
Setelah Michael tiba di rumah sakit kecil yang ada di kota. Handi pergi ke kantor polisi untuk mengurus orang yang telah menyerang Michael. Di rumah sakit Handi meninggal Bowo dan Rowi untuk menjaga Michael.
"Jangan lengah ! keselamatan Tuan Michael berada ditangan kalian berdua," kata Handi pada keduanya.
"Baik ," sahut Bowo dan Rowi.
"Kalian, ikut saya," kata Handi pada John dan Abdi.
Handi meninggalkan rumah sakit bersama dengan John dan Abdi. Di depan rumah sakit Handi bertemu dengan Hilman yang sudah tiba lebih dahulu dari Ardian yang masih dalam perjalanan.
"Pak Hilman !" sapa Handi.
"Bagaimana Tuan Michael?" tanya Hilman.
"Dokter mengatakan ada pembekuan darah di kepalanya," jawab Handi.
"Pembekuan darah? kenapa bisa begitu ? apa pukulan orang itu sangat keras ?" tanya Hilman yang belum tahu dengan kronologis kejadiannya.
Handi menceritakan apa yang terjadi pada Hilman.
"Orang itu sudah merencanakan semuanya ! dia membawa batu dan tepat sasaran lemparan nya. Tuan Michael adalah sasarannya, sudah bisa kita pastikan," kata Hilman.
"Dugaan saya juga begitu, Karena pihak penduduk memaksa Tuan Michael turun langsung. Saya kecolongan," ucap Handi dengan penyesalan yang sangat besar di dalam hatinya, Karena tidak bisa memprediksi kejadian yang terjadi pada Michael.
"Sudah... jangan sesali yang sudah terjadi, kita ini manusia, bukan malaikat yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi. Untuk sekarang ini kita harus semakin waspada, kita tidak tahu musuh yang sebenarnya dan kekuatan musuh itu," kata Hilman.
"Pak Hilman ini melihat Tuan Michael ? saya terpaksa pergi ke kantor polisi. Tuan Michael berada di kamar, untuk menunggu tindakan apa yang harus dilakukan," kata Handi.
"Belum sadar?" tanya Hilman.
Handi menggelengkan kepalanya, " Menunggu kedatangan Tuan Ardian, apa akan di bawa ke kota atau di rumah sakit sini saja. Tapi di sini fasilitas medis dan dokter kurang lengkap, Karena ini rumah sakit kabupaten," kata Handi.
"Kau pergilah, Tuan Michael biar aku yang jaga. Dan kabari aku jika ada perkembangan dengan penyelidik yang dilakukan polisi terhadap orang yang melakukan penyerangan pada Michael," kata Hilman.
Handi mengangguk dan berlalu meninggalkan Hilman.
Cinta duduk dalam keadaaan gelisah, perutnya terasa tidak nyaman. Apa yang terjadi pada Cinta dalam pengamatan bundanya.
Rima membersihkan tangannya dan menghampiri Cinta yang duduk menonton televisi.
Ada apa? bunda perhatikan sedari tadi Cinta tidak tenang?" tanya bundanya.
__ADS_1
"Apa perutnya sakit?"
"Bukan perut, Bunda. Ini.... " Cinta menunjuk area dadanya, dan mengusapnya.
"Kenapa dadanya?" bundanya bergegas mendekati Cinta dan duduk di sisi Cinta. Jemari tangan Rima memegang dada Cinta dan merasakan debaran irama jantung Cinta.
"Kenapa ini? apa sakit?" tanya Rima dengan raut wajah yang khawatir menatap Cinta.
"Tidak sakit Bun, hanya lemas saja," kata Cinta.
"Kita ke rumah sakit ," kata bundanya.
Rima bangkit dari duduknya dan bergegas masuk kedalam kamarnya menyambar tasnya, dan kemudian ke kamar Cinta. Rima mengambil dompet Cinta yang tergeletak di samping ranjang.
Cinta tidak membantah, dia nurut ketika diangkat dan dibawa keluar dari dalam apartemen.
Begitu pintu apartemen terbuka, sosok Ayana berdiri didepan pintu.
"Mau pergi ? kenapa wajahmu, Cinta ? pucat sekali?" Ayana melihat raut wajah Cinta pucat.
"Mau ke rumah sakit ! Cinta tidak enak badan." Rima yang menjawab pertanyaan Ayana.
"Ah... ayo... apa kau bisa jalan?" tanya Ayana.
"Ayo... " Ayana memegangi tangan Cinta sebelah kiri dan bundanya Cinta sebelah kanan.
Keluar dari lift, Ayana menyuruh Cinta dan Rima untuk menunggu dia datang membawa mobilnya didepan lobby apartment.
Mobil Ayana bergerak cepat menuju rumah sakit yang terdekat dengan apartemen, dan lima belas menit kemudian mobil yang dikemudikan oleh Ayana tiba di rumah sakit.
"Tunggu di sini, biar aku ambil kursi roda. Atau mau brankar saja?" tanya Ayana.
"Jalan saja," sahut Cinta dengan suara yang pelan.
"Tidak! ambil kursi roda saja," kata Rima, menolak keinginan Cinta untuk jalan masuk kedalam rumah sakit.
"Terserahlah ," kata Cinta.
Ayana bergegas masuk dan keluar dengan diikuti oleh seorang perawat laki-laki membawa kursi roda.
Perawat laki-laki tersebut membantu Cinta untuk pindah dari dalam mobil keatas kursi roda. Sebenarnya Cinta sudah menolak bantuan sang perawat, Karena tidak nyaman diangkat, tetapi tubuhnya seperti tidak bertenaga lagi untuk menopang tubuhnya untuk berdiri.
__ADS_1
Cinta didorong masuk ke dalam unit gawat darurat, bundanya dan Ayana menunggu diluar dalam kondisi cemas. Bundanya Cinta dan Ayana khawatir dengan kondisi kandungan Cinta.
"Suaminya Cinta kemana, Tan...? kenapa Cinta tinggal bersama dengan Tante?" tanya Ayana yang belum tahu, bahwasannya Cinta untuk sementara tinggal bersama dengan bundanya.
Rima menceritakan kenapa Cinta tinggal bersamanya.
"Oh... begitu ceritanya. Apa tidak perlu diberitahu pada suaminya, Tan..."
"Tunggu kabar dari dokter, baru beritahu pada Michael," sahut Rima.
Perawat keluar dan memanggil Rima untuk masuk menemui dokter.
Rima dan Ayana masuk mengikuti perawat, mereka melihat dokter sedang memeriksa Cinta dengan menempelkan stetoskop di dada Cinta untuk mengauskultasi jantung. Dokter meminta perawat untuk membantu Cinta untuk duduk dan kemudian meminta Cinta untuk berbaring kembali setelah melihat Cinta lemas untuk duduk. Cinta baring dengan posisi nyaman untuk dilakukan pemeriksaan Kemudian dokter memerintahkan Cinta untuk menoleh ke kiri untuk mendengar suara jantung dengan jelas.
Lalu, dokter akan menempatkan stetoskop di dada untuk mendengarkan suara jantung. Dokter memindahkan stetoskop ke empat area dada di mana dapat terdengar suara katup jantung dengan lebih jelas. Karena titik auskultasi jantung semuanya ada di area dada kiri atas.
Rima dan Ayana menatap apa yang dilakukan oleh dokter.
Setelah selesai, Dokter mengajak Rima untuk mengatakan hasil pemeriksaan yang telah dilakukannya. Sedangkan Ayana menemani Cinta.
"Ay, apa aku sakit jantung?" tanya Cinta.
"Tidak mungkin ! kau itu bukan sakit jantung, Cinta. Tapi sakit hati.... !" kata Ayana dengan bergurau.
"Kau ini... aku serius."
"Aku serius! aku tidak pernah mendengar ada wanita yang kena serangan jantung, tapi sakit hati karena korban kekejaman laki-laki sering... he... he... he... ," kata Ayana diakhiri tawa dari mulutnya.
Cinta memanyunkan bibirnya membalas ledekan Ayana.
"Bunda lama, Ay. Apa menyakitiku parah?"
"Kau ini jangan pikirkan yang tidak-tidak, dulu. Kau itu tidak sakit, Cinta. Mungkin saja bayimu itu rindu dengan bokapnya ," kata Ayana.
"Ih... "
Cinta ingin membalas ucapan Ayana, tapi tidak dilanjutkannya. Karena bundanya kembali dari menemui dokter.
"Bunda ! apa kata dokter? apa aku sakit jantung?" tanya Cinta.
"Hus... bicara apa itu. Bukan sakit jantung. Dokter tidak mendengar ada kelainan pada jantung Cinta, kondisi kandungan Cinta juga baik-baik saja kata dokter. Tapi dokter menyarankan Cinta untuk rawat inap," kata bundanya Cinta.
__ADS_1
"Menginap ? Cinta pasti sakit kan bunda? katakan bunda?" kata Cinta.
"Tidak mungkin aku beritahu pada Cinta, bahwa detak jantung bayinya lemah. Pasti Cinta tidak bisa tenang." monolog dalam hati Rima.