
"Mama tidak ingin berpisah dengan cucu, Michael ! mama akan mencoret kau dari anak keluarga Subrata !" kata Melina dengan suara yang melengking dengan dibarengi tatapan mata yang melotot.
"Mama tega membuang anak sendiri ? hanya demi seorang cucu yang belum pasti itu anak Michael ! bisa saja itu bukan anakku, Ma!"
Tangan Melina terangkat, ingin mendaratkan cap lima jari di wajah Michael. Tetapi urung dilakukannya. Tangan Melina lemas, dengan melangkah mundur, Melina menatap wajah sang putra sulung, seraya berkata.
"Mama sedih, melihat kau berkata begitu Michael. Walaupun Mama belum mengenal lama Cinta, tapi Mama jamin... Cinta bukan gadis yang mau saja dijadikan seperti seorang jallang oleh seorang laki-laki. Jika tidak didasari oleh cinta dan sah di mata agama... !" kata Melina dengan raut wajah yang sangat terluka, mendengar ucapan Michael yang sangat merendahkan kaum wanita.
Michael juga kecewa dengan dirinya, karena telah mengeluarkan perkataan yang membuat mamanya sedih dan kecewa.
"Ma... maaf," ucap Michael.
"Michael salah Ma !" Michael menjulurkan tangannya, ingin menggapai tangan sang mama, tapi Melina tidak ingin menyambut uluran tangan sang putra. Melina memutar badannya dan bergegas keluar dari kamar.
"Ma.... !" panggil Michael.
Pintu tertutup, panggilan suara Michael tidak membuat Melina kembali masuk kedalam kamar.
Melina duduk diluar ruangan tempat Michael di rawat. Kepalanya menunduk untuk menutupi kedua belah bola matanya yang basah.
Tiba-tiba, satu tangan memegang bahu Melina, membuat Melina mendongak.
"Kenapa turun dari ranjang?" Melina melihat Michael yang memegang bahunya.
"Mama membenci Michael?" tanya Michael.
Mamanya bangkit dari duduknya. "Ayo kembali masuk," kata Melina.
"Tidak... Michael bosan ," kata Michael.
Michael memegang tiang infus dan menariknya, karena dia ingin duduk.
"Michael... kembali ke ranjang," kata Melina.
"Tubuh Michael kuat Ma, baru bocor kepala saja." Michael mendudukkan bokongnya.
"Ah... duduk Ma.... " Michael menepuk ruang kosong di sampingnya, agar Mamanya duduk.
"Tahu dokter, pasti akan kena marah."
"Ceritakan, Ma," kata Michael.
"Cerita apa?"
"Wanita yang menjadi istriku itu? apa dia sangat cantik?" tanya Michael.
"kan sudah Mama tunjukkan gambarnya," kata Melina.
"Michael tidak melihat dengan jelas, Ma. Kepala Michael semalam masih sangat sakit," kata Michael.
"Melina mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan mencari-cari gambar Cinta yang lebih jelas, dan menunjukan pada Michael.
"Seperti anak SMA, Ma? apa aku benar-benar menikahi anak kecil?" tanya Michael. Keningnya mengernyit menatap gambar Cinta yang diperlihatkan oleh mamanya.
"Dia seorang mahasiswi, Michael. Baru berumur 20 tahun. Kau yang salah, kenapa kau menipunya !" Melina kembali emosi kepada Michael.
__ADS_1
"Dua puluh tahun masih sangat muda! beda jauh dengan aku," kata Michael.
"Kau menikah dengannya, bukan karena mencintainya. Tapi Karena dendam... ! bisa-bisanya kau menuduh Cinta yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa Alex ! Mama mau tanya, siapa yang mengatakan Cinta terlibat dengan kecepatan Alex ?" tanya Melina.
Michael bingung dengan apa yang dikatakan oleh Mamanya.
Melina sadar, dan menepuk jidatnya, dengan siapa saat ini dia berbicara.
"Kenapa lupa aku, kau ini lupa ingatan," kata Melina.
"Ma, tolong ceritakan dengan jelas masalah kecelakaan yang menimpa Alex. Mungkin saja ingatan aku akan kembali," kata Michael.
"Ayo kita masuk, mama akan ceritakan," kata Melina.
Melina memegang tiang infus Michael dan keduanya beriringan masuk kedalam kamar.
Melina menceritakan apa yang belum di ceritakannya pada Michael. Michael mendengar apa yang diutarakan Mama dengan serius. Terlihat dari raut wajahnya dia berusaha untuk mengingat apa yang di ceritakan oleh mamanya, tapi nihil. Kepalanya tiba-tiba terasa pusing, karena berusaha untuk mengingat-ingat cerita yang diceritakan Melina.
"Kenapa? apa pusing?" Melina menghentikan ceritanya, karena melihat Michael memegang kepalanya.
Michael menganggukkan kepalanya. Melina tidak melanjutkan ceritanya dan menyuruh Michael untuk beristirahat.
***
Cinta sudah diperbolehkan untuk pulang, setelah dua hari di rawat di rumah sakit.
Ting... tong
Bel apartemen berbunyi, Cinta ingin bangkit, tapi di cegah bundanya.
"Duduk saja, capek juga bunda," kata Cinta.
" Nurut... !" kata Rima, sembari menggerakkan jari telunjuknya.
"Iya ," sahut Cinta.
Begitu pintu terbuka, Rima melihat Melina berdiri didepan pintu dengan kedua tangannya membawa tenteng paper bag.
"Bu Mel," sapa Rima.
"Maaf Bu Rima, saya datang tidak kabarin dulu," kata Melina.
"Tidak apa-apa, Bu. Ayo masuk." Rima mempersilakan Melina untuk masuk.
"Mana Cinta ?" tanya Melina.
"Mana dia? tadi duduk di sini nonton TV," kata Rima.
"Mungkin ke kamar, biar saya panggil Bu Mel."
"Silakan duduk Bu Mel, Maaf," kata Rima karena Melina masih berdiri dengan kedua tangannya membawa paper bag lumayan besar.
Rima melangkah menuju kamar Cinta dan membuka pintu, kemudian Rima memanggil Cinta untuk keluar.
Rima kembali menemui Melina dengan membawa beberapa cemilan kue yang baru saja keluar dari oven.
__ADS_1
"Cinta sedang mandi Bu Mel, gerah katanya. Ayo makan Bu Mel." Rima menyodorkan sepiring kue basah untuk di cicipi Melina.
"Enak sekali ! beli di mana Bu Rima?"
"Betul enak, Bu Mel ?"
Melina menganggukkan kepalanya, mulutnya penuh dengan kue yang baru saja dimasukkannya kedalam mulut.
"Alhamdulillah." Rima senang dengan pujian Melina.
"Beli di mana Bu Rima ? enak Bu, tidak terlalu manis dan sangat gurih," kata Melina.
"Buatan bunda itu, Ma," kata Cinta.
"Buatan sendiri ?" Rima dan Cinta mengangguk.
"Bu Rima bisa buka toko kue ini. Kuenya sungguhan enak lo... " puji Melina.
Dengan sedikit malu-malu, Rima mengaku bahwa dia sudah membuka toko kue.
"Di mana alamat tokonya, Bu Rima?"
Cinta menyebut alamat toko kuenya.
"Besok saya akan ke sana, dua hari lagi saya ada arisan, biar pesan kue ke tempat Bu Rima saja."
"Hanya kue kampung Bu Mel, apa teman-temannya Bu Mel mau makannya," kata Rima.
"Kue begini yang cocok untuk orang-orang yang sudah tua, tidak terlalu manis," kata Rima.
"Alhamdulillah... jika teman-teman Bu Mel suka," kata Rima.
Cerita membahas kue beralih menjadi membahas kandungan Cinta. Cinta dan bundanya tidak membahas Cinta yang baru keluar dari rumah sakit.
"Ini Mama bawakan susu untuk ibu hamil dan cemilan khusus untuk ibu hamil juga." Melina memberikan paper bag yang dibawanya kepada Cinta.
"Kenapa repot bawa begini, Ma. Dengan kedatangan Mama saja, Cinta sudah senang," kata Cinta.
Cinta melanjutkan perkataannya. "Tidak seperti orang itu. Menelpon saja tidak," kata Cinta dalam hati.
"Untuk cucu Mama ini, tidak ada yang merasa direpotkan."
"Cinta.... ," kata Melina. Dia ragu untuk mengatakan apa yang ingin dikatakannya.
"Ya Ma," sahut Cinta.
"Itu... "
"Ada apa Bu Mel ? katakan saja," kata Rima.
"Apa yang ingin Mama katakan ini, jangan sampai membuat Cinta kaget."
Jantung Cinta mulai tidak tenang. Begitu juga dengan Rima, bundanya Cinta.
Melina menatap Cinta dengan lekat dan kemudian berkata. "Michael di rawat di rumah sakit," kata Melina.
__ADS_1
Apa yang terjadi pada Cinta ?