saja berjalan tanpa tujuan.


"Kita akan mencari tempat yang cocok untuk membangun sebuah Perguruan"ucap Kakek Chen.


"Perguruan?, Apa kau masih ingin membuat sebuah Perguruan walaupun kau sudah pernah di khianati oleh para murid mu itu?"tanya Jian An dengan nada serius.


"Ya, lagi pula entah kenapa aku yakin kali ini aku akan memiliki banyak sekali murid yang setia ke pada ku, dan Perguruan kelak"jawab Kakek Chen.


"Kau optimis sekali"ledek Jian An, namun Kakek Chen menanggapi nya sebagai sebuah pujian.


"Terima kasih atas pujian, ya kau benar aku adalah orang yang optimis, jadi tidak perlu memujiku, hohoho"ucap Kakek Chen dengan sombong.


"Si4lan!, Aku bukan sedang memujimu kau tau, tapi aku sedang meledek mu, apa kau paham itu, huh!"ucap Jian An dengan kesal.


"E...eh, kau bagaimana bisa seperti itu kepada Guru mu yang sudah tua ini"ucap Kakek Chen.


"Dasar anak nakal, jangan lari kau"ucap Kakek Chen yang kini mengejar Jian An yang sudah lari menjauh dari nya sambil menjulurkan lidahnya mengejek diri nya.


"Wlee..., Kejar aku kalau bisa, hahahaha!!"ucap Jian An sambil tertawa lepas.


Hingga akhirnya mereka berdua terus kejar-kejaran hingga keluar dari dalam kota tersebut.


Kakek Chen sendiri sebenarnya tak marah, ia bahkan sangat bahagia.


'Walaupun dia menyebalkan, namun setidaknya dia cukup menghibur ku, yang sudah tua ini' batin Kakek Chen, sambil terus mengejar Jian An yang kini lumayan jauh dari nya.


Sedangkan Yang Shui yang melihat adegan yang baru saja terjadi tercengang dengan apa yang dilihatnya, bahkan dia berkali-kali mengucek mata nya.


"Apa yang baru saja aku lihat, apa itu benar guru, jika aku tak salah lihat mungkin aku sedang bermimpi?"ucap nya pada diri nya sendiri.


PLAKK...!


"Si4lan ini bukan mimpi"ucap nya sambil memegang pipi nya yang kini sudah merah akibat dia tampar sendiri.


"Atau jangan-jangan..., Matahari sudah terbuat dari arah barat!"ucap Yang Shui.


"Itu juga tidak mungkin tadi pagi aku lihat dengan betul bahwa Matahari masih terbit dari arah timur, jadi itu benar Guru ku yang sekarang!, Yang benar saja"ucap Yang Shui


Dia ingat dengan sangat jelas Guru nya tersebut sangat berwibawa, walaupun dulu ia sering mengganggu Guru nya tapi Guru nya tak pernah menunjukkan reaksi seperti ini, Guru pasti hanya akan memasang wajah biasa nya sambil berkata.

__ADS_1


'Yang Shui, hentikan itu, apa kau mau di hukum' begitulah kira-kira perkataan nya dulu.


Tapi reaksi di depan nya ini sungguh di luar dugaan nya, diam-diam Yang Shui tersenyum.


"Akhirnya Guru bisa tersenyum lagi"ucap Yang Shui sambil terus memperhatikan dua bayangan yang semakin menjauh dari nya.


"Sebaiknya aku cepat mengejar mereka, sebelum aku kehilangan jejak"ucap Yang Shui dan langsung berlari dengan kencang ke arah di mana Jian An dan Kakek Chen pergi.


Sedangkan kini Jian An dan Kakek Chen sudah tidak main kejar-kejaran lagi, mereka berdua kini sedang berjalan di tengah hutan yang lumayan indah menurut Jian An.


"Bagaimana mungkin di hutan begitu banyak bunga yang sangat indah seperti ini?"ucap Jian An sambil terkagum-kagum dengan apa yang di lihat oleh mata nya.


"Hutan ini unik kan"ucap Kakek Chen yang kini ada di sebelah Jian An yang juga sedang melihat-lihat sekitar.


"Kakek Guru Chen, tempat ini begitu indah dan damai bukan kah tempat ini cocok untuk di buat sebuah Perguruan, apa lagi kau sudah tua!, Pasti kau akan lebih baik jika tinggal di tempat yang tenang seperti ini"ujar Jian An memberi masukan.


"Ya kau benar tapi bukan kah akan lebih baik jika kita membuat Perguruan tersebut di puncak hutan ini saja, tepat nya di sana"ucap Kakek Chen sambil menunjuk sebuah puncak bukit di depan nya.


"Wah~, itu pasti akan sangat indah, bagaimana kalau nanti kita membuat tangga untuk ke atas sana, dari kaki bukit hingga puncak, sehingga siapa saja yang ingin ke Perguruan kelak harus mendaki jutaan anak tangga, bukan kah itu akan seru"ucap Jian An sambil membayangkan seseorang yang mendaki jutaan anak tangga hanya untuk sampai di sebuah Perguruan.


BUKK...!


"Ouc...!, Kakek Chen!, Kenapa kau memukul kepala ku"ucap Jian An sambil memegang kepala hua yang di pukul oleh Kakek Chen.


"Dasar anak nakal kau hanya ingin menjahili mereka saja kan?"tanya Kakek Chen yang di balas cengiran ala Jian An.


"Kakek Guru Chen memang yang terbaik, kau bahkan bisa membaca apa isi pikiranku"ucap Jian An sambil cengengesan.


"Tapi sepertinya itu ide yang bagus juga"ucap Kakek Chen tiba-tiba.


"Eh~"kaget Jian An dengan apa yang di dengar nya barusan.


"Bukan kah akan menjadi menyenangkan jika kita menjahili mereka sedikit"ucap Kakek Chen sambil melihat Jian An.


Kini mereka berdua saling bertatapan hingga, bibir mereka melengkung ke atas, dan langsung tertawa bersama.


"Hahahaha!!!!"tawa Jian An dan Kakek Chen yang menggema di seluruh hutan tersebut.


"Benar sekali, bukan kah kita akan sedikit terhibur, hahahaha!!"ucap Jian An sambil tertawa.


"Mungkin itu akan menjadi hal paling menyebalkan bagi mereka yang ingin naik ke atas, hahahahaha!!!!"tawa Kakek Chen yang bahkan kini menjadi lebih keras.


Sedangkan di sebuah batang pohon tak jauh dari Jian An dan Kakek Chen, kini Yang Shui sedang menutupi setengah wajah nya mengunakan tangan nya, namun bisa terlihat jelas bahwa pipi nya kini memerah.


"Sial4n, mereka yang gila kenapa aku yang malu"ucap Yang Shui, yang kini membelakangi Jian An dan Kakek Chen, tapi walaupun begitu ia masih bisa mendengar tawa mereka berdua.


"Sepertinya setelah ini aku harus berubah menjadi orang yang paling normal di antara mereka, biar Perguruan kami tak di Katai Perguruan para orang gila, perjalan ku masing panjang rupa nya"ucap Yang Shui lagi, dan di akhiri dengan melirik ke arah Jian An dan Kakek Chen yang bahkan belum selesai tertawa.


"Guru Chen entah kenapa aku merasa bahwa sudah tak ada lagi harapan untuk mu kembali normal"ucap Yang Shui sambil menatap iba ke arah Kakek Chen yang sedang tertawa.


........................................


πŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’š

__ADS_1


Selamat menunggu Chapter berikut nya kawan semuaπŸ˜‚πŸ˜….


IG : sukma_761100


__ADS_2