Fake Marriage

Fake Marriage
Bab 26


__ADS_3

Rima sesekali melirik Cinta yang termenung. Sejak kepergian Andrew kemarin, Cinta selalu melamun.


"Cin, apa Andrew sudah memberi kabar?" tanya sang Bunda pada Cinta yang tidak fokus dengan apa yang sedang dilakukannya. Cinta larut dengan apa yang ada didalam pikirannya saat ini.


Cinta tidak menanggapi perkataan sang bunda, jemari tangannya terus mengaduk-aduk adonan kue.


Rima menoleh kearah Cinta dan tahu, sang putri tidak mendengar apa yang ditanyakannya.


"Cinta!" panggil sang bunda dengan suara yang keras.


"Hah... ! i-iya... ya, Bun?" Cinta kaget, dan gelagapan sembari menatap wajah sang bunda.


"Melamun terus! tuh... adonan kuenya jangan diobok-obok begitu," kata sang bunda dan menarik adonan dari hadapan Cinta.


"Bunda tanya tadi, Andrew sudah bilang dia sampai atau belum?"


Cinta menggelengkan kepalanya. "Belum bunda," sahut Cinta.


"Mungkin belum sampai," tambah Cinta.


"Belum sampai? ini sudah sepuluh jam dari keberangkatannya, masa belum sampai juga," kata Rima.


"Dari sini kemarin, Mas Andrew tidak langsung berangkat. Mas Andrew ke perusahaan dulu, dari perusahaan, barulah Mas Andrew berangkat bersama-sama dengan beberapa teman yang berangkat bersama-sama dengannya, kata Mas Andrew begitu, Bun," kata Cinta.


"Oh.... " ucap Bundanya, Rima.


"Sudah selesai semua bunda? biar Cinta yang antarkan, Cinta juga mau keluar ada yang mau Cinta beli," kata Cinta.


"Biar Bunda saja, Bunda juga mau ke toko hari ini. Sudah lama bunda tidak ke toko."


"Bunda tidak mengajar di kelurahan?" tanya Cinta.


"Hari ini libur, ibu-ibu ada kegiatan yang lain. Daripada hanya mengajarkan kepada beberapa orang saja, Bunda minta agar harinya di ganti."


"Biar Cinta antar Bunda, ya."


"Apa mobilnya bisa? dua hari yang lalu mobilnya ngadat, tidak mau hidup," beritahu bundanya.


"Mobilnya rusak Bun? kenapa tidak Bunda bilang, biar Cinta bawa ke bengkel," kata Cinta.


"Bunda lupa, mobilnya tidak bisa distarter. Mungkin akinya," kata Bunda Rima.


"Baru keluar bengkel, rusak lagi," kata Bundanya Cinta.


"Mungkin bunda, mobil sudah lama, sudah minta pensiun," kata Cinta.


"Apa kita jual saja Bunda, kita ganti yang baru," kata Cinta.


"Jangan ah... ! mobil itu peninggalan ayah," ucap Bunda Cinta yang menolak untuk menjual mobil dan mengganti dengan mobil yang baru.


"Kalau begitu, kita perbaiki saja," kata Cinta.

__ADS_1


"Iya, jangan bawa bengkel yang terakhir itu, sepertinya mereka kurang bagus memperbaikinya," kata bunda Cinta.


"Bukan kurang bagus, Bun. Tapi karena onderdil untuk mobil lama sulit untuk di cari," balas Cinta.


"Tandanya bengkel mereka tidak memiliki pergaulan yang luas, banyak mobil yang tahunnya lebih tua dari milik ayah, tapi mobil itu masih bisa jalan. Bawa bengkel yang bisa menangani mobil tua, Cinta," kata Bundanya Cinta.


"Iya Bun, nanti Cinta tanyakan pada Ayana," kata Cinta.


***


"Betul suamimu pergi, Cinta?" tanya Ayana.


"Iya, ada proyek diluar kota. Mas Andrew diutus kantor untuk menanggulangi proyek tersebut," jawab Cinta.


"Luar pulau? bukan luar negeri?"


"Kalau tidak lupa aku, kata Mas Andrew Kalimantan. Ada apa? kenapa kau tanyakan?" tanya Cinta.


Ayana menceritakan apa yang dilihatnya di bandara saat dia menjemput Annisa, kakaknya.


"Mungkin kau salah lihat? tidak mungkin Mas Andrew bohong, dengan tidak mengatakan tempat yang ditujunya. Untuk apa juga Mas Andrew bohong? tidak mungkin Mas Andrew takut aku minta ikut, jika aku tahu Mas Andrew pergi keluar negeri," kata Cinta.


"Mas Andrew kan tahu, aku tidak mungkin meninggalkan perkuliahan," tambah Cinta lagi .


"Mungkin dia berada di terminal keberangkatan luar negeri, karena ada yang ditunggunya," kata Cinta yang menepis rasa curiga yang mulai menggelayuti pikirannya.


"Apa betul Mas Andrew sebenarnya keluar negeri? karena itu ponselnya tidak aktif, karena berada di luar negeri?" pertanyaan dalam benak Cinta terus berseliweran. Tapi apa yang menjadi beban pikirannya tidak dibaginya dengan Ayana.


"Bengkel? apa mobilmu rusak lagi?"


"Bengkel yang bisa membetulkan mobil tua, mobilku sudah hampir seminggu ini beristirahat. Mau dijual saja, tapi bunda berat untuk menjual mobil itu. Karena mobil itu penuh dengan kenangan bersama dengan ayah," kata Cinta.


"Bengkel langganan kami saja, sepertinya mobilmu di bawa kesana cocok. Karena aku lihat di bengkelnya banyak terparkir mobil-mobil jaman dulu."


"Di daerah mana alamatnya? apa mereka bisa menderek mobilnya untuk dibawa ke bengkel?"


"Biar aku hubungi dulu, ya."


Kemudian Ayana mengeluarkan ponselnya dari tasnya dan berbicara melalui sambungan ponselnya, tak lama kemudian Ayana mengakhiri pembicaraan dengan orang bengkel.


"Beres, Cinta!" kata Ayana.


"Mereka mau datang?" tanya Cinta.


"Iya, mereka segera meluncur ke rumahmu. Siapa yang ada di rumah?" tanya Ayana.


"Kosong, Bunda ke toko," jawab Cinta.


"Bagaimana ini? orang bengkel sudah meluncur ke rumahmu," kata Ayana.


"Terpaksa aku pulang, jam kedua kosong kan," kata Cinta.

__ADS_1


Ayana menganggukkan kepalanya. "Sekarang pulang?" tanya Ayana.


Cinta menganggukkan kepalanya dan menghabiskan minumannya dan kemudian bangkit dari duduknya, diikuti oleh Ayana.


"Cinta, aku ikut ke rumahmu ya," kata Ayana.


"Ayo."


Keduanya keluar dari kantin universitas. Cinta tidak menyadari ada sepasang mata yang menatap dirinya dengan tajam. Senyum sinis menghiasi bibir orang itu. "Kau yang ingin mengambil incaranku!" ucap orang yang mengintai Cinta.


Di rumah keluarga Subrata. Alex membuka matanya, tapi dengan tatapan mata yang kosong.


"Alhamdulillah!" ucap dokter yang menangani Alex sejak dia terbaring koma.


"Apa bagus perkembangan putra saya, Dok?" tanya Melina.


"Kondisi semakin menuju baik, Bu. Bawa terus berbincang, agar dapat merespon apa yang kita katakan. Walaupun terlihat pandangan matanya masih kosong, kita harapkan kondisi otaknya bisa mendengar suara kita," kata dokter.


"Alhamdulillah!" puji syukur Melina pada sang pencipta, karena sang putra bungsu akhirnya akan pulih. Walaupun sekarang kondisinya belum dapat dikatakan baik, tapi perkembangan yang Alex yang sudah bisa membuka matanya, walaupun belum bisa normal. Sudah merupakan keajaiban.


"Dengarkan musik instrumental yang bisa merileksasi tubuh dan pikirannya, Bu," kata dokter.


"Musik? musik apa dokter?" tanya Melina.


"Instrumen Mozart misalnya, yang bisa merileksasi jiwa," kata dokter.


"Iya Dok, saya akan memutarkan musik," kata Melina.


Begitu dokter pergi, Melina menghubungi sang suami untuk membeli musik yang dikatakan oleh dokter. Karena Melina melihat musik yang ada didalam kamar sang putra, hanya terdapat musik metal.


"Jika musik ini yang aku putar, bisa-bisa Alex akan stres mendengarnya. Walaupun musik metal music favoritnya, tapi tidak bisa merileksasi jiwa yang sedang tidak baik-baik saja," kata Melina sembari melihat-lihat koleksi musik milik putranya.


Melina menghentikan aktivitasnya memeriksa barang-barang Alex, karena dia tahu Alex sangat tidak suka barang-barang pribadinya berpindah tempat.


Tok... tok..


Pintu kamar Alex terbuka, Doni masuk. Melihat Doni yang masuk.


"Cepat sekali kau kembali kerja, Doni?" tanya Melina.


"Urusan dikampung cepat, nyonya," jawab Doni.


"Oh ya, Doni. Apa saat terakhir kau masuk, ada kejadian yang menimpa tamu yang bernama Sandra?" tanya Melina.


"Gadis itu Bu? gadis yang saya temui sendirian di kamar Mas Alex ? Saya tidak tahu namanya siapa," kata Doni.


"Iya, gadis yang rambutnya pirang yang saya tinggalkan bersama Alex, karena saya ada tamu," kata Melina.


"Iya Bu, saya ingat. Gadis itu berteriak didalam kamar, saya saat itu berada diluar mendengar dan saya bergegas masuk kedalam kamar dan melihat gadis itu berada di atas tubuh Mas Alex. Tangan Mas Alex memegangi tangan gadis itu dengan erat sekali Bu. Saya saja sulit untuk melepaskannya," tutur Doni.


"Alex bisa memegang tangannya?"

__ADS_1


"Bisa Bu... Pegangan tangannya kencang sekali, tangan gadis itu sampai ada bekasnya," kata Doni.


__ADS_2