Fake Marriage

Fake Marriage
Bab 9


__ADS_3

Happy reading 😘


...****************...


"Mas serius mau datang kerumah?" tanya Cinta.


"Serius ...! mas sudah tua, seperti yang Cinta katakan tadi. Mas tidak ingin main-main lagi, Mas sudah ingin miliki baby."


"Sudah cukup bermain-main, sekarang saatnya untuk melakukan sesuatu untuk masa depan," tambah Andrew.


Raut wajah Cinta memerah, begitu Andrew mengungkit masalah punya baby.


"Mas Andrew ingin punya baby! aduh... koq aku gugup ya?" ucap Cinta dalam benaknya.


"Tapi kita belum kenal lama, mas," kata Cinta setelah berhasil mengusir nervous dalam dirinya.


"Belum kenal lama, tidak menjamin kita tidak hidup bahagia. Begitu juga sebaliknya, ada orang yang menjalin hubungan lama, tapi tidak bahagia dalam pernikahan yang mereka bina."


"Betul apa yang Mas katakan. Lamanya hubungan tidak menjamin pernikahan itu awet. Apa mas sudah yakin dengan keputusan Mas untuk menikah dengan Cinta? Cinta belum matang dalam berpikir, Cinta merasa belum bisa untuk menjadi ibu rumah tangga. Apalagi untuk menjadi seorang ibu," tutur Cinta.


"Dan satu lagi, Cinta belum selesai kuliah." tambah Cinta lagi.


"Kita sama-sama belajar, tidak ada orang yang bisa menjadi ibu rumah tangga atau kepala rumah tangga dengan instan. Kita belajar bersama-sama," kata Andrew.


"Masalah kuliah, Mas tidak melarang Cinta. Cinta mau S2 S3 atau mau es krim juga boleh," ujar Andrew dengan bergurau.


Cinta tertawa kecil, mendengar gurauan Andrew yang sangat jarang didengar oleh Cinta. Andrew termasuk golongan laki-laki yang serius, sangat jarang Andrew bergurau dengan Cinta.


"Besok mas berencana untuk pulang kampung untuk menjemput ayah dan bunda."


"Berapa lama Mas berada di kampung?" tanya Cinta.


"Nanti malam berangkat, besok sudah kembali. Kan mas harus bekerja Seninnya."


"Jangan rindukan Mas ya," ujar Andrew.


"Untuk apa rindu," jawab Cinta.


"Sedihnya, pacar tidak rindu. Padahal diri ini ingin merasakan, bagaimana rasanya dirindukan oleh orang tersayang," tutur Andrew.


"Mas rindu dengan Cinta?"


"Sudah pasti," sahut Andrew.


"Kalau begitu, Cinta juga akan merindukan Mas," balas Cinta.


...********...


"Tidak kuliah, Cinta?" tanya bunda pada Cinta, yang baru keluar dari dalam kamarnya dengan rambut yang masih acak-acakan, karena Cinta belum menyentuh air untuk membuat tubuhnya segar.

__ADS_1


"Tidak ada mata kuliah hari ini Bun," ujar Cinta sembari tangannya menjulur ingin mengambil tempe goreng yang baru saja diangkat dari dalam penggorengan.


Bugh...


Tangan Bundanya seketika menepuk tangan Cinta yang ingin mengambil sepotong tempe goreng.


"Jorok!" kata Rima, bundanya.


"Bunda! sakit nih.... "


"Mandi sana! Mata masih belekan. Lihat bibir itu ada bekas iler. Sudah mau makan saja."


"Hih... Bunda pelit. Mana ada iler. Cinta cantik begini. Tidak mandi seminggu juga cinta masih cantik dan wangi," kata Cinta. Bibirnya ngerucut.


"Jangan biasakan makan sebelum bersih-bersih badan. Sana mandi, biar cepat sarapan."


"Iya.." Cinta memutar badannya dan masuk kedalam kamar untuk mandi.


"Anak gadis malas mandi. Nggak ada cowok yang mau dengan anak gadis yang dekil," ucap Bunda Cinta sembari melanjutkan apa yang dikerjakannya sebelum kedatangan Cinta.


Setengah jam kemudian. Cinta sudah keluar dalam keadaan rambut yang digulung oleh handuk.


"Kenapa cepat sekali mandinya?"


"Untuk apa mandi lama-lama. Air mahal bunda. Mandi itu tidak perlu lama, Bun. Dan putri bunda ini tetap cantik koq."


"Hari ini ibu-ibu PKK minta diajar buat kue kering. Dan Bunda yang di minta untuk mengajar. Apa Cinta mau membantu Bunda?"


"Boleh Bun. Hari ini Cinta tidak ada rencana mau kemana-mana," kata Cinta.


"Apa tidak ada rencana pergi dengan Andrew? Bunda tidak ingin menganggu rencana yang sudah kalian buat," kata Bunda Cinta.


"Mas Andrew lagi keluar kota Bunda," kata Cinta.


"Cinta. Bunda tanya. Apa Andrew baik ?" Tanya sang Bunda pada Cinta.


"Baik Bunda. Kenapa Bunda tanya begitu? Apa Bunda merasa Mas Andrew tidak baik?" Cinta heran dengan apa yang ditanyakan oleh Bundanya, mengenai Andrew.


"Bunda belum mengenal Andrew dekat. Bunda baru beberapa kali bertemu dengannya dan belum bicara banyak dengannya," kata Bunda Cinta. Rumah.


"Bun.. " ucap Cinta.


"Ada apa?"


"Itu... "


"Itu... Apa? Katakan saja" titah sang bunda pada Cinta yang ragu untuk mengatakan apa yang ingin dikatakannya.


"Mas Andrew mengajak Cinta untuk menikah," kata Cinta.

__ADS_1


"Baguslah. Daripada lama-lama pacaran. Menikahkan lebih baik," kata Bundanya, Rima.


"Bunda setuju jika Cinta menikah muda?"


"Cinta sudah sudah 19 tahun. Bunda dulu menikah 19 tahun." Tutur Rima. Bunda Cinta.


"Tapi Cinta belum selesai kuliah. Cinta mau kerja dulu, mencari uang untuk meringankan beban Bunda," kata Cinta.


"Bunda tidak ada beban. Toko roti peninggalan ayah, walaupun tidak besar. Tapi cukup untuk kita berdua," kata Rima pada Cinta.


"Bunda tanya, apa Cinta sudah benar-benar pasti dengan Andrew? Bagaimana dengan Johan. Dia sangat mencintaimu. Apa tidak ada rasa sedikitpun untuk Johan?" Tanya Rima mengenai Johan. Laki-laki yang sudah lama sangat menaruh hati pada Cinta. Tapi Cinta hanya menganggap Johan sebagai sahabat  karena keduanya sudah saling mengenal sejak kecil. Karena kedua orang tua keduanya yang saling bersahabat.


"Bunda. Cinta tidak ada perasaan pada Johan. Cinta hanya menganggap Johan sebagai sahabat saja. Hati Cinta tidak bisa lebih dari sahabat," kata Cinta.


"Padahal Bunda suka dengan Johan. Anaknya rajin dan baik," kata Rima.


"Rajin dan baik tidak menjamin kehidupan kami berdua akan bahagia, jika kami dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Katakan pada Tante Sera. Cinta tidak bisa melakukan apa yang diinginkan oleh Tante Sera."


"Bagaimana kalau Nak Alex? kenapa dia sudah lama tidak kelihatan datang? apa kalian bertengkar?" tanya Bundanya.


"Alex sudah lama tidak masuk kuliah Bun, terakhir bertemu dia mau pergi ke luar negeri. Setelah itu dia tidak ada kabar, ponselnya juga tidak aktif." cerita Cinta mengenai Alex, temannya selain Ayana. keduanya sering berkunjung ke rumahnya, dan sangat dikenal baik oleh Bundanya.


"Dan lagi, Bun. Cinta dan Alex itu bersahabat, tidak ada benih-benih cinta didalam sini," ujar Cinta dan menepuk dadanya.


"Tidak ada salahnya, sahabat menjadi kekasih."


"Alex sudah mempunyai gadis yang disukainya, Bun. Enggaklah... kami hanya bersahabat," ucap Cinta dengan tegas.


"Oh ya Bun, kita tidak menjalin kerjasama dengan percetakan Pak Saleh. Apa Bunda tidak marah?" tanya Cinta yang belum sempat mengatakan mengenai toko kue yang tidak memesan kotak di percetakan Pak Saleh.


"Tidak apa-apa, bunda juga sudah tidak sreg juga," kata Bundanya.


"Kenapa Bun? apa karena Pak Saleh pernah melamar bunda, dan bunda tolak lamarannya."


"Pak Saleh ngadi-ngadi, masih punya istri masih mau nambah istri," tutur bundanya Cinta.


"Bunda tahu, anak Pak Saleh itu Maira?" tanya Cinta.


"Maira yang pernah ribut dengan Cinta saat SMA, dan kalian berdua kena skor seminggu tidak boleh ke sekolah?" tanya bundanya Cinta, Rima.


"Yup.... !" sahut Cinta sambil menganggukkan kepalanya.


"Bunda tidak tahu. Tapi waktu itu yang datang ke sekolah sebagai walinya bukan Pak Saleh? apa waktu itu dia menipu sekolah dengan tidak membawa orangtuanya?"


"Mungkin saja bunda. Dia tidak berani membawa orangtuanya," jawab Cinta.


Next


Terima kasih yang sebesar-besarnya yang sudah mampir dan memberikan like pada cerita ini 🙏

__ADS_1


__ADS_2