Fake Marriage

Fake Marriage
Bab 13


__ADS_3

Happy reading guys 😘


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat berbeda, tetapi diwaktu yang sama. Michael duduk didalam ruang kerjanya, dia menunggu kedatangan asistennya Handi Nugraha.


Tok... tok..


Pintu terbuka, Handi masuk dan diikuti seorang pria paruh baya yang berpenampilan seperti orang yang tinggal di pedesaan, sangat sederhana.


"Dia?" tanya Michael pada asistennya.


"Orang yang akan berperan sebagai orangtua anda nantinya, Tuan," kata Handi.


Michael berdiri dari tempatnya duduk, langkahnya kakinya membawanya mendekati pria yang berdiri di samping Handi.


Pria tua tersebut menundukkan kepalanya, saat mata Michael dengan tajam menatapnya.


"Berapa usia bapak?" tanya Michael.


"Enam puluh tahun, Tuan," jawab pria tersebut.


"Profesi bapak sehari-harinya?" tanya Michael kembali.


"Saya hanya sebagai petugas keamanan di sekolah dasar, Tuan."


"Nama?" tanya Michael.


"Muklis, Tuan."


"Muklis saja? tidak ada nama belakangnya?" tanya Michael.


"Muklis tok Tuan, tidak ada embel-embel nama belakang. Nama orangtua saya, Muklas bapak saya. Sedangkan ibu, Ani," kata Pak Muklis menyebutkan nama orangtuanya.


"Istri, siapa namanya?" tanya Michael.


"Sadiah, Tuan," jawab pak Muklis.


"Apa bapak sudah tahu, apa yang harus bapak lakukan?" tanya Michael.


"Sedikit, Tuan," sahut Pak Muklis.


Michael menceritakan apa yang harus dilakukan oleh Pak Muklis.


"Mulai sekarang, jangan panggil saya Tuan," kata Michael.


"Saya panggil apa Tuan?" bingung Pak Muklis dengan permintaan Michael.


"Pak Muklis kan berperan sebagai orangtua Tuan Michael, bapak jangan panggil Tuan pada Tuan Michael, nanti ketahuan bahwa bapak itu bukan orangtuanya Tuan Michael," kata Handi.


"Iya juga, lalu saya harus manggil apa? koq manggil nama, mulut saya tidak nyaman Tuan," kata Pak Muklis.


"Pak Nak saja, bagaimana?" usul Handi.


"Nak?" ujar Pak Muklis.


"Iya, Nak Michael. Lebih pantas," kata Handi.


"Panggil nama saja, saya tidak keberatan. Asal jangan panggil Tuan. Tidak ada orang tua yang memanggil anaknya dengan panggilan Tuan," kata Michael.

__ADS_1


"Nak Michael... Nak Michael," ujar Pak Muklis dua kali menyebut Michael dengan panggilan Nak Michael, agar mulutnya terbiasa memanggil Michael "Nak".


"Jam tujuh kita berangkat ke rumah gadis itu," kata Michael.


"Hari ini, Tuan? heh... maksudnya Nak Michael?" Pak Muklis salah memanggil Michael dan segera meralat panggilannya.


"Biasakan memanggil saya, Nak Michael Pak! jangan sampai dia curiga dengan bapak," kata Michael.


"Siap Nak Michael, saya akan hati-hati," kata Pak Muklis.


"Istri bapak harus bapak katakan, agar hati-hati," kata Michael kembali.


"Apa jam tujuh, hari ini Nak Michael?" tanya Pak Muklis yang pertanyaannya tadi belum dijawab oleh Michael.


"Iya, Pak. Handi, kau urus semua. Jangan sampai ada kesalahan." perintah Michael pada Handi, sang asisten.


***


Teriakkan Melina dari dalam kamar Alex membuat orang yang mendengar seketika lari menuju kamar Alex yang terbuka pintunya lebar.


Tiba terlebih dahulu adalah sang perawat, lalu Ardian Aditya Subrata. Papa Michael dan Alex.


"Ada apa?" tanya Ardian begitu tiba di depan pintu kamar sang putra yang masih terbaring koma.


Dia melangkah secara perlahan memasuki kamar sang putra.


"Pa! mata Alex terbuka! mata Alex terbuka Pa.... !" beritahu Melina, kenapa dia berteriak.


"Alex sadar?" tanya Ardian.


"Mama tidak tahu, masih di periksa Doni," kata Melina.


Keduanya berdiri di sisi ranjang, keduanya mengamati apa yang dilakukan oleh Doni.


"Kita menunggu pemeriksaan dari dokter dulu, apa saat matanya terbuka tadi, dia melihat kearah ibu?" tanya Doni pada Melina, Mama Alex.


"Saya kan duduk di sini, di samping Alex. Tidak sepertinya, pandangan matanya ke depan," kata Melina.


"Apa itu gerak refleks?" tanya Ardian.


"Mungkin saja kondisi pasien menuju arah kesadaran, Pak. Kita doakan saja," kata Doni.


Namun, dapat juga ditemui pada pasien koma yang tidak merespon dengan rangsnagan nyeri atau panggilan dan mata pasien terbuka. Pada kondisi seperti ini dikenal dengan vegetative state. Pada saat kelopak mata pasien tidak dapat tertutup secara secara spontan namun pasien tidak dapat merespon kondisi luar maka perawatan pada mata juga perlu dilakukan, sehingga bila kondisi ini terjadi dan tidak dilakukan perawatan dengan baik dapat menyebabkan komplikasi mata selama perawatan. Selanjutnya kelopak mata pasien ini akan dirawat oleh petugas medis dengan cara melekatkan perekat antara kelopak mata atas dan bawah untuk mencegah resiko komplikasi akibat kelopak mata terbuka.


"Pasien koma, bisa juga mengalami beberapa komplikasi. kelopak mata terbuka bisa di sebabkan mata kering, iritasi mata, infeksi pada mata, dan juga peradangan pada mata," kata Doni.


"Apa Alex mengalami itu, komplikasi pada matanya?" tanya Melina.


"Tidak Bu, saya selama ini merawat mata putra ibu dengan baik. Tidak mungkin terjadi komplikasi pada matanya," kata Doni.


"Jadi bisa besar kemungkinan kondisi Alex berangsur membaik?" tanya Ardian.


"Semoga, Pak," jawab Doni.


Melina mendekati sisi ranjang di dekat kepala sang putra, dan meletakkan bokongnya.


"Alex, putra Mama. Buka matanya sayang," ujar Melina.


Ardian mengikuti apa yang dilakukan oleh sang istri. Dia membungkuk tubuhnya dan mengelus rambut Alex yang terlihat sudah sangat panjang.

__ADS_1


"Boy, bangun. Papa tidak ada kawan untuk menyalurkan hobi mancing, sedangkan Michael tidak mau di ajak. Bangun boy," ucap Ardian.


Keduanya saling bergantian mengajak Alex untuk berbicara, sampai dokter datang memeriksakan kondisi Alex. Dan kabar gembira yang disampaikan oleh dokter setelah selesai memeriksa kondisi Alex.


"Kondisi Alex mengalami peningkatan Pak Ardian," kata dokter Romel.


"Betulkah Dok? anda mengatakan yang sebenarnya?" tanya Melina. Raut wajahnya terlihat gembira, tapi dia bertanya untuk memastikan apa yang dikatakan oleh dokter benar-benar nyata, bukan khayalannya saja.


"Betul, Bu. Saya mengatakan yang sebenarnya, lihat grafik detak jantung Alex sudah sangat bagus."


Mata Melina dan Ardian melihat kearah layar monitor yang ada di samping tempat tidur.


"Jika dokter mengatakan itu, saya percaya," kata Ardian akhirnya.


"Semoga seterusnya begini, tidak terjadi penurunan. Bawa terus berbincang, agar otak Alex merespon apa yang didengarnya," kata dokter Romel.


"Pa, akhirnya Alex kita akan sadar," ujar Melina seraya menatap wajah sang suami.


"Iya, Ma. Alex kita akan sembuh, Ma," balas Ardian.


"Terima kasih Tuhan, doa-doa kami didengarkan," ucap Ardian dalam benaknya. Hatinya sedikit lega, walaupun hanya sedikit kemajuan kondisi Alex. Ardian tetap senang. Begitu juga dengan Melina, tidak sia-sia dia selalu berada di sisi sang putra, membawanya berbincang-bincang, walaupun tidak ada sambutan dengan apa yang dibicarakannya dengan sang putra.


Dokter Romel memberikan instruksi kepada Doni, yang menjaga Alex. Apa yang harus dilakukan, jika Alex tersadar.


...----------------...


Ceklek...


Pintu kamar Cinta terbuka dari luar, setelah ketukan dan panggilan yang di lakukan oleh Bundanya tidak di jawab oleh Cinta.


"Tidur....," gumam bundanya, setelah pintu terbuka dan melihat Cinta meringkuk di atas ranjang dalam keadaan tidur pulas.


"Pantesan tidak dengar suaranya, ternyata tidur," ujar sang bunda.


Rima, bundanya melangkah mendekati ranjang dan kemudian menepuk lengan Cinta untuk membangunkannya.


"Cinta... Cinta! bangun, sudah jam setengah delapan ini. Tidur dari sore, belum mandi lagi ini. Anak gadis pemalas begini, siapa yang mau jadikan istri nanti," kata Bundanya sambil menepuk pundak Cinta yang memunggunginya.


"Bangun, Cinta... !"


"Malas bunda, ngantuk ."


"Bangun! mandi sana, ada tamu itu," kata Bundanya.


Mendengar perkataan sang bunda.


"Tamu?" Cinta membuka matanya dan mengerakkan sedikit kepalanya menoleh kearah sang bunda yang berdiri di sisi ranjang.


"Iya, cepat mandi."


"Siapa Bunda?" tanya Cinta.


"Nggak kenal bunda, dia cari Cinta, bukan Bunda. Cepetan bangun, mandi! jangan sampai tamunya pulang," kata Bundanya.


"Cepat!" perintah sang bunda, sebelum meninggalkan kamar Cinta.


Sepeninggal bundanya, Cinta bangkit dari ranjang. Dia duduk di sisi ranjang.


"Siapa tamunya? Ayana? tidak mungkin dia datang menunggu di luar, biasanya dia main nyelonong masuk kedalam kamar," gumam Cinta.

__ADS_1


Dia bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamar mandi. Tidak membutuhkan waktu lama, Cinta sudah terlihat segar. Sapuan bedak tipis di wajahnya membuat Cinta semakin fresh. Tidak terlihat wajah bantal, seperti saat dia baru bangun tidur tadi.


Next


__ADS_2