Fake Marriage

Fake Marriage
Bab 37


__ADS_3

Cinta menangis di pelukan sang bunda.


"Maafkan Cinta bunda."


"Sudahlah, jangan menangis lagi. Kasihan cucu bunda didalam sini, Mamanya menangis terus. Nanti cucu bunda merasa dirinya yang telah membuat Mamanya menangis."


"Maafkan Cinta bunda ."


"Cinta telah membuat bunda kecewa."


"Bunda kecewa, benar! tapi jika bunda menunjukkan rasa kecewa bunda , itu berarti bunda tidak ikhlas menerima calon cucu bunda ada didalam sini. Bunda sedih, sekaligus gembira, karena kita tidak akan berdua lagi. Ada anggota baru yang akan membuat hari-hari kita semakin indah ."


"Mulai hari ini, jangan keluarkan lagi air mata dari mata ini. Air mata gembira yang boleh keluar.' bunda Cinta, Rima menangkup pipi Cinta dan menatap wajah Cinta dengan lekat.


"Berjanjilah, Cinta harus menjaga anugerah yang Tuhan beri ini. Tuhan menitipkan bayi ini, karena Tuhan merasa Cinta itu kuat. Jangan kecewakan Tuhan," kata Rima.


Cinta menganggukkan kepalanya. "Cinta janji bunda," jawab Cinta.


"Janji, tapi kenapa air mata ini masih keluar?" Rima menghapus air mata Cinta dan kemudian mendaratkan kecupan di kening Cinta.


'Ini air mata gembira bunda, bukan air mata kekecewaan atau kesedihan," kata Cinta.


"Kedepannya, kita tidak tahu apa yang terjadi. Pasti akan ada kejutan-kejutan yang akan muncul. Cinta harus kuat, jangan tunjukkan Cinta itu lemah. Ingat apa kata bunda, jika Andrew tidak muncul selamanya, anggap saja bukan jodoh Cinta."


"Ada apa ini, kenapa ada acara peluk-pelukan ? kenapa aku tidak diajak." pintu kamar tempat Cinta di rawat terbuka. Ayana tegak berdiri di depan pintu.


"Kenapa kau datang lagi ?" tanya Cinta.


"Hei... kau tidak menerima kedatanganku? teman tidak sopan!" gerutu Ayana sambil melangkah masuk dan meletakkan barang yang dibawanya ke atas meja samping ranjang.


"Kau kan harus menemani Tante, Ay," kata Cinta


"Mama tidak jadi ke pesta, karena pestanya batal," kata Ayana.


"Batal! kenapa?" tanya Cinta.


"Sekarang ini musim pengantin laki-laki melarikan diri dari pernikahan," kata Ayana.


Degh...


Cinta merasa tersindir, karena suaminya meninggalkannya, setelah dua hari terjadi pernikahan.


Ayana tersadar, perkataannya telah menyinggung perasaan Cinta.


"Aduh... mulutku." Ayana menepuk mulutnya.


"Maaf Cinta, perkataanku bukan ditujukan untukmu. Lagipula kau tidak ditinggalkan saat pernikahan kan," kata Ayana.


"Aku tidak merasa sakit hati dengan perkataanmu, Ay. Apa yang kau katakan memang aku alami."


"Sorry... " Ayana mengatupkan kedua tangan di depan dada.


"Cinta tidak akan sakit hati, kenapa harus sakit hati? apa yang dikatakan Ayana benar kan ? Andrew pergi, tapi setelah pernikahan terjadi. Diluar sana, entah apa yang akan dikatakan orang nantinya. Tetangga pasti akan bertanya. Cinta suamimu sudah lama tidak kelihatan dan pasti tetangga akan mengajukan lagi pertanyaan yang lain. Cinta resepsi pernikahanmu batal ya. Itu semua pasti akan selalu kita dengar. Jangan sakit hati, jika ada yang bertanya begitu," kata Rima.


"Tutup telinga." tambah bundanya.


"Apa aku bisa kuat?" suara hati Cinta .


**

__ADS_1


Dua hari di rawat, Cinta diperbolehkan untuk pulang.


"Kenapa kita ke sini bunda?" Cinta menyadari, mobil yang dikemudikan oleh Ayana tidak menuju rumah yang mereka tinggali sehari-hari .


"Kita akan tinggal di toko, sementara. Sampai kita menemukan rumah untuk kita tempati," jawab bundanya.


"Kenapa dengan rumah kita bunda? apa terjadi sesuatu yang tidak bunda beritahu pada Cinta? katakan bunda, apa ini semua gara-gara Cinta? apa tetangga ada yang membicarakan Cinta?" pertanyaan meluncur dari mulut Cinta .


"Tidak ada, bunda ingin mencari suasana baru saja. Sebelum ayah pergi selamanya, ayah juga dulu ingin pindah dari rumah itu. Tapi sebelum terlaksana, ayah sudah pindah ketempat yang membuat ayah tidak merasakan sakit lagi."


"Tante, di dekat apartemen Ayana tinggal, ada apartemen yang mau di jual," kata Ayana dari bangku pengemudi.


"Pasti mahal kan, Ay?" tanya Cinta.


"Standar lah, Cinta. Letaknya ditengah kota, dan letaknya dekat kampus kita."


"Boleh juga itu Cinta, dekat kampus kan bagus. Cinta tidak akan lelah nanti jika Ke Kampus," kata Rima.


"Aku ingin berhenti kuliah, Bun," kata Cinta, tapi hanya mampu diungkapkannya dalam pikirannya saja. Dia tidak berani untuk mengatakan pada sang bunda .


"Kalau Tante mau lihat, biar Ayana bawa Tante melihatnya," kata Ayana.


"Boleh, besok bagaimana?"


"Baik Tante, besok masih libur kuliah," kata Ayana.


Tiba di toko, mereka di sambut Santi.


"selamat datang," ucap Santi.


Cinta tersenyum mendapatkan sambutan dari Santi, yang berdiri di depan pintu toko dan membungkukkan sedikit badannya.


"Kami seperti tamu kehormatan saja," kata Cinta.


Cinta masuk kedalam toko, karena dia belum boleh untuk berdiri lama-lama.


"Santi, panggil Dion," kata Rima.


"Dion menghantarkan pesanan, Tan. Baru pergi," kata Santi.


"Apa ada yang bisa Santi bantu, Tante?"


"Bantu bawakan koper ," kata Rima.


"Itu Tante?" Santi menunjuk dua koper yang dikeluarkan Ayana dari bagasi mobilnya.


"Iya."


"Kalau hanya itu, Santi bisa Tante."


"Tolong Santi, bawa ke kamar di belakang," kata Rima.


Rima Melangkah masuk dan melihat-lihat roti yang tertata di steling. Lalu dia meneruskan langkahnya dan masuk kedalam melalui dapur dan sampai di dalam satu ruangan yang lumayan besar. Tempat ini di gunakan Rima untuk beristirahat, jika dia mendapatkan banyak pesanan dan tidak sempat untuk pulang.


"Sementara kita tinggal di sini, secepatnya bunda akan cari rumah," kata bundanya Cinta.


"Bunda, katakan sejujurnya. Kenapa bunda mendadak ingin pindah?' tanya Cinta.


"Kan sudah bunda katakan, ingin mencari suasana baru."

__ADS_1


"Apa ada tetangga yang menjelek-jelekkan Cinta?"


"Bukan karena itu, tidak ada yang menceritakan Cinta. Baiklah, bunda bertengkar dengan tetangga kita yang diujung gang," kata bundanya.


"Tante Fauziah? apalagi yang dikatakannya?"


"Biasanya, hal lama. Bunda kesal, biasanya bunda diam ! tapi hari itu bunda sudah teramat kesal dengan sikapnya."


"Karena itu bunda ingin pindah?"


"Salah satunya."


"Penyebab lain, apa bunda?"


"Bunda tidak ingin Andrew menemukan kita!" kata bunda Cinta dengan tegas.


"Kenapa bunda?"


"Kenapa? Cinta tanya kenapa?" bundanya Cinta menggelengkan kepalanya menatap Cinta.


"Apa Cinta masih mengharapkan laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu? yang memalsukan alamatnya ? jangan-jangan orang itu bukan orangtuanya."


Mata Cinta terbelalak mendengar apa yang dikatakan oleh bundanya, dia tidak mengira ada pikiran sang bunda mengenai orangtuanya Andrew itu bukan orangtuanya yang sebenarnya.


"Bunda curiga dengan orang itu, pasti ada yang disembunyikannya. Apa Cinta ada melakukan kesalahan pada seseorang ?"


Cinta menggelengkan kepalanya. "Cinta tidak pernah merasa ada musuh."


"Bagaimana dengan anak pak Saleh? apa dia yang merencanakan ini semua? Andrew itu mungkin saja orang suruhannya."


"Apa mungkin, Bun? apa dia sanggup merencanakan ini?"


"Apa saja bisa dilakukan, jika kebencian sudah merasuki jiwanya.


"Istirahatlah, bunda pergi sebentar."


Bundanya Cinta keluar, dan Cinta menggeser posisi tidurnya. Tangannya menggapai tasnya untuk mencari ponsel yang dua hari ini diabaikannya.


Cinta membuka logo warna hijau dan melihat beberapa pesan yang masuk, dan tidak melihat ada pesan atas nama Andrew.


"Apa salahku, Mas Andrew? kenapa kau melakukan ini padaku. Ada benihmu dalam rahimku, mas! apa kau tidak ingin melihat dan merasakan kehadirannya disini."


Cinta terus bicara sendiri dengan memegang perutnya, dia tidak melihat ada sepasang mata yang berdiri didepan pintu mendengar apa yang dikatakannya pada bayinya.


"Baby, maaf. Kita hanya berdua, Mama tidak bisa memberikanmu kasih sayang seorang ayah. Maafkan Mama," ucap Cinta dan setitik air mata jatuh menerpa kulit tangannya.


"Air mata? aku tidak boleh meneteskan air mata." Cinta mengusap air matanya dengan kasar.


"Cukup Cinta! jangan kau teteskan lagi air matamu," m


kata Cinta.


"Aku akan mencari laki-laki itu, Cinta. Akan aku seret dia untuk minta maaf padamu. Dia harus membayar setiap air mata yang kau teteskan," ucap Ayana dengan suara yang lirih.


"Cinta, aku pulang ya." Ayana masuk .


"Terima kasih ya, Ay. Aku selalu merepotkan."


"Kalau tidak ingin merepotkan aku, kau harus bersemangat. Lupa semua orang yang telah membuat kau kecewa," kata Ayana.

__ADS_1


"Berkata mudah, Ay. Tapi melakukannya, sulit," kata Cinta.


"Aku tidak menyuruh kau langsung melupakannya. Tidak mungkin secepat itu, tapi pikirkan bayimu. Jika pikiranmu tidak tenang, akan berimbas pada bayimu."


__ADS_2