Fake Marriage

Fake Marriage
bab 14


__ADS_3

happy reading guys.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Cinta berdiri di depan pintu ruang tamu. Dia terpaku melihat siapa yang duduk bersama dengan sang bunda. Andrew. Cinta melihat Andrew berada di ruang tamu berbincang-bincang dengan bundanya dan dua orang yang belum pernah dilihatnya.


Perbincangan keempat orang tersebut berhenti, saat melihat kehadiran Cinta.


"Cinta, kenapa berdiri di situ saja. Sini." panggil sang bunda yang melihat Cinta terpaku, dengan pandangan matanya menatap Andrew.


"Mirip, pria yang di Mall tadi sangat mirip dengannya," gumam Cinta dalam benaknya.


"Hei... !" bundanya, Rima berdiri dan melangkah mendekati Cinta yang masih bertahan didepan pintu menuju ruang tamu. Mata Cinta tidak bergeser dari menatap Andrew.


Andrew tahu, Cinta menatap lekat dirinya. Dia membalas tatapan Cinta dengan senyuman.


"Sini duduk," titah sang bunda dengan menarik tangan Cinta untuk duduk di sampingnya.


"Ini putri saya, Cinta Angraeni," ujar bundanya mengenalkan Cinta pada wanita dan pria yang datang bersama dengan Andrew.


"Sangat cantik, nama yang bagus. Pantesan putra saya ingin cepat-cepat menghalalkannya, karena takut keduluan orang," ujar Sadiah, istri Muklis. Pasangan suami istri yang di sewa Andrew untuk berpura-pura menjadi orangtuanya.


"Pintar anak kita cari calon istri ya Bu," ucap Pak Muklis pada sang istri.


"Iya Pak," sahut sang istri.


"Cinta, saya datang membawa kedua orangtuaku. Kami baru sampai tadi, Maaf. Aku tidak bisa menepati janji kembali cepat, karena ada kendala untuk kembali secepat mungkin," kata Andrew.


"Mas Andrew baru sampai hari ini? jadi yang aku temui di Mall tadi bukan Mas Andrew? benar-benar orang lain?" ucap Cinta dalam benaknya.


"Kami sibuk di kampung, maklumlah, kami ini petani. Sekarang ini lagi musim tanam padi, kami terpaksa mencari orang untuk menjaga padi yang sebentar lagi akan panen. Jika tidak dijaga, padi akan dipanen burung terlebih dahulu," kata Pak Muklis.


"Saya membawa orang tua untuk berkenalan, Bu," kata Andrew.


"Untuk berkenalan saja?" tanya bundanya Cinta dan terlihat senyuman menghiasi bibirnya.


"Tidak hanya berkenalan Bu, maksud kedatangan kami untuk berkenalan dan sekaligus melamar putri ibu. Tapi maaf, kami hanya datang berdua. Karena kami tidak memiliki sanak keluarga. Kami ini yatim-piatu Bu, kami hanya memiliki tetangga sebagai keluarga," kata Sadiah, istri Pak Muklis dengan mimik wajah yang terlihat sangat sedih.


"Mereka berdua sangat pandai berakting," ucap Andrew dengan bergumam dalam batinnya.

__ADS_1


"Saya juga yatim-piatu," ucap Rima menanggapi perkataan Sadiah, ibu pura-pura Andrew.


"Senasib kita Bu, dan kita akan menjadi besan," kata Pak Muklis.


"Menurut rencana Nak Andrew bagaimana?" tanya Rima, bundanya Cinta.


"Saya ingin menikah dalam-dalam Minggu ini, dan resepsi kita adakan bulan depan. Karena jadwal pekerjaan saya tidak bisa mengambil cuti dalam waktu dekat ini," kata Andrew.


"Dalam Minggu ini? bagaimana Cinta dengan permintaan Andrew mengenai pernikahan?" tanya bundanya Cinta.


"Mas, bisa kita bicara berdua?" Cinta mengajak Andrew untuk bicara berdua.


"Boleh," ucap Andrew mengiyakan permintaannya Cinta untuk berbicara berdua.


Keduanya berada di halaman belakang, hening. Belum ada yang membuka suara untuk memulai percakapan.


"Katakan," ucap Andrew membuka suaranya.


Cinta mengalihkan pandangannya matanya menatap Andrew. "Katakan apa?" tanya Cinta.


"Mengenai pernikahan kita, apa ada yang mau Cinta katakan?" tanya Andrew.


"Bukan masalah pernikahan, ada yang ingin Cinta tanyakan. Mas harus menjawab yang Cinta tanyakan dengan jujur."


"Apa betul Mas baru sampai hari ini?" tanya Cinta.


"Iya, kami sampaikan sekitar jam empat sore. Kan sudah dikatakan ibu tadi, karena kesibukan mencari orang untuk menjaga padi, terpaksa kepulangan diundur." Andrew menjelaskan kembali, kenapa kepulangannya dari kampung tertunda.


"Ada apa sebenarnya? Mas merasa Cinta berbeda hari ini, apa ada yang terjadi?" tanya Andrew.


Cinta menceritakan apa yang terjadi di Mall tadi. Andrew dengan serius mendengarkan cerita Cinta. Setelah Cinta selesai menceritakannya, Andrew tertawa .


"Kenapa Mas tertawa? apa ada yang lucu?" Cinta sedikit melototkan matanya menatap Andrew.


"Apa orang itu mirip sekali denganku?" tanya Andrew.


Cinta menganggukkan kepalanya.


"Sangat mirip, apa memang Mas itu tidak ada saudara kembar?" tanya Cinta.

__ADS_1


"Tidak ada saudara kembar, putra ibu dan bapak hanya satu. Yaitu Mas seorang," kata Andrew.


"Apa mungkin Mas tidak tahu? mungkin saja ibu dan bapak menyembunyikan saudara kembar Mas itu? mungkin saja Mas, pasti Mas itu tidak tahu Mas itu punya saudara kembar!" kata Cinta.


"Mas jamin seratus persen! seribu persen juga Mas berani jamin, Mas itu anak tunggal. Tidak ada saudara kembar."


"Mas itu anak petani, kuliah juga karena mendapatkan beasiswa. Menurut cerita Cinta tadi, orang itu seperti dari kalangan atas. Tidak mungkin Mas lah... !"


Cinta memicingkan matanya menatap wajah Andrew saat Andrew berkata. Dia mencari kebohongan dari raut wajah sang kekasih, tapi dia tidak melihat ada kebohongan. Andrew tidak gugup, bicaranya lugas .


"Percayalah sayang, Mas itu baru sampai sore tadi dari kampung. Dan Mas itu tidak punya saudara kembar. Kalau tidak percaya, tanya ibu dan bapak. Mereka pasti akan mengatakan yang sebenarnya, Mas itu anak tunggal dari bapak bernama Muklis dan ibu bernama Sadiah."


"Sekarang kita membahas pernikahan kita saja ya, masalah ada orang yang mirip dengan Mas itu tidak usah dipikirkan. Mungkin saja besok-besok Mas yang bertemu dengan orang yang mirip dengan Cinta," kata Andrew.


"Mas sudah yakin ingin menikah?" tanya Cinta.


"Yakinlah! bapak dan ibu sudah ingin memiliki cucu. Cinta lihat bapak dan ibu sudah sepuh, Mas tidak ingin ada penyesalan dikemudian hari," ucap Andrew dengan lancar.


Andrew tidak terlihat gugup dalam berkata-kata, dalam hatinya hanya ada dendam yang harus dilampiaskannya kepada Cinta yang belum tentu bersalah atas kecelakaan yang menimpa adiknya Alex. Hanya selembar gambar Alex dan Cinta yang cukup akrab, membuat Andrew menarik kesimpulan bahwasanya Cinta terlibat dalam kecelakaan yang menimpa sang adik.


Apa yang disangka Andrew tidak juga salah, karena saat kecelakaan belum terjadi. Alex menghubungi melalui sambungan telepon dan bicara dalam keadaan mabok kepada Andrew melalui sambungan telepon.


***Flashback***


"Alex! kau kenapa?" tanya Andrew begitu dia mendengar suara sang adik bicara tidak jelas melalui sambungan telepon.


"Cinta... ku... dia menolakku... ! dia tidak menyukaiku, Mas Andrew! adikmu ini telah dikecewakan Mas!"


Brak...


Lalu kemudian Andrew mendengar suara tabrakan.


"Alex... ! Alex!" panggilan Andrew tidak di jawab Alex, sambungan telepon terputus.


"Ada apa ini?"


Andrew memutuskan untuk menghubungi Papanya.


Satu jam kemudian dia baru mendapatkan kabar, bahwasanya sang adik mengalami kecelakaan tunggal. Mobil sang adik menabrak pembatas jalan.

__ADS_1


***Flashback end***


Next


__ADS_2