EMPEROR OF THE EARTH

EMPEROR OF THE EARTH
Chapter 88


__ADS_3

~Selamat Membaca~


🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰


Paketan terakhir Author untuk bulan ini akan Author persembahan untuk hari ini, demi kalian...


..........................................


Setelah puas tertawa kini Jian An dan Kakek Chen melanjutkan perjalanan mereka agar bisa cepat sampai di puncak.


Mereka tak terbang melainkan mendaki dengan jalan kaki, jika kalian ingin tau apa alasan nya.


Mereka hanya ingin mengukur berapa lama, dan jauh nya bukit ini.


Namun entah kenapa seperti nya bukit ini menjadi 3x lipat lebih tinggi dari pada sebelum nya.


"Ah~, si4lan kenapa sangat tinggi sekali, kaki ku sudah pegal"ucap Jian An sambil menyandarkan tubuhnya kepada sebuah batu besar yang ada di sana.


"Jangan banyak mengeluh, cepat jalan kita harus sampai sebelum matahari tenggelam"ucap Kakek Chen yang menatap ke arah di mana matahari kini berada.


"Kakek Chen bukan kah akan lebih baik jika kita beristirahat di sini dulu, apa kau tak lihat bahwa matahari kini sudah berada tepat di atas kepala kita!, sudah 5 jam aku berjalan terus kau tau dan aku sangat lelah~, apa lagi tadi pagi kita bangun terlalu pagi, jam 4 pagi kau sudah menyuruhku bangun, dan pergi dari kota jam 7 pagi!"ucap Jian An.


"Belum apa-apa kau sudah lelah, lalu bagaimana dengan rencana mu!, yang akan membuat tangga dari kaki bukit ini sampai puncak!, apa itu hanya omong kosong mu saja!"ucap Kakek Chen seakan meledek Jian An yang kini sudah loyo.


"Benar sekali!, jika aku berhenti sekarang bukan kah kita akan membutuhkan waktu lebih lama untuk membangun Perguruan baru kita!'ucao Jian An dengan semangat dan mulai mendaki lebih cepat 5x lipat dari awal.


Bahkan Kakek Chen, dan Yang Shui yang sedang bersembunyi pun merasa kaget.


"Hey!, Bocah!, Jangan terlalu cepat apa kau ingin membuang-buang tenaga mu!"teriak Kakek Chen sambil berlari mengejar Jian An yang sudah jauh di depan sana.


"Kakek Guru Chen kau tenang saja aku sebenarnya memiliki stamina yang bahkan jika aku mau aku bisa mendaki 5x lipat dari gunung ini, kau tau!!"teriak Jian An dari atas sana.


"Huh!, Aku tak akan percaya dengan apa yang kau katakan bocah!, Jika itu benar maka kau tadi tak akan loyo seperti itu"ucap Kakek Chen.


"Tak percaya pun sudah, aku tak butuh kepercayaan mu Kakek Guru Chen!!"teriak Jian An.


Tak terasa hari sudah gelap saja namun Jian An dan Kakek Chen masih saja mendaki bukit tersebut.


"Hah~, akhirnya kita sampai di puncak juga!!!!"teriak Jian An menggema d seluruh penjuru bukit, dan hutan tersebut.


"Kecilkan suara mu nak ini sudah malam"ucap Kakek Chen sambil melihat jutaan bintang-bintang di atas langit, dengan membaringkan tubuhnya di atas rumput.


"Tak ku sangka ternyata di atas ini memiliki sebuah Padang rumput yang sangat bagus seperti ini"ucap Jian An dan segera berlarian di atas padang rumput mengeliling puncak gunung.


"Wah~!, Kakek Chen lihat ini!!!!"teriak Jian An yang membuat Kakek Chen langsung berlari ke arah nya.


"Ada apa?, Apa di sini ada binatang buas?"tanya Kakek Chen.


"Bukan!, bukan!, tapi itu"tunjuk Jian An ke atas langit.


Kakek Chen yang melihat itu pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah yang di tunjuk Jian An.


Dan terlihat lah bahwa langit tersebut bukan hanya di penuhi dengan bintang, namun ternyata sebagain lagi terdapat Aurora yang menghiasi langit malam dengan indah.


"Tak ku sangka tempat ini sangat...."ucap Kakek Chen.

__ADS_1


"Indah..."sambung Jian An sambil terus menatap ke arah langit yang di penuhi dengan Aurora.


"Baiklah malam ini kita tidur di alam lepas, tidurlah lebih cepat, besok kita akan bekerja dari pagi hingga sore"ucap Kakek Chen.


"Baiklah Kakek Guru Chen"ucap Jian An yang langsung saja memejamkan mata nya, dengan tubuh yang berbaring di atas rumput yang empuk.


Kakek Chen yang melihat Jian An sudah tidur pun, mengalihkan pandangannya ke arah jutaan bintang di sisi lain dari Aurora, bertepatan dengan itu sebuah bintang jatuh, dan di susul oleh bintang-bintang lain nya.


"Sungguh malam yang indah sekali"ucap Kakek Chen dan segar berbaring di atas rumput agak jauh dari Jian An, dan mulai memasuki alam mimpinya.


"Selamat malam Guru Chen"ucap Yang Shui yang kini berbaring di salah satu dahan pohon sambil melihat Kakek Chen yang kini berbaring di atas rumput.


Kini matahari sudah bersinar dengan terang, namun di atas bukit kini di penuhi oleh kabut putih.


Jain An yang kini sudah bangun, tak ingin bergerak secuil pun dari tempat persembunyian nya.


Di temani oleh api unggun di depan nya dengan Kakek Chen yang sedang duduk di sebelah nya, Jian An kini terbungkus oleh selimut tebal, yang di berikan oleh Kakek Chen.


"Kenapa saat pagi bukit ini begitu dingin sekali"ucap Jian An dengan gemetar menahan dinginnya suhu lagi ini.


"Tidak kok biasa saja, hanya saja Kabut putih ini mengganggu sekali"ucap Kakek Chen yang memang terlihat biasa saja.


"Itu kan karena kau menggunakan tenaga dalam mu untuk menghangatkan tubuh mu sendiri"ucap Jian An.


"Bukan kah kau juga bisa melakukan itu, kenapa kau tak melakukan nya juga"ucap Kakek Chen.


"Aku tak akan melakukan, karena aku sedang menghemat tenaga dalam ku, bukit ini terlalu besar jadi mungkin nanti saat kita membangun Perguruan akan membutuhkan banyak tenaga dalam, jadi aku ingin menghemat nya"ucap Jian An.


"Untuk apa bukan kah kita akan membuat Perguruan bertiga?, Benar kah Yang shui?"ucap Kakek Chen sambil melirik sebuah pohon di mana tempat Yang Shui sedang bersembunyi.


"Seperti nya tak ada pilihan lagi ya selain memperlihatkan diri sendiri"ucap Yang Shui dengan mendarat di tanah.


"Jadi apa kau puas mengikuti kami selama ini, Yang Shui murid ku"ucap Kakek Chen dengan menekan setiap kalimat yang keluar dari mulut nya


Sementara Jian An kini hanya melihat mereka berdua dari tempat nya duduk tanpa ada niat untuk bergerak sama sekali.


"Guru apa mengikuti Guru sendiri tak boleh?"tanya Yang Shui.


"Hemm..., Mungkin tak boleh, tapi karena kau sudah di sini maka, perkenalkan dia Jian An murid baru ku, dan Jian An ini Yang Shui kakak Seperguruan mu mulai sekarang"ucap Kakek Chen memperkenalkan mereka berdua.


"Salam kenal adik Seperguruan, aku Yang Shui"ucap Yang Shui dengan tersenyum ramah.


"Salam kenal juga, kakak Seperguruan, aku Jian An"ucap Jian An tanpa bergerak sedikit pun dari selimut nya.


"Kalau begitu Yang Shui cepat bantu aku untuk menebang pohon yang ada di sini semuanya kalau bisa"ucap Kakek Chen dan mulai menebang pohon terdekat.


"Eh...., Guru Chen ini bukan kah masih terlalu pagi untuk memulai"ucap Yang Shui.


"Ck, kau tau jika saja adik Seperguruan mu tak sedang kedinginan mungkin sekarang ini ia sudah menebas semua pohon yang ada di sini sendirian, cepat jangan malas, bantu aku, dan biarkan Jian An menghangatkan tubuhnya di sana"ucap Kakek Chen sambil terus menebang pohon yang di lihatnya.


"Baiklah Guru Chen"ucap Yang Shui sambil mengikuti Kakek Chen menebas pohon-pohon di sana.


Tak terasa matahari sudah menunjukkan pukul 8 lagi, dan kabut di bukit tersebut pun telah hilang satu jam yang lalu.


Kini Jian An sedang menggunakan pedang nya untuk membuat sebuah anak tangga dari kaki bukit hingga puncak bukit.

__ADS_1


Tak di sangka hanya dalam waktu satu jam Jian An kini hampir sampai di puncak bukit.


Hingga beberapa menit kemudian....


"Kakek Guru Chen aku sudah membuat anak tangga nya, lalu apa lagi yang harus aku lakukan"ucap Jian An yang ternyata sudah berhasil membuat anak tangga hingga ke puncak bukit.


"Tinggalkan saja seperti itu"ucap Kakek Chen yang kini sedang mengumpulkan pohon-pohon yang sudah di tebang nya.


"Yang benar saja, ini sama sekali tak ada bagus-bagus nya"ucap Jian An.


Kakek Chen yang mendengar itu pun mendekat ke arah Jian An dan melihat anak tangga yang di buat oleh Jian An.


" Ku kira kau akan membuat anak tangga secara lulur tak ku sangka kau malah membuat jua mengelilingi bukit ini, lumayan lah, berapa anak tangga yang kau buat?"tanah Kakek Chen.


"Total semuanya dari kaki bukit hingga puncak ada 100 juta anak tangga"ucap Jian An dengan santai.


Sedangkan di sisi lain Kakek Chen dan Yang Shui yang mendengar terkejut hingga...


"Uhuk, uhuk, kau tak bercanda kan adik Seperguruan?"tanya Yang Shui yang tak percaya dengan apa yang di dengar nya.


"Aku serius, jika kau tak percaya kau bisa mengecek nya sendiri"ucap Jian An dengan yakin, dan serius nya.


"Baiklah aku percaya"ucap Kakek Chen.


"Itu tanah lapang yang kau buat dari formasi itu untuk apa?"tanya Kakek Chen.


"Yang mana?"tanya Jian An.


"Tanah lapang tangga ke 100?"ucap Kakek Chen.


"Oh, itu nanti akan kita bangun sebagai tempat untuk murid luar tinggal, dan untuk membangun semua fasilitas bagi murid luar, seperti perpustakaan, dan lain-lain"jawab Jian An.


"Lalu tangga ke 300?"tanya Kakek Chen.


"Itu tempat tinggal untuk Tetua murid luar, dengan fungsi sama"jawab Jian An.


"Tangga 1000?"ucap Kakek Chen.


"Murid dalam dengan fungsi sama"ucap Jian An.


"Tangga 2000?"ucap Kakek Chen.


"Tetua murid dalam, dengan fungsi sama"jawab Jian An.


"Tangga ke 10.000?"ucap Kakek Chen.


"Itu untuk kita membangun fasilitas Perguruan seperti aula pertemuan dan lainnya yang berjenis sama"ucap Jian An.


"Maksudmu seperti tempat untuk mengadakan Turnamen juga kan!?"ucap Kakek Chen memastikan apa yang dia pikirkan.


"Yah~, Kakek Chen memang pintar"ucap Jian An sambil memuji Kakek Chen, dengan cara mengacungkan jempolnya 👍.


....................................


Jangan pernah bosan dalam membaca novel ini kawan.

__ADS_1


IG : sukma_761100.


__ADS_2