
Happy reading guys 😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Andrew menjemput Cinta dan membawanya pergi untuk membeli baju untuk pernikahan.
"Kenapa jauh sekali Mas?" tanya Cinta yang hampir dua jam duduk didalam mobil, dan bokongnya hampir mati rasa.
"Toko baju ini milik teman Mas, kita akan mendapatkan harga miring," kata Andrew.
"Karena dapat diskon, jauh juga Mas datangi," ujar Cinta meledek Andrew.
"He... he... he.." tawa Andrew .
Tidak membutuhkan waktu yang lama, begitu tiba di toko pakaian. Cinta langsung suka dengan baju kebaya berwarna putih dan cukup murah menurutnya, dibandingkan dengan baju yang dilihatnya.
"Apa baju tadi tidak terlalu sederhana?" tanya Andrew saat mereka dalam perjalanan pulang dari toko pakaian, tempat Andrew membawa Cinta untuk membeli baju untuk akad nikah.
"Tidak sederhana koq Mas, saat akad tidak perlu mewah. Hanya sekali pakai saja, mahal bajunya," kata Cinta.
"Lima ratus ribu koq mahal," kata Andrew.
"Mahal itu Mas! Yang tidak mahal itu di bawah seratus ribuan," kata Cinta.
"Seratus ribuan? Baju apa seharga seratus ribu?" Andrew kaget mendengar baju seharga seratus ribu yang dikatakan Cinta, karena seumur hidupnya, baju yang paling murah dikenakannya seharga satu juta. Itu juga baju berbahan kaos .
"Koq Mas heran? Apa Mas tidak pernah beli baju?" Cinta menoleh menatap Andrew.
Andrew yang tersadar, langsung menyadari kesalahannya. "Mas tidak pernah beli baju," kata Andrew.
"Siapa yang belikan Mas baju? Masa mas tidak tahu harga baju?" tanya Cinta.
"Dibelikan ibu setiap ibu selesai jual hasil pertanian, setahun sekali. Baju yang dibelikan ibu awet."
"Oh... " ujar Cinta.
"Kenapa jalan sini, Mas?"
"Mas mau bawa sayang ke satu tempat," kata Andrew.
Pipi Cinta merah merona, karena mendengar Andrew memanggilnya dengan panggilan sayang. Dia memalingkan wajahnya menatap luar jendela. "Jantungku berdebar, mendengar Mas Andrew memanggilku sayang." suara batin Cinta.
Mobil memasuki bangunan bertingkat dan mobil Andrew berhenti di basement.
"Mas mau belanja?" tanya Cinta.
"No! Mas ada urusan. Sebentar kita ke atas, ayo."
Andrew keluar dan Cinta mengikutinya. Ini bukan Mall mas?" tanya Cinta.
__ADS_1
"Ini apartemen, yang dibangun oleh perusahaan. Ada klien yang ingin melihat-lihat apartemen ini," kata Andrew.
Mereka tiba di unit apartemen yang dituju Andrew, dan Andrew membuka pintu dengan kartu akses masuk kedalam apartemen.
"Ayo."
"Sangat bagus Mas," ujar Cinta, begitu dia masuk dan melihat decoration apartemen.
"Suka?" tanya Andrew.
"Siapa yang tidak suka, Mas! Pasti mahal kan, Mas?"
"Lumayan," jawab Andrew.
"Mas menjual apartemen ini?" tanya Cinta.
"Iya, lumayan dapat komisi. Komisinya bisa di gunakan untuk biaya resepsi kita nanti," kata Andrew.
"Mas, Cinta tidak apa-apa koq jika tidak resepsi."
"Baiknya calon istri aku ini, tapi Mas akan tetap mengadakan resepsi."
"Jika keuangan Mas tidak cukup, tidak usah resepsi. Bunda tidak memaksa kita untuk mengadakan resepsi, Mas."
Andrew tidak membalas ucapan Cinta, dia mengeluarkan ponselnya dari saku kemejanya. Lalu dia melihat pesan yang masuk, tiba-tiba wajahnya berubah. Cinta tidak melihat perubahan raut wajah Andrew, karena pandangan matanya mengitari ruangan apartemen.
Tiba-tiba tangan melingkar memeluknya dan kecupan kecupan menerpa punggungnya dan sisi samping lehernya.
Andrew membalikkan badan Cinta dan kemudian melekatkan bibirnya ke bibir Cinta, tanpa sempat Cinta melakukan penolakan.
"Mas..!" Cinta mulai gelisah, karena tangan Andrew sudah mulai bergerilya menggerayangi dadanya dan membuka satu kancing baju yang dipakai nya. Dan memilin-milin pucuk kecil seperti kacang di dadanya, dan berhasil membuat Cinta mengelinjak kegelian.
Sedangkan bibir Andrew terus menempel dileher dan bergerak menyusuri pundak Cinta yang sudah tidak tertutup baju. Karena Andrew sudah menurunkan baju Cinta sedikit, sehingga bahu mulus Cinta terpampang jelas didepan mata Andrew.
Tiba-tiba Andrew melepaskan pelukan dan perbuatannya yang meluluh lantakkan otak Cinta.
"Kita makan dulu ya sayang, selesai makan kita lanjutkan. Biar ada tenaga.." Andrew mengerlingkan matanya sebelah dengan penuh godaan kepada Cinta, membuat Cinta menjadi malu dan mengalihkan pandangannya dari wajah Damar.
"Mesum..!" Cinta meninggalkan Andrew. Kakinya melangkah menuju belakang, langkahnya henti. Cinta kini berada di dapur.
Cinta melihat dapur yang sangat bagus dan luas. Cinta melihat keluar dari jendela dapur. Pandangan matanya melihat taman yang ditumbuhi dengan berbagai tanaman bunga.
Andrew masuk ke dapur. Kedua tangannya menjinjing bungkusan plastik yang dibelinya sebelum bertemu dengan Cinta. Andrew meletakkan bungkusan yang dibawanya ke atas meja.
"Apa itu Mas? tadi sepertinya Mas tidak membawa apa-apa?" tanya Cinta.
"Makanan, tadi pagi Mas sudah ke sini dan membawa bahan makanan. Sebelum orang yang ingin melihat apartemen datang. Kita bisa makan," kata Andrew.
Cinta membantu Andrew menempatkan makanan yang dibelinya didalam wadah yang ada di dapur. Dan memasukkan kedalam mesin pemanas makanan.
__ADS_1
"Banyak sekali makanan yang mas beli," kata Cinta.
"Kita membutuhkan makanan untuk menambah tenaga, biar apa yang tadi terhenti, bisa dilanjutkan kembali," kata Andrew dengan bergurau.
"Dasar otak mesum..!" Cinta mengerucut bibir mendengar apa yang keluar dari dalam mulut Andrew.
Andrew tertawa melihat Cinta memanyunkan bibirnya.
"Ayo kita makan.."
Setelah menikmati hidangan yang tersaji di meja. Cinta membersihkan sisa-sisa makan mereka tadi dengan mencuci piring, dan kembali menyusun barang untuk mereka makan ketempat semula perlengkapan makan tersebut berada.
"Ayo kita nonton, sebelum mereka datang," kata Andrew.
"Kita mau pergi nonton mas..? tapi Mas mau menunggu orang yang ingin melihat apartemen ini."
"Sepertinya orang itu akan datang terlambat.." Andrew membawa Cinta untuk masuk kedalam satu kamar.
"Kenapa kita ke sini? Katanya kita mau nonton," kata Cinta.
"Kita nonton di apartemen saja..?" Kata Andrew. Andrew membawa Cinta masuk kedalam kamar yang cukup besar. Di dalam kamar, ada TV yang cukup besar .
"Kita nonton di apartemen saja, mas tidak ingin terganggu dengan nonton bersama orang banyak di dalam gedung bioskop." Andrew orang yang tidak suka berbaur dengan orang banyak.
"Mana asik mas," kata Cinta.
"Kita buat asik nanti.." kata Andrew dan kemudian nyengir menatap Cinta.
Andrew menyuruh Cinta untuk duduk keatas ranjang tidur.
"Kita duduk saja mas," kata Cinta. Cinta ragu untuk duduk naik di ranjang.
"Lebih asik nontonnya sambil tiduran.."
"Mas, ini kan apartemen mau di jual! Nanti kotor ranjangnya jika kita tiduri," kata Cinta menolak untuk naik ke atas ranjang.
"Tidak akan kotor, ayolah." Andrew terus memaksa Cinta.
Andrew menarik Cinta dan mendudukkan Cinta di ranjang, dan meletakkan bantal dibelakang tubuh Cinta. Sehingga posisi Cinta setengah duduk. Andrew meletakkan tubuhnya di sisi Cinta, tangannya merangkul pundak Cinta. Cinta hanya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Andrew. Matanya fokus menatap layar yang tergantung di dinding. Tetapi otaknya tidak mencerna cerita film ini dilihatnya, karena Andrew memutar film romantis tentang sepasang kekasih yang saling jatuh cinta. Dan sempat terpisah karena orang ketiga.
"Kenapa film sedih Mas putar," kata Cinta.
"Tidak film sedih, ini kisah cinta yang tidak berakhir bahagia," kata Andrew.
"Kisah sedihlah itu, Mas! mereka tidak bersatu, mana bahagianya?" tanya Cinta.
"Sama orang lain itu kisah sedih, tapi sama Mas itu kisah cinta yang bahagia," kata Andrew.
Cinta menoleh kearah Andrew, karena perkataan Andrew yang aneh menurutnya.
__ADS_1
Bersambung