
Mencintai seseorang boleh saja, tapi kita harus waspada . Apalagi dengan seseorang yang baru kita kenal . Orang yang sudah lama kita kenal saja belum tentu baik kedepannya .
Cinta boleh, bodo jangan !
Setelah Cinta dipindahkan dari ruang unit gawat darurat, ke kamar. Bundanya pulang untuk mengambil barang-barang. Begitu sang bunda keluar dari kamar tempat Cinta terbaring. Cinta membuka matanya .
"Aku di mana ?" Cinta menggerakkan lehernya untuk melihat di mana saat ini dia berada.
"Kau di hotel ," jawab Ayana .
Cinta mencari asal suara dan melihat Ayana berdiri didepan jendela kamar .
"Kau di sini Ay? aku kenapa ? ini.... ?"
"Rumah sakit ! kau itu muntah-muntah, sampai lemas. Jangan bilang kau lupa ingatan, tidak tahu apa yang terjadi beberapa jam yang lalu ?"
Kening Cinta mengerut, Cinta berusaha untuk mengingat apa yang terjadi .
"Aku hanya demam, kenapa sampai harus di rumah sakit ?"
"Kau itu demam sampai pingsan ! untung kau cepat dibawa kerumah, Cinta . Jika menuruti keinginanmu tidak ingin dibawa kerumah sakit, hanya penyesalan yang tersisa," kata Ayana .
Mendengar apa yang dikatakan Ayana, Cinta melihat Ayana dengan tatapan mata yang lekat.
"Menyesal ? apa maksud perkataanmu, Ay.... ?"
"Di sini... ada calon keponakanku .... !" kata Ayana dengan lugas.
Mata dan mulut Cinta terbuka lebar .
"Anak?!"
"Kaget ? kau saja kaget! apalagi kami," kata Ayana.
"Tidak mungkin! kau bohong kan, Ay?" Cinta tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ayana.
"Masalah sebesar itu... berita bahagia, tidak mungkin aku berbohong. Apa selama ini aku pernah berbohong padamu? tidak kan?"
"Sudah empat Minggu." tambah Ayana.
"Aku hamil." Cinta meraba perutnya dan menatap perutnya yang masih datar.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan, Ay?"
"Melahirkannya... tunggu dulu, jangan sampai kau ada niat untuk menggugurkannya," kata Ayana.
"Tapi dia tidak ada ayah, Ay."
"Siapa bilang tidak ada ayah? dia ada ayah... ! hanya saja ayahnya tidak bertanggung jawab!" emosi Ayana jika mengingat Andrew, suami Cinta.
"Setelah melihat semua mengenai Mas Andrew, aku merasa dia tidak meninggal. Tapi dia sengaja menghilangkan diri," kata Cinta.
"Aku juga sependapat denganmu, Cinta. Tapi apa motif dia melakukan itu? apa kau ada salah dengannya? ada dia menyembunyikan diri, karena dikejar-kejar oleh penagih hutang? atau dia melakukan kejahatan, sedang di cari-cari oleh pihak keamanan," kata Ayana.
"Aku tidak bisa berpikir lagi, Ay. Masalah bertubi-tubi datang menerpaku," kata Cinta.
"Sudah... jangan pikirkan, sekarang kau fokus dengan anak yang ada dalam kandunganmu. Kau itu harus bed rest selama seminggu," kata Ayana .
"Bed rest?"
"Iya... itu perintah dokter, kau harus nurut. Jangan membantah! jika kau sayang dengan bayimu, ikut apa kata dokter. Dia tidak salah apa-apa, kau dan laki-laki itu yang salah, menyebabkan dia ada di perutmu itu," tutur Ayana panjang lebar, dia tidak perduli sang sahabat sakit hati mendengar dia dan laki-laki yang bergelar suami yang disalahkan Ayana.
"Apa bunda marah Ay? sehingga bunda tidak ada di sini?" karena tidak melihat keberadaan bundanya, Cinta merasa bunda pasti marah padanya.
"Kenapa marah? apa kau merasa ada salah?" tanya Ayana.
"Aku tidak tahu, apa yang dirasakan Tante. Kau bicara dengan Tante, Cinta. Sekarang ini Tante pulang untuk mengambil pakaian, kau itu harus berada di sini dua tiga hari."
Begitu tiba di rumah, Rima mengambil barang-barang yang dibutuhkan dan kemudian kembali ke rumah sakit. Saat menunggu taxi online yang sudah di pesannya. Mobil berhenti didepannya dan kaca mobil turun. Rima melihat siapa orang yang ada didalam mobil tersebut.
"Begitu miskin kau sekarang Rima." ledek wanita yang duduk dengan raut wajah yang sombong.
Rima tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh wanita itu, raut wajahnya biasa saja mendengar apa dikatakan oleh wanita tersebut.
"Hei... Rima! kau bisu kah? atau tuli!" wanita itu kesal, karena Rima tidak melihat dan merespon apa yang dikatakan .
"Kenapa kau suka sekali menggangguku, Fauziah? apa salahku padamu?" akhirnya Rima membuka mulutnya, dan menyebut nama Fauziah nama diberi embel-embel "Mbak " seperti dia biasa memanggil tetangganya tersebut.
"Karena kau itu janda gatal! suka menggoda laki-laki di perumahan ini! kau itu tidak layak tinggal di sini Rima... Janda gatal itu seharusnya tinggal di tempat-tempat hiburan malam," kata wanita yang bernama Fauziah.
"Semakin dibiarkan, mulut orang ini semakin sombong," ujar Rima dalam hati. Kesabaran Rima sepertinya sudah berada di fase terendah. Cukup selama ini dia tidak membalas apa yang dikatakan oleh tetangganya tersebut.
"Apa mau mu... e.e.. ?" Rima meletakkan barang yang dipegang dan menghampiri Fauziah dengan kedua tangan di pinggang.
__ADS_1
"Aku diam, kau semakin arogan! ingat Fauziah, aku itu bukan takut padamu! tapi karena aku menghargai orang yang lebih tua... kau itu lebih tua dariku. Tapi kau tidak menunjukkan orang tua yang berkualitas," kata Rima.
"Kau bilang aku tua.. ! kita hanya selisih lima tahun !" balas Fauziah yang tidak terima dibilang tua oleh Rima.
"Lima tahun kan menandakan situ lebih tua," balas Rima mengejek Fauziah.
"Sudahlah, mbak Fauziah. Apa tidak capek Mbak cari perkara dengan orang lain. Bertobatlah mbak," ujar Rima.
Rima tidak menunggu apa yang akan dikatakan oleh Fauziah lagi, dia mengambil tasnya dan melangkahkan kakinya menuju mobil yang dipesannya yang telah tiba.
"Kurang ajar kau Rima!" umpat Fauziah yang tidak terima di suruh bertobat oleh Rima.
Dalam mobil, Rima yang masih emosi dengan tetangganya itu menghela napas panjang.
"Kenapa aku dapat tetangga seperti itu? apa lagi dikatakannya, saat melihat Cinta hamil dan suaminya tidak terlihat, pasti Cinta akan menjadi bahan pembicaraan orang itu," ujar Rima dalam hati.
"Aku harus menjauhkan Cinta dari lingkungan yang tidak seperti ini. Walaupun hanya satu orang tetangga yang julid, tapi satu mulutnya melebihi sepuluh mulut," kata Rima dengan suara yang pelan, dengan pandangan matanya menatap keluar jendela kaca mobil.
"Apa yang terjadi, terjadilah. Harus dihadapi dengan hati yang lapang, bayi itu cucuku," gumam Rima.
Sang sopir yang sedari tadi mendengar suara sayup-sayup dari bangku belakang, sesekali melihat melalui kaca spion depan mobil.
"Apa penumpangku ada gangguan mental? tapi terlihat normal?" suara hati sang sopir.
"Saya tidak gila, Pak!" kata Rima yang sadar menjadi perhatian sopir.
"Maaf, Bu," ucap sang sopir.
"Bukan saya mengatakan ibu tidak waras, saya lihat ibu bicara sendiri."
"Saya kesal pak, tadi ada orang yang berkata tanpa berpikir."
"Biasalah, Bu. Orang itu tidak akan senang, jika tidak membuat orang lain menderita.Orang yang seperti itu sebenarnya ada gangguan kepribadian."
"Betul kata bapak," jawab Rima.
"Jika kita bertemu dengan orang seperti itu, jangan dibawa kehati apa yang dikatakannya, Bu. Kita bisa ikut gila. Anggap saja orang itu sedang melawak didepan kita, menghibur kita."
"Iya juga ya Pak, kita tertawa saja menghadapi orang seperti itu," balas Rima.
"Betul, Bu. Saya juga punya tetangga yang suka cari masalah dengan saya, yaitu tadi saya bawa santai saja. Malah dia yang kesal sendiri," kata Pak sopir dengan tertawa.
__ADS_1
"Betul juga ya, Pak. Untuk apa kita lawan orang gila, kita jadi ikutan gila.."