
Bundanya Cinta , Rima duduk menunggu kedatangan Maira. Dua puluh menit sudah dia menunggu, Maira belum terlihat batang hidungnya.
Rima sudah tidak sabar, karena hari ini banyak hal yang harus dilakukannya.
"Kemana dia? apa dia takut untuk menemui ku ? kalau dia memang tidak bersalah, untuk apa dia takut. Semakin mencurigakan anak Pak Saleh itu."
Rima bangkit dan melangkah menuju meja resepsionis. " Mana dia, putri Pak Saleh... ? kenapa lama sekali ? dia akan datang atau tidak ?" tanya Rima pada Ilma yang sudah dikenal Rima.
"Maaf bu, Nona Maira tidak bisa menemui ibu," kata Ilma.
"Apa?! tidak bisa menemuiku? kenapa tidak katakan dari tadi? sengaja dia kan ?" kesal ! Rima sangat kesal, sepertinya Maira sengaja melakukannya. Sudah lama dia menunggu, baru dia diberitahu, bahwa orang yang ingin ditemuinya tidak datang.
"Maaf, Bu Rima. Nona baru saja memberi pesan, bahwa dia tidak masuk kantor," kata Ilma.
Rima pergi dengan perasaan yang dongkol.
"Sialan Nona Maira, dia sengaja tidak datang" umpat Ilma.
Ternyata Rima tidak pulang, dia pergi ke rumah Maira. Dia harus menuntaskan masalah antara putrinya dan Maira .
"Terpaksa aku kerumahnya, jika tidak ingin menyelesaikan masalah putrinya dengan Cinta, malas aku bertemu dengan istrinya itu." Rima yang tidak suka bertemu dengan istri Pak Saleh, terpaksa datang ke rumah Pak Saleh.
Rima turun dari mobil online, lalu dia menekan tombol bel. Tidak menunggu lama, pintu gerbang terbuka dan keluar seorang wanita paruh baya menemuinya.
"Cari siapa, Bu?" tanya wanita itu dengan sopan.
"Apa bapak dan ibu ada?" tanya Rima.
"Bapak dan ibu pergi ke luar kota, Bu ."
"kapan pulang ?" tanya Rima kembali.
"Itu saya tidak tahu, Bu . Saya tidak berani tanya, kapan ibu dan bapak pulang."
"Kalau boleh saya tahu , pergi kemana ?"
"Pulang kampung Bu "
"Kenapa semua pada pulang kampung," ujar Rima dengan berguman.
"Kampungnya mana? apa dekat?'
"Jauh Bu, kampung Pak Saleh di Lombok."
'Jauh ya, saya kira hanya beberapa jam dari sini. Tidak perlu menyeberangi lautan."
"Putrinya ada? Maira?"
"Nona Maira kerja , Bu "
"Kerja ? di percetakan ?"
"Iya... Nona Maira pergi ke percetakan setiap hari, percetakan Nona yang mengurus sekarang ini." beritahu wanita tersebut, tanpa ditanya oleh Rima.
"Coba ibu pergi ke sana untuk bertemu dengan Nona Maira ."
__ADS_1
"Saya sudah ke sana, tapi tidak bertemu. Mereka bilang belum datang ," kata Rima.
"Belum datang ? Nona sudah pergi pagi sekali. Apa mungkin Nona tidak ke percetakan ? kalau begitu, saya tidak tahu, Bu. Nona Maira pergi ke mana."
Dengan membawa rasa kecewa, Rima pergi meninggalkan rumah Maira.
Dari rumah Maira, Rima menuju kantor urusan agama. Tidak lama Rima berada di dalam, Rima keluar dengan langkah gontai dan raut wajah yang penuh dengan rasa kecewa.
Rima mendapatkan informasi, bahwa buku nikah yang dipegang Rima bukan buku nikah yang dikeluarkan oleh kantor urusan agama. Buku nikah tersebut palsu.
"Itu tandanya, Cinta tidak menikah. Cinta... "
"Cucuku anak tidak sah! anak haram!"
Rima memegang kepalanya yang tiba-tiba pusing.
Dan
Bugh..
Rima jatuh ditengah jalan. Dia pingsan, karena tidak mampu otaknya menampung semua masalah yang ditemuinya hari ini.
" Bu... Bu... !" seorang anak muda yang tepat berada di dekat Rima bergegas menolong Rima.
"Bu... bangun, Bu... " anak muda tersebut mengguncangkan lengan Rima, tapi Rima tidak merespon apa yang dilakukan oleh anak muda tersebut.
"Ibunya pingsan mas, tolong bawa ke rumah sakit mas," kata ibu penjual es yang berdagang ditempat kejadian.
"Saya tidak bisa Bu, say mau pergi ke wawancara kerja," jawab pria muda tersebut.
"Bagaimana ini ? kalau begitu tolong angkat ke warung saya saja mas. Biar saya yang bawa ibu ini ke puskesmas, didekat sini ada puskesmas. Saya tutup warung dulu," ujar ibu pemilik warung.
Kini Rima berada di puskesmas yang dikatakan oleh ibu yang membawanya.
"Minum, Bu. Dan makan roti ini." seorang suster memberikan segelas air mineral dan roti.
Rima menerima dan meminumnya sampai tandas, sedangkan roti tidak di makannya. Sejak keluar dari rumah sakit, tiba di rumah, lalu pergi ke percetakan. Rima sama sekali belum menyentuh air minum. Sehingga Rima dehidrasi.
"Perut ibu kosong, sudah berapa lama ibu tidak makan minum?" tanya suster.
"Saya lupa," sahut Rima.
"Suster, siapa yang membawa saya ke sini ?" tanya Rima.
'Seorang ibu ," jawab suster.
"Apa ibu itu sudah pergi?"
"Coba saya lihat, Bu." lalu suster keluar dan kembali masuk bersama ibu yang telah membawa Rima ke rumah sakit.
"Ibu yang membawa saya?" tanya Rima.
"Ya Bu, ibu pingsan di depan warung saya. Yang sebenarnya bukan saya yang pertama menolong ibu, ada anak muda tadi. Tapi dia tidak bisa menghantarkan ibu ke klinik. Apa ibu tidak apa-apa? ini tas ibu, coba ibu periksa, apa ada barang-barang yang hilang."
"Terima kasih, Bu. berkat pertolongan ibu dan anak muda itu, saya masih diberi kesempatan untuk menghirup udara," ucap Rima dengan tulus berterima kasih.
__ADS_1
"Hanya pertolongan kecil, Bu. Sesama manusia, kita harus saling tolong menolong."
"Saya Rima, Bu. Ibu siapa?"
"Panggil saja saya, Wak krim. Seperti anak-anak biasa memanggil saya."
"Wak krim?"
"He... he... he... karena saya penjual es krim keliling, anak-anak manggil saya Wak krim," ucap Wak krim dengan tertawa.
Rima dan suster yang mendengar juga ikut tertawa.
Saat Rima ingin memberikan uang sebagai ucapan rasa terima kasih, Wak krim menolak, karena dia tidak membutuhkan imbalan dalam membantu seseorang.
"Saya tidak bisa menerimanya, Bu. Pertolongan saya tidak membutuhkan imbalan, doakan saja saya, semoga dagangan saya laris," kata Wak krim.
**
Ardian dan Melina membawa Alex ke rumah sakit, untuk melakukan cek up.
"Bagaimana, Dok?" tanya Ardian.
"Alhamdulillah... perkembangannya sangat bagus, matanya tadi sudah bisa merespon. Pasien sudah bisa merasa kehadiran orang didekatnya," tutur dokter Romel.
"Tapi kenapa belum bisa bicara, Dok?" tanya Melina.
"Sabar Bu, setahap demi setahap kita lakukan. Nanti kita akan lakukan untuk terapi bicara."
"Terapi bicara? apa dokter mengatakan anak saya bisu?" tanya Melina.
"Dengarkan dulu apa kata dokter, Ma." kata Ardian.
"Mama kan heran, Pa. Alex kan bisa bicara sebelum kecelakaan, kenapa sekarang jadi bisu," kata Melina.
"Bukan bisu, Bu," kata dokter.
"Begini Bu, Pak. Kecelakaan yang menimpa putra bapak itu mengakibatkan ada cedera pada area kepala. Dan hal itu bisa mengakibatkan gangguan bicara, hal itu terjadi karena adanya gangguan di area kepala, baik itu pada gangguan pada otaknya, dan bisa juga gangguan pada saraf lidahnya.
"Apa selamanya anak saya akan menjadi bisu dokter?" tanya Melina.
"Saya akan berkonsultasi dengan dokter saraf. Untuk dicari tahu apa yang menyebabkan pasien tidak bisa mengeluarkan suaranya. Dan Penanganannya akan bergantung dari hasil pemeriksaan. Dan tindakan apa yang harus dilakukan.
***
Rima duduk di taman di dekat toko rotinya. Dia tidak sanggup pulang dan melihat wajah Cinta.
"Putriku!" ratap Rima dalam kesendiriannya.
Saat-saat seperti ini, Rima betul-betul butuh sosok ayah Cinta untuk saling berbagi masalah. Kini dia hanya sendiri untuk menanggung beban pikiran.
"Kalau aku dulu tidak mengizinkan Cinta bersama dengan laki-laki penipu itu, ini semua tidak akan terjadi."
"Mas! apa yang harus aku lakukan Mas! Rima bingung Mas ! Bagaimana Rima menyampaikan pada Cinta, bahwa tidak ada pernikahan! pernikahan tidak pernah terjadi..!" Rima menutup wajahnya dengan tangannya, dia menangis. Saat mendengar langkah kaki, Rima buru-buru menghapus air mata dan berpura-pura melihat ponselnya.
Setelah langkah kaki orang yang melintas dari depannya menjauh, Rima memasukkan ponselnya kedalam tas. Lalu kemudian Rima bangkit dari duduknya. Dengan langkah kaki yang gontai, Rima melangkah menuju toko roti tempat dia dan Cinta sementara tinggal.
__ADS_1