Fake Marriage

Fake Marriage
Bab 50


__ADS_3

Mobil Ayana tiba di mansion keluarga Subrata. Tidak seperti pertama kali mereka datang bersama dengan bundanya Cinta, Mobil Ayana langsung masuk kedalam pekarangan mansion .


"Ternyata Mas Andrew orang kaya," kata Cinta .


Apa yang dikatakan Cinta didengar Ayana . "Jangan luluh ! hanya melihat rumahnya yang mewah!" kata Ayana.


"Aku tidak matre! hanya melihat rumah gede begini! walaupun aku tidak kaya, tapi aku juga bukan orang yang melarat!" balas Cinta.


"Awas kau luluh, begitu melihat ketampanan laki mu itu!" kata Ayana.


"Ayo turun," kata bunda Rima yang sudah turun dahulu dan sedang berbincang dengan Melina, yang sudah diberi kabar Rima mengenai kedatangannya.


Cinta turun, baru kedua kalinya menginjak tanah. Tubuhnya sudah ditarik masuk kedalam pelukan Melina.


Cinta yang belum tahu siapa yang memeluknya terkejut. Dia menarik kepalanya mundur untuk melihat siapa yang memeluknya.


"Menantuku!" kata Melina, yang akhirnya Cinta tahu, siapa yang telah memeluknya dengan tiba-tiba.


"Mama Mas Andrew," ucap Cinta dalam hati. Perasaan hangat memenuhi hatinya, begitu merasakan usapan tangan lembut Mama Michael. Mata Cinta mulai merasa hangat, air matanya sudah ingin meluncur dari kedua belah bola matanya.


"Jangan... jangan turun! aku mohon," ucap Cinta dalam hati pada kedua bola matanya.


Air bening yang berada dikedua bola matanya tidak bisa diajak untuk bekerja sama, air bening untuk tidak menurut pada sang pemilik.


"Air mata sia-lan.... !" umpat Cinta dalam hati, karena air bening itu merembes keluar setetes demi setetes. Dan akhirnya suara sedu-sedan terdengar dari mulut Cinta.


Melina mendengar suara sayup-sayup suara tangis Cinta. Dia melerai pelukannya dan melihat wajah Cinta bersimbah air mata.


Rima dan Ayana melihat Cinta dengan raut wajah yang terlihat sedih, mereka berdua tahu apa yang dirasakan oleh Cinta saat berada didalam pelukan Melina.


"Jangan nangis!" kata Melina mencegah Cinta untuk menghamburkan air mata.


"Jangan keluarkan lagi air mata karena perbuatan laki-laki bodo itu!" kata Melina.


"Maafkan laki-laki bodo itu! Mama malu. Mama minta maaf karena tidak bisa mendidik Michael menjadi pria yang baik."


"Bukan Tante yang salah," kata Cinta.


"Mama. Panggil Mama." pinta Melina.


Cinta bimbang. Dia tidak ingin memiliki hubungan lagi dengan keluarga Michael, setelah dia menjelaskan sendiri mengenai hubungannya dengan Alex. Tapi permintaan Mama Michael membuat dia merasa tertahan dengan keluarga Michael nantinya. Apalagi sambutan Mama Michael begitu tulus menerima kedatangannya, membuat Cinta serba salah. Cinta menoleh menatap wajah bundanya, dan melihat sang bunda menganggukkan kepala.


'Mama," ucap Cinta akhirnya.


"Urusanku dengan dia, bukan dengan keluarganya," ucap Cinta dalam hati.


"Terima kasih sayang... Mama punya anak cewek akhirnya," ucap Melina senang.


Melina menatap Cinta dengan lekat. "Ayo kita masuk, karena teramat senang, sampai lupa mempersilakan untuk masuk," kata Melina.


"Ayo Bu Rima, aduh... saya lupa dengan nama satu lagi," kata Melina menatap Ayana.


"Ayana Tante," kata Ayana menyebut namanya.


"Ayana... maaf Tante ya."


"Tidak apa-apa, Tan," balas Ayana.


Melina menggandeng Cinta dan disisinya Rima dan Ayana.


Melina membawa Cinta masuk keruang santai.

__ADS_1


"Ayo duduk," kata Melina mempersilakan Rima dan Ayana untuk duduk. Sedangkan Cinta duduk di sampingnya.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Melina dan menatap perutnya Cinta. Cinta tahu apa yang ditanyakan Melina. "Baik Tante," jawab Cinta.


"Koq Tante lagi? Mama," kata Melina, karena Cinta memanggilnya Tante.


"Eh... Tan... salah, Mama..." Cinta kembali lupa.


"Ingat... Mama !" kata Melina.


"Baik-baik didalam cucu Oma."


"Boleh?" tanya Melina yang ingin mengusap perut Cinta.


Cinta menganggukkan kepalanya. Melina mengulurkan tangannya untuk membelai perut Cinta.


"Cucu Oma, ini Oma. Maafkan Oma," kata Melina.


"Bu Rima, terima kasih," kata Melina pada Rima.


"Terima kasih untuk apa, Bu?" tanya Rima, yang tidak mengerti Melina mengucapkan terima kasih untuk apa.


"Karena datang dengan membawa Cinta, saya takut tidak ada kesempatan untuk bertemu dengan Cinta. Umur kita tidak ada yang tahu, Bu Rima," kata melina.


"Mama, bolehkah Cinta menjenguk Alex?" tanya Cinta, mengenai kedatangannya untuk melihat Alex.


"Boleh... Mama senang Cinta mau menjenguk Alex. Cinta tidak dendam pada Alex karena kelakuan Michael."


"Cinta juga ingin membersihkan nama Cinta. Apa terjadi pada Alex, Cinta tidak ada hubungannya. Alex tidak menaruh rasa spesial pada Cinta, ma," kata Cinta.


"Mama tahu, Michael saja yang salah sangka. Entah darimana dia mendapat informasi, bahwa Cinta gadis yang disukai Alex."


"Cinta senang, jika Mama tidak menuduh Cinta."


"Mama," kata Cinta.


Melina tertawa kecil, begitu juga dengan Rima dan Ayana.


"Alex sedang melakukan terapi, biar Mama bawa ke sini," kata Melina.


Melina berdiri dan meninggalkan ruangan.


"Cin... mertuamu baik ya? goyah lu." ledek Ayana.


Cinta memanyunkan bibirnya, membalas Ayana.


"Bu Melina sangat baik, Pak Ardian juga," kata Bundanya.


Di tempat berbeda, diwaktu yang sama. Michael mendapat kabar dari Handi, bahwa Cinta berada di rumahnya.


"Kenapa kau baru katakan? bagaimana jika mereka sudah pulang!" semprot Michael dari sambungan telepon.


"Mereka baru sampai Tuan. Tuan bergerak sekarang, pasti akan bertemu," kata Handi.


Tanpa menunggu lama dan berganti pakaiannya. Michael keluar dari apartemennya yang berdekatan dengan perusahaan.


"Tuan, bagaimana dengan janji dengan Nona Abigail Aisyah?" tanya Handi menyebut janji membawa Abigail Aisyah ke club, untuk merayakan kerjasama perusahaan keduanya.


"Kau saja yang pergi, mintakan maaf dariku dan kau beli kado permintaan maaf dariku," kata Michael.


"Apa yang harus dibeli Tuan?" tanya Handi.

__ADS_1


"Kau beli saja barang branded, tas atau sepatu," kata Michael yang masih berada dida, lift.


"Kau pikirkan saja." tambah Michael.


"Apa Tuan tidak bisa sebentar saja untuk datang?"


"Masalah ku dengan istriku lebih penting!" seru Michael dan kemudian memutuskan sambungan telepon.


Dengan langkah lebar Michael melangkah setengah berlari, keluar dari apartemen. Biasanya dia akan menyapa petugas keamanan apartemen, kini dia melewati saja petugas yang berdiri didepan lobby apartemen.


Petugas keamanan heran melihatnya. "Kenapa Tuan Michael?" kata petugas keamanan, bicara sendiri.


"Hai Lex... " Cinta membungkukkan badannya, untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Alex yang duduk di kursi roda.


Mata Alex membesar melihat Cinta dihadapannya.


"ALex kenal ?" tanya Melina.


Alex tidak menjawab, tapi pandangan matanya yang memberikan jawaban atas pertanyaan sang Mama.


"Kenalkan? jika kau tidak mengenalku, kau sangat tidak setia kawan," kata Cinta.


"Cinta duduklah, jangan menunduk seperti itu," kata Melina.


Cinta duduk di kursi yang diberikan oleh Ayana.


"Lex, kau tidak bisa kan melihat ku?" kali ini Ayana yang menyapa Alex.


Keduanya saling berbagi cerita dengan Alex, dan tidak disambut Alex dengan perkataan. Alex hanya menatap wajah keduanya.


"Aduh... ," kata Cinta.


"Ada apa?" tanya Rima dan Melina bersama--sama.


"Sakit?" tanya Melina.


"Tidak! Cinta mau ke kamar mandi," kata Cinta dengan malu-malu, karena merasa kantung kemihnya yang penuh, membuat Cinta takut bergerak.


"Ah .. bunda kira sakit perutnya," kata Rima.


"Cinta mau ke kamar mandi, mana ya ma?"


"Ayo mama antar," kata Rima.


"Tidak usah, ma. Cinta bisa sendiri."


"Keluar dari sini, belok kanan, itu kamar mandi," kata Melina.


"Ayo Cin, aku temani," kata Ayana.


"Tidak usah, aku bisa sendiri. Kau di sini saja, bawa Alex bicara, biar dia bisa merespon apa yang kita katakan."


Cinta keluar dari ruangan tempat Alex melakukan terapi.


'Mana kamar mandinya?" Cinta celingukan.


Dan ..


"Agh... " satu tangan menutup mulutnya, membuat Cinta tidak bisa berteriak.


"Diam!" seru orang yang menutup mulut Cinta.

__ADS_1


"Andrew,' ucap Cinta dalam hati, setelah mendengar suara orang yang menutup mulutnya dan menariknya masuk kedalam kamar.


__ADS_2