
Happy reading guys š.
Cinta tidak menyerah mendapatkan penolakan dari Andrew. Dia tetap merasa Andrew pura-pura tidak mengenalinya.
"Mas pura-pura tidak mengenal Cinta kan? Mas pasti ingin mengeprak Cinta? Iya kan, ngaku Mas!"
Cinta meraih tangan Andrew, tapi Andrew menepiskan tangan Cinta.
"Cinta!" ucap Ayana seraya menarik Cinta yang hampir jatuh didorong pria yang disangkakan Cinta sebagai Andrew, sang kekasih.
"Mas..!" Cinta ingin memegang tangan Andrew, tetapi entah datang dari mana dua orang berpakaian jas hitam dan berkacamata hitam. Menghalangi Cinta dan mendorong tubuh Cinta dari dekat Andrew.
"Nona, jaga tindakan anda..!" bentak orang yang memiliki kemiripan dengan Andrew hampir seratus persen. Hanya cara mereka berpenampilan yang membedakan keduanya.
"Handi, kamu urus gadis ini. kasih dia uang. Gadis seperti ini hanya ingin uang dengan berpura-pura mengenal orang kaya " setelah berkata yang cukup menyakiti hati dan perasaan Cinta, orang yang mirip Andrew meninggalkan Cinta yang terpaku ditempatnya berdiri.
"Nona, ini ada cek. Dan jangan ganggu lagi Tuan Michael." orang yang bernama Handi memberikan selembar cek ketangan Cinta dan kemudian pergi meninggalkan Cinta dan Ayana yang diam terpaku menatap punggung orang yang mirip dengan Andrew.
Cinta termangu memandang pria yang mirip Andrew pergi meninggalkannya. Setelah tersadar, Cinta melihat cek yang diberikan orang tersebut.
"Gila...! sombong sekali orang itu. Aku rasa, orang ituĀ bukan Mas Andrew, hanya rupanya saja yang mirip.." kata Ayana.
"Apa benar dia bukan Mas Andrew..?" tanya Cinta pada Ayana.
"Jelas bukanlah... ! lihat saja cara berpakaiannya. Bajunya tadi saja barang branded, dan berkelas. Sedangkan Mas Andrew seperti yang kau katakan hanya orang biasa, dan juga hanya karyawan biasa. Sedangkan pria yang tadi pasti seorang boss besar," kata Ayana.
"Tetapi wajah dan suaranya mirip Mas Andrew," kata Cinta, yang merasa bahwa orang itu adalah Andrew. Dia tidak mungkin tidak mengenal sang kekasih, yang selama empat bulan telah menjadi kekasihnya.
"Atau mungkin saja, dia sedang dalam misi penyamaran. Sehingga dia berbohong, agar penyamarannya tidak terbongkar," kata Ayana.
"Dia bekerja di kantor arsitek, bukan Intel. Kau kebanyakan baca cerita detektif," kata Cinta.
"Mungkin saja dia Intel dan pekerjaan sebagai arsitek itu hanya sebagai kedok saja ," kata Ayana.
"Hah... ! maksudmu Mas Andrew itu aparat?" Cinta terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Ayana.
"Mungkin," jawab Ayana.
"Mas Andrew itu tidak ada tampilan sebagai seorang aparat," kata Cinta.
__ADS_1
"Auh... gelap ah... !" Ayana nyerah, otaknya sudah tidak bisa diajak untuk berpikir mengenai masalah Cinta.
"Sudah dua hari mas Andrew tidak menghubungiku. Katanya, dia hanya satu hari dua kampung. Dan orang tadi siapa? Mas Andrew? koq berpakaian seperti seperti pemimpin, dan ada orang yang menjaganya?"
"Nanti jika kau bertemu dengan Mas Andrew . Kau tanyakan tentang orangĀ yang kita jumpa tadi, Cin. Mungkin saja dia punya saudara kembar," kata Ayana.
"Berapa nominal yang diberikannya?" Ayana mengambil check yang dipegang Cinta. Ayana sontak terperangah, begitu melihat nominal yang tertera di check tersebut.
"Dua puluh juta! apa check ini ada isinya, jangan-jangan check kosong," kata Ayana.
"Apa yang harus aku lakukan dengan check ini?"
"Rezeki jangan ditolak, tabung saja. Semoga saja check itu ada isinya," kata Ayana.
"Ayo Cinta, kita pergi. Orang-orang memperhatikan kita," ujar Ayana yang tersadar, bahwa mereka telah menjadi tatapan mata pengunjung Mall.
Cinta melihat sekitarnya, dan baru tersadar bahwa ada mata dan bibir yang menatap dirinya dengan cibiran. Sepertinya mereka membicarakan bahwa dirinya ingin menjebak pria-pria kaya.
"Ayo.." Ayana meraih tangan Cinta masuk kedalam restoran, karena barang-barang bawaan mereka tinggal didalam restoran.
Cinta hanya diam mengikuti Ayana masuk ke dalam restoran, dalam benaknya terus berseliweran pertanyaan yang ingin ditanyakan kepada Andrew.
Cinta dan Ayana tidak pulang, walaupun rencana menonton mereka batal. Ayana mengajak Cinta untuk duduk di taman yang berada didekat Mall yang mereka kunjungi.
Hampir lima menit hanya kebisuan yang ada diantara mereka. Pandangan mata keduanya menatap danau kecil di depan mereka duduk.
Cinta memikirkan kejadian di dalam Mall, sedangkan Ayana juga sama.
"Cin, jangan pikirkan apa-apa sekarang dulu. Nanti kau tanyakan pada Masmu itu, mungkin saja orang itu bukan dia," kata Ayana.
"Orang itu mirip sekali dengan Mas Andrew. Tapi kenapa dia tidak mengaku, jika dia Mas Andrew?" Cinta benar-benar bingung dengan apa yang dihadapinya saat ini.
"Ada mitos yang mengatakan jika tiap manusia di bumi setidaknya memiliki satu hingga tujuh kembaran tidak sedarah. Mitos ini banyak dipercayai orang kebenarannya," kata Ayana.
"Bukan suatu hal aneh ketika kita bertemu orang lain yang mirip dengan orang yang kita kenal. Hal ini sering terjadi, dan setidaknya hampir pernah dialami setiap orang. Kita salah mengenali orang asing, hanya karena fisik atau sekilas wajahnya mirip seseorang yang dikenal. Mungkin saja orang itu kembaran Mas Andrew." Ayana menambahkan perkataannya.
Cinta diam, dia mengutak-atik ponselnya dan menghubungi sang kekasih. Nihil, usahanya untuk mendengar suara Andrew melalui sambungan telepon seluler tidak terjadi.
"Kenapa handphone Mas Andrew tidak dapat dihubungi," gumam Cinta, sembari terus menghubungi nomor Andrew. Tapi hanya kekecewaan yang didapatnya.
__ADS_1
"Mungkin dia masih berada di kampungnya, dan signal sangat buruk ditempatnya berada sekarang ini," ucap Ayana untuk menenangkan Cinta yang bingung.
"Semoga seperti apa yang kau katakan, Mas Andrew masih berada di kampung," kata Cinta, dan menghela napasnya dengan kasar.
"Sudahlah, jangan pikirkan dulu yang belum tentu kebenarannya," kata Ayana.
Cinta diam, pandangan matanya menatap kearah danau kecil yang ada didepannya.
*****
Sepulangnya dari jalan-jalan dengan Ayana. Cinta langsung masuk kedalam kamarnya dan tanpa menyapa sang bunda yang sedang berkutat di dapur, Cinta juga tidak membersihkan diri terlebih dahulu. Dia duduk bersila di atas ranjangnya, dan dihadapannya terletak handphone-nya diatas kasur.
"Apa aku hubungi saja Mas Andrew lagi." Cinta mengambil handphonenya dan menekan nomor Andrew, seperti yang sudah-sudah, nomor Andrew tetap tidak dapat dihubungi.
"Kemana kau mas, apa sesibuk itu kau. Sehingga tidak bisa sebentar meluangkan waktu menelpon atau mengirimkan pesan," ucap Cinta dengan suara yang lirih. Kedua bola matanya sudah merah menahan tangisnya.
"Apa pria yang di Mall tadi kamu, Mas Andrew? tapi kenapa kau tidak mengakuinya? apa yang kau sembunyikan dariku?"
Cinta melemparkan handphonenya, dan kemudian menelungkupkan badannya diatas kasurnya. Matanya sudah mengalirkan air bening, dan terdengar suara isakan lirih dari bibirnya.
Tok..tok...suara ketukan di pintu kamar, membuat Cinta menghentikan tangisnya. Dan dia buru-buru menghapus air matanya.
"Masuk Bun," ucapnya.
Pintu kamar terbuka, bundanya masuk.
"Ayo makan, bunda ada masak makanan favorit Cinta sop ayam.." ucap bundanya.
"Cinta masih kenyang Bun, tadi ditraktir Ayana.."
"Sayang sopnya tidak ada yang makan, Bunda masak banyak," kata Bundanya Cinta, Rima.
"Nanti Cinta makan, Bun. Cinta istirahat dulu, letih badan Cinta. Tadi di ajak Ayana keliling Mall."
"Ya sudah, Bunda makan dulu. Jangan lupa makan," kata Bundanya.
Cinta kembali melanjutkan lamunannya, memikirkan keberadaan Andrew yang tidak ada kabar beritanya.
Next
__ADS_1