
Happy reading guys 😘.
......................
"Apa itu perlu dilakukan?" tanya Melina pada psikoterapi yang datang untuk melatih otot-otot Alex agar tidak kaku .
"Sangat diperlukan, Bu. Ini untuk melatih agar otot-otot pasien tidak tegang," ujar psikoterapi sembari mengurut dan mengangkat kaki dan menggerakkannya secara perlahan-lahan.
"Oh.... " ucap Melina.
"Ibu bisa juga melakukan seperti yang saya lakukan ini. Saat ibu berbicara dengan pasien, dibarengi dengan pijatan," kata sang terapis.
"Apa tidak apa-apa? saya kan bukan seorang ahli terapis, saya takut nanti anak saya bukan sembuh, tapi sakit nantinya."
"Hanya melakukan seperti yang saya lakukan ini, tidak akan membuat pasien cedera. Lakukan dengan pelan-pelan saja."
Melina serius menatap sang terapis mengurut dan menggerakkan kedua kaki dan kedua tangannya Alex, karena dia akan melaksanakan apa yang dianjurkan oleh terapis.
"Hanya itu?" tanya Melina setelah sang terapis selesai melakukan pekerjaannya.
"Untuk tahap awal, cukup Bu," jawab sang terapis.
"Kapan lagi?" tanya Melina, Mamanya Alex.
"Dua hari lagi, Bu. Selama saya tidak datang, apa yang saya lakukan tadi bisa ibu lakukan."
"Apa tidak apa-apa? saya koq khawatir, apa yang saya lakukan nanti bermasalah."
"Tidak akan ada masalah, Bu. Lakukan dengan hati-hati."
"Baiklah, akan saya coba."
..................
"Kak Michael, terima kasih," ucap seorang gadis pada Michael yang duduk di satu ruang privat di salah satu restoran yang dimiliki oleh sang pria.
"Terima kasih? Untuk apa kau mengucapkan terima kasih padaku?" Tanya Michael.
"Karena kak Michael mau memenuhi undangan makan malam ini," kata gadis tersebut.
"Kita bersahabat sudah lama, dan kau baru kembali ke Indonesia. Sangat jahat jika aku menolak undangan makan malam dari mu," kata Michael.
__ADS_1
"Aku kembali ke sini, karena kak Michael juga," kata Sandra.
"Kenapa karena aku? kau punya kehidupan sendiri dan aku juga punya kehidupan sendiri, Sandra," kata Michael.
"Aku kesepian di Jerman, kak Micky," kata Sandra.
"Hei... ! aku Michael, bukan Micky!" seru Michael.
"Aku suka memanggil kakak, dengan panggilan Kak Micky, itu panggilan kesayanganku pada kakak."
"Aku bukan Mickey mouse!" seru Michael kesal, karena Sandra selalu memanggilnya Micky.
Sandra tertawa terbahak-bahak, dan kemudian berkata.
"Iya... iya, Kak Michael... he..he..he." Sandra masih tertawa.
"Ah... Aku sedih kak. Kenapa kak Michael hanya menganggap aku sebagai sahabat saja? Aku ingin lebih dari sekedar sahabat kakak. Aku ingin sebagai kekasihmu," kata gadis tersebut.
"Kekasih? Aku kekasih yang keberapa dari daftar list kekasihmu?" Tanya Michael.
"Lagipula aku tidak berminat denganmu!" ucap Andrew lugas.
"Hei... Tuan Michael Andrew... ! Sandra Annisa bukan gadis murah yang bisa didekati oleh sembarang pria. Aku ini sangat pemilih.... !" Gadis yang bernama Sandra Annisa mendelikkan matanya menatap Michael yang nyengir membalas tatapan mata Sandra Annisa.
"Aku tahu apa yang kau lakukan di luar negeri, kalau aku jadi orangtuamu. Aku akan menyeret kau itu pulang dan akan aku kurung di dalam rumah, sampai kau benar-benar bertobat.... !" kata Michael Andrew yang tahu dengan kehidupan yang dilalui Sandra di Jerman. Kuliah yang seharusnya dijalaninya di Jerman, tidak! Sandra terpengaruh kehidupan bebas di Jerman, jauh dari pantauan kedua orangtuanya membuat Sandra salah jalan.
"Huh ... Kau menyebalkan..!" Sandra mencebikkan bibirnya dan memainkan bola matanya menatap Michael.
"Kenapa kau pulang? Apa kau sudah bosan dengan pria yang bermata biru dan berambut pirang?" Tanya Michael.
"Atau sudah tidak ada yang mau kau jadikan korban cintamu," ucap Michael menambahkan ucapannya.
"Kak Michael juga kenapa pulang? hanya karena Alex, kak Michael meninggalkan perusahaan di Jerman," kata Sandra.
"Lagipula, aku merindukanmu. Karena itu aku pulang," jawab Sandra dan mengedipkan matanya menggoda Michael.
"Aku tidak," jawab Michael membalas perkataan Sandra.
Sandra mengerucut bibirnya mendengar ucapan Andrew, tapi dia tidak marah dengan apa yang dikatakan oleh Andrew. Karena dia tahu, Andrew itu tidak pernah bermulut manis padanya.
"Kau tidak berubah dari dulu Michael. Tapi aku semakin menyukaimu. Kalau dulu rasa cintaku 80 persen, tapi kini menjadi 100 persen... Aku cinta..cinta... seratus persen padamu . Michael... !" Seru Sandra dengan suara nyaring. Untung tempat mereka berada saat ini diruang yang private, sehingga tidak ada yang mendengar Sandra mengucapkan kata cinta pada Michael dengan suara yang keras.
__ADS_1
"Stop! Suaramu membuat aku pusing." Andrew menutup telinganya, karena teriakan Sandra.
Sandra bangkit dari duduknya dan melangkah menuju tempat Andrew duduk, tanpa berkata apa-apa. Sandra langsung meletakkan bokongnya di atas pangkuan Andrew. Andrew tidak terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Sandra, karena Sandra selalu melakukannya, saat bertemu dengan Andrew. Kedekatan kedua orang tua mereka membuat Andrew sudah menganggap Sandra sebagai adiknya. Apalagi Sandra seumuran dengan sang adik yang kini terbaring koma di rumah.
"Kau bukan anak kecil lagi yang bisa seenaknya naik ke atas pangkuan laki-laki dewasa," kata Andrew dan kemudian mendorong Sandra dari pahanya.
"Huh... menyebalkan!" gerutu Sandra dan kembali duduk di kursi yang didudukinya tadi.
"Sandra, apa Alex ada menghubungimu sebelum terjadi kecelakaan?" tanya Michael.
"Tidak ada," jawab Sandra cepat.
"Waktu kau pulang ke Indonesia, apa kalian bertemu?"
"Bagaimana aku bisa ada waktu bertemu dengan Alex. Aku pulang karena mendadak, karena opa yang memintaku untuk pulang. Aku tidak ada waktu untuk bertemu dengan Alex, kenapa Kak Michael tanyakan? apa Alex ada mengatakan sesuatu mengenai aku?" tanya Sandra.
"Apa kau tidak tahu, bahwasanya Alex koma... ! tidak mungkin dia bisa bicara," kata Michael.
"Apa dia belum sadar juga?" tanya Sandra.
"Apa kau tidak ada keinginan untuk menjenguknya? kalian kan sangat dekat," kata Michael.
"Untuk sekarang ini aku belum bisa, nanti ada waktu luang, aku akan mengunjunginya," ucap Sandra yang berjanji untuk mengunjungi Alex.
"Sampai kapan kakak berada di Indonesia? apa tidak ada rencana untuk kembali dalam waktu dekat ini? kita bisa pulang bersama ke Jerman," kata Sandra.
"Aku tidak akan kembali ke Jerman lagi."
"Apa... ?!" Sandra benar-benar kaget dengan apa yang dikatakan oleh Michael.
"Bagaimana dengan perusahaan kakak di Jerman?"
"Aku sudah menarik sahamku di perusahaan yang ada di Jerman, sekarang perusahaan di Jerman tidak ada lagi campur tanganku."
"Sangat di sayangkan, kak. Bukannya kakak sangat menyukai perusahaan kakak itu, minat kakak di situ kan? perusahaan di Indonesia bukan yang kakak sukai," tutur Sandra.
"Sok tahu kau! siapa bilang aku tidak suka dengan perusahaan di Indonesia yang bergerak di bidang arsitektur. Basic pendidikanku arsitek, aku suka dengan desain bangunan. Aku suka melihat hasil karyaku berdiri kokoh menjulang tinggi," kata Michael.
"Tapi kakak juga suka dengan dengan dunia otomotif," kata Sandra.
"Aku akui suka dengan perusahaan otomotif yang di Jerman, tapi perusahaan di Indonesia lebih membutuhkanku. Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Yang pastinya aku sudah menentukan pilihan yang aku anggap bagus kedepannya. Aku juga bisa mendirikan perusahaan otomotif di sini."
__ADS_1
"Untuk apa aku kembali ke sana? jika kakak tidak ada di sana," kata Sandra.
"Untuk apa kau ikut-ikutan? hidupmu adalah pilihanmu sendiri, jangan ikut-ikutan dengan pilihan orang lain. Dengarkan apa yang aku katakan, kau harus berubah!"