
Happy reading guys 😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kau melihat dengan benarkan, Doni?" tanya Melina, memastikan apa yang dikatakan oleh Doni adalah yang sebenar-benarnya.
"Iya Bu. kedua mata saya melihat dan kedua tangan saya ini yang melepaskan cengkraman tangan Mas Alex.
"Jika orang tidak tahu dengan kondisi Mas Alex, pasti mereka akan terkejut ! tenaga Mas Alex seperti orang yang tidak sedang dalam kondisi tidak sadar," kata Doni.
"Raut wajah Alex bagaimana? apa kau perhatikan?" tanya Melina.
"Itu dia Bu, saya tidak perhatikan! saya hanya fokus melepaskan tangan Mas Alex dari tangan Nona Sandra."
"Kenapa hanya Sandra yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Alex? apa karena dia merindukan Sandra sebagai sahabatnya?" suara hati Melina, Mama Alex.
**
Sudah dua hari Andrew pergi, dan kabar dari Andrew belum juga diterima oleh Cinta.
Cinta mondar-mandir di dalam kamar, tangannya tergenggam dengan erat ponsel. Sudah satu jam Cinta menghubungi Andrew, tapi ponselnya Andrew tetap tidak menjawab.
Cinta resah... Cinta gundah! tapi ada sepasang mata yang terus melihat apa yang dilakukan Cinta dalam kamar. Sang pemilik mata gembira melihat Cinta gundah gulana, menanti kabar dari orang yang dicintainya.
Tanpa setahu Cinta, Andrew memasang cctv dalam kamar. Semua aktivitas yang Cinta lakukan dalam kamar diketahui oleh Andrew. Saat Cinta selesai mandi dan memakai pakaian, tidak lepas dari pengamatan sepasang mata yang tidak berkedip melihat tubuh polos Cinta. Jika sudah melihat tubuh polos Cinta, Andrew selalu berakhir didalam kamar mandi.
"Kemana Mas Andrew? apa betul yang dikatakan oleh Ayana? Mas Andrew sebenarnya berangkat keluar negeri, bukan ke Kalimantan. Tapi kenapa Mas Andrew bohong?"
Apa yang dikatakan oleh Cinta didengar Andrew. Kening Andrew mengernyit, kedua bola matanya bermain, saat dia mendengar apa yang dikatakan oleh Cinta.
"Apa temannya Cinta melihatku saat di bandara?"
Andrew menutup laptopnya dan bergegas keluar dari dalam kamar. Dia mencari keberadaan Handi, dan melihat Handi sedang sibuk dengan laptopnya.
"Handi... !" panggil Andrew seraya melangkah mendekatinya.
"Iya Tuan," sahut Handi. Dia berdiri menunggu apa yang akan diperintahkan oleh sang Boss.
"Saat kita di bandara, teman Cinta melihat keberadaan kita. Kau bereskan bukti-bukti kita berada di bandara," perintah Andrew.
__ADS_1
"Naik Tuan," sahut Handi.
Handi mengambil gawainya, dan menghubungi orang suruhannya untuk menyelesaikan tugas yang diperintahkan oleh Andrew.
Orang suruhan Handi bergerak cepat, begitu perintah Handi turun, orang-orangnya suruhan Handi bergerak senyap. Satu kali dua puluh empat jam, jejak keberadaan Michael Andrew Subrata hilang di bandara. Entah kekuatan apa yang dilakukan oleh orang-orang Handi, tidak ada yang tahu. Jika ada yang tahu juga, mungkin mereka akan tutup mulut. Karena uang dan kekuatan yang bermain.
***
Kondisi Alex semakin menunjukkan peningkatan yang signifikan. Alex sudah bisa membuka matanya, tapi tatapan mata Alex masih kosong.
"Ma, apa tidak apa-apa Alex dibawa duduk?" tanya Ardian yang melihat sang istri membawa Alex untuk duduk di ranjang, dengan membuat bantal dibelakang punggung Alex sedikit tinggi.
"Ini kan bukan duduk, Pa. Ini baring setengah duduk," jawab sang istri.
"Apa baring setengah duduk tidak berbahaya?"
"Dokter dan ahli terapis yang menyarankan, Pa. Bukan pandai-pandai Mama," jawab sang istri, Melina.
"Oh... ," ucap Ardian.
Ardian duduk di sisi ranjang. "Lex, lihat Papa!" ujar Ardian.
"Mama nakal tuh... Lex, ayo bangun!" titah Ardian.
"Alex sudah bangun tuh .. Pa, koq di suruh bangun lagi," kata Melina.
"Oh .. iya... he... he.. he..," ucap Ardian diiringi suara tawa kecil terdengar dari mulutnya.
"Kalau begitu, Papa ingin Alex sadar! lihat siapa yang ada di dalam kamar ini Lex? sebutkan!" titah Ardian.
"Jawab Lex! apa yang Papa tanyakan," timpal Melina.
Pandangan mata Alex masih kosong, matanya berkedip hanya sesekali, beda dengan kondisi orang normal yang berkedip bisa beberapa kali dalam sepersekian detik.
"Alex tidak asik ya, Pa. Diam saja, mana Alex yang nakal dulu?" tanya Melina yang berdiri dibelakang punggung sang suami yang duduk di sisi ranjang.
"Mama koq bilang Alex nakal? Alex tidak nakal, Ma. Alex itu pemuda yang aktif, iya kan Lex?"
Pintu kamar terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu, wajah Michael muncul dari sela-sela pintu yang terbuka sedikit. Michael mendorong pintu lebar dan masuk kedalam kamar dengan raut wajah yang gembira. Dia senang melihat Alex yang sudah sadar, walaupun belum bisa merespon orang-orang yang ada disekitarnya.
__ADS_1
Dua kepala memalingkan wajahnya kearah pintu kamar, keduanya tersenyum melihat kedatangan sang putra sulung. Michael Andrew Subrata.
"Welcome home Micky ," ucap Ardian Papanya.
Michael mengerucutkan bibirnya, mendengar Papanya memanggilnya dengan panggilan Micky. Sebutan yang sangat dibencinya.
Ardian ngekeh melihat raut wajah putra sulungnya berubah, karena dia memanggilnya dengan panggilan yang sangat dibenci sang putra.
"Papa! sudah berapa kali Michael bilang, jangan panggil Micky... Micky lagi! Michael bukan tikus!" protes Michael.
"Ha... ha..ha.. !" tawa lebar menghiasi bibir Ardian. Begitu juga dengan Melina, dia juga tertawa.
"Lihat Lex, Michael marah dipanggil Micky. Padahal itu panggilan kesayangan Alex untuk Michael kan?" kata Melina.
"Itu panggilan kecil, Ma! Michael sudah tiga puluh tahun! masa dipanggil Micky," kata Michael.
"Mulai hari ini, diharamkan panggilan Micky keluar dari mulut semua orang!" kata Michael dengan tegas dan kedua tangannya berada disisi pinggang.
"Galak anak Mama ini," ujar Melina sambil menarik kedua pipi Michael, seperti yang dilakukannya saat Michael kecil dulu.
"Mama! Michael bukan bocah kecil yang gemes melihatnya, pipi Michael menjadi korban!" seru Michael.
"Walaupun usiamu mau tiga puluh, empat puluh... Dimata Mama ini, Michael dan Alex tetap anak kecil mama," kata Melina membalas perkataan Michael.
"Sudah! kenapa cepat sekali pulang?" sang Papa menghentikan istri dan sang putra yang saling bertukar argumen membahas hal yang tidak penting menurutnya.
"Sudah selesai urusannya, untuk apa tinggal lama di Korea. Di sini pekerjaan menumpuk yang harus Michael selesaikan. Alex apa kabar?" sapa Michael.
"Baik kak Michael," jawab Melina yang mewakili Alex untuk menjawab sapaan Michael.
"Kenapa Alex suaranya berubah? Lex, apa kau sudah berubah jadi wanita? cepat sadar Lex, jangan sampai kau betul-betul berubah jadi wanita," kata Michael meledek Alex.
"Ha... ha.. ha... !" tawa Melina dan Ardian pecah mendengar perkataan Michael.
Melina berhenti tertawa, dan berkata. "Baguslah! Mama kan ingin punya anak perempuan," kata Melina.
"Nah... tu, Lex. Mama suka Alex jadi wanita, sadar Lex. Jangan sampai Mama memakaikan baju wanita padamu," kata Michael.
"Papa punya anak gadis ini, terpaksa Papa harus ekstra hati-hati menjaga anak gadis Papa ini," ucap Ardian menimpali perkataan Michael.
__ADS_1
Bersambung