Fake Marriage

Fake Marriage
Bab 85


__ADS_3

"Katakan.... !" wajah bengis saat Ardian masih muda terlihat menghiasi wajahnya. Ardian yang dulu anak bengal dan kerjanya kumpul-kumpul dengan para gangster pada saat muda kini kembali muncul.


Hilman bergidik melihat raut wajah Ardian. Dia yang mengenal Ardian saat masih muda, ngeri melihatnya. Karena kalau Ardian sudah marah, dia tidak akan membuat para musuhnya pergi dalam keadaan normal.


Cengkeraman jari tangan Ardian membuat pipi pria tersebut mengeluarkan cairan kemerahan. Darah ! pipi laki-laki tersebut mengalir darah segar.


"Kau masih tidak mau mengatakan kemana, pemilik bengkel ini?" tanya Handi.


"Jangan menangis, jika nanti ada salah satu anggota tubuhmu lepas dari tempatnya," ancaman Hilman.


"Saya... saya tidak tahu Tuan ! saya berkata yang sebenarnya, Tuan. saya tidak mengenal pemilik bengkel ini," kata pria tersebut dengan ketakutan.


"Kalau kau tidak mengenal pemilik bengkel ini, untuk apa kau mengintai kami tadi ! katakan ."


Bugh...


Tangan Ardian mendaratkan diperut laki-laki tersebut, dari mulut laki-laki itu muncrat cairan bening keabu-abuan.


Duh....


Ekspresi wajah-wajah meringis menghiasi anak buah Hilman dan Handi. Dia tidak mengira Ardian mampu membuat orang sampai muntah.


Ardian membuka dasinya dan kemudian jas yang dikenakannya. Sekarang hanya kemeja biru muda yang menempel ditubuhnya. Walaupun sudah berumur, otot-otot peninggalan masa mudanya masih menghiasi badannya.


"Lepaskan dia." perintah Ardian pada dua orang yang memegang pria tersebut agar tidak melarikan diri.


"Itu tadi pukulan yang dua puluh persen kekuatan yang masih aku pakai. Jika kau masih tetap tidak ingin mengatakannya, baiklah ! aku akan menaikkan pukulan tangan ini, menjadi lima puluh persen."


Ardian menggertak laki-laki tersebut, dan terlihat wajah laki-laki tersebut terlihat berubah. Siapa yang tidak takut dengan ancaman Ardian, pukulan yang pertama saja sudah membuat muntah, padahal baru seperempat dari tenaga Ardian yang digunakannya.


Ardian menaikkan tangannya dan mengarahkan tangannya yang sudah terkepal.


"Tunggu... tunggu... ! jangan pukul," ujar pria tersebut dengan terburu-buru.


"Akan aku katakan." tambahnya.


Ardian mengelus tangannya, dan berkata. "Dari tadi kau begini, kan tidak sakit tanganku ini," kata Ardian.


"Lepaskan dia!" titah Hilman.


"Siapa namamu? kau sebagai apa di bengkel ini?" Handi mengajukan pertanyaan, setelah mendapatkan tanda dari Ardian.


"Saya Amir, Pak. Saya hanya penunggu bengkel ini."


"Siapa nama pemilik bengkel ini ?" tanya Ardian.


"Boss Bebeng namanya, pak. Tapi sudah dua hari boss tidak datang ke sini, karena bengkel ini sudah tidak dipergunakan lagi."


"Selain sini, apa ada bengkelnya yang lain ?" tanya Hilman.


Amir diam.


"Kau mau merasakan tangan ini ?" Hilman mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Ja...ja... Jangan.... !" seru Amir dengan suara yang gagap.


"Katakan !" perintah Hilman.


Dengan kepala menunduk, Amir mengatakan alamat bengkel Bebeng.


Setelah mendapatkan alamat bengkel Bebeng. Ardian dan Hilman berangkat ke bengkel Bebeng, sedangkan Handi ditugaskan Ardian untuk pergi rumah sakit mengurus Rima dan Deden.


Di rumah sakit, Rima dan Deden sudah selesai menjalani operasi pengangkatan peluru yang bersarang di kaki keduanya.


Pintu kamar tempat Rima di rawat. Ayana masuk .


"Tante.... !" Ayana lari masuk dengan menangis sesenggukan menatap Rima. Dia sangat kaget mendapatkan pesan dari Rima.


"Bagaimana dengan Cinta, Tan ? siapa yang melakukan ini semua ? jahat sekali orang itu," kaya Ayana.


"Tante juga tidak tahu, kena ini semua terjadi. Apa salah kami?"


"Jangan -jangan ini perbuatan musuh Michael, Tan?" kata Ayana.


"Kenapa Cinta yang diserang? pernikahan Cinta dan Michael belum ada yang tahu," kata Rima.


"Iya juga ya Tan."


"Apa ada orang yang tidak suka dengan Cinta atau Tante ? apa mungkin saingan bisnis toko roti ?"


"Tante tidak bisa berpikir sekarang ini. Bagaimana kondisi Cinta ? bagaimana dengan kandungannya ?"


"Apa kita tidak laporkan pada polisi saja, Tan ?"


"Semoga mereka secepatnya bergerak," kata Ayana.


***


Di mansion Michael menghampiri Mamanya yang sedang bicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. Michael melangkah dengan sangat pelan, karena dia ingin mendengar apa yang dibicarakan oleh sang Mama begitu lama melalui sambungan telepon. Michael berdiri dibelakang mamanya duduk.


"Mama baru sampai, Pa. Michael minta pulang," kata Melina kepada sang suami.


"Papa. Mama bicara dengan Papa." batin Michael.


"Ini Mama mau ke rumah sakit. Papa harus menemukan Cinta secepatnya, Mama khawatir orang itu akan menyakiti Cinta," kata Melina dengan menangis.


"Iya... Pa. Papa juga hati-hati, sepertinya para penculik itu bukan orang sembarangan. Karena mereka tega menembak Bu Rima dan Pak Deden. Tega mereka menembak."


Michael yang mendengar kaget. Dia mendekati Melina dan menarik ponsel dari tangan Mamanya.


Melina menoleh ke belakang dan melihat Michael yang merampas ponselnya.


"Michael," ujar Melina.


"Katakan, Pa ! apa Cinta di culik?" tanya Michael.


Ardian mendengar suara Michael cukup terkejut, karena tadinya mendengar suara sang istri, kini suara sang putra yang didengarnya.

__ADS_1


"Katakan Pa.... !" seru Michael tidak sabar.


Michael diam mendengar penjelasan dari Papanya.


"Papa di mana sekarang ?" tanya Michael.


"Katakan, Pa !" kata Michael, sepertinya Ardian tidak ingin mengatakan di mana keberadaannya sekarang ini.


"Michael sehat, Pa !"


"Apa?! apa sudah pasti, Pa ?"


"Kurang ajar.... !" umpat Michael. Entah apa yang dikatakan oleh Ardian, sehingga membuat Michael mengeluarkan umpatan.


Michael memutuskan hubungan telepon dan menyerahkannya pada mamanya.


"Apa kata Papa ?"


"Papa sedang menuju tempat Cinta dicurigai disekap," sahut Michael.


"Papa juga bilang, kecelakaan Alex didalangi Sandra," kata Michael.


"Sandra ? apa salah Alex padanya ? Mama tidak menyangka dia bisa sekejam itu? wanita biadab .... !" umpat Melina tanpa disadarinya, mulutnya sudah memaki.


Michael pergi meninggalkan mamanya.


"Michael ! kau mau pergi kemana ?" Melina mengira Michael pergi ke kamarnya, ternyata Michael keluar menuju garasi mobil.


"Aku akan mencari Sandra, Ma," kata Michael.


"Tidak boleh ! kau baru pulang dari rumah sakit, nanti wanita iblis itu mencelakaimu." Melina menahan Michael yang ingin masuk kedalam mobil.


"Dia tidak akan bisa mencelakaiku, Ma. Dia harus membayar semua kejahatan yang telah dilakukannya pada Michael dan dia juga telah membuat aku membenci Cinta.... !"


Mata Melina membesar saat mendengar perkataan Michael.


"Michael ! katakan... kau tidak amnesia kan ?"


Michael tidak menjawab pertanyaan sang Mama. Dia masuk kedalam mobil dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Begitu pintu gerbang terbuka otomatis, mobil yang dikemudikan oleh Michael melaju kencang.


"Dia pasti tidak hilang ingatan ! dasar anak durhaka ! bisa-bisanya dia menipu kami, orangtuanya ! apa niatnya dengan berpura-pura hilang ingatan ?"


***


Michael menghubungi ketiga temannya untuk membantunya.


"Aku tidak menyangka Sandra bisa sejahat itu pada Alex. Kalian saling kenal bukan setahun dua tahun," kata Jack yang berada dibalik kemudi, karena Michael tiba-tiba merasa kepalanya berdenyut-denyut.


"Kau juga, Michael. kenapa kau sakit tidak bilang pada kami," kata Sony.


"Mana ada orang sakit beri undangan pemberitahuan. Seharusnya kalian yang mencari sendiri," kata Michael.

__ADS_1


Next


__ADS_2