
Happy reading guys 😘
......................
"Ayo.." Andrew membuka pintu mobil, dan meraih tangan Cinta untuk turun dari mobil.
"Rumah siapa mas? Rumah temannya mas ya..?" Tanya Cinta.
"Ini rumah kita sayang.." Andrew membawa Cinta masuk menuju teras rumah minimalis modern tersebut.
"Serius mas..?" tanya Cinta yang kurang yakin dengan perkataan Andrew.
"Serius lah... ! tidak mungkin mas berbohong.." Andrew mengeluarkan kunci dari dalam sakunya, dan kemudian membuka pintu.
"Maaf, mas baru bisa membeli rumah yang kecil. Nanti Mas akan belikan rumah yang besar dan mewah," kata Andrew.
"Rumah sebesar ini, Mas bilang kecil! aneh," kata Cinta.
Karena rumah yang dikatakan Andrew miliknya tersebut, cukup besar. Dengan halaman yang luas.
"Ayo masuk Nyonya Andrew.." Andrew membuka pintu lebar-lebar, dan mempersilahkan Cinta untuk masuk kedalam rumah.
Cinta masuk kedalam dengan langkah pelan, begitu berada di pintu. Langkahnya terhenti.
"Kenapa? ayo masuk," titah Andrew.
Cinta melangkahkan kakinya selangkah dan berhenti, lalu dia menolehkan kepalanya sedikit melihat Andrew yang berdiri di sisinya.
"Mas... itu.... !" Cinta kaget melihat kearah dinding, begitu dia berada diruang tamu. Dia langsung disambut dengan foto dirinya dan Andrew yang sangat besar tergantung didinding ruang tamu.
"Kenapa sayang ?" tangan Andrew melingkar diperut Cinta, dan dagunya diletakkannya di bahu Cinta.
"Kenapa foto kita sudah ada disini..?"
"Karena ini rumah masa depan kita sayang.." Andrew mencium pipi Cinta, kemudian ceruk leher Cinta juga menjadi korban bibir Andrew.
"Mas..!" Cinta mulai gelisah, karena tangan Andrew sudah mulai menggerayangi dadanya dan membuka satu kancing baju yang dipakai nya. Dan memilin-milin putik dadanya Cinta, membuat Cinta mengelinjak kegelian.
Sedangkan bibir Andrew terus berada dileher dan pundak Cinta yang sudah tidak tertutup baju. Karena Andrew sudah menurunkan baju Cinta sedikit.
"Mas... cukup!" Cinta meronta, dan melepaskan pelukan tangan Andrew diperutnya.
"Ah... sayang! ayolah... mas tidak akan melakukan yang belum sepatutnya kita lakukan. Hanya kecup-kecupan saja," ujar Andrew dan memainkan bibirnya dengan mengerucutkan bibirnya kearah Cinta.
"No! cukup." Cinta meninggalkan Andrew.
"Sayang.... !" Andrew merengek mengikuti Cinta dari belakang.
"No... ! sekali no... tetap no.... !" tolak Cinta.
"Yah... !" Andrew menurunkan bahu dan mengikuti Cinta dengan pelan.
"Mas beli rumah ini secara kredit," ujar Andrew.
"Mahal pastinya," kata Cinta.
"Lumayan, tapi ini punya perusahaan. Karyawan yang belum ada potongan harga."
"Apa desain rumah ini mas yang rancang?" tanya Cinta yang mengetahui bahwa Andrew bekerja di bidang desain.
"Iya. Bagaimana, bagus kan?"
__ADS_1
"Bagus, Mas," sahut Cinta.
"Mas sudah mempersiapkan semua untuk masa depan kita, bagaimana? tidak ada keraguan kan? mas tulus menikah dengan Cinta, apa Bunda sudah setuju?" tanya Andrew.
Cinta memutar badannya, "Maaf, Mas. Cinta belum cerita dengan bunda."
"Kapan mau cerita? Minggu depan Mas berencana akan membawa kedua orangtua Mas, tapi jangan menghina orangtuanya Mas ya," kata Andrew.
"Menghina? menghina orangtuanya Mas Andrew? apa mas sangka Cinta bisa menghina orangtua Mas Andrew...? ternyata mas tidak cukup mengenal Cinta," kata sembari meninggalkan Andrew.
"Cinta tidak perduli bagaimana orangtuanya mas! mau kaya, miskin! Yang penting bagi Cinta, mereka menerima Cinta apa adanya. Karena Cinta juga bukan orang high clash." lalu Cinta berlari meninggalkan Andrew.
"Cin... !" panggil Andrew yang tidak mengira Cinta akan marah dengan apa yang dikatakannya.
"Marah," gumam Andrew.
Cinta menyambar tasnya dan bergegas keluar dari dalam rumah.
Andrew juga bergerak cepat, dia mengunci pintu dengan cepat, karena Cinta sudah keluar dari pekarangan rumah.
Andrew masuk kedalam mobilnya dan mobil bergerak keluar. "Cepat sekali Cinta jalan jika lagi marah," ujar Andrew, saat melihat Cinta sudah berada di luar kompleks perumahan.
"Cinta! masuk mobil!" titah Andrew, begitu mobilnya beriringan dengan langkah kaki Cinta yang menyusuri bahu jalan.
Cinta tidak mengindahkan panggilan Andrew, matanya lurus menatap depan.
"Cinta!" panggil Andrew.
"Keras kepala! menarik," ujar Andrew dengan tersenyum.
Mobil Andrew berhenti.
"A-a..aw... !" teriak Cinta.
Karena tiba-tiba tubuhnya melayang.
"Mas!" pekik cinta.
"Diam!"
"Turunkan! aku bisa jalan sendiri!" teriak Cinta seraya meronta dalam gendongan Andrew.
"Tolong!" teriak Cinta dengan meminta tolong, tapi Andrew langsung berkata.
Dua pria yang terlihat seperti seorang tukang ojek ingin turun dari motornya, tapi urung dilakukan keduanya.
"Ini istri saya, lagi ngambek," ujar Andrew kepada orang yang ingin menolong Cinta.
"Bohong!"
"Sayang! tega tidak mengakui Mas sebagai suami. Apa sayang ingin menjadi istri yang dilaknat oleh Tuhan?" kata Andrew.
"Istri... istri." dumel Cinta.
"Nyonya, jangan marah-marah! suami anda sangat mencintai anda itu," ujar pria yang duduk di atas sepeda motornya.
"Mas! turunkan!" Cinta mendelikkan matanya.
"Tidak!" Andrew memasukkan Cinta kedalam mobil.
"Duduk! jangan keluar!" titah Andrew, karena dia melihat gelagat Cinta yang ingin keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
Andrew mengatupkan kedua tangannya kepada dua pria yang mau menolong Cinta tadi, tapi tidak jadi. Karena Andrew mengakui Cinta sebagai istrinya yang sedang marah padanya.
Andrew masuk kedalam mobil, dan mulai menghidupkan mesin mobilnya.
"Pakai seat belt," titah Andrew.
Cinta diam, tidak menuruti perintah Andrew. Dia memalingkan wajahnya.
"Pakai, atau mau Mas cium di sini?" ancam Andrew.
Cinta memutar kepalanya melihat Andrew, matanya melotot, sedangkan tangannya menarik seat belt melingkar diperutnya.
"Nurut kan, bagus. Gadis baik," ujar Andrew sambil mengacak-acak rambut Cinta.
Cinta menepiskan tangan Andrew.
"Marah jangan lama-lama, nanti keriputnya bertambah," kata Andrew.
"Biar!" ketus Cinta menjawab Andrew.
"Cinta, ibu dan ayahku bukan orang kota. Mereka hanya seorang petani, aku tidak ingin kau nanti kecewa dengan keluargaku," kata Andrew menceritakan sosok kedua orangtuanya.
"Apa salahnya mereka petani? apa petani atau orang dari desa itu suatu aib? tidak kan? mas itu jangan langsung menjudge Cinta akan memandang rendah orangtuanya Mas!" ucap Cinta dengan nada suara yang sedikit tinggi.
"Cinta bukan orang seperti itu," sambung Cinta lagi.
"Maaf," ucap Andrew.
Cinta diam. Dia memalingkan wajahnya.
"Mas minta maaf, maaf ya! Dosa lo... jika orang minta maaf, tapi tidak di maafkan," kata Andrew.
"Maaf.... !" jari telunjuk Andrew mencolek pipi Cinta.
"Ih... !" Cinta mengusap pipinya yang di colek Andrew.
"Jangan marah lagi ya, oke... damai, please.... !"
"Menyebalkan!"
"Hei... siapa yang menyebalkan?" tanya Andrew.
"Ada tuh... orang tua." Cinta memonyongkan bibirnya menunjuk kearah Andrew.
"Orang tua? siapa? mas?" Andrew menunjuk dirinya.
"Siapa yang sadar diri sajalah," sahut Cinta.
"Baiklah, Mas memang tua. Tapi, goyangan Mas itu bisa membuat wanita ketagihan," ucap Andrew.
"Percaya diri sekali Anda, Tuan!" kata Cinta.
"Percaya diri itu harus! mau coba? ayo kita balik," ucap Andrew menantang Cinta.
"Jangan macam-macam!" ancam Cinta.
"Takutnya!" balas Andrew seraya tertawa kecil.
Next....
Jangan lupa untuk selalu menekan tombol like dan subscribe dan komentar. Terima kasih atas kunjungan di lapak Cinta dan Andrew 🙏
__ADS_1