
Rima masuk ke toko dan langsung mendudukkan bokongnya ke kursi.
"Minum Tante." Santi yang melihat Rima masuk dengan langkah kaki yang gontai, bergegas mengambil minuman hangat dan menambah sedikit gula dan memberikannya kepada Rima.
Rima mendongak, melihat Santi yang berdiri didepannya dengan tangan memegang gelas.
Rima mengambil gelas yang disodorkan Santi. "Terima kasih," ucap Rima.
"Cinta tidak keluar dari kamar?"
"Tidak Tante, Santi antar cemilan tadi. Mbak Cinta minta dibeliin mie ayam ."
"Cinta ngidam?" spontan keluar dari mulut Rima.
"Ngidam? mbak Cinta hamil?"
"Iya ... Santi, jangan ada yang tahu tentang kehamilan Cinta. Kau sudah tahu cerita mengenai suami Cinta kan ? dia dikabarkan hilang, tapi belum pasti kebenarannya. Mungkin saja suaminya hilang, karena di culik! jangan sampai Cinta akan menjadi korban selanjutnya ," kata Rima.
Rima tidak menceritakan kisah sebenarnya, biarlah kisah Cinta hanya segelintir orang yang tahu .
"Baik Tante. Duh... senangnya ! sebentar lagi kita bisa mendengar suara bayi dan mengendong bayi Tante ," kata Santi.
"Ingat santi, jangan sampai keceplosan." ingatkan Rima.
"Iya Tan. Tapi tante, apa tidak berbahaya mbak Cinta tinggal di sini ? Tidak mungkin kan, mbak cinta tidak keluar. Tidak bagus untuk kandungan berada ditempat yang pengap di belakang."
"Hanya sementara, sampai mendapatkan rumah."
"Kenapa tidak tinggal di hotel sementara ini, Tante? mbak Cinta sedang hamil, tidak bagus tinggal di tempat sempit di belakang" Santi kembali mengungkit tempat tinggal yang tidak layak seperti yang dijadikan tempat tinggal saat sekarang ini.
"Betul juga yang kau katakan, Santi. Dokter tidak mengizinkan Cinta untuk turun dari ranjang dalam seminggu kedepannya. Cinta pasti suntuk berada di dalam ruangan belakang, walaupun tempat itu bersih, tapi tidak ada jendela untuk tempat udara keluar masuk."
"Itu maksud Santi tadi, Tante. Kasihan mbak Cinta hanya bisa menatap dinding."
"Kalau begitu, Santi tolong jaga toko dan Cinta ya. Biar Tante pergi keluar untuk cari hotel yang dekat dengan tempat sini," kata Rima.
Rima bergegas keluar dari toko. Di depan toko Rima melihat mobil Ayana berhenti di depan toko.
"Tante mau kemana?" Ayana membuka jendela kaca mobil.
Rima mendekati mobil dan berbicara dengan Ayana, kemana dia mau pergi.
'Tidak usah ke hotel, Tante. Apartemen yang Ayana bilang mau di sewakan, atau Tante mau beli juga bisa. Kita kesana saja."
Setelah berpikir, akhirnya Rima ikut usul Ayana untuk melihat apartemen yang dikatakannya.
"Bagaimana Tante?'
"Bagus, harganya juga terjangkau. Menurut Ayana, apa Tante beli atau sewa saja?"
"Kalau Ayana bilang, beli saja Tante. Jika tidak ditempati, bisa di sewakan. Bisa jadi investasi kan Tante, harga properti itu semakin naik kedepannya dan kita tidak akan rugi. Di lihat dari lokasi apartemen ini yang dekat dengan universitas, pasti akan semakin berkembang."
"Bagaimana Bu? apa ibu berminat dengan apartemen ini? saya sebenarnya merasa sayang untuk menjualnya. Tapi terpaksa saya jual, jika ibu mau beli," kata wanita pemilik apartemen.
"Saya mau jual bukan karena ada masalah dengan apartemen ini, saya sangat suka dengan apartemen ini. Dari sini bisa dilihat danau buatan, view sangat menyejukkan mata. Tapi karena saya akan menikah dan akan ikut suami pindah, tidak mungkin apartemen ini saya pertahankan."
Rima melihat Ayana, dan Ayana menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, saya beli. Tapi apa tidak bisa di turunkan sedikit harganya?" Rima menawar harga apartemen tersebut.
"Sebentar Bu," ujar wanita tersebut. Lalu wanita tersebut menjauh dan bicara melalui telepon dengan seseorang. Setelah selesai bicara dengan orang melalui sambungan telepon, lalu kembali menemui Rima dan Ayana.
"Ay, apa dia tidak ingin menurunkan sedikit harga apartemennya?"
"Ay juga tidak tahu, tan. Sepertinya dia mau turun tante, karena dia butuh cepat terjual apartemennya"
__ADS_1
"Semoga ya. Tante sudah suka dengan apartemen ini. Tante lihat tadi ada rumah sakit di dekat sini"
"Ada rumah sakit, Tante. Rumah sakitnya cukup besar," sahut Ayana.
Pemilik apartemen kembali. "Hanya bisa sedikit turun ya, Bu," ucapnya.
"Saya juga tidak minta banyak turun, Bu," kata Rima.
"Jangan panggil ibu, Bu. Saya masih dua puluh lima tahun. Panggil saja Yuni, Bu."
"Yuni, saya Rima. Panggil ibu saja,"
"Saya Ayana, mbak. Saya tinggal di apartemen yang di ujung," kata Ayana mengenalkan diri.
"Saya pernah lihat beberapa kali, tapi kita belum kenalan. Saya jarang tinggal di sini, karena pekerjaan saya yang mengharuskan saya jarang tinggal di rumah," kata Yuni.
"Yuni kerja apa? kalau boleh tahu?" tanya Rima.
"Saya bekerja di atas Bu," kata Yuni.
"Di atas? kerja apa itu?" Rima tidak mengerti maksud perkataan Yuni.
"Mbak Yuni pramugari?' tebak Ayana.
"Betul seratus persen," jawab Yuni.
"Pramugari, kerja di atas itu, kerja dalam pesawat," kata Rima.
Yuni menganggukkan kepalanya.
Setelah menemukan kesepakatan pada kedua pihak, keesokan harinya dilakukan pembayaran dan menyelesaikan surat-surat pembelian. Akhirnya apartemen sudah menjadi milik Cinta.
"Cinta, istirahat saja. Biar semua ini aku dan Santi yang mengerjakannya ," kata Ayana. Karena Cinta ingin ikut membantu menyusun barang-barang pindahan.
"Mbak Cinta istirahat saja, jadi mandor. Biar urusan ini serahkan pada Santi saja. Mbak tinggal perintah, ini mau diletakkan di mana?"
"Letakkan di meja samping televisi itu saja," kata Cinta.
"Sini mbak?"
"Iya, bagus kan?" tanya Cinta.
Santi memundurkan tubuhnya dan melihat gambar yang diletakkannya tadi.
"Bagus, mbak."
"Kalau bagus, biar di situ saja."
"Mbak lapar?" tanya Santi, karena melihat Cinta mengelus perutnya.
"Koq mbak lapar terus ya?" kata Cinta.
"Baguslah, mbak. Biar dedek bayinya sehat," kata Santi.
"Siapa yang lapar!" seru Ayana seraya membawa dua bungkusan dari luar apartemen.
"Kau dari mana, Ay?"
"Nunggu ini," ujar Ayana dengan menunjukkan dua bungkusan yang ditenteng nya.
"Apa itu ?" tanya Cinta.
"Ada nasi goreng, dimsum dan nasi campur. Terserah mau makan yang mana," kata Ayana.
"Nasi campur! aku mau nasi campur. Sepertinya kau tahu aku ingin makan nasi campur, Ay," kata Cinta.
__ADS_1
"Aku itu ada bakat jadi cenayang, ini nasi untukmu Cinta. Lauk rendang usus dan telor balado, sesuai dengan apa yang selalu kau makan."
"Terima kasih," kata Cinta.
Cinta dengan lahapnya memakan nasi campur. Ayana melihatnya ikut senang, melihat Cinta lahap makan nasi campur yang dibelinya.
"Dimsumnya enak, mbak Ay. Beli di mana ?" tanya Santi.
"Depan apartemen ini ada rumah makan, di sana makanan sangat enak semua. Apalagi satenya, bisa membuat lidah kita bergoyang," kata Ayana.
"Sate ! aku mau," kata Cinta.
Ayana spontan menatap temannya tersebut.
"Kau ngidam, Cinta?" tanya Ayana.
"Ngidam? tidak! apa itu ngidam?" tanya balik Cinta.
"Ngidam itu ingin sesuatu, jika tidak terpenuhi akan sangat sedih, mbak," jawab Santi.
"Kalau begitu, aku tidak ngidam. Karena aku tidak sedih, jika apa yang aku inginkan tidak terwujud. Semalam aku ingin makan rendang ayam, tapi tidak ada. Aku tidak apa-apa."
"Cinta, jika ingin makan apapun, bilangan padaku. Biar aku Carikan," kata Ayana.
"Iya," sahut Cinta.
Tapi dalam hatinya. "Aku ingin merasakan pelukan Mas Andrew, apa kau bisa memenuhi keinginanku itu, Ay?"
"Kenapa berhenti makannya, Cinta? apa ingin yang lain? nasi goreng mau?" tanya Ayana.
"Tidak, cukup." tolak Cinta, karena merasa perutnya tidak bisa menampung makanan lagi. Nasi campur yang di makannya hanya tersisa sayurnya saja.
**
Rima bersama Dion menghantarkan pesanan kue ke salah satu hotel.
"Dion, setelah ini selesai, kau kembali ke toko. Tidak apa-apa kan, kau berdua dengan Mira yang menjaga toko," kata Rima.
"Tidak apa-apa, Bu," sahut Dion.
Tiba-tiba, mata Rima melihat bayangan seseorang yang ingin di mintanya penjelasan.
"Dion, kau pulanglah," kata Rima pada Dion.
'Ibu tidak mau saya antar pulang?" tanya Dion.
"Tidak usah, dekat dari sini."
Begitu Dion pergi, Rima bergegas mengejar orang yang ingin dicarinya.
Begitu dia menemukan laki-laki itu, dengan satu tarikan. Tubuh laki-laki itu memutar.
'"Kau laki-laki Bi-biadab...!!" maki Rima dengan suara yang keras. Dan tangan Rima melayang menerpa pipi pria yang cukup kaget melihat Rima.
Plak.k...
"Hei... kenapa anda memukul putra saya, Bu..!!" laki-laki yang bersama dengan orang yang ditampar Rima protes dengan apa yang dilakukan oleh Rima.
"Anak? laki-laki ini anak anda?"
Rima menggelengkan kepalanya menatap wajah laki-laki yang baru saja menjadi korban jemari tangannya.
"Siapa kau sebenarnya? ini ayahmu? yang kau bawa sebagai orangtuamu itu siapa?"
"Maaf, Bu. Sepertinya anda salah orang," laki-laki datang dengan tergesa melindungi pria yang dipukul Rima.
__ADS_1
"Salah orang? kau kira aku sudah pikun? dia Andrew, laki-laki yang telah menikahi putri saya dengan pernikahan palsu...!!'