
"Apa Tuan ingin menangani dalangnya sendiri ? Tuan tidak ingin membawanya keranah hukum.... ?" tanya Hilman.
"Aku akan memberikannya pelajaran ! baru dia aku serahkan ke pihak yang berwenang."
"Menurut perkiraanmu, siapa kira-kira yang patut di curigai? apakah ada keterlibatan orang dalam perusahaan yang melakukannya?" tanya Ardian.
"Untuk saat ini saya belum bisa mengatakan, siapa yang bermain. Bisa saja ada keterlibatan orang dalam perusahaan ! tapi bisa juga dari saingan bisnis. Apa Tuan ada masalah dengan saingan bisnis ?" tanya Hilman.
Ardian menggelengkan kepala seraya berkata, "Tidak ada," sahut Ardian.
"Saya akan berusaha untuk mencari dalang dalam kecelakaan Tuan Alex, Tuan Ardian. Tapi saya katakan, ini pasti sulit dan lama. Karena kejadiannya sudah lama terjadi," kata Hilman.
"Saya tidak perduli kau lama memecahkan kasus ini, aku percayakan kasus ini padamu. Mau setahun, atau bertahun-tahun kau membutuhkan waktu untuk menemukan dalangnya, aku tetap menunggu kabar darimu. Berapa kau membutuhkan dana, katakan saja....," kata Ardian.
Ardian kembali pulang, dan kepulangannya sudah ditunggu-tunggu oleh sang isteri, Melina.
"Katakan, Pa!" titah Melina seraya mengekor sang suami yang masuk dalam kamar.
"Sabar, Ma. Tunggu Papa membersihkan diri dulu, gerah tubuh Papa ini," kata Ardian.
"Sabar... sabar ! Mama itu sudah tidak sabar, Pa ! dari tadi Mama menunggu papa. Makanya tadi Papa itu jangan main rahasia-rahasiaan sama mama. Papa pergi dengan tergesa-gesa membuat mama penasaran ! ada masalah apa?" kata Melina.
"Sabar, Ma," kata Ardian.
"Cepat papa mandi !" perintah Melina.
Ardian meninggalkan Melina, dan masuk kedalam walk in closet. Melina menunggu sang suami sembari memainkan ponselnya dengan berkirim pesan pada Rima, bundanya Cinta. Sesekali matanya melirik kearah walk in closet. Dia tidak sabar menunggu sang suami selesai mandi.
"Lama sekali mandinya. Biasanya tidak seperti ini. Mencurigakan?" Melina menggerak-gerakkan bola matanya seraya berpikir.
"Apa.... ?" pikiran Melina tiba-tiba terlintas dengan hal-hal yang negatif mengenai sang suami.
Melina menggoyangkan kepalanya dan berteriak, "Tidak.... !" seru Melina.
"Jangan sampai apa yang ada dalam pikiranku ini terjadi." Melina memukul kepala, untuk mengenyahkan pikiran negatif yang bersemayam dalam otaknya.
__ADS_1
Pintu walk in closet terbuka, sang suami Ardian keluar seraya membawa handuk untuk mengelap Rambutnya.
Melina meletakkan ponsel dan bangkit dari duduknya, dia mendekati sang suami.
"Papa keramas? kenapa?" Melina mengamati wajah sang suami dengan lekat. Kecurigaannya kembali muncul, melihat sang suami keluar dalam keadaan rambut basah.
Ardian menghentikan kegiatannya mengelap Rambutnya dan membalas tatapan sang istri yang menatapnya dengan tatapan mata yang mencurigainya.
"Mama... ! Papa tahu dengan tatapan mata Mama itu. Apa mama pikir, Papa tadi melakukan kegiatan itu keluar rumah dengan tergesa-gesa ?"
"Papa itu mencurigakan... ! kenapa keramas siang-siang begini?" tanya Melina.
"Papa bukan keramas, Ma! kepala Papa pusing! dengan membasahi kepala dengan air dingin, kepala Papa ini sudah mendingan," kata Ardian.
"Kalau Papa ingin begituan, untuk apa keluar rumah ? Mama kan ada ." tambah Ardian dengan bergurau.
"Papa ! jangan mengalihkan pembicaraan. Katakan ! kenapa Papa pergi dengan terburu-buru?"
Ardian meletakkan bokongnya dan menepuk kursi disisinya. "Duduk, Ma. Apa yang akan Papa katakan ini berita besar," kata Ardian.
"Katakan, Pa !"
"Begini ," ujar Ardian dan mulai menceritakan apa yang dikatakan oleh Hilman padanya.
"Kurang ajar... !!!" seru Melina dengan suara yang melengking. Sampai-sampai Ardian menutup kedua telinganya, saking kerasnya sang isteri berteriak.
Siapa yang berani-beraninya menganggu keluarga Kita, Pa? apa mereka sudah bosan hidup ? jangan lepaskan jika nanti dalangnya tertangkap ! buang ke pulau komodo, biar menjadi santapan komodo," kata Melina.
"Papa itulah ! kenapa dulu tidak mau menyelidikinya. Jika dulu di selidiki, tidak akan ada kejadian seperti ini! Cinta tidak akan menjadi korban Michael. Michael juga, kenapa baru sekarang otaknya dipakai untuk berpikir." Melina melampiaskan kekesalannya pada sang suami.
"Mana papa kira ada orang yang tidak menyukai kita, Ma. Papa merasa tidak pernah merasa telah menyakiti seseorang, sehingga tega melakukan perbuatan melanggar hukum."
Apa musuh persaingan bisnis, Pa? Alex kan ingin melakukan join dengan perusahaan tambang ! mungkin ada yang tidak suka dengan keterlibatan Alex dengan perusahaan tambang itu." Melina mengungkapkan kecurigaan pada usaha yang mulai ingin dijalankan oleh Alex sebelum kecelakaan terjadi.
"Apa ada hubungannya dengan usaha yang ingin dirintis Alex itu?" Ardian balik bertanya pada sang isteri.
__ADS_1
"Semua patut kita curigai, Pa. Selidiki juga," kata Melina.
Michael keluar dari dalam. Kedatangannya sudah di sambut oleh puluhan atau mungkin ratusan penduduk desa yang tanahnya termasuk yang masuk didalam area proyek yang dibangun oleh Michael.
"Akhirnya kalian datang juga!" seru pria tambun dan sangat sangar dipandang mata.
"Tenang, Pak. Kami datang untuk menyelesaikan permasalah diantara perusahaan kami dengan penduduk disekitar proyek," kata Handi.
Michael dibawa masuk kedalam satu ruangan dan di dalamnya sudah banyak penduduk yang duduk menunggu Michael dan Handi.
Handi memerintahkan pengawal yang ikut untuk berjaga-jaga diluar ruangan, selagi mereka sedang bernegosiasi dengan penduduk.
Pembicaraan yang dilakukan dengan santai, sampai satu orang penduduk yang tidak suka dengan apa yang sudah disepakati, marah. Dengan membabi-buta pria yang sedari tadi hanya diam duduk dan tiba-tiba mengamuk itu mengeluarkan batu dan melemparkannya kepada Michael, tanpa sempat disadari oleh orang-orang. Michael yang mendapatkan serangan mendadak tidak bisa mengelak, kepalanya mengeluarkan darah segar dan kemudian membasahi wajah.
Dan Michael jatuh ke depan dari duduknya dan pingsan.
"Tangkap dia.... !" telunjuk Handi terarah kearah pria yang ingin melakukan aksinya kembali, dengan melemparkan batu besar yang masih ada padanya.
Santoso! kau mau mengacaukan perundingan ini?" seru pria tambun yang pertama menyambut Michael.
"Tidak ada perundingan ! pria itu harus mati.... !" pekik pria yang bernama Santoso dan yang telah berhasil membuat Michael cedera.
"Bowo.... !" pekik Handi memanggil pengawal yang ditempatkannya diluar ruangan.
Pria yang dipanggil Handi masuk, dan mendapatkan perintah dari Handi untuk membawa pria yang sedang meronta-ronta dipegangi oleh penduduk ke kantor polisi. Sedangkan Michael dibawa ke rumah sakit terdekat.
Michael dibawa ke Puskesmas, karena rumah sakit sangat jauh dari tempat kejadian. Kening Michael mendapatkan sepuluh jahitan dan Michael di bawa ke rumah sakit, setelah mendapatkan pertolongan pertama.
Handi menghubungi Ardian Aditya Subrata, karena tidak ingin menutup-nutupi kejadian yang menimpa Michael.
"Kenapa ini semua terjadi, Pa? apa Karena perbuatan Michael pada Cinta, sehingga dia mendapatkan cobaan ini?" tanya Melina pada sang suami, pada saat perjalanan mereka menuju rumah sakit tempat Michael di rawat.
"Mungkin orang yang menyerang Michael ada hubungannya dengan orang yang mencelakai Alex," kata Ardian.
Apakah yang dikatakan oleh Ardian benar?"
__ADS_1