
Mata Cinta menatap Melina dengan lekat, saat mendengar apa yang dikatakan oleh Melina.
Tiba-tiba...
Belum sempat Cinta bangkit. Perutnya yang bergolak tiba-tiba menyembur, mengeluarkan air berwarna sedikit kuning.
"Cintaa.... !" teriakan Rima dan Melina berbarengan.
Keduanya kaget, karena Cinta yang tiba-tiba muntah. Melina mengusap punggung Cinta dan Rima berlari mengambil handuk dan kain.
"Tidak apa-apa, tiba-tiba perut bergolak," kata Cinta sambil menyeka bibirnya dengan kain yang diberikan oleh Rima.
"Maaf," ujar Cinta.
"Maaf? untuk apa ?" tanya Melina.
"Cinta tidak sopan, karena muntah didepan Mama dan bunda," kata Cinta.
"Karena muntah ? nggak apa-apa Cinta ! mau muntah tidak bisa ditahan-tahan. Mama juga pernah mengalami seperti cinta alami. Mama itu lebih buat malu lagi, Mama itu muntah di depan kolega Papa," kata Melina.
"Saat itu Mama sedang hamil Alex."
"Ma. kenapa Mas Andrew di rawat ?" untuk pertama sekali Cinta memanggil Andrew dengan panggilan Mas. Setelah kedok Michael terbongkar, dia selalu mengharamkan memanggil Andrew dengan "MAS".
"Sejak kapan Bu Mel ?" tanya Rima.
"Sejak dia berangkat ke luar kota," jawab Melina.
"Kejadiannya saat Mas Andrew pergi keluar kota ? kecelakaan Ma?" tanya Cinta.
Melina menceritakan apa yang dialami oleh Andrew.
"Mama ingin mengajak Cinta untuk menjenguk Michael. Cinta mau kan ?"
"Tap Ma, apa Mas Andrew mau bertemu dengan Cinta ? Mas Andrew kan lupa dengan Cinta," kata Cinta.
"Mungkin saja dengan kalian bertemu, Michael bisa mendapatkan memorinya yang hilang. Tolong Cinta, jenguk Michael ya," ucap Melina memohon agar Cinta mau menjenguk Michael.
Cinta menoleh kearah Rima. Rima mengangguk.
"Baiklah, Ma. Cinta takut Ma, bagaimana jika Mas Andrew marah dengan kedatanganku?"
"Mama jamin, dia tidak akan marah," kata Melina.
***
Ardian dan Hilman menemui keluarga yang menyebabkan Michael terluka.
"Mari Tuan." Handi sudah terlebih dahulu tiba di rumah keluarga Paman Jamil, Anshar.
Kedatangan Ardian sudah ditunggu Pak Anshar. Begitu dia melihat Ardian, Pak Anshar yang sudah lumayan sepuh seketika berlutut didepan Ardian.
__ADS_1
"Pak.... !" Ardian kaget dan mundur satu langkah dari tempat Pak Anshar berlutut.
"Jangan berlutut Pak," kata Ardian.
"Mohon maafkan keponakan saya Tuan." Pak Anshar memohon dengan menyatukan dua tangannya didepan dadanya.
"Pak, berdirilah," kata Handi.
"Nanti orang kira Tuan Ardian memaksa anda untuk berlutut." tambah Handi.
Hilman memegang tangan Pak Anshar untuk berdiri.
Pak Anshar berdiri. "Saya mohon Tuan," kata Pak Anshar.
"Kita bicarakan di dalam saja, Pak," kata Hilman.
Pak Anshar mempersilakan ketiga tamu untuk masuk kedalam rumahnya yang sangat sederhana. Lalu kemudian Pak Anshar pamit untuk memanggil sang istri.
Ketiga duduk menunggu Pak Anshar datang bersama istrinya.
Pak Anshar datang kembali bersama sang istri yang duduk diatas kursi roda.
"Saya mohon Tuan, bebaskan keponakan saya. Dia waktu itu sangat emosi, sehingga tidak bisa berpikir panjang dengan apa yang sudah dilakukannya.
"Apa bapak yang menyuruh dia ikut hadir dalam pertemuan ?" tanya Ardian.
"Tidak Tuan, keponakan saya itu hadir tanpa sepengetahuan saya. Karena saya tidak keberatan dengan harga yang diberikan atas tanah saya itu. Saya membutuhkan dana untuk biaya pengobatan istri saya Tuan, dengan Tuan membeli tanah saya yang tidak pernah saya kelola itu, membuat saya ada uang untuk berobat istri saya Tuan."
"Lalu kenapa keponakan bapak marah?" tanya Ardian.
"Itu yang saya sangkakan Tuan," ucap Handi menimpali ucapan Pak Anshar.
"Keponakan saya Jamil, sangat baik Tuan. Dia tidak pernah melakukan perbuatan yang melanggar hukum, selama ini keponakan saya Jamil tinggal di luar kota, bekerja. Saya menyuruhnya datang karena saya sakit dan istri saya juga sakit. Karena itu dia datang tuan, saya mohon tuan jangan diperpanjang lagi masalah ini," kata Pak Anshar.
"Dan maafkan keponakan saya, Jamil ." tambah Pak Anshar.
"Ampunilah kesalahan Jamil Tuan, dia hanya ikut-ikutan saja Tuan." kali ini sang istri yang memohon pada Ardian.
Melihat kesungguhan keduanya, akhirnya Ardian memerintahkan Handi dan Hilman untuk mencabut tuntutan hukum terhadap Jamil.
Terimakasih Tuan," ucap Pak Anshar dan istrinya, begitu mendengar Ardian akan mencabut tuntutan terhadap Jamil.
***
Cinta ragu untuk masuk kedalam kamar tempat Michael dirawat. Dia takut akan sambutan apa yang akan diterimanya dari Michael.
"Ada apa Cinta ?" tanya Rima.
Melina urung membuka pintu kamar, karena mendengar suara Rima bertanya pada Cinta. Dia memutar badannya dan melihat Cinta.
"Ada apa ?" tanya Melina.
__ADS_1
"Aku.... " Cinta ragu untuk mengutarakan apa yang memenuhi pikirannya.
"Jangan khawatir, Mama tidak akan membiarkan Michael memarahimu," kata Melina.
Rima mengusap punggung Cinta, untuk menguatkannya.
"Percaya pada Mama." Melina meraih tangan Cinta.
"Jangan takut Cinta, jika dengan lupanya dia padamu dan bisa membuat kau bercerai darinya dengan mudah. Bukannya itu satu keberuntungan." sosok lain dalam dirinya berbicara untuk dia berani menghadapi Michael.
"Baiklah," gumam Cinta dalam hati.
Melina meraih handel pintu dan membukanya.
"Sandra," ucap Melina, saat melihat Sandra berada didalam kamar Michael.
"Tante," balas Melina menyapa Melina.
"Apa yang kau lakukan?" Melina melihat Sandra membungkuk mendekatkan wajahnya ke wajah Michael yang sedang tertidur.
"Aku... aku... tadi ada nyamuk di wajah kak Michael Tante, mau saya usir," Sandra.
"Sialann... baru mau nyosor merasai bibirnya kak Michael, sudah datang pawangnya." kesal Sandra, niatnya ingin merasakan bibir Michael tidak kesampaian.
"Nyamuk ? dalam kamar rumah sakit ada nyamuk ?" pandangan mata Melina mencari-cari nyamuk yang dikatakan oleh Sandra.
Melina sibuk mencari nyamuk yang dikatakan oleh Sandra, sedangkan Sandra menatap Cinta dengan tatapan mata yang lekat.
"Dia orang yang dekat dengan Alex ! untuk apa dia ikut dengan Tante Melina ? mencurigakan ! apa kak Michael belum jadi membalaskan dendamnya pada wanita itu?"
Cinta dan Rima melangkah mendekati ranjang Michael. Keduanya berdiri diujung ranjang mengamati Michael yang tidur pulas.
Mata Sandra terus lekat mengawasi Cinta.
"Sandra, kenalkan. Ini istri Michael dan Bu Rima mertua Michael," kata Melina.
Sandra pura-pura terkejut dengan apa yang baru disampaikan oleh Melina.
"Kak Michael menikah ! kak Michael sudah menikah ? mana mungkin !" seru Sandra.
"Kenapa tidak mungkin !" kata Melina.
Suara Sandra berhasil membuat Michael terbangun dan membuka matanya.
"Ah... kenapa ribut sekali kau ?" Michael menatap Sandra dengan tatapan mata kesal, karena telah menganggu tidurnya.
"Kak Michael ! kenapa kak Michael menikah dengan wanita itu?" Sandra menunjuk Cinta dengan raut wajah kesal.
Sandra menambahkan perkataannya. "Wanita yang telah... " Perkataan Sandra terpotong dengan ucapan Melina bernada keras kepada Sandra. Melina marah melihat Sandra tidak sopan pada Cinta. "Sandra, jaga sikapmu... ! yang kau tunjuk itu menantuku !"
Cinta memicingkan matanya menatap Sandra yang marah padanya, padahal dia tidak mengenalnya.
__ADS_1
"Kenapa dia marah padaku? apa aku ada buat salah padanya ?" pertanyaan dalam hati Cinta.
Next