
"Apa yang telah aku lakukan?" Abigail menepuk jidatnya, untuk mengingat apa yang terjadi semalam. Tapi nihil, tidak ada memori yang menempel dalam otaknya, mengenai apa yang terjadi di club yang dikunjunginya semalam.
"Aku tidak ingat apa-apa !" Abigail menatap Handi. "Kau bohong ! kau pasti telah melenyapkan Citra.... !" tuduhan Abigail berikan pada Handi.
"Otakmu benar-benar sudah diracuni minuman keras! aku sarankan kau itu masuk panti rehabilitasi. Biar otakmu kembali normal." sindir Handi dan memberikan tatapan mata yang tajam.
Abigail tidak takut dengan apa yang ditunjukkan Handi padanya. Dia kembali mencerca Handi dengan pertanyaan yang menuduh Handi telah melakukan perbuatan jahat padanya. "Kenapa kau bisa tidur di sini? kau mencari kesempatan saat aku tidak sadar, kan ?" tanya Abigail.
"Tunggu!" Handi turun dari ranjang dan mengambil bajunya yang tergeletak dilantai.
"Lihat bajuku!" Handi menunjukkan bajunya yang sudah tidak layak untuk dipakai lagi.
"Apa aku yang melakukannya? tidak mungkin! kau mengada-ada, aku tahu. Kau itu suka denganku kan? kau ingin kaya dengan cepat, tidak ingin menjadi asisten lagi, sehingga ingin menjebak gadis kaya! cih... aku tidak akan masuk dalam jebakan rendahan seperti itu!"
Handi tidak menanggapi ucapan Abigail, dia keluar dari dalam kamar dan kemudian menghubungi seseorang.
Handi menunggu orang yang dihubunginya, dan sepuluh menit kemudian orang yang dihubunginya datang dan memberikan laptop dan bungkusan kepada Handi. Handi terlebih dahulu mengganti bajunya yang koyak dibuat Abigail dengan baju yang baru pemberian anak buahnya.
Lalu kemudian Handi masuk kembali kedalam kamar dan memberikan laptop untuk dilihat oleh Abigail. Mata Abigail membesar, melihat keberingasan dirinya dalam melakukan Handi. Dia malu dan kembali merebahkan tubuhnya dan bersembunyi dibalik selimut.
"Kau sudah lihat, aku tidak ada menyentuhmu! kau yang menyentuhku! aku juga bukan pria yang ingin mendapatkan seorang wanita kaya untuk menjadi cepat kaya! permisi!" Handi mengambil laptopnya kembali dan kemudian Handi keluar meninggalkan kamar Abigail.
Abigail malu melihat apa yang dilakukannya, saat dia kehilangan kesadaran normalnya, akibat efek minuman keras yang dikonsumsinya.
"Sialan mereka semua! minuman apa yang telah mereka beri padaku? minuman biasa yang aku minum, tidak mungkin sampai membuat aku menggila sampai seperti wanita ja-lang."
"Hah... !" pekik Abigail kesal.
"Citra bagaimana?" Abigail menarik selimut yang menutupi wajahnya dan dia mencari-cari sosok Handi, dan tidak melihat keberadaan sekretarisnya Michael tersebut.
"Dia sudah pergi! aku harus mencari Citra."
***
"Bagaimana, Pa?" tanya Melina.
"Apa peternakan tempat Adam tinggal?" Ardian balik bertanya pada sang istri.
"Mungkin, Pa. Coba hubungi Adam," kata Melina.
Ardian menghubungi Adam.
__ADS_1
"Om, jangan bilang Adam yang bilang pada Om, bahwa kak Michael tinggal di sini ya," kata Adam melalui sambungan telepon.
"Betul dia tinggal di sana?" tanya Ardian.
"Iya, Om. Tadi malam kak Michael tiba, dan istrinya sakit. Om, kapan kak Michael menikah? kenapa Adam tidak diberitahukan. Apa papa melarang Adam untuk datang?" tanya Adam.
"Tidak seperti itu ceritanya, Dam. Panjang ceritanya, nanti Om ceritakan. Papa Adam saja belum tahu Michael menikah," kata Ardian.
"Om akan ke sana, jangan katakan pada Michael mengenai kedatangan kami," kata Ardian.
Ardian memutuskan hubungan telepon dan mengatakan pada Melina mengenai apa yang dikatakan oleh Adam.
"Sakit! Cinta sakit? dasar anak kurang ajar! sontoloyo! sudah tahu istri lagi hamil, main bawa ketempat jauh seperti itu. Bagaimana kondisi Cinta pa?" tanya Melina.
"Pagi ini baik-baik saja, kata Adam. Adam sudah meriksa kondisinya tadi malam, dan Cinta hanya keletihan saja dan kurang asupan air," kata Ardian pada Melina. Dia menceritakan apa yang dikatakan oleh Adam, kepada sang istri.
"Adam? Adam yang meriksa Cinta!? apa Michael tidak tahu, atau lupa! Adam itu dokter hewan," kata Melina.
"Mungkin karena tidak ada dokter, karena itu Adam yang meriksa Cinta. Katakan pada Bu Rima ," kata Ardian.
"Apakah perlu, Pa?"
"Apa Mama ingin mendiamkan penemuan ini pada Bu Rima?"
"Baiklah, akan Mama beritahu Bu Rima," ujar Melina.
Satu jam kemudian, dua mobil beriringan menuju peternakan tempat Michael membawa Cinta.
"Ma, siapa laki-laki yang dibawa Bu Rima?" tanya Ardian.
"Saudaranya, mungkin. Karena terlihat sekali dia cemas," jawab Melina.
"Papa merasa, sepertinya tidak!"
"Siapa menurut papa?"
"Mungkin pria yang menyukai menantu kita, Cinta."
"Hah... saingan Michael, menurut papa?" tanya Melina.
"Iya," sahut Ardian.
__ADS_1
Melina menoleh kearah belakang, dan melihat mobil yang ditumpangi Rima dan Ayana yang dikemudikan oleh Johan.
"Tante kenapa tidak mengatakan masalah yang dialami Cinta? untung Mama ada urusan di kota ini, jika tidak karena ada urusan, pasti kami tidak mengetahui masalah besar yang dihadapi Cinta," kata Johan.
"Tante tidak ingin merepotkan Johan, ada apa-apa dengan kami, selalu Sera dan Johan yang pertama kami buat repot," jawab Rima.
"Kita bukan baru kenal satu dua tahun, Rima. Kau itu masih segan saja minta bantuan." timpal Sera.
"Aku tidak akan diam lagi, aku akan mengambil Cinta dari suami palsunya itu. Walaupun mereka nikah siri, tapi dia sudah menipu Cinta dengan cinta palsu," ucap Johan dalam hati.
"Aku tidak ingin pekerja Johan terganggu, lihat saja sekarang. Johan sudah mengambil cuti, padahal baru masuk kerja," kata Rima.
"Tante jangan khawatir, kak Johan pasti akan melakukan apapun untuk Cinta. Iya kan kak Jo?" tanya Ayana menggoda Johan.
"Hei... jangan lakukan yang akan menambah ruwet masalah, Jo.... !" ingatkan sang Mama, Sera.
"Iya, ma. Jo tidak akan melakukan apapun yang akan membuat Cinta tertimpa masalah lagi, tapi Jo tidak akan diam jika laki-laki itu menyakiti Cinta."
Sera menepuk lengan sang putra. "Tunggu Cinta lepas dari pria itu, Jo," ujar Sera.
Rima mendengar apa yang diperbincangkan oleh keduanya. "Semoga Cinta bisa menerima cinta Johan, dan Cinta pasti akan bahagia," kata Rima dalam hati.
Di peternakan Cinta duduk diam di kursi kayu yang menghadap langsung ke pemandangan perbukitan hijau, dan terlihat ratusan ekor sapi merumput.
Cinta tersentak dari lamunannya, karena satu kecupan di pipinya.
Cup..
"Ih... !" Cinta menghapus bekas kecupan Michael.
Michael meletakkan bokongnya di kursi yang di duduki Cinta. "Dulu kecupanku sangat di nanti," kata Michael.
"Uhh.... !" dengus Cinta yang tidak suka mendengar apa yang dikatakan oleh Michael.
"Kapan kita pulang? aku tidak suka ditempat ini," kata Cinta.
"Kenapa tidak suka? tempat ini sangat bagus untuk wanita hamil. Udara yang masih fresh, tidak ada polusi," kata Michael.
"Polusi udara tidak ada, tapi polusi dari manusia yang sangat... sangat aku benci, lebih merugikan aku!" balas Cinta.
"Benci.... "
__ADS_1
Michael ingin membalas ucapan Cinta, tetapi dia tidak melanjutkan perkataannya. Karena melihat dua mobil di kejauhan menuju peternakannya.