
Cinta menggeliat dan merasa ada tangan melingkar di pinggangnya. Cinta langsung bereaksi dengan menyikut tubuh yang menempel lekat dibelakang tubuhnya. Dia tahu, tangan siapa yang memeluknya tersebut.
"Mengambil kesempatan dalam keadaan aku tidur!" kesal Cinta.
"Adoh... !" teriak Michael.
"Sakit Cinta," ujar Michael.
"Kenapa main peluk... peluk ? semalam tidak tidur di sini ? kenapa begitu pagi sudah tidur di sini ?"
Cinta bangkit dan menggeser posisi duduknya menjauhi Michael.
"Ingat ! mau cerai atau tidak? perjanjian kita tidak ada tidur terpisah," kata Michael.
"Perjanjian berlaku bukan di tempat ini! kita meninggalkan tempat ini baru berlaku perjanjian kita," kata Cinta.
"Mau kemana?" Michael melihat Cinta turun dari ranjang.
Cinta tidak menjawab, dia bergerak menuju pintu keluar. Tapi pintu kamar di kunci Michael.
"Kenapa di kunci?" Cinta menggerakkan kepalanya sedikit untuk melihat Michael yang duduk di tepi ranjang.
"Mau kemana?" tanya Michael kembali, karena tadi Cinta belum menjawab pertanyaannya.
"Apa aku tidak boleh keluar dari kamar ini? aku bukan tahanan!" kata Cinta dengan intonasi suaranya yang meninggi.
"Tunggu, kita sama-sama keluar," kata Michael.
"Tidak! aku ingin keluar sekarang!" kata Cinta tegas.
Michael bangkit dan mengeluarkan kunci dari saku celananya dan membuka pintu untuk Cinta keluar.
"Jangan kemana-mana! di sini masih banyak binatang buas yang berkeliaran," kata Michael mengingatkan Cinta.
"Lebih manusiawi hewan buas, dibandingkan kau sebagai manusia!" seru Cinta sambil berlalu meninggalkan Michael.
"Dia mengatakan aku hewan buas? awas kau Cinta! kau mengatakan aku hewan buas! baiklah... akan aku tunjukkan sisi buasku !"
"Dia tidak pernah memanggil aku dengan panggilan "MAS" lagi," ucap Michael sambil menatap Cinta semakin menjauh dari pandangan matanya.
Michael masuk kembali ke dalam kamar, untuk membersihkan diri, karena dia tidak pernah keluar dari kamar sebelum terlihat bersih di mata para pekerja peternakan.
Sedangkan Cinta, karena kesal dengan Michael dan tidak ingin berlama-lama satu ruangan dengan Michael, memilih untuk keluar. Karena setiap melihat Michael, Cinta merasa ingin muntah.
Cinta mengarahkan langkah kakinya menuju suara yang didengarnya. Cinta sampai di satu ruangan, dia melihat seorang wanita dan satu laki-laki sedang sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing. "Selamat pagi kata cinta," sapa Cinta.
Keduanya secara bersamaan memutar badannya, dan membalas sapaan Cinta secara bersamaan juga.
"Selamat pagi nyonya."
__ADS_1
"Jangan panggil nyonya. Saya bukan nyonya, panggil saja Cinta," kata Cinta.
"Nyonya istri majikan kami, tidak boleh kami panggil nama saja," kata mbok Asih.
"Mau panggil apa, terserah. Asal jangan nyonya," ucap Cinta yang tetap kekeuh tidak ingin dipanggil dengan sebutan nyonya.
"Mbok panggil Neng saja, ya?"
"Terserah ibu saja," sahut Cinta.
"Saya mbok Asih, saya bertugas memasak," ucap mbok Asih mengenalkan diri.
"Saya Ramli, putra mbok Asih," kata Ramli.
"Neng Cinta mau makan?" tanya mbok Asih.
"Apa boleh, mbok?" tanya Cinta dengan mata berbinar-binar mendengar mbok Asih menawarkan dirinya makan.
"Bolehlah, Neng. Masa tidak boleh, tapi hanya ada nasi. Di sini, jika tidak makan nasi untuk sarapan pagi, mereka tidak akan kuat untuk bekerja. Atau Neng mau mbok masakan bubur jagung atau kacang hijau?"
"Nasi saja mbok, saya sangat lapar," kata Cinta.
"Hanya ada lauk ikan dan tumis kangkung, Neng. Apa doyan dengan masakan kampung?"
"Apa saja, mbok... doyan!" sahut Cinta.
Dia menarik kursi untuk diduduki, dia tidak perduli bahwa dia belum membersihkan diri dan menyikat giginya. Dalam otaknya sudah dipenuhi dengan aroma masakan yang di masak mbok Asih. Mbok Asih tersenyum melihat Cinta menelan ludah berkali-kali.
"Teh Neng," kata Ramli.
"Terima kasih, mas ," kata Cinta.
Cinta mengambil gelas tersebut, dan menyeruput teh hangat tersebut dengan hati-hati, karena teh itu masih sangat panas, terlihat dari uap yang keluar dari atas gelas.
"Enak sekali teh nya, mas." puji Cinta.
"Biasa saja, Neng," balas Ramli.
"Ini Neng, hanya ada ini. Den Michael tidak bilang mau datang, saya tidak mempersiapkan stok bahan makanan di peternakan."
"Ini sudah cukup, mbok. Ikan goreng dengan tumis kangkung, makanan terenak.... !" seru Cinta sambil memainkan lidahnya menyapu bibirnya.
"Eneng bisa saja.... ," ujar mbok Asih dengan tawa kecil menghiasi bibirnya.
"Ramli, kau bawa makanan untuk para pekerja itu," kata mbok Asih pada Ramli.
"Banyak pekerja di sini, mbok?"
"Banyak Neng, yang tinggal di sini dapat jatah makan. Karena mereka pekerja dari luar kota dan masih singel," kata mbok Asih.
__ADS_1
Cinta terus mengorek informasi dari mulut mbok Asih, karena dia ingin mencari jalan untuk bisa keluar dari tempat yang masih sangat asing baginya.
"kakak ipar tidak akan bisa keluar dari sini." suara terdengar dari belakang punggung cinta.
Cinta spontan menoleh ke asal suara dan melihat dokter yang memeriksanya tadi malam, dan sepupunya Michael berdiri di pintu masuk dapur.
"Sialan.... !" umpat Cinta dalam hati. "Kenapa orang ini bisa ada di sini? apa dia tidak ada pekerjaan lain, selain menguping pembicaraan orang." suara hati Cinta.
"Aden mau makan?" tanya mbok Asih.
"Tidak mbok, cukup segelas kopi saja." Adam menarik kursi untuk didudukinya. Dia duduk di depan Cinta. Matanya menatap Cinta yang kembali melanjutkan makannya.
Karena merasa menjadi tatapan mata Adam, Cinta mengangkat wajahnya dan menatap Adam.
"Ada apa? apa ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Cinta.
"Tidak ada, kau cantik," kata Adam.
Cinta memainkan bola matanya, menatap Adam. Dia tidak terpengaruh dengan pujian yang dikeluarkan oleh mulut Adam. Seperti Michael, Cinta juga merasa kesal dengan Adam.
"Ini Den." Mbok Asih meletakkan segelas kopi di depan Adam dan juga sepiring pisang rebus.
"Terima kasih, mbok," ucap Adam.
Adam menyeruput kopi dan kemudian meletakkannya.
"Kakak ipar, mana kak Michael?" tanya Adam.
"Aku bukan penjaganya, jangan tanya padaku! dan dia masih bernafas saat aku tinggalkan tadi," kata Cinta.
"He... he..he.. " tawa Adam. Dia tertawa melihat wajah kesal Cinta.
"Kapan kalian menikah? kenapa aku tidak tahu?" tanya Adam.
Cinta menatap Adam, dan menaikkan kedua bahunya.
"Kakak ipar, jangan marah-marah. Pikirkan bayi dalam kandungan itu," kata Adam.
"Apa benar kau dokter hewan?" tanya Cinta, karena dia teringat tadi malam ucapan Michael yang mengatakan Adam adalah seorang dokter hewan.
Adam menganggukkan kepalanya.
"Dia memanggil dokter hewan untuk meriksa aku?"
"Karena darurat kakak ipar, di sini jauh dari kota. Kalau kakak ipar lihat di luar sana, daerah sini berada di lembah antara dua perbukitan. Sinyal saja sini sering hilang," kata Adam.
"Daerah apa namanya?" tanya Cinta.
"Aku beritahu, kakak ipar juga tidak akan bisa keluar dari tempat ini. Dan lagi, Om Ardian dan Tante Melina tidak tahu tempat ini. Hanya ada satu orang yang tahu, Alex. Dia tahu peternakan ini, tapi sayang. Dia belum sadar," kata Adam.
__ADS_1
"Alex tahu," ujar Cinta dalam hati.
Apa Cinta bisa bebas, atas pertolongan Adam?