
Happy reading guys 😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Michael tidak ingin mengatakan mengenai Sandra, nanti kesannya Michael memfitnahnya. Biar Papa dan Mama tahu sendiri," kata Michael.
"Baiklah, jika kau tidak ingin mengatakannya," kata Melina.
"Apa yang kau bawa itu Michael?" tanya Melina yang melihat bungkusan yang terletak di samping Michael duduk.
"Oh.. ini, tadi Michael singgah di toko kue. Rencananya ini mau Michael bagi kepada perawat yang menjaga Alex, tapi karena dia tidak ada, beri pada para pelayan saja," kata Michael.
"Roti apa? sini Mama lihat, koq harum tercium hidung Mama," kata Melina.
Michael memberikan bungkusan yang dibawanya tadi kepada Mamanya. Melina membukanya dan harum roti menyeruak keluar dari dalam bungkusan, walaupun rotinya sudah dingin, tapi aromanya masih tercium oleh hidung.
"Harum sekali," ujar Melina.
"Harum, tapi kwalitas belum terjamin ma," kata Michael.
Melina mengangkat kepalanya dan melihat wajah putra sulungnya tersebut.
"Kwalitas tidak terjamin? kenapa kau beli? jika kwalitas diragukan, jangan dibeli untuk diberikan kepada orang lain," kata Ardian, papanya.
"Asal berhenti saja tadi Michael, Pa," kata Michael.
"Enak," kata Melina.
"Cobalah, Pa!" Melina memberikan roti kepada sang suami. Ardian mengambilnya dan memasukkannya kedalam mulutnya.
"Begini enak rotinya, di toko mana kau beli Michael?" tanya Papanya.
Michael menyebutkan alamat tokonya dengan asal, karena tidak mungkin dia mengatakan kue yang dibawanya pemberian bundanya Cinta. Bisa panjang urusannya.
"Enak kan ? tidak terlalu manis, cocok untuk orang yang ingin mengurangi konsumsi gula," kata Melina.
"Minggu depan mama ada arisan, mama mau pesanlah," kata Melina.
__ADS_1
"Duh... gawat," ucap batin Michael.
"Mama ke toko yang alamatnya aku berikan, toko kuenya tidak ada di alamat itu, bisa ngamuk Mama," monolog dalam batin Michael.
"Mama arisan jangan jamu teman-teman mama dengan roti sederhana begini. Apa kata teman-teman Mama yang sombongnya, ngalahin artis jaman now," kata Michael dengan mengejek teman-teman Melina.
Melina mengarahkan pandangan matanya menatap Michael. "Teman Mama baik-baik semua ya... ! lagipula roti ini enak, kenapa teman-teman Mama tidak suka!" kata Melina seraya memberikan tatapan mata yang tajam dan membuat Michael tidak berani berkata apapun lagi.
"Biarlah mama ke alamat yang aku beri, jika mama tidak menemukan toko roti itu. Kubilang saja toko rotinya pindah," kata Michael dalam hatinya.
"Bagaimana kondisi Alex hari ini, Ma?" tanya Michael untuk mengalihkan pembicaraan mengenai roti yang sedang dinikmati oleh Papa dan Mamanya.
"Dokter tadi mengatakan bagus, tidak ada kemunduran. Mama tanya tadi pada dokter, mengenai rencana kita membawa Alex keluar negeri. Dokter tidak melarang, tapi tidak menganjurkan juga. Menurut Michael dan Papa bagaimana?" tanya Melina pada anak dan suaminya.
"Kalau kata dokter begitu, kita ikuti saja dulu ma," kata Michael.
"Papa setuju dengan Michael, kita dengarkan kata dokter. Di Indonesia ini dunia medis sudah semakin maju, dokter-dokternya juga sangat berkompeten. Di luar negeri juga belum mendapatkan rumah sakit dan dokter yang bisa menangani Alex."
"Bagaimana jika kita memakai pengobatan alternatif?" usul Melina membuat Papa dan Michael saling bertukar pandangan.
"Alternatif, apa dukun?" tanya Ardian, Papa Michael.
"Alternatif bukan semua dimasukkan kedalam kategori dukun, banyak itu yang memakai pengobatan alternatif. Misalnya pengobatan obat tradisional, seperti tubuh Alex dibalur dengan rempah rempah tradisional.. bukan dibaca dengan jampi-jampi," kata Melina.
"Seperti yang viral akhir-akhir ini di dunia maya, pengobatan dari ibu yang menari-nari mengobati pasiennya itu," kata Ardian.
"Kata orang-orang itu obat tradisional, bukan dukun." Michael menimpali perkataan Papanya.
"Papa tidak setuju, Alex bukan penyakit patah tulang. Alex itu ada masalah dengan otaknya, yang mengakibatkan dia tidak sadar. Masa dibawa ke pengobatan alternatif. Biar Alex ditangani oleh dokter saja," kata Ardian akhirnya, setelah dia memikirkan efek dari pengobatan alternatif. Dan mungkin saja pengobatan alternatif bertentangan dengan ilmu kedokteran.
"Michael juga tidak setuju, sekarang Alex sudah ada kemajuannya. Jangan sampai kita mencampur adukkan medis dengan ilmu pengobatan alternatif, Alex mengalami kemunduran," kata Michael.
"Kita tetap menyerah pengobatan Alex pada ilmu kedokteran saja," ucap Ardian.
Michael bangkit dari duduknya. "Michael mau lihat Alex, Mama dan Papa ikut?" tanya Michael.
"Kami setiap menit menemani Alex, kau itu yang jarang melihatnya. Hari ini, kemana saja kau Michael? malam baru pulang! apa kau sudah menemukan calon menantu untuk kami?" tanya Melina.
__ADS_1
"Michael sibuk kerja, Ma. Banyak pekerjaan yang terbengkalai sejak Alex kecelakaan," jawab Michael.
"Yang benar?" Melina menatap wajah sang putra dengan intens. Dia curiga dengan sang putra.
"Tanya Papa, jika Mama tidak percaya! masalah menantu, Michael belum menemukannya." Michael kemudian berlalu meninggalkan kedua orangtuanya. Jika sang Mama sudah membalas masalah menantu, Michael selalu berusaha untuk menghindari pembahasan mengenai pernikahan.
"Lihat itu, Pa. Putramu, setiap membahas calon istri, langsung kabur," ucap Melina mengadu pada sang suami yang kembali memasukkan roti kedalam mulutnya.
"Biarkan saja, Ma. Michael belum menemukan calon istri yang sesuai dengan kriteria yang diinginkannya," kata Ardian.
"Michael sudah tiga puluh tahun, pa! mau kapan lagi, apa menunggu sampai kita tidak mampu lagi mengendong cucu, karena pinggang kita sudah mulai sakit-sakitan?"
"Papa tidak tahu," ucap Ardian, dan dia juga berdiri dari duduknya.
"Papa mau kemana?"
"Papa ada kerjaan," ujar Ardian dan meninggalkan sang istri.
"Kabur juga tuh... setiap diajak bicara masalah calon istri untuk Michael, Papa juga kabur! dasar bapak sama anak podo wae... " Melina ngedumel, karena dia ditinggalkan sendirian oleh sang suami dan putra.
Michael menarik kursi untuk didudukinya, dia menghela napas dengan panjang, baru menyapa adiknya tersebut.
"Hei... pemalas, bangun.... !" seru Michael menyapa sang adik.
"Aku bosan bicara sendiri, bangunlah! biar kita bisa berdebat seperti biasanya, sekarang kita bisa berdebat secara langsung, dulu kita berdebat hanya melalu sambungan virtual saja. Bangun Lex, kau harus katakan! siapa yang telah membuat kau begini?"
"Apa seperti yang dikatakan oleh Sandra? Cinta, gadis yang bernama Cinta? benarkan? Aku akan membuat dia menangis, karena telah berani membuat pangeran keluarga Subrata terbaring dengan kondisi tidak berdaya seperti ini."
Tiba-tiba..
Mata Alex terbuka dan nyalang menatap lurus ke depan.
"Lex.. ini Kak Lex! kak Michael!" seru Michael seraya berdiri di sisi ranjang.
Michael mencondongkan tubuhnya ke depan wajah Alex, agar Alex melihatnya. Tapi nihil, Alex seperti tidak menyadari ada wajah yang berjarak beberapa jengkal dihadapan matanya.
Next..
__ADS_1