Fake Marriage

Fake Marriage
Bab 35


__ADS_3

Happy reading guys


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alex membuka matanya, setelah dibawah alam sadarnya, dia bermimpi bertemu dengan anak kecil yang marah padanya . Alex gelisah, dia ingin berteriak . Tapi seperti ada yang menyumbat mulutnya untuk diam, otaknya sudah mulai bisa diajak untuk berpikir tapi mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya, Alex tidak dapat.


Mata Alex mengeluarkan cairan bening. Alex menangis tanpa mengeluarkan suara, sehingga tidak ada yang mendengar apa yang terjadi padanya.


"Kenapa aku begini? tolong!" suara dalam hati Alex berontak ingin didengar oleh orang, tapi mulut Alex seperti terkunci.


Alex melirik ke samping dan melihat Doni yang sedang sibuk dengan laptop yang menyala dihadapannya.


"Tolong aku...!" panggil Alex dengan berusaha agar suaranya dapat didengar oleh Doni, tapi itu tidak mungkin. Karena suara Alex hanya dia sendiri yang bisa mendengarnya.


"Kenapa aku begini? apa yang terjadi denganku?" suara dalam hatinya bingung dengan kondisinya saat ini. Terbaring di atas ranjang tanpa bisa bergerak dan bersuara.


Alex terus berusaha untuk mengeluarkan suaranya, tapi lidahnya terasa kaku untuk melakukan pergerakan. Alex juga berusaha untuk menggerakkan tangan dan kakinya, nihil. Semua usahanya tidak membuahkan hasil yang menggembirakan, Alex berhenti berusaha. Dia letih. Alex memejamkan mata, dan dari sudut bola matanya tergenang air bening.


Doni menggeliat dan kemudian menutup laptopnya, lalu kemudian Doni mendekati ranjang dan memeriksa Alex, sebelum dia ikut mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.


"Selamat istirahat Mas Alex," ucap Doni yang selalu dilakukannya, setiap dia selesai meriksa Alex.


**


Keesokan harinya, Cinta tidak dapat bangkit dari ranjang. Karena tubuhnya tiba-tiba panas tinggi.


"Cinta, kita ke dokter ya," ujar Ayana yang datang karena dihubungi oleh Rima, bundanya Cinta.


"Aku tidak apa-apa, istirahat sebentar, aku sudah baikan," jawab Cinta dengan suara yang nyaris tidak terdengar.


Tiba-tiba Cinta merasa mual, dia segera bangkit dari ranjang. Tapi sebelum benar-benar bangkit dari ranjang, Cinta sudah mengeluarkan cairan isi perutnya.


Huek....


"Cinta!" Ayana bangkit dari duduknya dan beralih memegang Cinta yang hampir jatuh.


Cinta mengeluarkan apa yang baru saja dimasukkannya kedalam lambung.


"Tante!" seru Ayana.


"Aku tidak apa-apa," ujar Cinta.


"Tidak apa-apa bagaimana! lihat wajahmu pucat begitu,' kata Ayana.


Cinta kembali mengeluarkan cairan bening dan mulutnya.


Huek....


"Kita harus ke rumah sakit !"

__ADS_1


"Tante... !" Ayana berlari ke pintu kamar dan memanggil Rima, bundanya Cinta.


"Tante ! Cinta muntah !" seru Ayana dengan suara yang keras.


Rima yang mendengar dirinya dipanggil, bergegas keluar dari kamarnya.


"Ada apa?"


"Cinta bunda! Cinta muntah!" kata Ayana.


Rima berjalan setengah berlari masuk dalam kamar Cinta dan melihat Cinta baring dengan mata terpejam.


"Cinta! ayo kita ke rumah sakit!" ujar bundanya.


"Cinta tidak apa-apa bunda, Cinta butuh istirahat saja," sahut Cinta dengan mata masih terpejam.


"Jangan bantah Cinta! kau tidak lihat wajahmu itu pucat, seperti tidak ada darah... !" kata Ayana dengan suara yang keras.


"Ayo!" Ayana mengangkat badan Cinta untuk duduk.


"Aku tidak apa-apa," ujar Cinta yang tetap tidak ingin dibawa ke rumah sakit.


"Cinta... bunda mohon, nurut kata bunda ya."


Cinta melihat raut wajah sang bunda yang sembab, akhirnya luluh. Dia tidak ingin melihat sang bunda semakin khawatir dengan keadaannya sekarang ini.


Cinta langsung ditangani oleh dokter. Bunda dan Ayana menunggu diluar dalam keadaan khawatir. karena saat dibawa ke rumah sakit, kondisi Cinta setengah sadar.


"Cinta akan baik-baik saja Tante, Cinta kuat," kata Ayana yang juga khawatir, tapi tidak ditunjukkannya.


Perawat keluar dan memanggil Rima untuk menemui dokter. Rima dan Ayana saling bertukar pandangan, karena perawat membawa mereka menemui doktor kandungan.


Apa yang dikatakan oleh dokter hampir membuat jantung Rima berhenti berdetak. Dia baru sadar, kenapa perawat membawanya menemui dokter spesialis kandungan .


"Hamil? putri saya hamil dokter?"


"Cinta hamil?" Ayana juga kaget.


"Iya hamil? kenapa ibu kaget? apa putri ibu belum menikah?" tanya dokter.


"Sudah menikah Dok, putri saya punya suami," jawab Rima.


"Mana suaminya ? ada yang harus saya sampaikan mengenai kondisi istrinya ," kata dokter .


"Suami putri saya sedang berada di luar kota, Dok. Sampaikan saja pada saya, biar saya yang menyampaikan pada menantu saya nanti," kata Rima.


"Usia kandungan baru memasuki empat minggu, sangat rawan terjadi keguguran. Saya harap jaga pola makan dan pikiran," kata dokter .


"Empat minggu ? Cinta menikah baru sebulan ? Gile ... ternyata kau sudah mencicil calon keponakanku sebelum kau sah Cinta " kata Ayana, yang hanya diucapkannya dalam hatinya.

__ADS_1


Dokter menerangkan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh Cinta. Dan dokter juga mengharuskan Cinta untuk bed rest seminggu, karena tadi kondisi kandungan Cinta yang terjadi plek.


"Pada trimester pertama, sering terjadi flek. Sebenarnya wajar dan tidak selalu berbahaya, tapi patut kita waspada," kata dokter Silvia.


"Apa diharuskan rawat inap di rumah sakit dokter?" tanya bunda Cinta.


"Harus Bu, karena suhu tubuhnya sangat tinggi. Tadi dokter jaga di UGD sudah melakukan pemeriksaan darah, ditakutkan demam berdarah atau tipus," kata dokter.


Keluar dari ruang praktek dokter, Rima bundanya Cinta bicara dengan Ayana.


"Apa Cinta sudah tahu dengan kehamilannya ini?" tanya bunda Cinta pada Ayana.


Dia bertanya pada Ayana, karena mengira Ayana tahu dengan kehamilan Cinta.


"Tante, saya tidak tahu. Saya rasa Cinta juga tidak tahu Bun," jawab Ayana dengan jujur, karena dia tidak tahu.


"Tan... saya juga terkejut seperti Tante, maaf Tante," kata Ayana.


"Tante semakin yakin, Andrew itu sengaja mempermainkan Cinta. Apa salah Cinta? apa Cinta ada menyakitinya? apa kau mengenal Andrew, Ay?"


"Ay tidak mengenal Andrew, Tante! selama dia berpacaran dengan Cinta, Ay juga tidak pernah bicara panjang lebar dengan pria itu."


"Coba ingat-ingat, mungkin saja Andrew laki-laki yang di kenal Cinta di masa-masa SMA, dan sakit hati pada Cinta."


"Saat SMA kami belum kenal, Tan. Jadi Ay tidak mengenal siapa teman-teman Cinta saat itu."


"Ada yang ingin Ay katakan pada Tante."


"Apa itu Ay?" tanya Rima.


Ayana menceritakan mengenai teror yang pernah diterima Cinta pada bundanya.


"Kenapa Cinta tidak mengatakan teror yang diterimanya?" Rima kesal, karena Cinta menutupi mengenai ancaman yang diterimanya.


"Karena itu, pada saat Tante kena minyak panas. Cinta mengira Tante kecelakaan di tabrak mobil?"


Ayana menganggukkan kepalanya.


"Siapa orang yang telah mengancam Cinta? apa ini ada hubungannya dengan hilangnya Andrew?" kata Rima pada Ayana.


"Tan, Cinta berencana mencari jejak Andrew dengan melihat berkas pengajuan izin nikah di kantor urusan agama. Di situ kan ada alamatnya," kata Ayana.


"Apa bisa? biasanya berurusan dengan pemerintah itu sangat sulit," kata Rima.


"Ada teman yang akan membantu Tante," kata Ayana.


"Tapi Cinta diharuskan bed rest, tidak mungkin dia pergi."


"Kita tunggu Cinta benar-benar sehat Tante."

__ADS_1


"Kenapa menjadi semakin rumit begini? dulu Tante juga kurang setuju Cinta menikah dengan laki-laki itu, karena mereka belum lama menjalin hubungan. Tapi Cinta sudah percaya dengan apa yang dikatakan laki-laki itu, Tante tidak ingin membuat Cinta kecewa dengan penolakan Tante. Jika saja waktu itu Tante tidak mengizinkan dia menikah, hari ini pasti tidak akan terjadi," kata Rima dengan penuh penyesalan dalam hatinya.


__ADS_2