
Cinta jatuh.
Bugh....
Tubuhnya menerpa tanah yang keras... ketiga laki-laki yang berada didekat Cinta kaget. Mereka tidak bisa melakukan apapun untuk membuat Cinta tidak jatuh ketanah yang keras, dan sedikit berbatu.
"Pingsan!" Jon yang berdiri dekat Cinta kaget, dia tidak sempat memegang tubuh Cinta. Karena dia juga tidak mengira Cinta pingsan.
Tiga laki-laki tersebut bingung dengan yang terjadi, mau mengangkat Cinta, nanti mereka diteriaki sebagai penculik.
"Bagaimana ini? apa yang harus kita lakukan? kenapa dia pingsan?" pertanyaan mengalir dari mulut Jon. Tapi pertanyaan itu tidak ada yang menjawab, kedua temannya juga bingung dengan apa yang terjadi.
"Jon, kita kabur saja. Kita kan ditugaskan untuk mengantarkan surat itu saja. Masalah pingsan wanita ini, bukan urusan kita," kata Jon pada rekannya.
"Kasihan Jon! masa kita tinggal dia pingsan diluar begini..? kata temannya.
"Jika kau Kasihan padanya, kau saja,mengangkatnya," kata Jon.
..."Jon..!...
"kenapa ķau kejam sekali... ?" laki-laki yang bertampang sedikit keras dan seram tapi masih punya hati,tidak seperti Jon yang bertampang manis seperti oopa-oppa di film yang digandrungi gadis-gadis dan emak-emak. Tapi soal hati ternyata sangat mengecewakan . John sangat keras, dan tidak ingin membantah perintah sang boss.
"kita diberi tugas untuk membuat wanita ini menangis! bukan untuk menenangkan diri wanita ini!!" balas Jon dengan suara yang keras. Dia tidak sempat suka atas perkataan temannya tersebut .
" Kau itu tidak punya perasaan Jon !"
"Sudah !! kenapa kalian yang ribut? kita di sini sampe kapan ? Bowo... kau angkat jika kau Kasihan !" temannya yang didalam mobil melerai Jon dan Bowo yang sedang adu debat.
Bowo dan John diam. "Ayo cepat! Bowo... kau angkat gadis itu keberanda rumahnya saja... " perintah temannya yang masih berada didalam mobil, tapi tidak dalam posisi merekam. Saat keributan yang terjadi antara John dan Bowo, pria yang bernama Abdi menghentikannya.
"Kenapa diam? Bowo... cepat angkat! apa kita menunggu undangan para tetangga untuk menghuni sel besi?" Abdi bicara keras kepada kedua temannya tersebut.
Tanpa menunggu perintah lagi dari Abdi. Bowo segera mengangkat Cinta yang masih terbaring di atas tanah.
"Maaf Nona ," kata Bowo, saat tangannya ingin menyentuh kulit tubuh Cinta yang diangkatnya.
Apa yang dilakukan oleh Bowo tidak lepas dari tatapan mata John. Dia menarik napas dengan kasar, lalu kemudian menarik dirinya untuk masuk kedalam mobil. Karena dia melihat ada seorang wanita yang berjalan diujung jalan.
"Bowo... cepat! Ada orang," ujar Abdi.
__ADS_1
Bowo meletakkan Cinta. Maaf Nona," kata Bowo, lalu bergegas dengan langkah kaki panjang keluar dari pekarangan rumah Cinta dan masuk kedalam mobil.
Mobil yang dikemudikan Abdi mulai bergerak mundur, dia secepatnya memutar balik mobilnya, karena takut dicurigai wanita yang melangkah ke arah mereka berada. Abdi mengambil jalan tidak bersisian dengan wanita itu, karena takut wanita itu melihat wajah mereka.
'Siapa orang itu?" ternyata wanita yang dilihat Abdi dan John, adalah Rima. Dari ujung jalan dia melihat ada mobil yang berhenti didepan rumahnya. Rima bergegas melangkah. Tapi mobil yang berhenti didepan rumahnya, pergi dengan memutar arah mobil.
"Mungkin tamu depan rumah, atau teman Cinta," kata Rima.
Tiba didepan rumahnya, Rima melihat pagar rumahnya terbuka. "Cinta sangat ceroboh, pintu pagar dibiarkan terbuka," kata Rima sembari melangkah masuk dalam dalam area pekarangan rumahnya.
"Kenapa Cinta tidur di kursi teras? atau bukan tidur, hanya memejamkan mata." Rima melihat Cinta duduk dengan kepala bersandar ditembok belakang kursi yang didudukinya.
"Cinta!" panggil Rima.
"Tidur? apa tidak tidur tadi malam? sampai duduk saja sampai ketiduran," kata Rima.
Rima mengambil barang yang dibawa, yang tadi diletakkannya, saat dia mengunci pintu.
"Cinta!" Rima, bundanya Cinta berdiri menatap Cinta yang tidur, menurut Rima.
"Pulas bener ini. Cinta!" panggil Rima lagi, tapi Cinta tetap tidak merespon panggilan sang bunda.
Rima yang khawatir, mencoba membangunkan Cinta dengan menepuk-nepuk pipi Cinta. Tapi nihil, apa yang dilakukan Rima tidak terpengaruh pada Cinta.
"Cinta!" Rima semakin panik, dia mendekat telinganya ke dada Cinta dan meletakkan tangannya untuk meraba detak jantung dan pernapasan Cinta. Rima semakin panik, saat merasa detak jantung Cinta tidak terasa olehnya.
"Tolong! tolong... !" pekik Rima, setelah menyadarkan kondisi Cinta tidak baik-baik saja.
Tetapi teriakan Rima tidak ada yang dengar, karena kondisi rumah Cinta yang sepi saat jam-jam seperti ini. karena masing-masing para tetangga yang masih berada diluar rumah.
"Cinta... bangun nak! apa harus aku lakukan?"
Rima berlari mau keluar rumah, tapi karena panik. Dia bingung untuk membuka pintu pagar yang terkunci.
"Agh... ! kenapa di kunci! siapa yang mengunci ini?" saking paniknya, Rima lupa bahwasanya dia yang mengunci pintu pagar.
Setelah berhasil membuka pintu pagar, Rima berteriak sepanjang jalan depan rumahnya.
"Tolong... tolong... !"
__ADS_1
"Tolonglah.... !" seru Rima sembari berlari didepan rumah tetangganya yang dekat dengan rumahnya.
Satu detik dua detik... sampai ada satu pintu rumah terbuka.
"Ada apa mbak Rima?" tanya tetangga Rima yang berjarak dua rumah dari rumahnya.
"Tolong mas! anakku tidak bergerak!" seru Rima.
"Tidak bergerak? kenapa? mbak ?"
"Aku tahu, mas! tolong antarkan ke rumah sakit mas," kata Rima.
"Baik mbak, saya ambil kunci mobil dulu," kata tetangga Rima.
Satu jam kemudian, mobil yang membawa Cinta yang dikemudikan oleh Rojak, tetangga Rima tiba di depan rumah sakit yang terdekat dirumahnya.
"Pak...Pak... tolong! ada pasien darurat ini!" seru Rojak dari dalam mobilnya, begitu moncong mobil memasuki halaman rumah sakit.
"Baik pak," sahut satpam.
Satpam bergegas masuk kedalam lobby rumah sakit, dan tidak lama kemudian satpam kembali dengan satu orang perawat mendorong brankar.
Dengan cepat tubuh Cinta dikeluarkan dari dalam mobil. Kini Cinta sudah berada di atas brankar, dibawa masuk menuju ruang unit gawat darurat. Untuk dilakukan pertolongan pertama.
Rima duduk dengan cemas di depan unit gawat darurat, ditemani oleh Rojak.
"Mbak tenang, dek Cinta tidak apa-apa itu, mbak," kata Rojak menenangkan Rima.
"Mas Rojak, terima kasih ya. Saya sampai lupa mengucapkan terima kasih, saking paniknya," kata Rima yang baru sadar, ada tetangganya yang tadi menghantarkannya.
"Tidak apa-apa, Mbak Rima," sahut Rojak.
"Terima kasih ya mas," ujar Rima kembali.
"Banyak sekali terima kasihnya, mbak. tidak usah banyak-banyaklah, mbak. Nanti rumah saya kebanjiran terima kasih," kata Rojak dengan bercanda.
Rima berusaha menerbitkan senyuman di bibirnya, walaupun perasaannya penuh dengan kecemasan.
Bersambung
__ADS_1