
Rima menatap tajam laki-laki yang berdiri dihadapannya.
"Siapa kau sebenarnya? ini ayahmu? yang kau bawa sebagai orangtuamu itu siapa? Muklis dan Sadiah itu siapa ?" Rima menatap Andrew dari ujung kepala sampai sampai ujung kaki. Rima mengalihkan pandangan matanya pada orang yang mengaku sebagai papa Andrew.
"Maaf, Bu. Sepertinya anda salah orang," laki-laki datang dengan tergesa melindungi pria yang dipukul Rima.
"Salah orang? kau kira aku sudah pikun? dia Andrew, laki-laki yang telah menikahi putri saya dengan pernikahan palsu...!!' seru Rima dengan nada suara yang keras. Sehingga beberapa orang yang melintas didekat mereka berhenti untuk melihat apa yang terjadi.
"Bukan Bu, salah. Tuan ini Michael Andrew Subrata."
"Ha... ha.. ha... sangat lucu!" tawa Rima mendengar pembelaan orang atas Andrew.
"Michael! apa kau mengenal ibu ini?" Ardian menatap wajah putranya tajam.
"Tidak Pa... !" kata Michael tegas.
"Handi beri ibu ini uang! sepertinya dia membutuhkan uang!" kata Michael.
"Baik.. "
"Uang! kau mau memberi aku uang? sombong sekali kau ! kau kira aku orang yang tidak mampu? karena aku janda, kau kira aku membutuhkan uangmu? walaupun aku miskin! aku tidak membutuhkan uangmu!" marah Rima dengan apa yang dikatakan oleh Andrew.
Rima mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan kemudian melemparkannya kepada Andrew. Surat nikah melayang menerpa wajah Michael.
"Makan surat nikah palsu ini... ! anakku tidak membutuhkan surat palsu itu! ingat... Tuhan itu tidak tidur! karma akan menghampirimu, karena kau sudah membuat dua nyawa terluka!"
Surat nikah jatuh ke lantai. Ardian mengambil dan melihat surat nikah tersebut. Keningnya mengernyit melihat surat nikah tersebut.
"Ini Michael," ujar Ardian.
"Itu putra bapak kan? dia menantu saya, tapi palsu! karena surat nikah itu tidak tercatat di kantor urusan agama. Putra bapak telah memperdaya putri saya. Dia memikat putri saya dengan janji-janji mulut manisnya," kata Rima.
"Jika bapak tidak percaya dengan bukti yang saya tunjukkan, ada bukti lagi. Tunggu."
"Sial... ! kenapa bertemu dengan bunda di sini." umpat Michael.
"Bu, anda salah orang," ujar Handi.
"Diam kau!" Rima melotot melihat Handi.
Rima mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan gambar waktu akad berlangsung pada Ardian.
__ADS_1
"Lihat! pria dalam foto ini, dia kan? wanita ini ibunya, dan pria yang di sampingnya itu ayahnya. Saya tidak mengadakan! apa mungkin bapak punya putra kembar?"
Ardian melihat sudah ramai orang melihat kearah mereka, mengambil inisiatif untuk berbicara ditempat tertutup. Dia curiga ada sesuatu yang terjadi antara Michael dengan Rima yang marah-marah pada Michael.
"Michael, Papa ingin kau menceritakan dengan jujur prihal ini semua," kata Ardian pada Michael.
'Baiklah."
Akhirnya Michael akan berkata jujur.
"Kita bicarakan di rumah saja, saya akan menunjukan kenapa saya melakukan ini semua."
Satu jam kemudian mereka sudah berada di dalam kamar Alex.
"Ini yang membuat saya melakukannya," kata Michael.
"Alex... ! kenapa dia?" Rima kaget melihat Alex berada di atas ranjang.
"Ibu kenal dengan putra saya?" tanya Melina.
"Iya... dia teman kuliah, Cinta. Putri saya," kata Rima.
"Kecelakaan, karena perbuatan Cinta!" beritahu Michael dengan ketus.
"Adik saya kecewa, karena Cinta telah menolak cinta adik saya," kata Michael.
Ardian dan Melina terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Michael.
"Pa.. " Melina memegang tangan sang suami, karena tiba-tiba dia merasa tubuhnya lemas, setelah mendengar perkataan Michael.
"Adik? kalian bersaudara?" tanya Rima.
"Alex adik kandung saya! Alexander Subrata. Saya Michael Andrew Subrata, ibu kenal sebagai Andrew. Saya mendekati putri ibu untuk membalas sakit hati adik saya."
Melina hampir terjatuh. Dengan sigap tangan Ardian memeluk tubuh sang istri dan mendudukkannya ke ranjang Alex.
"Tidak! kau bohong! kau mengada-ada. Cinta tidak pernah melakukan seperti yang kau katakan! Cinta dan Alex sahabat, diantara mereka tidak pernah ada saling cinta. Kau salah paham! Cinta tidak mungkin membuat sahabatnya menjadi seperti ini," kata Rima.
Tubuh Rima bergetar. Dengan langkah kaki yang pelan, dia mendekati ranjang Alex dan kemudian membungkukkan badannya.
"Alex, katakan. Tuduhan pada Cinta dari saudaramu itu tidak benar kan? kau tidak mencintai Cinta kan?" tanya Rima.
__ADS_1
"Bu, kenapa putri ibu tega pada putra saya. Jika dia tidak suka, jangan beri harapan pada putra saya," kata Melina.
"Ma, jangan percaya dengan apa yang di kata Michael. Jika belum dengar dari Alex sendiri," kata Ardian pada sang istri.
Rima menegakkan tubuhnya. Memutar tubuhnya menghadap Melina. "Bu! mereka berdua, anak ibu dengan putri saya tidak menjalin hubungan yang spesial, mereka hanya berteman. Tidak terlihat dari gerak gerik Alex mencintai Cinta. Alex sering datang ke rumah, mereka biasa-biasa saja. Saya mengamati tingkah laku mereka, Bu! percayalah, Alex tidak mencintai Cinta... !" kata Rima.
"Ada kesalahpahaman di sini." tambah Rima.
"Michael, dari siapa kau tahu bahwasanya putri ibu ini yang menyebabkan terjadinya kecelakaan yang menimpa Alex?" tanya Ardian.
Michael mengambil gambar yang terselip diantara buku-buku di atas meja disamping ranjang. Dan Michael memperlihatkannya pada papanya.
"Lihat Pa." Michael menunjukkan gambar Alex dan Cinta dengan caption yang ditulis oleh Alex dibelakang gambar.
'Bersama selamanya'
"Bersama selamanya, Alex mengharapkan bersama Cinta selamanya," kata Michael.
Setelah melihat gambar tersebut, Ardian memperlihatkan gambar itu kepada Rima.
Rima memperhatikan gambar itu, dan terlihat gambar itu diambil di rumahnya. Rima ingat, gambar diambil saat mereka sedang mengerjakan tugas kelompok. Dalam gambar hanya terlihat Cinta dan Alex, tetapi kenyataannya ada Ayana dan beberapa teman mereka yang satu kelompok dengan Cinta.
"Apa tertulis ini, tidak bisa menjadikan patokan Alex mencintai Cinta. Bersahabat juga bisa kita tulis caption begini," kata Rima setelah melihat gambar Cinta bersama Alex.
"Hanya dari ini kau menarik kesimpulan, bahwa putri ibu ini yang menyebabkan Alex kecelakaan?" tanya Ardian.
"Bukti ini sudah cukup, Pa," sahut Michael.
Ardian menghela napas panjang. "Kau itu sudah lama berada di luar negeri, sekolah di luar negeri. Satu caption begini bisa kau jadikan bukti gadis itu bersalah?"
"Mama kecewa padamu, Michael. Melihat gambar ini, kau tega menyakiti seorang gadis dengan cara berpura-pura menikahinya. Membawa orang tua palsu," kata Melina yang tidak habis pikir dengan kelakuan sang putra sulung.
"Bukan itu saja buktinya, ada lagi. Tapi bukti yang satu ini, ada yang mengatakannya," kata Michael.
"Siapa orang itu, bawa ke sini." perintah Ardian.
"Michael tidak bisa mengatakan siapa orang itu, Pa. Bukti ini sangat akurat kebenarannya," kata Michael.
"Papa tidak percaya, jika kau tidak membawa orang itu!" kata Ardian dengan tegas.
"Apa Sandra mau mengatakan pada Mama dan Papa," ucap Michael dalam hati.
__ADS_1