Fake Marriage

Fake Marriage
Bab 28


__ADS_3

Happy reading guys 😘


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Alex jadi anak gadis pasti cantik, kulit putih, mata besar. Bulu mata yang lentik, dan tidak perlu memakai lipstik lagi, bibir pink Alex tidak membutuhkan lipstik untuk memperindah bibir," kata Melina.


Ketiganya saling bertukar kata, sedangkan Alex masih tetap melotot menatap ke depan.


Akhirnya ketiga mengakhiri meledek Alex, setelah tidak mendapatkan respon dari Alex.


Michael dan Papanya berada diruang kerja Ardian, membahas hasil kunjungan Michael ke Korea.


"Tidak ada kendala kan, Mich ?" tanya Ardian.


"Sampai saat ini, tidak ada kendala yang besar. Kendala kecil masih bisa ditangani," kata Michael.


"Proyek di Sentul bagaimana?" tanya papanya yang baru saja mengetahui ada kendala mengenai pembebasan lahan pada proyek mereka yang berada di Sentul.


"Masalah itu yang membuat Michael pulang cepat. Ada yang bermain di sana," kata Michael.


"Orang yang bermain? siapa?"


"Menurut informasi yang didapat Handi, pengawas proyek yang bermain. Dia menurunkan harga yang kita patok," kata Michael.


"Kita mematok biaya ganti rugi lahan, pengawas memotong biaya ganti rugi tersebut dengan memotong harga yang kita patok. Masyarakat tidak mau, karena terlalu rendah. Karena mereka tahu dari masyarakat yang tanahnya sudah mendapatkan ganti rugi, harganya tidak seperti yang dikatakan oleh pengawas proyek," tutur Michael menceritakan masalah yang terjadi dilapangkan.


"Kenapa kita tidak langsung berhubungan dengan pemilik lahan? kan masalah seperti ini bisa dihindari," kata Ardian.


"Pengawas proyek orang yang menguasai daerah itu, Pa. Karena itu dia direkrut untuk bekerja, ternyata dia rakus. Sudah diambil untuk mengawasi proyek, dia ingin mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi," kata Michael.


"Selesaikan tanpa melibatkan pihak aparat penegak hukum, jika sudah masuk ke ranah hukum, panjang urusannya dan bisa akan sulit kedepannya."


"Baik, pa," sahut Michael.


**


Sudah seminggu, kabar tidak didapatkan Cinta. Jika ditanya oleh Rima, sang bunda. Cinta selalu mengatakan Andrew sudah mengirim kabar padanya, padahal kabar dari Andrew tidak pernah didapatkan oleh Cinta. Cinta tidak ingin masalahnya menjadi beban pikiran sang bunda.


Karena tidak tahan lagi dengan beban pikirannya, Cinta akhirnya mengeluarkan keluh kesahnya pada sang sahabat, Ayana.


Cinta menghubungi Ayana. "Ay, kau ada di apartemen?" tanya Cinta melalui sambungan telepon.

__ADS_1


"Aku di rumah, libur kuliah dua hari, malas di apartemen sendirian. Sedangkan kau sudah tidak bisa dibawa kemana-mana, Pak suami akan komplain padaku nanti, karena telah membawa istrinya keluar," kata Ayana panjang lebar.


"Ada apa?"


"Aku ingin cerita, kau ke apartemen ya," kata Cinta.


"Kenapa? apa kau ribut dengan suamimu?" tanya Ayana.


"Nanti aku cerita," kata Cinta dan kemudian memutuskan sambungan teleponnya, tanpa menunggu apa yang dikatakan oleh Ayana dari seberang telepon.


"Dasar nyonya meneer, main putus saja... ! nada suara Cinta sepertinya dia ada masalah?" Ayana menyambar tasnya dan keluar dari kamar.


"Mau kemana?" Mamanya yang sedang menggendong sang cucu, menyapa putri bungsunya yang tergesa-gesa melangkah, sehingga tidak menyadari sosok mamanya.


"Heh.. Mama! buat kaget saja," kata Ayana.


"Halo keponakan aunty, apa kabar?" Ayana menowel pipi chubby sang keponakan.


"Mau kemana?" tanya Mamanya kembali.


"Ke apartemen, Ma," jawab Ayana.


"Libur kuliah, untuk apa ke apartemen?" tanya Mamanya.


Karena jarak rumah ke universitas yang jauh, Ayana tinggal di apartemen, agar dia tidak menghabiskan waktu ditengah jalan menuju kampus.


"Ini mau Ting di apartemen?" tanya Mamanya.


"Tidak, Ma," sahut Ayana.


"Aunty pergi dulu ya, ponakan aunty yang cantik," kata Ayana.


"Jangan lupa bawa pulang calon Om ya aunty," ucap Mamanya.


"Iya, aunty akan ambil dari jalanan... he.. he..he..," balas Ayana diakhiri dengan kekehan.


Satu setengah jam kemudian, Ayana sudah duduk mendengar curahan hati Cinta yang dibarengi dengan air mata mengalir dari kedua sudut bola matanya.


Ayana meraih tubuh cinta yang menangis tersedu-sedu. Dia juga turun larut dalam kesedihan yang dialami Cinta.


"Menangislah... jangan dipendam sendiri dalam hati, Cinta. Ceritakan semua," kata Ayana.

__ADS_1


"Kenapa Mas Andrew tidak menghubungi aku, Ay ? apa dia sesibuk itu, sehingga tidak ada waktu untuk memberikan kabar padaku," kata Cinta.


"Walaupun sibuk, masa tidak ada waktu untuk mengirimkan pesan. Bilang saja, aku sudah sampai, tidak bisa sering memberikan kabar. Masa tidak bisa menulis pesan singkat begitu!" kata Ayana.


"Ini dari pergi, sampai seminggu tidak ada kabar? apa mau laki-laki seperti itu? koq aku ingin menjambak rambutnya, begitu bertemu dengan laki-laki yang tidak ada perasaan begitu... !"


"Cinta! kita harus menemui orangtuanya, mungkin saja dia beri kabar pada orangtuanya," kata Ayana.


"Ibu dan bapak sudah kembali ke kampung, begitu selesai akad," kata Cinta.


"Kita cari ke kampung! kalau kampungnya masih berada di Indonesia, tidak sulit. Ayo kita pergi menemui orangtuanya ke kampung, tanyakan tuh... kenapa anaknya tidak bertanggungjawab! nikahin anak orang, pergi tanpa memberikan kabar!" kata Ayana dengan nada suara yang terdengar sangat kesal.


"Aku tidak tahu kampung Mas Andrew," kata Cinta dengan suara yang lirih.


"Apa... ?!" Ayana kaget mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Cinta.


"Oh... Tuhan! Cinta! kau menikah dengannya tanpa tahu silsilah keluarganya?"


Cinta menganggukkan kepalanya. "Tapi Bunda tahu. Ibu cerita dengan bunda, bahwasanya mereka itu tidak punya keluarga, karena yatim-piatu seperti bunda juga," kata Cinta.


"Percaya? kalian percaya dengan apa yang dikatakannya? yatim-piatu juga, pasti ada orang yang dianggap keluarga. Tetangga bisa dianggap sebagai keluarga!" kata Ayana.


"Karena mereka tinggal dikampung, tetangga tidak bisa ikut. Saat resepsi nanti, baru mereka datang," kata Cinta.


"Inilah... kalau sudah bucin akut. Tidak menyelidiki dengan benar, siapa pria itu? di mana rumahnya?" Ayana menggelengkan kepalanya.


"Aku tahu rumah yang dibeli Mas Andrew, Ay," kata Cinta.


"Nunggu apa lagi, ayo kita ke sana! mungkin orangtuanya masih ada di rumah itu," kata Ayana.


Satu jam kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Ayana tiba didepan bangunan yang rata dengan tanah. Kini hanya tersisa puing-puing sisa-sisa reruntuhan bangunan.


Begitu mobil berhenti, Cinta langsung keluar dari mobil. Dia terpaku didepan bangunan yang sudah rata dengan tanah.


"Ini rumahnya?" Ayana berdiri dibelakang Cinta.


Cinta menganggukkan kepalanya dengan ekspresi wajah yang bingung melihat apa yang ada didepan matanya.


"Kenapa tidak ada rumahnya? apa kau tidak salah rumah? apa alamatnya sudah benar?" Ayana maju beberapa langkah mendekati rumah yang sudah rata dengan tanah.


"Aku tidak salah alamat, ini rumah Mas Andrew," kata Cinta.

__ADS_1


"Kenapa rumahnya tinggal puing-puing sisa-sisa bangunan? kenapa begini? apa ada gempa? tapi kalau ada gempa, kenapa bangunan yang disebelahnya masih berdiri kokoh," kata Ayana.


Bersambung


__ADS_2