
Mobil yang dikemudikan oleh Ayana tiba di depan mansion keluarga Subrata. Begitu melihat mansion tempat tinggal Alex, mata Ayana terbelalak melihat kemegahan mansion keluarga Alex.
"Ini rumahnya Tan.... ?" tanya Ayana dengan mata bulat menatap mansion, tempat tinggal Alex.
"Iya," sahut Rima.
"CK.. ck.. cK.. ternyata Alex anak seorang sultan," ujar Ayana.
"Dia sangat pandai menutupi jati dirinya. Orang mengira dia pemuda miskin, motor bututnya ternyata kamuflase."
" Bushett kau Alex! awas kau, akan aku tentang bokong mu..!" umpat Ayana kesal, karena sudah di tipu oleh Alex.
"Ayo," ajak Rima untuk turun dari mobil.
Rima turun dan diikuti Ayana. Rima menekan tombol bel. Tidak membutuhkan waktu lama, pintu gerbang terbuka sedikit dan muncul pria yang memakai baju sekuriti.
"Mau cari siapa, Bu?" tanya sekuriti tersebut dengan sopan.
"Saya ingin menjenguk Alex, ini teman kuliah Alex," kata Rima dengan menunjuk Ayana.
"Saya teman kuliahnya, Pak," kata Ayana.
"Tunggu sebentar Bu, saya hubungi nyonya."
Sekuriti masuk dan keluar kembali, mempersilakan Rima dan Ayana untuk masuk. Didepan pintu besar, keduanya di sambut satu pelayan dan membawa keduanya ke dalam ruangan yang besar . Di sana Melina sudah menunggu keduanya.
" Bu Rima." sambut Melina dengan ramah.
"Saya senang anda datang," ujar Melina, kemudian dia menatap Ayana.
Ayana yang tahu dirinya ditatap Melina dengan lekat, sadar. Sang Tuan rumah mengira dia Cinta.
"Saya Ayana, bukan Cinta Tan," kata Ayana.
"Saya juga merasa, wajahnya koq tidak mirip dengan ada di gambar," kata Melina.
"Ayo duduk," kata Melina mempersilakan Rima dan Ayana untuk duduk.
"Cinta tidak ikut, Bu?"
"Cinta tidak tahu kami ke sini, Bu. Saya menghantarkan Ayana, dia teman Cinta dan Alex," kata Rima mengenalkan Cinta.
"Tan, saya di sini ingin mengatakan. Bahwasanya Alex itu tidak mencintai Cinta. Alex hanya menganggap Cinta sebagai teman saja," kata Ayana.
"Kami, saya dan Cinta pernah menemani Alex untuk membeli kado ulang tahun untuk gadis yang di cintai Alex ," kata Ayana.
"Siapa gadis yang di cintai Alex?" tanya Melina.
"Dia tidak mau mengatakannya, Tan. Alex hanya mengatakan, gadis yang disukainya sudah sejak lama dikenal Alex," kata Ayana.
"Siapa?" gumam Melina.
"Sudah kenal lama, mungkin Tante kenal," kata Ayana.
"Sudah jelaskan, Bu. Cinta tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Nak Alex. Cinta sudah menjadi korban balas dendam putra ibu yang membabi buta. Anak saya telah menjadi korban, Bu. Kini ada anak yang tidak bersalah hadir."
"Bu, pernikahan mereka sah di mata agama. Walaupun hanya pernikahan siri, Putri ibu satu-satunya menantu keluarga Subrata. Dan anak yang dikandungnya, cucu pertama Subrata. Saya mohon Bu, jangan jauhkan saya dari cucu saya nantinya." mohon Melina dengan sungguh-sungguh.
"Saya tidak bisa mengambil keputusan mengenai hal itu, Bu. Cinta yang akan mengambil keputusan mengenai anaknya," balas Rima.
"Saya hanya mendukung apapun keputusan yang diambilnya."
"Baiklah, semoga Nak Cinta tidak membenci kami atas perbuatan Michael."
"Tante, apa saya boleh menjenguk Alex?" tanya Ayana.
"Boleh, ayo."
Melina membawa Rima dan Ayana masuk kedalam kamar Alex.
__ADS_1
Ayana tidak mengira tubuh Alex begitu kurus, rambut yang nyaris botak. Kepala yang dibalut perban melingkar di kepalanya. Ayana memandang Alex dengan tatapan mata sedih. Mereka mengira Alex pindah kuliah tanpa mengatakan apa-apa padanya dan Cinta . Ternyata, Alex terkapar diatas ranjang.
Melina menyentuh lengan Alex. "Alex, lihat siapa yang datang," kata melina.
"Ayana, teman kuliahmu Lex. Dia datang menjenguk temannya yang tiba-tiba hilang dari kampus," kata Melina.
"Alex.... !" panggil Ayana.
Mata Alex terbuka dan mencari-cari orang yang dikatakan oleh mamanya.
"Lex..! aku Ayana," kata Ayana.
Alex seperti tahu dengan Ayana, dia menatap Ayana dengan tatapan mata yang sayu.
"Lex kau tahu siapa dia?" tanya Melina, karena melihat tatapan mata Alex yang tertuju pada Ayana.
"Jika kau tidak mengenal aku, kau kebangetan Lex! kau akan aku pecat menjadi teman satu kelompok, biar kau satu kelompok dengan cowok-cowok yang suka menganggarkan harta orang tua," kata Ayana.
"Kau pasti tidak akan suka kan, Lex ," kata Ayana .
"Kau ini ya Lex, betul-betul perlu di kasih bogem mentah. Ternyata kau begitu tajir, ngakunya anak orang biasa. Ternyata kau anak sultan! kenapa kau ngaku ngaku anak orang biasa? apa kau takut kami minta traktir terus padamu?"
Ayana mendekatkan kepalanya ke telinga Alex, dan berkata. "Sialan kau Lex... !" umpat Ayana .
Ayana terus berceloteh panjang lebar, Melina dan Rima hanya sebagai pendengar. Hanya sesekali Melina ikut menimpali ucapan Ayana, seterusnya Ayana yang terus bercerita tanpa ditanggapi oleh Alex. Mata Alex yang terus terarah menatap Ayana.
"E.. e... " terdengar suara lirih dari mulut Alex.
"Nak... !" Melina mendudukkan bokongnya di sisi ranjang dan sedikit menundukkan kepalanya untuk mendengar suara Alex yang sangat berharga, karena sejak sadar dari koma. Alex hanya bisa diam tidak berkata sepatah katapun.
"Katakan, Nak. Mau bilang apa?" kata Melina.
"E.. e... " hanya itu yang keluar dari mulut Alex.
Melina gembira, walaupun hanya itu yang baru bisa Alex katakan, tapi itu suatu perkembangan yang sangat berharga.
"Nak Ayana, terima kasih. Kedatangan Nak Ayana telah membuat Alex bisa mengeluarkan suaranya," kata Melina.
"kau pintar sekali berakting ya, Lex. Pura-pura bisu! ehh... kalau kau bisu, bagus juga... kalau kau aku bully. Kau tidak akan ngadu dengan Mamamu .. he..he..he... " Ayana tertawa cengengesan menatap wajah Alex, dan mengedipkan sebelah matanya menggoda Alex.
***
Di apartemen, Cinta bangkit dari ranjang dan turun.
"Mbak.. ! mau kemana?" suara Santi menegurnya, membuat Cinta terkejut. Karena dia mengira hanya sendirian didalam kamar.
"Santi! ngapain kau di situ?" Cinta melihat Santi duduk selonjoran di lantai.
"Ini Mbak, masukin baju kedalam lemari. Satu koper belum disusun," kata Santi.
"Kenapa kau kerjakan, biar mbak saja nanti, jika sudah bisa beraktivitas lagi."
"Dari pada nganggur, mbak. Nggak berat kerjanya koq, hanya menyusun pakaian kedalam lemari. Sudah selesai juga ini."
"Mbak mau makan?" tanya Santi.
"Makan terus, lihat badanku sudah seperti kebo bule," kata Cinta.
"Bagus kan, mbak. kebo bule cakep, mahal lagi. Tandanya, mbak itu tidak murahan."
"Ngelantur," kata Cinta.
"He..he..he..he.." ngekeh Santi.
"Bunda kemana ya, San? pergi pagi-pagi sekali, apa ada acara? pesta gitu."
"Nggak tahu, mbak. Apa mungkin ngajar buat roti, mbak," kata Santi.
"Minggu lalu ada minta Tante untuk mengajar, ibu-ibu arisan," kata Santi.
__ADS_1
"Mungkin mengajar ya," kata Cinta.
"Kalau kamu di sini, di toko tinggal Dion sendiri? apa tidak repot dia?"
"Sendiri juga tidak repot, mbak. Yang datang beli roti datangnya juga tidak berbarengan, tidak sulit walaupun sendiri melayani pembeli."
"Bunda juga itu, kenapa harus suruh kau datang untuk menemaniku. Seperti anak kecil saja," kata Cinta.
"Memang anak kecil, mbak! e.eh.. salah, ada anak kecil didalam perut," kata Santi.
Cinta mengerucut bibirnya.
"Mbak mau makan apa? sudah waktunya makan siang," kata Santi.
"Belikan gado-gado, Santi. Yang pedas ya."
"Gado-gado, boleh mbak. Tapi yang pedas, tidak boleh!" kata Santi.
"Mbak mau yang pedas, please!" mohon Cinta.
"Mbak kan lagi hamil, di larang makan-makanan yang pedas-pedas. Katanya, nanti anaknya bisa buta," kata Santi.
"A.a.. ! tidak mungkin.... !"
"Benar Mbak, kata orang-orang tua dulu. Mbak tidak percaya ya. kalau tidak percaya, coba saja mbak makan yang pedas-pedas. Ada apa-apa dengan dedek bayinya, mbak jangan menyesal ya," kata Santi.
"Serius San? kau tidak bohong kan?"
"Oalah... mbak! untuk apa saya bohong! nggak ada manfaatnya. Betul loh... mbak, cari di mbah google pasti ada mbak," kata Santi.
"Aku tidak percaya ," kata Cinta.
"Mbak makan sajalah, ada apa-apa jangan salahkan Santi ya mbak! Santi sudah ngasih tahu, " kata Santi.
"Ya sudah... pesan yang tidak pedas," kata Cinta yang akhirnya nurut dengan apa yang dikatakan oleh Santi .
***
Di mansion, tiba-tiba Michael datang dan berlutut di depan Rima, saat Rima dan Ayana ingin pulang. Membuat Rima, Ayana dan Melina kaget.
Michael bersimpuh memohon pada Rima.
"Bunda! tolong katakan di mana Cinta berada ? rumah kosong. Cinta kemana bunda?"
"Untuk apa kau tanyakan ? apa belum puas kau melihat Cinta menangis ? Cinta hampir kehilangan bayinya, karena lelucon murahanmu itu!" ketus Rima.
"Kau mati! kenapa kau tidak benar-benar mati saja!" kata Rima saking kesal kepada Michael .
"Maafkan saya, bunda ! tolong katakan, di mana Cinta bunda? Cinta masih istri saya," kata Michael .
"Oh.. ingat sekarang, bahwa Cinta istrimu? tapi suami Cinta kan sudah mati kecelakaan. Itu yang tertulis dalam surat pemberitahuan dari perusahaan tempat Andrew suaminya Cinta kerja."
"Michael, berdirilah," kata Melina pada Michael.
"Tidak! bunda harus katakan dulu, di mana istri Michael bunda sembunyikan," kata Michael.
"Sembunyikan? Cinta sudah dewasa, tidak bisa saya menyembunyikannya. Jika Cinta tidak bisa kau temukan, itu keputusannya sendiri," kata Rima.
"Sudahlah, terima saja keputusan Cinta. Cinta tidak ingin bertemu denganmu."
Ayana tidak ikut menimpali ucapan Michael, dia hanya memberi tatapan sinis kepada Michael yang bersimpuh di depan Rima.
"Bu Melina, saya pamit," kata Rima, tidak memperdulikan Michael yang ada didepan.
"Permisi Tante," kata Ayana.
"Bunda!" seru Michael. Dia ingin mengejar Rima, tapi Melina mencegah dengan menarik tangan Michael.
"Michael!"
__ADS_1
"Lepas Ma!" kata Michael.
"Tidak! kau beri waktu untuk Cinta menenangkan diri. Suatu saat dia pasti akan mau bertemu denganmu," kata Melina.