Fake Marriage

Fake Marriage
Bab 65


__ADS_3

Michael masuk kedalam kamar, setelah menyelesaikan makan malamnya.


Michael masuk kedalam kamar diikuti oleh mbok Asih dengan membawa makan malam untuk Cinta.


"Letakkan di situ mbok," kata Michael.


Mbok Asih meletakkan nampan yang dibawanya ke atas meja kecil di dekat sofa. "Permisi Den," ucap mbok Asih. Dan kemudian berlalu dari dalam kamar Michael.


Tok... tok..


Michael mengetuk pintu kamar mandi, "Cinta," panggil Michael.


Tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi, dan Michael mengulangi ketukannya. Tok... tok... "Cinta!" panggil Michael.


Ceklek...


Pintu terbuka dan Cinta keluar dengan memakai baju yang dibelikan oleh Michael, saat Michael membawanya ke peternakan, Michael menyempatkan diri untuk singgah di toko dan membeli baju untuknya dan Cinta.


"Pinggir... !" Cinta mendorong Michael yang menghalanginya keluar dari dalam kamar mandi.


"Makan. mbok Asih sudah membawakan makanan," kata Michael.


"Aku tidak lapar," sahut Cinta.


Michael menghela napas, "Harus sabar," ucap Michael pelan.


"Makan, jika sayang dengan bayi yang ada didalam kandungan itu," kata Michael.


Diingatkan dengan kandungnya, Cinta tidak membantah lagi. Dia duduk dan mengambil nampan dan kemudian mulai makan. Dengan lahap Cinta menyuapkan sendok-sendok makanan kedalam mulutnya. Sebenarnya, dia sangat lapar. Tapi karena kesal dengan Michael, Cinta berontak dengan selalu ingin membantah apa yang dikatakan oleh Michael. Suatu kepuasan dalam dirinya karena sudah membuat Michael kesal kepadanya.


Michael mengamati Cinta sembari mengutak-atik laptopnya. Walaupun dia tidak masuk kantor, dia selalu mendapatkan file-file pekerjaan kantor yang harus diperiksanya.


"Sudah!" Cinta mengangkat nampan dan meletakkannya ketempat semula, meja kecil disamping sofa.


Michael bangkit dan melangkah ke dekat ranjang dan mengambil bungkusan.


"Obat, makan. Bunda yang beri tadi," kata Michael.


Kening Cinta mengernyit melihat bungkusan obat yang diberikan oleh Michael. Dia melihat bungkusan itu pemberian rumah sakit tempat dia periksa dan sepengetahuannya obat itu sudah habis.


"Kenapa?" tanya Michael saat melihat ekspresi wajah Cinta melihat obat yang diberikannya.

__ADS_1


"Makan! jangan buang!" kata Michael tegas, karena dia mengira Cinta tidak ingin mengkonsumsi obat yang diberikannya.


"Obat itu dari bunda, bukan dariku. Jadi jangan takut aku akan meracunimu, aku juga belum segila itu ingin membuat anakku menderita," sambung Michael.


"Siapa yang ingin membuang obat? aku juga sayang dengan anakku ini. Aku yang sudah membawa-bawanya selama dua bulan ini," kata Cinta.


Cinta mengeluarkan obat dari bungkusan dan melihat vitamin yang biasa dia konsumsi.


"Bunda membeli vitamin ini? atau bunda bertemu dokter?"


"Besok kita kembali ke kota," kata Michael.


Wajah Cinta spontan berubah cerah. "Betul! jangan bohong!" kata Cinta.


"Serius, lagi pula aku ada kerjaan yang tidak bisa aku abaikan. Apa kau ingin tinggal di sini? jika ingin, aku juga tidak akan meninggalkanmu bersama dengan laki-laki yang bukan suamimu," kata Michael.


"Siapa yang mau tinggal di sini." Cinta melengos. Dan kemudian Cinta bangkit dari duduknya.


"Mau kemana ?" tanya Michael.


Cinta memutar badannya dan menghadap Michael, "Apa aku harus melapor jika ingin melakukan sesuatu ? ke kamar mandi, misalnya," kata Cinta.


"Hidupku ini milikku sendiri ! aku bukan tahanan, sehingga harus melapor setiap ingin melakukan sesuatu." selesai berkata, Cinta melangkahkan kakinya menuju kamar mandi sembari menggerutu. "Apa aku ini narapida ! sehingga harus dikurung dalam kamar seharian."


Cinta berlama-lama berada didalam kamar mandi, Karena dia malas untuk melihat wajah Michael. Dia merendam tubuhnya dengan air hangat dan aromaterapi yang ditemukannya didalam kamar mandi.


"Kenapa aku ingin marah terus setiap mendengar suaranya dan melihat wajahnya ? ada apa dengan aku ini? Aku masih sangat mencintainya, walaupun dia sudah sangat menyakitiku. Tapi kenapa aku tidak ingin dekat-dekat dengannya.... ?" Cinta melamun didalam kamar mandi.


Michael diluar kamar mandi gelisah, Karena Cinta sudah setengah jam berada didalam.


Michael bangkit dan melangkah kearah kamar mandi, ketika tangannya ingin mengetuk pintu kamar mandi. Pintu kamar mandi terbuka dan terlihat Cinta menatapnya.


"Aku mandi ! apa waktu mandiku juga dibatasi ?" tanya Cinta sembari melewati Michael.


"Kenapa lama sekali ? tadi kan sudah mandi, kenapa mandi lagi?' tanya Michael.


"Ada masalah, jika aku sering mandi ? jangan takut aku akan membuatmu membayar mahal air untuk aku mandi. Aku akan bayar air untuk aku mandi," kata Cinta.


Cinta keluar dari dalam kamar. Dia tidak perduli dengan pandangan mata Michael yang mengikuti langkah kaki.


"Masa bodo... mau marah, marah saja! mau mengomel terus, silakan," ujar Cinta sambil berjalan menuju kamar bundanya dan Ayana.

__ADS_1


***


Sandra berada di satu cafe, didepan duduk dia laki-laki yang memegang satu lembar gambar.


"Kalian ikuti laki-laki dalam gambar itu!" titah Sandra.


"Siapa ini Nona?"


"Wajahnya sangat familiar," ujar rekannya.


"Apa laki-laki ini ada hubungannya dengan target yang kecelakaan itu?"


"Tidak perlu kalian tahu, siapa laki-laki itu. Kalian cukup mengikutinya dan melaporkan setiap hal yang dilakukan dan siapa yang ditemuinya," kata Sandra.


"Kalian cari tahu, siapa wanita yang bersamanya!" perintah Sandra.


"Masalah bayaran, kalian jangan takut. Aku akan membayar kalian sesuai dengan apa telah kita janjikan. Dan jika sangat memuaskan hasil pekerjaan kalian, aku akan menambahkan bayaran kalian," kata Sandra.


Keduanya tersenyum, dalam pikirannya sudah menari-nari pundi-pundi uang yang akan mereka hasilkan. Karena mereka tahu, Sandra klien yang sangat royal.


Pertemuan Mereka berakhir. Sandra pulang dan menemui mamanya di dalam ruang kerjanya. Sang Mama yang seorang pengusaha di bidang kecantikan, sangat jarang melakukan interaksi dengan putrinya Sandra. Karena sama-sama sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


Mama Sandra mengangkat kepalanya, saat mendengar pintu ruang kerjanya dibuka dari luar.


"Mama sudah lama tidak bertemu dengan Tante Melina, kan? bagaimana jika besok kita ke rumah Tante Melina," kata Sandra.


"Dua Minggu lalu mama bertemu dengannya. Dia masih sibuk mengurus Alex," kata Andin, Mama Sandra.


"Besok Kita ke rumah Tante Melina, yok Ma."


"Besok sepertinya tidak bisa, kita kan besok mau ke rumah opa," kata Andin.


"Kerumahnya opa, untuk apa ma? kan Minggu kemarin kita sudah ke sana."


"Sandra! jangan bicara seperti itu di depan Papa ya," kata Andin.


"Kenapa? kan tidak salah dengan apa yang Sandra katakan. Di mana salahnya ? hampir setiap Minggu kita ke rumahnya opa. Yang di bahas masalah perusahaan. Bosan Ma! Sandra tidak berminat mendengar mereka membahas apa yang tidak Sandra minati."


"Sandra ! kau itu anak Papa dan Mama satu-satunya. kau itu akan mengambil alih perusahaan. Apa kau mau perusahaan itu dikuasai oleh para sepupumu? kau itu cucu pertama keluarga Brahman. Walaupun kau itu wanita, kau tetap harus menjabat sebagai CEO perusahaan Brahman."


"Perusahaan sudah mau bangkrut saja masih dibanggakan" gerutu Sandra.

__ADS_1


__ADS_2