Fake Marriage

Fake Marriage
Bab 47


__ADS_3

Mengingatnya jika sudah tidak ada disisinya, ingin kembali ? tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Itu akan terjadi pada Michael... ! Ingin mendapatkan Cinta, tidak akan semudah yang dibayangkan . Uang dan kekuasaan tidak akan bisa meluluhkan hati yang sudah tersakiti.


"Suruh satu orang tetap berada di sini," kata Michael.


"Baik Tuan," sahut Handi.


"Gadis yang saya suruh ikuti, kemana dia pergi?"


"Dia masuk ke satu toko roti family bakery, Tuan," jawab Handi.


"Family bakery... itu pasti toko roti milik bunda. Kau awasi toko itu!" perintah Michael.


"Baik Tuan."


Michael menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan dengan perlahan-lahan meninggalkan area apartemen.


Cinta sedang menonton acara televisi, matanya menatap layar datar segi empat tersebut. Tapi pikirannya tidak pada layar segi empat tersebut.


Bundanya yang sedang mengecek pembukuan toko rotinya, menutup laptopnya dan menghampiri Cinta.


"Ada apa?" Bundanya mendudukkan dirinya di samping Cinta.


Cinta menoleh menatap sang bunda.


"Tidak ada apa-apa, Bun," sahut Cinta.


"Jangan bohong! bunda tahu, ada yang Cinta pikirkan. Apa Cinta mau makan sesuatu, biar bunda belikan atau bunda masakkan ," kata Rima.


"Cinta tidak ingin apapun juga bunda."


"Tidak mungkin aku katakan, aku rindu dengan laki-laki itu." suara hati Cinta.


"Besok kita ke rumah sakit," kata bundanya.


"Ke Rumah sakit? untuk apa bunda? Minggu lalu kita sudah menemui dokter."


"Kita harus periksa lagi, setelah bed rest seminggu ini. Kan dokter minta datang Senin ini," kata Rima.


"Dokter suruh datang Senin kan Bun, besok kan baru hari Minggu. Betulkan? apa Cinta salah hari? hari ini Minggu, besok Senin?"


"Oalah... !" Rima menepuk jidatnya.


"Bunda yang salah, besok Minggu. He... he... he... Maklumlah, sudah mau jadi nenek ," kata Rima dengan bergurau.


"Bunda, Cinta rindu dengan ayah," kata Cinta tiba-tiba.


Raut wajah Rima seketika berubah mendung. "Apa Cinta ingin nyekar ke makam ayah?" tanya Rima.


"Bunda tahu makam ayah?" tanya Cinta.


"Tahu, bunda tanya pada Tante Ajeng. Tante Ajeng mengatakan ayah di makamkan di kampung," kata Rima.

__ADS_1


"Tapi jauh dari Medan. Dari Medan sekitar dua jam lagi, untuk sekarang ini Cinta tidak mungkin bisa pergi ke sana. Kirim doa saja pada ayah ya. Ayah masih tahu dengan kesulitan yang kita hadapi."


"Kenapa nenek dan kakek membenci kita bunda?" tanya Cinta.


"Kakek dan nenek tidak membenci kita, mereka belum mengenali kita saja."


"Sudahlah, tidur. Ibu hamil tidak boleh begadang," kata Rima.


Cinta tahu, sang bunda tidak ingin membahas masalah keluarga ayahnya lebih lanjut. Cinta bangkit dari duduknya.


"Selamat malam, Bun," ucap Cinta.


"Malam sayang, jangan lupa makan vitamin yang diberikan oleh dokter," kata Rima.


"Baik bunda.


Sepeninggal Cinta. Rima bangkit dari tempat duduk dan masuk kedalam kamarnya. Dia membuka laci meja dan mengeluarkan buku dan membukanya. Di tengah-tengah buku, Rima mengambil satu lembar gambar yang terselip diantara sela-sela helaian buku.


"Ayah! apa kabar? kami di sini semua baik-baik saja, Yah. Sekarang bunda dan putri ayah sudah pindah ke apartemen. Maaf yah... bunda tidak bisa menjaga putri kita dengan baik. bunda lalai Yah... !" Rima mengusap air mata yang sudah mulai keluar dari kedua bola matanya.


"Maafkan bunda, Yah! kesalahan Rima yang tidak melihat dengan benar laki-laki yang dekat dengan putri kita."


Rima membawa gambar dirinya dan sang suami tidur, jika pikiran Rima galau, dia selalu mendekap gambar dirinya dengan sang suami. Gambar tersebut akan menjadi temannya melalui malam, sampai matahari muncul dari peraduannya.


Cinta membuka matanya, tiba-tiba Cinta merasa dadanya berdebar-debar.


"Ada apa ini? kenapa dadaku terasa tidak enak? apa aku sakit jantung? Ah... tidak mungkin!" Cinta menepis pikirannya yang mengatakan dia sakit jantung.


Cinta bangkit dari ranjang dan duduk di tepi ranjang. Tangannya mengelus dadanya.


Cinta selalu bicara dengan bayi dalam kandungannya dengan memanggilnya "Boy" Karena Cinta merasa baby-nya berjenis kelamin laki-laki.


"Boy istirahat dulu ya, besok kita main-main. Mau kan?'


Cinta merasa dadanya sudah nyaman, baru dia merebahkan tubuhnya kembali. Dengan mengusap-usap perutnya, Cinta berusaha untuk masuk kedalam mimpi indah.


***


Michael keluar dari dalam kamar Alex, untuk melihat Alex. Tapi Alex sudah tidur.


"Apa Alex bicara denganmu, Michael?" sapa Papanya, Ardian.


"Alex sudah tidur, Pa," sahutnya.


"Papa ingin bicara, kita bicara di ruang kerja," kata Ardian pada Michael.


Michael mengikuti Ardian, firasatnya mengatakan pasti sang Papa akan membahas masalah mengenai pernikahannya dengan Cinta.


"Bagaimana? apa sudah tahu di mana Cinta tinggal?" tanya Ardian.


"Sudah, Pa !" jawab Michael.


"Di mana?" tanya Ardian pura-pura, pada dia sudah tahu juga di mana Cinta dan ibunya tinggal. Karena Hilman yang terus mengikuti Michael pergi kemanapun. Sehingga Ardian tahu.

__ADS_1


Michael menyebut di mana Cinta tinggal.


"Itu apartemen milik perusahaan kita," kata Ardian.


Michael mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan oleh Papanya.


"Sudah lama mereka tinggal di apartemen itu?" tanya Ardian.


"Belum, Pa. Baru tiga hari."


"Karena ingin menghindarimu, mereka pindah. Ternyata, mereka pindah ke apartemen milik kita," kata Ardian.


"Kau hubungi pengelola apartemen, dan beri bodyguard untuk menjaga mereka. Papa tidak ingin menantu dan cucu papa kenapa-kenapa," kata Ardian.


"Dan kau Michael! jangan kau tunjukkan wajahmu dihadapannya. Ingat, kandungannya lemah. Jangan sampai dia stres dan berakibat tidak bagus bagi perkembangan janin dalam kandungan"


"Pa... Michael ingin melihat perkembangan anak Michael! Michael ingin ikut berperan," kata Michael.


"Waktu kau merencanakan itu semua, apa kau tidak memikirkan hal ini akan terjadi? dia bisa hamil! jika kau tidak menyentuhnya, hal ini tidak akan terjadi!"


"Michael menyesal, pa," kata Michael.


"Menyesal! sudah begini, baru kau katakan menyesal!"


Ardian bangkit dan melangkah keluar dari ruang kerjanya, tinggal Michael merenung.


"Bagaimana juga, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan Cinta dan bayiku," kata Michael.


Keesokan harinya, Alex untuk kedua kalinya dibawa keluar dari dalam kamar. Doni dan terapis membawa Alex berjemur di kolam renang. Sang terapi menggerakkan kaki dan tangan Alex.


"Besok kita akan masuk kedalam kolam," kata terapis pada Alex.


"Apa tidak apa-apa, Pak Mario?" tanya Doni.


"Tidak apa-apa, asal di jaga. Berenang bisa membantu otot-ototnya yang kaku untuk bergerak."


"Selamat pagi pak Mario." sapa Melina dan diikuti, oleh pelayan yang membawa nampan.


"Pagi nyonya," balas terapis yang bernama Mario.


"Sumi, letakkan di sini saja." Melina menunjuk meja dekat Alex.


"Saya dengar tadi, besok Alex akan berenang. Apa betul pak?" tanya Melina.


"Iya, nyonya," sahut Mario.


"Tapi apa bisa, Pak Mario? Alex kan belum bisa menggerakkan tubuhnya," kata Melina.


"Berenang bisa merilekskan otot-ototnya yang kaku, nyonya," kata Mario.


"Didalam air, otot dan anggota tubuh lebih mudah digerakkan. Karena aktivitas air memiliki komponen kardio, pasien seperti Mas Alex dapat meregangkan otot dan juga meningkatkan stamina." tambah Mario lagi.


"Saya juga pernah lihat, pasien stroke berenang. Tapi mereka bisa menggerakkan bagian tubuhnya. Yang saya khawatirkan ini, Alex kan sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Saya takut Alex akan tenggelam," kata Melina.

__ADS_1


"Mas Alex tidak akan saya lepaskan sendiri di dalam kolam, nyonya. Saya akan ikut masuk kedalam kolam. Tenang saja, nyonya. Mas Alex tidak akan kenapa-kenapa."


__ADS_2