Fake Marriage

Fake Marriage
Bab 72


__ADS_3

"Apa saya perlu ikut? Apa kau tidak bisa menyelesaikannya? mesti aku turun tangan?" tanya Michael.


"Mereka ingin berjumpa dengan anda sendiri, Tuan. Karena mereka tidak percaya lagi dengan orang yang mewakili Mereka," kata Handi.


"Ahg... !" Michael mengeram dengan tangan mengepal. Dia kesal Karena terpaksa meninggalkan Cinta.


"Percepat urusan dengan para penduduk disekitar proyek, biar kita tidak perlu lama-lama tinggal di sana," kata Michael.


"Baik Tuan," sahut Handi.


Ardian baru mendapatkan kabar dari orang yang disuruhnya untuk memeriksa kecelakaan yang menimpa Alex. Awalnya Ardian, papanya Michael tidak ingin menyelidiki. Tetapi setelah mendapatkan desakan dari Michael, Ardian akhirnya mau menyelidiki kecelakaan Alex.


"Siapa yang ingin mencelakai Alex ?" Ardian memijat keningnya yang tiba-tiba terasa nyeri.


"Apa ini ada hubungan dengan pekerjaan ? apa kecelakaan itu dilakukan oleh saingan bisnis?" otak Ardian terus bekerja memikirkannya apa yang baru dikatakan oleh orang suruhannya, Hilman.


Ardian bangkit dari duduknya dan bergegas keluar dari ruang kerjanya. Begitu pintu ruang kerjanya terbuka, di depan pintu ruang kerjanya sudah berdiri Melina yang ingin membuka pintu.


Keduanya terkejut, "Papa mau pergi?" tanya Melina.


"Iya ," sahut Ardian sembari melangkah melewati sang istri.


"Mau kemana, Pa? koq buru-buru sekali? ada masalah di kantor?" tanya Melina sambil melangkah mengikuti Ardian keluar menuju mobilnya terparkir.


"Nanti papa cerita, Zul... !" panggil Ardian pada sopirnya.


Zulham bergerak cepat dan langsung masuk kedalam mobilnya, tanpa menunggu perintah dari Ardian.


"Pa.... !" panggil Melina.


Ardian tidak menggubris panggilan Melina. Dia masuk dan mobil meninggalkan Melina yang terpaku memikirkan apa yang membuat sang suami pergi dengan tergesa-gesa.


"Ada apa ini? apa ada masalah di perusahaan?" Melina mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Michael.


"Ada apa, Ma?" jawab Michael begitu melihat panggilan dari nomor mamanya, Melina.


"Apa ada masalah di kantor?" tanya Melina.


"Masalah di kantor? kenapa Mama tanyakan itu? apa ada sesuatu?" tanya Michael balik pada sang Mama.


"Mama tanya padamu, Karena Papa pergi dari rumah dengan tergesa-gesa. Mama tanya, Papa tidak mengatakan apa-apa."


"Setahu Michael tidak ada, Ma. Michael ini lagi dalam perjalanan," kata Michael.


"Kenapa Papa pergi dengan tergesa-gesa ? betul tidak ada masalah di kantor?" tanya Melina yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Michael. Dia takut Michael menutupi sesuatu darinya.


"Tidak ada yang Michael tutup-tutupi, Ma !" sahut Michael.

__ADS_1


"Ya sudah, biar nanti Mama interogasi Papa. Hati-hati di jalan," kata Melina ingin mengakhiri percakapan melalui telepon selulernya.


"Ma... tunggu ! jangan tutup dulu teleponnya," ujar Michael.


"Ada apa?"


"Bagaimana Cinta, Ma?" tanya Michael.


"Tanya Cinta langsung, Mama belum menghubungi Cinta hari ini. Mama rencana akan mengunjungi Cinta sore nanti, tapi mungkin tidak jadi. Mama ingin menunggu Papa pulang. Penasaran mama apa yang membuat papa pergi dengan terburu-buru begitu."


"Cinta tidak mengangkat teleponku, Ma," kata Michael.


"Rasakan.... !" ejek Melina.


"Mama.... !" kesal Michael mendengar ledekan mamanya.


"Makanya... jangan sok-sokan ingin membalas dendam ! siapa yang bersalah tidak ada yang tahu, kan ?"


"Sudahlah... !" Michael memutuskan hubungan telepon.


"Yah... diputuskan ! makan tuh dendam!" ujar Melina.


Melina masuk kedalam dan menghampiri Alex yang sedang melaksanakan terapi.


"Bagaimana, Doni?" tanya Melina.


"Lihat nyonya," Doni menggeser tubuhnya yang menghalangi pandangan mata Melina pada sang putra.


"Terapinya tadi yang membukanya, nyonya. Dan Mas Alex tidak merasakan sakit lagi pada tulang lehernya, sehingga tidak dipasang kembali."


Akhirnya anak mama sudah bisa lepas dari penyangga leher. Tidak sakit kan?"


"Tidak," sahut Alex dengan suara yang lirih.


Melina seketika gembira, mendengar sepatah kata dari mulutnya. "Alex... Mama senang sekali, akhirnya Alex akan bisa bicarakan kembali." Melina memeluk Alex dan menepuk-nepuk punggung sang putra.


"Apa penyangga leher itu yang menghambat Alex untuk bicara?" tanya Melina.


"Tidak nyonya, itu hanya sedikit mempengaruhinya. Adanya trauma pada kepala akibat kecelakaan, terutama trauma kepala berat, dimana pasien mengalami gangguan kesadaran dan respon tubuh hilang, atau tampak benturan dan cedera pada kepala maka risiko komplikasi setelah trauma kepala berat dapat berupa gangguan berbicara ataupun seperti gangguan ingatan, gangguan pendengaran, kejang, atau gangguan mental. Dapat kita lihat, Mas Alex hanya mengalami gangguan bicara saja," kata Doni.


"Lex ini Mama, tahu kan?" tanya Melina yang takut Alex mengalami seperti apa yang dikatakan oleh Doni, hilang ingatan.


"Mama," ucap Alex.


"Alhamdulillah.... !" Melina semakin bertambah senang, Karena Alex mengenalinya.


"Hari ini kita akan kontrol ke rumah sakit," kata Melina.

__ADS_1


"Cinta ," ucap Alex menyebut nama Cinta.


"Cinta ?" kata Melina.


Alex sedikit mengangguk.


"Alex ingin bertemu Cinta? untuk apa? Alex ingatkan? Cinta itu siapanya Alex," kata Melina.


"Teman," jawab Alex.


"Alex tahu, Ma! Cinta teman Alex ," ucapnya dalam hati.


"Iya teman. Tidak boleh lebih dari teman," kata Melina.


Alex mengangguk.


***


Ardian tiba di kantor Hilman, "Saya ingin bertemu dengan Hilman," kata Ardian pada laki-laki yang duduk di meja resepsionis.


"Sudah ada buat janji, pak?"


"Katakan saja Ardian Aditya Subrata ingin menemuinya," kata Ardian.


"Tunggu sebentar, pak," ujar pria itu, lalu kemudian pria itu meraih gagang telepon dan menghubungi Hilman.


"Silakan, pak," ujar pria tersebut, seraya menunjuk ke arah pintu dekat meja pria itu duduk.


Sebelum Ardian membuka pintu, pintu sudah terbuka dari dalam dan Hilman sudah berdiri di depan pintu menyambut kedatangan Ardian.


"Selamat datang di kantor saya yang kecil ini Tuan," ucap Hilman.


"Cukup berbasa-basi " Ardian menyelonong masuk ke dalam ruang kerja Hilman.


Hilman menutup pintu dan mempersilakan Ardian untuk duduk.


"Katakan sekali lagi!" titah Ardian.


"Penyelidikan yang saya lakukan pada kendaraan yang digunakan oleh Tuan Alex, disabotase Tuan," kata Hilman.


"Itu sudah kau katakan tadi, Hilman ! sabotase ! siapa yang melakukannya?"


"Itu yang belum saya tahu Tuan. Kasus ini sudah lama, sudah hampir satu tahun. Seharusnya sejak kecelakaan terjadi, sudah dilakukan penyelidikan," kata Hilman.


Ardian terdiam. Dia menyadari kesalahannya, karena takut berimbas pada perusahaan, dia menutupi kecelakaan yang melibatkan Alex.


"Apa kau tidak bisa menemukan orang yang telah mencelakai putraku, Hilman?" tanya Ardian.

__ADS_1


Bukan saya tidak bisa mencari sang pelaku Tuan, tapi lama. Karena bukti-bukti pasti sudah ada yang hilang. Cctv di club itu pasti sudah mereka bersihkan, kita harus mencari dari cctv dari sekitar club berada."


"Kau temukan pelakunya, aku akan menghancurkan orang tersebut. Karena sudah berani bermain-main dengan Ardian Aditya Subrata.... !"


__ADS_2