
"Jangan Karena dibilang boleh makan, pulang nanti ingin makan mie instan ! tetap tidak boleh!" kata Michael tegas.
"Pelit !" umpat Cinta dalam hati.
Cinta menarik bajunya untuk menutupi perutnya yang baru selesai melakukan USG. Dengan dibantu Michael, Cinta turun dari ranjang. Sebenarnya dia ingin menolak bantuan Michael, tapi dia tidak ingin dilihat oleh Rika, bahwa dia tidak akur dengan sang suami.
"Ini mas." Rika memberikan resep obat untuk Cinta.
"Apa ini?" tanya Michael.
"Resep obat untuk mba Cinta, mas. Vitamin. Walaupun ada vitamin, tetap harus makan makanan yang bergizi dan kurangi makanan yang dibakar atau makanan mentah," kata Rika.
"Dengar apa yang dikatakan Rika," kata Michael.
"Siapa yang suka makanan mentah? emangnya aku sejenis doggy." gerutu Cinta dalam hati.
"Apa lagi yang ingin ditanyakan mba Cinta?" tanya Rika.
"Apakah tidak apa-apa jika pergi keluar rumah atau belanja ke mall ?"
Cinta bertanya begitu, karena dia tidak ingin dikurung didalam rumah oleh Michael. Dan dia juga ingin melanjutkan kuliahnya, Karena dia belum mengajukan cuti. Dia baru mengajukan cuti karena perintah oleh dokter, harus bed rest.
"Lakukan saja mba, tapi jangan terlalu berlebihan. Seperti dari pagi sampai matahari terbenam berada di mall atau berjalan-jalan diluar rumah tidak tentu arah atau melakukan kegiatan yang memforsir tenaga, itu dapat membahayakan kandungan," kata Rika.
"Siapa juga yang tahan satu harian jalan-jalan di mall," ujar Cinta dalam hati.
"Sama saja mulutnya dengan saudaranya ini." ngedumel Cinta dalam hati.
"Salam dengan Tante ya, Ma," kata Rika.
"Mama di luar," kata Cinta.
"Tante ikut?" tanya Rika.
"Iya... Mereka berdua di luar," kata Michael.
"Om dan Tante ?"
"Mama dan bunda," jawab Michael.
"Bunda?"
"Bundaku," sahut Cinta.
"Oh...," ucap Rika.
"Cucu pertama ya, Mas. Pasti akan menjadi kesayangan semua orang," kata Rika.
"Nan. Pasien tinggal berapa?" tanya Rika pada perawat yang menjadi asistennya.
"Masih banyak Dok," sahut sang perawat.
__ADS_1
"Mau bertemu Tante, tapi pasienku masih banyak. Salam saja ya, mas."
Michael mengangguk. Lalu kemudian keduanya keluar dan di sambut oleh Melina dan Rima.
"Kenapa lama sekali ? apa ada masalah ? tidak ada masalah kan?" pertanyaan beruntun keluar dari mulut Melina.
"Sabar toh... Bu Mel ," kata Rima sembari tersenyum melihat sang besan yang tidak sabaran.
"Sabar, Ma," ucap Michael.
"Mama tidak sabar... ! katakan Cinta. Apa baik-baik saja cucu mama ? tidak apa-apa kan ? semua gara-gara kau Michael!" semprot Melina pada sang putra.
"Kenapa aku yang disalahkan? apa salahku, Ma?" Michael bingung dengan omelan sang Mama.
"Tenang, Ma. Cucu mama baik-baik saja," jawab Cinta.
"Sudah jelas salahmu... ! kenapa main culik !" kata Melina.
"Sudah Bu Mel. Kandungan Cinta juga tidak apa-apa. Apa kata dokter?" tanya Rima.
"Harus banyak istirahat dan makan-makan bergizi, karena timbangan berat baby-nya kurang," kata Michael.
"Kalau begitu, Cinta harus tinggal bersama Mama. Titik... tidak ada bantahan. Apalagi besok kau harus keluar kota kan," kata Melina Melina pada Michael.
Melina nyerocos dulu, tanpa sempat Michael melakukan protes.
"Tinggal dengan saya saja Bu Mel," kata Rima.
"Baiklah, tinggal dengan Bu Rima juga tidak apa-apa. Yang penting jangan di rumah, hanya dengan pelayan. Mama khawatir," kata Melina.
Michael hanya mengikuti apa yang sudah ditetapkan oleh mamanya dan bunda Cinta. Dia juga akan cemas jika meninggalkan Cinta di rumah hanya dengan Bik Warsih dan seorang sopir.
Cinta sumringah mendengar perkataan mama mertuanya yang setuju dia tinggal dengan bundanya.
"Jangan senang dulu, aku pergi hanya dua hari," kata Michael saat keduanya beriringan keluar dari rumah sakit.
"Dua hari tidak melihatmu, sudah membuat aku gembira," balas Cinta.
Michael ingin membalas batal, Karena Mamanya melambatkan tempo langkah kaki dan kini keduanya beriringan jalan dengan Michael dan Cinta.
****
"Akhirnya.... !" Cinta merebahkan tubuhnya, setelah Michael dan Melina meninggalkan apartemen.
Tok... tok... " bunda masuk ya." suara sang bunda didepan pintu.
"Masuk saja, Bun," sahut Cinta.
Rima mendorong pintu dengan satu tangan dan satu tangannya memegang nampan.
"Apa itu bunda? harum sekali?" tanya Cinta. Hidungnya kembang-kempis mencium aroma masakan yang menyeruak masuk kedalam hidungnya.
__ADS_1
"Sop ayam kampung, makan selagi masih hangat," kata Rima.
"Ayam kampung? bunda ke pasar beli ayam?" tanya Cinta, karena setahunya, sang bunda tidak pernah menyetok daging berlama-lama di lemari pendingin.
"Di market depan ternyata ada jual ayam dan masih segar. Bunda beli di situ, sesekali beli di market tidak apa-apa."
"Makanlah, biar cucu bunda semakin bertambah beratnya."
"Terima kasih bunda," ucap Cinta.
Cinta bangkit dari kasur dan duduk di kursi kecil yang ada di dalam kamarnya. Nampan diletakkan bundanya di atas nakas di samping ranjang.
"Besok kita beli sofa, biar enak duduk," kata bundanya.
"Ini juga enak bundanya, untuk apa sofa. Sempit kamar, jika diisi sofa lagi."
"Apartemen ini terlalu kecil, apa kita beli rumah saja? uang kita masih cukup untuk beli rumah," kata Rima.
"Kalau bunda mau beli rumah, Cinta setuju saja bunda."
"Bunda sudah ada lihat, ada tanah di jual didekat toko. Kalau mau ke toko roti tidak jauh."
"Perlu dibangun lagi kalau beli tanah bunda," kata Cinta.
"Iya... tapi rumah itu sesuai dengan ide kita, bunda tidak ingin rumah yang besar, asal dapur luas dan ada halaman yang luas."
"Besok kita lihat bunda, berapa ukuran tanah itu. Dan jika sesuai dengan harga, kita beli."
"Besok? bukannya besok Cinta ingin mengurus urusan cuti kuliah," kata Rima.
"Pulang dari kampus saja Bun."
"Jangan ! bagaimana jika nanti Michael tahu dan marah ?" kata Rima.
"Kenapa dia marah ? dia kan tidak tahu, Bun. kenapa Bunda jadi takut padanya ?" tanya cinta.
"Bunda bukan takut pada Michael, Cinta ! tapi pada Bu Melina, bukan takut. Bunda merasa tidak enak pada Bu Melina Dia sangat baik. Bagaimana kedepannya pernikahan kalian, tapi sekarang Cinta itu masih menjadi istri sah Michael. Cinta harus nurut kata suami. Walaupun hanya pernikahan siri, tapi dalam agama tetap sah."
"Biar nanti Cinta minta izin pada Mama."
"Pada Michael ! bukan pada Bu Melina," kata Rima.
"Iya... iya, Bun! pada Michael.:
"Kenapa bunda menjadi aneh? kemarin-kemarin marah sekali pada Michael." monolog dalam hatinya Cinta.
"Sepertinya bunda sudah di jinakkan Mereka !" kata Cinta dalam pikiranmu. Dia melirik sang bunda yang sedang melipat pakaian dan memasukkannya kedalam lemari.
"Ada apa? kenapa segitunya melihat bunda?" Rima sadar dirinya diamati oleh Cinta.
"Nggak ada apa-apa, Bun. Hanya mau bilang, sop ayam ini sangat enak."
__ADS_1
"Kalau suka, besok bunda masak lagi."